Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

ANALISIS POLA RESISTENSI ANTIBIOTIK TERHADAP ESCHERICHIA COLI PADA PASIEN INFEKSI SALURAN KEMIH DI LABORATORIUM PRAMITA Hasanah, Ria; Dewi, Yulia Ratna
Plenary Health : Jurnal Kesehatan Paripurna Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/plenaryhealth.v1i3.606

Abstract

Berbagai jenis mikroba dapat menyebabkan infeksi saluran kemih. Bakteri Escherichia coli adalah penyebab paling umum pada infeksi saluran kemih. Bakteri Escherichia coli memiliki uropatogen yang disebut P fimbriae atau pili, yang mengikat antigen grup darah P. Pili-pili ini memediasi pelekatan Escherichia coli ke sel uroepitel, hal ini yang meningkatkan risiko infeksi saluran kemih. Skripsi ini membahas bagimana pola resistensi Escherichia coli terhadap antibiotik  pada pasien infeksi saluran kemih dari januari 2024 sampai juli 2024. Tujuan dari skripsi  ini untuk mengetahui antibiotik yang cocok untuk infeksi saluran kemih. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif terhadap 44 sampel penderita infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh Escherichia coli. Hasil penelitian pola resistensi Escherichia coli terhadap antibiotik adalah untuk amoxicillin 18,2 % sensitif. Ciprofloxacin 56,8 % sensitif. Trimethoprim 68,2 % sensitif. Nitrofurantoin 81,8 % sensitif. Antibiotik yang paling cocok untuk infeksi saluran kemih yang disebabkan oleh Escherichia coli adalah Nitrofurantoin.
IDENTIFIKASI BAKTERI MRSA DAN KLEBSIELLA PNEUMONIA (ESBL) PADA ALAT VENTILATOR DI RUANG ICU RSUD X BATU Retnani, Dyah Dwi; Dewi, Yulia Ratna
Plenary Health : Jurnal Kesehatan Paripurna Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/plenaryhealth.v1i3.630

Abstract

Nosocomial infections in the ICU, especially those associated with the use of ventilators, most commonly occur as nosocomial pneumonia, or Hospital Acquired Pneumonia (HAP). Bacteria responsible for these infections include Methicillin-Resistant Staphylococcus aureus (MRSA) and Klebsiella pneumoniae producing Extended-Spectrum Beta-Lactamase (ESBL), which are of major concern due to their resistance to various antibiotics. This research is a descriptive quantitative study using a cross-sectional approach. The study was conducted in August 2024 in the Intensive Care Unit (ICU) of X Batu Hospital. The subjects of this study are ventilators used in the ICU of X Batu Hospital. The data collection process began by taking samples using a swab method on various surfaces of the ventilators in the ICU. The swabs were then immediately planted on culture media. The culture media were incubated under specific conditions to allow bacterial growth. Once bacterial colonies grew on the culture media, gram staining was performed. The next step involved bacterial identification using the BD phoenix™ 100, which automatically identifies bacterial species. The data were analyzed descriptively by frequency to determine the prevalence of methicillin-resistant Staphylococcus aureus (MRSA) and Klebsiella pneumoniae (ESBL) bacteria growth. The study results showed no growth of MRSA and Klebsiella pneumoniae (ESBL) bacteria on ventilators before they were used by patients. However, Klebsiella pneumoniae (ESBL) growth was observed in 11.1% of ventilators used by patients in the ICU for more than 3 x 24 hours, excluding all other possible sources of infection prior to the patient's admission to the ICU.
ANALISIS UJI SENSITIVITAS ANTIBIOTIK TERHADAP STAPHYLOCOCCUS AUREUS PADA PASIEN SEPSIS DI RUMAH SAKIT UMUM DILI TIMOR-LESTE Rosário, Celita Osório do; Dewi, Yulia Ratna
Plenary Health : Jurnal Kesehatan Paripurna Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/plenaryhealth.v1i3.631

Abstract

Sepsis adalah kondisi yang mengancam jiwa dan menjadi beban penyakit global , sepsis adalah suatu disfungsi organ parah yang disebabkan oleh respon tubuh yang tidak teratur terhadap infeksi dengan penekanan baru pada kekebalan tubuh. Staphylococcus aureus merupakan patogen utama manusia yang mampu beradaptasi dengan beragam inang dan kondisi lingkungan dan menyebabkan banyak infeksinsalah satunya penyebab utama rumah sakit dan infeksi yan didapat dari komunitas. Tujuan penelitian untuk mengetahui sensitivitas antibiotik, antibiotik yang efektif dan tingkat resistensi Staphylococcus aureus terhadap berbagai antibiotik. Metode kuantitatif deskriptif non observasional dengan metode  random sampling, subjek yang digunakan 50 pasien, laki-laki 54%, wanita 46%, usia pada penelitian ini 1-17 tahun 82%, 18-30 tahun 2% dan 31-40 tahun 16%, Pasien sepsis yang positif Staphylococcus aureus sebesar 100%, uji sensitivitas antibiotik Cefoxitin resisten 24% sensitif 76, Clindamicin resisten 51% sensitif 95%, Erytromicin resisten 17% sensitif 84,  Cloxacilin resisten 19% sensitif 81%, Cefalexin resisten 25% sensitif 75% , Cotrimoxazole resiten 35% sensitif 65%, Tetracycline resisten 27% sensitif 73%, Vancomicin resisten 0% sensitif 100%, dan Penicilin resisten 100% sensitif 0%. Kesimpulan penelitian ini bakteri patogen yang banyak terinfeksi pasien sepsis  adalah Staphylococus aureus, sepsis banyak menyerang anak-anak faktor penyebabnya yaitu respon sistem kekebalan tubuh yang tidak terkendali terhadap infeksi, dan juga faktor lingkungan yang kurang bersih bisa menjadi salah satu penyebab sepsis. Hasil uji sensitivitas antibiotik Staphylococus aureus memiliki tingkat sensitivitas antibiotik yang sangat tinggi dikarenakan penggunaan antibiotik yang tepat dan  sesuai dengan profil sensitivitas dari bakteri dan antibiotik yang dipilih berdasarkan uji sensitivitas dari laboratorium.
ANALISIS HUBUNGAN MUTASI GEN EGFR DENGAN METASTASIS ORGAN LAIN PADA ADENOKARSINOMA PARU Intan Kusumo, Rianto; Dewi, Yulia Ratna
Plenary Health : Jurnal Kesehatan Paripurna Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/plenaryhealth.v1i3.658

Abstract

Setiap tahun ada lebih dari 8 juta orang meninggal akibat kanker di seluruh dunia. Kanker paru menjadi faktor penyebab kematian akibat kanker yang paling umum terjadi. Kanker paru dibagi menjadi dua golongan, yaitu karsinoma paru bukan sel kecil (Non-Small Cell Lung Cancer, NSCLC) dan karsinoma paru sel kecil (Small Cell Lung Cancer, SCLC). Non-Small Cell Lung Cancer terbagi menjadi karsinoma sel besar, karsinoma sel skuamosa, dan adenokarsinoma. Subtipe kanker paru yang paling sering ditemukan yaitu adenokarsinoma. Penelitian berupa deskriptif korelasi dengan desain cross-sectional. Dengan mengambil data sekunder pasien pemeriksaan mutasi gen EGFR dengan diagnosis kanker paru jenis Adenokarsinoma. Uji Chi-Square digunakan untuk menilai korelasi mutasi gen EGFR dengan metastasis organ lain pada pasien adenokarsinoma paru. Hasil penelitian menunjukkan pasien dengan hasil mutasi gen EGFR Detected yang hasil histopatologi/sitopatologinya mengalami metastasis sebesar 19,1% dari semua penderita yang didiagnosa adenokarsinoma paru. Sementara yang Not Detected ada 4,4% yang mengalami metastasis. Berdasarkan uji Chi-Square menunjukkan p-value sebesar 0,087 (>0,05) yang berarti bahwa tidak ada hubungan antara mutasi gen EGFR dengan metastasis organ lain pada adenokarsinoma paru.
HUBUNGAN ANTARA KADAR SERUM HBSAG DENGAN HBV DNA PADA PASIEN HEPATITIS B KRONIS Roid, Roid; Dewi, Yulia Ratna
Plenary Health : Jurnal Kesehatan Paripurna Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/plenaryhealth.v1i3.659

Abstract

Hepatitis virus diperkirakan menjadi penyebab utama 1,4 juta kematian setiap tahun di seluruh dunia, baik akibat infeksi akut maupun kondisi yang terkait seperti kanker hati dan sirosis. Dari kematian tersebut, sekitar 47% disebabkan virus Hepatitis B, 48% virus Hepatitis C dan sisanya virus Hepatitis A dan virus Hepatitis E. Seseorang dinyatakan mengidap Hepatitis B bila dalam pemeriksaan serologi didapatkan HBsAg reaktif. Patofisiologi Hepatitis B kronik ditandai dengan naik turunnya tingkat replikasi virus hepatitis B dan aktivitas penyakit hepar. HBV DNA merupakan pemeriksaan baku emas untuk mendiagnosis Hepatitis B dan kadarnya dijadikan acuan untuk memulai terapi antivirus pada pasien Hepatitis B kronis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kadar serum HBsAg dengan HBV DNA pada pasien Hepatitis B Kronis. Penelitian menggunakan desain cross sectional dengan jumlah data 36 sampel yang merupakan data sekunder dengan tehnik purposive sampling periode Januari 2021 sampai dengan Mei 2024 di Laboratorium Pramita Jakarta. Pengolahan data menggunakan analisis SPSS v.27. Hasil penelitian berdasarkan kelompok jenis kelamin didapatkan 22 sampel (61,1%) adalah laki-laki, berdasarkan kelompok umur didapatkan rerata subjek yaitu 44,2 tahun. Pada kelompok korelasi HBsAg dengan HBV DNA didapatkan hasil P  > 0,05, tidak ada hubungan antara HBsAg dan HBV DNA pada pasien Hepatitis B Kronis.
PENGARUH METODE MENCUCI TANGAN TERHADAP KEBERADAAN BAKTERI PADA TELAPAK TANGAN SISWA SMK KESEHATAN Kadarwati, Ristia; Dewi, Yulia Ratna
Plenary Health : Jurnal Kesehatan Paripurna Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/plenaryhealth.v1i3.664

Abstract

Bakteri yang ada pada telapak tangan dapat menyebabkan infeksi ke dalam tubuh. Mengurangi infeksi atau kontaminasi di dalam tubuh yaitu dengan mencuci tangan yang  benar. Metode mencuci tangan dapat menggunakan  air, sabun ataupun menggunakan  hand sanitizer. Penelitian ini bertujuan mengetahui adanya pengaruh metode mencuci tangan berbeda terhadap keberadaan bakteri pada telepak tangan siswa SMK Kesehatan. Selain itu untuk mengetahui perbedaan signifikan antara metode mencuci tangan Jenis penelitian ini adalah Eksperimental. Populasi penelitian adalah siswa SMK Kesehatan Donohudan kelas XII yang melakukan praktikum. Sampel telapak tangan siswa diambil sebanyak 42 secara total sampling. Analisis eksperimentai ini menggunakan uji Annova. Berdasarkan hasil penelitian metode mencuci tangan dengan menggunakan air memiliki perbedaan yang signifikan (Sig. <0.05) dengan dua metode mencuci tangan yang berbeda yaitu menggunakan sabun ataupun menggunakan hand sanitizier (hasil Sig. 0.00). Metode cuci tangan yang menggunakan sabun tidak memiliki perbedaan yang signifikan
ANALISIS INFEKSI CACING PADA ANAK SD HATI KUDUS DILI TIMOR LESTE De araujo, Joanico moises; Dewi, Yulia Ratna
Plenary Health : Jurnal Kesehatan Paripurna Vol. 1 No. 3 (2024)
Publisher : LPPI Yayasan Almahmudi bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/plenaryhealth.v1i3.665

Abstract

Kehadiran cacing dapat mengakibatkan penurunan kesehatan, gizi, kecerdasan, dan produktivitas yang pada akhirnya menyebabkan kemunduran perekonomian (Arrizky, 2021). Infestasi cacing masih banyak terjadi pada siswa sekolah dasar di Indonesia(Fauzia, 2019).Penelitian memiliki tujuan untuk Meneliti hubungan antara diare dan berbagai jenis cacing, mengidentifikasi praktik kebersihan yang berdampak pada infeksi cacing, menilai frekuensi infeksi cacing melalui analisis laboratorium sampel tinja, memeriksa prevalensi dan faktor yang berhubungan dengan infeksi cacing pada siswa sekolah dasar di SD Hati Kudus, Dili, Timor Leste,memakai data sekunder sebagai metode dalam penelitian,data Analisa Univariat. Setelah 66 titik data diolah dengan menggunakan SPSS, diketahui bahwa 45,5% anak usia sekolah dasar menderita infeksi ascaris lumbrecoides, 30,3% menderita infeksi trichuris trichiura, dan 24,2% menderita infeksi cacing tambang. Berdasarkan temuan tersebut, siswa sekolah dasar kelas 1 hingga 3 lebih rentan terkena infeksi cacing. Temuan pemeriksaan infeksi cacing dengan metode Kato-Katz menunjukkan bahwa terdapat banyak jenis cacing Ascaris lumbrecoides, 30 memiliki persentase 45,5%. Sedangkan cacing Trichuris trichiura berjumlah 20 buah dengan persentase 30,3%, dan cacing tambang dengan persentase 24,2%.Timor Leste