Claim Missing Document
Check
Articles

REVITALISASI FUNGSI PARIWISATA KALI UNDA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN EKONOMI DESA PAKSEBALI, KECAMATAN DAWAN, KABUPATEN KLUNGKUNG Setem, Wayan; Gulendra, I Wayan; Yudha, I Made Bendi; Kariana, I Nengah; Putra, Anak Agung Ramanda
Abdi Seni Vol. 15 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/abdiseni.v15i1.5181

Abstract

Paksebali Village is one of 12 villages in Dawan District, Klungkung, Bali, which is one of the supporting villages for winning Adi Pura, which has natural resource potential in the form of the Kali Unda tourism object. The problem that occurs, the potential of human resources, namely the surrounding community, does not optimize and utilize the existing natural potential. Poor management of facilities makes this tour less attractive to visitors. The background is that the management of the Kali Unda tourist attraction has not been optimal so that it has an impact on the lack of interest of tourists to visit and this also has an impact on the absence of locally-generated revenue (PAD) from tourism activities. This community service is to revitalize the tourism function as an effort to improve the economy of Paksebali Village, Dawan District, Klungkung Regency. The ABCD (Asset Based Community Development) method used in the implementation of this community service consists of five key steps, namely discovery, dream, design, define and destiny. The aim of revitalizing the Kali Unda tourist area is an effort to organize the area to restore the vitality of the area which has declined by building reflection therapy ponds, fish nursery ponds, ornamental fish ponds, self-photo spots, goldfish statues, dragon statues, and mural art. The impact of the development and improvement of the function of facilities and infrastructure is able to influence the increase in tourist visits which also has an impact on people's welfare.
PENCIPTAAN SENI UNTUK MEMULIAKAN ALAM Setem, I Wayan; Tjokropramono, Gede Yosef; Gulendra, I Wayan
Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara Vol. 4 (2024): Prosiding Bali Dwipantara Waskita: Seminar Nasional Republik Seni Nusantara
Publisher : UPT Pusat Penerbitan LP2MPP ISI Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menelaah proses penciptaan karya seni object art yang terinspirasi dari pengamatan atas aktivitas penambangan eksploitatif pasir di Kecamatan Selat. Dampak penambangan telah memicu peningkatan pertumbuhan sektor ekonomi, namun masyarakat penambang tampaknya tidak pernah sadar dengan dampak kerusakan lingkungan yang sudah dan akan ditimbulkan. Eksploitatif penambangan pasir menimbulkan persoalan yang luar biasa yang tak terbayangkan sebelumnya, utamanya dari aspek keberlanjutan ekosistem sangat merugikan dan tidak akan bisa terbentuk seperti matra alam sebelumnya. Realitas kerusakan penomena penambangan eksploitatif pasir tersebut menjadi thema dan subject matter kekaryaan. Selanjutnya dari hasil observasi dilakukan pengumpulan dan pemilahan data sehingga pengkarya memperoleh pemahaman, kedalaman dan keluasan cara pandang. Setelah mendapat pemahaman, lalu insights diubah menjadi proses kreatif melalui aksi yakni aksi simbolis berupa kekaryaan. Untuk mewujudkan kekaryaan mengunakan metode pendekatan dan langkah-langkah kreatif untuk membantu mengembangkan kemampuan mencipta yang mencakup tahapan-tahapan terstruktur maupun langkah yang tidak terduga, spontan dan intuitif. Problematikanya dinyatakan ke dalam bentuk bahasa rupa menggunakan metode penyangatan/hiperbola. Target kekaryaan tidak hanya sebagai ekspresi individual yang terbatas pada persoalan estetik namun menjadi cara atau alat untuk menyeberangkan (mengkampanyekan) isu lingkungan.
Jana Kertih: Kemuliaan Manusia dalam Penciptaan Seni Lukis Setem, Wayan
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 16 No. 2 (2024)
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v16i2.6462

Abstract

Tujuan dari penelitian dan penciptaan seni ini adalah mencipta dan menyajikan karya “Jana Kertih: Kemuliaan Manusia dalam Penciptaan Seni Lukis” sebagai representasi upaya membangun kualitas sumber daya manusia menuju manusia berkualitas suputra sadhu gunawan. Model penciptaan seni lukis menjadi ekspresi budaya yang mampu memainkan peran sebagai media peningkatan apresiasi masyarakat untuk membangkitkan Jana Kertih menuju Jana Hita membangun manusia berkualitas secara individu agar menjadi SDM yang sehat secara jasmani, dan rohani. SDM yang demikian itulah yang dapat berperan membangun kehidupan bersama untuk menciptakan rasa aman, damai, dan sejahtera. Penciptaan ini berbasis riset dengan demikian metodenya terdiri dari dua bagian yang tidak terpisah yakni metode penelitian dan metode penciptaan. Sedangkan metode penciptaan melewati tiga tahap yakni: eksplorasi, improvisasi, dan perwujudan karya yang didahului dengan telaah karya seni sejenis dan kajian literatur. Tahapan eksprimen/percobaan alat dan bahan untuk menemukan desain penyajian karya yang memiliki kebaruan yang kemudian diseminasikan untuk menyampaikan konsep Jana Kertih memuliakan manusia yang mengetahui hakikat dan tujuan hidup sebagai manusia sesuai ajaran agama dan memahami nilai-nilai etis, estetis dan religius.
PENYUSUNAN ENSIKLOPEDIA BIDANG SENI LUKIS KLASIK, SENI UKIR, DAN TEKSTIL DI BALI Setem, Wayan; Mudana, I Wayan
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 13 No. 2 (2021): Brikolase Desember
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v13i2.3763

Abstract

Artikel ini merupakan hasil riset bertujuan untuk mendeskripsikan leksikon yang rangkuman informasi beragam  terkait istilah-istilah seni rupa bidang seni lukis klasik wayang Kamasan, seni ukir, dan tekstil di Bali. Adapun sebagai sub-sistem, seni lukis klasik wayang Kamasan, seni ukir, dan tekstil mengandung berbagai unsur saling berkait yakni   konsep keindahan yang menjadi arahan, teknik yang dicari, disebarkan dan dikembangkan untuk memberi bentuk kepada konsep-konsep keindahan, ada seniman/pengerajian  yang mengelola pembuatan karya, penularan keahlian, teknik, fungsi, makna, dan peristiwa kesejarahan.  Teori yang digunakan adalah linguistik struktural, leksikologi dan leksikografi. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yakni metode kajian pustaka, wawancara, dan lawatan sejarah yang dilanjutkan dengan  teknik pencatatan. Dalam metode analisis data pemilihan elemen penentu dengan teknik korelasional dilanjutkan teknik analisis induktif dan deduktif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan adanya leksikon khas yang digunakan oleh seniman/pengerajin seni lukis klasik wayang Kamasan, seni ukir, dan tekstil di Bali.  Leksikon tersebut terdiri dari tiga katagori, yakni alat dan bahan, proses pembuatan, dan estetika. Leksikon ketiga bidang seni rupa tersebut juga memiliki dua katagori fungsi yakni sebagai pemberian nama dan sebagai proses pembuatan. Begitu juga pada ragam penggambaran/motif memiliki nilai budaya berdemensi vertikal (religi dan kepercayaan) serta nilai budaya berdemensi horisontal meliputi nilai tradisi, nilai perasaan dan kedamaian, berorientasi alam, nilai kesejahteraan, dan nilai sosial.  
TOYA CAMPUHAN: AIR DAN PERADABAN MANUSIA DALAM PENCIPTAAN SENI LUKIS Setem, I Wayan; Kondra, I Wayan; Gede Putra Jaya, I Made
Brikolase : Jurnal Kajian Teori, Praktik dan Wacana Seni Budaya Rupa Vol. 14 No. 1 (2022): Brikolase Juli 2022
Publisher : Institut Seni Indoensia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/brikolase.v14i1.4232

Abstract

TThe purpose of this research and art creation is to create and present artworks with “Toya Campuhan: Water and Human Civilization” as the source of inspiration. World civilization, especially in ancient Bali, has emerged and developed around water as its source of life. Water sources, such as river confluences, act as a pulse, supporting the joints that contribute significantly to various parts of physical and spiritual life. Due to this, water must be conserved, so that they always provide benefits for the journey of human life far into the future. However, the current condition of rivers in Bali is really worrying, as various pollutants pollute them. Slowly but surely, the water condition will worsen if we continue to let it be. This evokes my empathy, emotion, and hope about a healthy river confluence as a mission that I wanted to convey through the creation of this painting. This creation model becomes a cultural expression as a medium for increasing public appreciation to raise the spirit of ecological resilience over the problem of water pollution. This creation is based on research, where the method consists of two parts, namely the research method and the creation method. The research method uses an anthropological approach, especially related to ethnography. Meanwhile, the creation method passes through three stages: exploration, improvisation, and the embodiment of the work, which is preceded by a study of similar works of art and literature review.
Bayangan Sebagai Inspirasi pada Penciptaan Karya Seni Grafis Cetak Tinggi Aryani, Ni Nyoman Ayu Suti; Wirakesuma, I Nengah; Setem, I Wayan
CITA KARA : JURNAL PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI MURNI Vol 5 No 1 (2025): Cita Kara: Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni Murni
Publisher : Program Studi Seni Murni ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/ctkr.v5i1.4459

Abstract

Shadows can be used as an interesting element in the creation of high-print graphic art. In the concept carried out in this final report, shadows are not only a visual representation but also a source of inspiration for the author. In the process of creating this artwork, the high print technique is used as the main technique, and a combination of several other media. Humans usually copy the surrounding nature as their aesthetic, which they usually find as experiences and memories. This form of experience is referred to as aesthetic experience or can also be referred to as inspiration. According to Munro, aesthetic experience is the way a stimulus responds to something that exists from outside the self, not just through sensory perception, but also related to psychological processes such as imagination and emotion Based on this description, shadows can be an object of aesthetic experience for the subject as a spectator and creator in the creation of a work. The shape of the shadow, which changes every time, gives room for exploration and understanding of the shapes produced by shadows, especially shadows from plants. Shadows from plants become the main object because they can be found every day. They become a form of experience that is familiar, aesthetic, and interesting to be used as a source of inspiration for creating high-print graphic art.
CILI as a source of inspiration for ideas for crating work of fine art Utama, Pande Komang Budhi Sastra; Setem, I Wayan; Kondra, I Wayan
CITA KARA : JURNAL PENCIPTAAN DAN PENGKAJIAN SENI MURNI Vol 5 No 1 (2025): Cita Kara: Jurnal Penciptaan dan Pengkajian Seni Murni
Publisher : Program Studi Seni Murni ISI Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59997/ctkr.v5i1.4512

Abstract

This report describes the creation of works of painting with the theme "Cili as a source of inspiration for ideas for creating works of fine art", which was inspired by the unique shape of a cili, a ceremony in agrarian life that is involved in most people. In this case, Cili is a symbol of the transformation of the Goddess Sri into the Goddess of Fertility, Prosperity of the Mother Goddess or Mother Earth, from the land or Mother Earth all human needs emerge, for example plants and others. Cili is a symbol that is closely related to life and fertility. sometimes cili is associated with the goddess Sri, the goddess of rice, who symbolizes fertility. The meaning of chili in Balinese culture is closely related to the ceremonies in agricultural life that most people participate in. In this case, chili becomes a symbol of the reproduction of Dewi Sri as the goddess of fertility, prosperity of the Mother Goddess or Mother Earth, from whom the land or Mother Earth produces all human needs, for example plants and others. In the creation process using steps: basic research, exploration, improvisation. In the process of creating the work, the author took references from the Wasundari Kamasan studio as a source for creating the work. The author combines the given ornaments. In the creation process the author took the shape of water, the shape of rocks, and the shape of a tree.
PALELINTANGAN DALAM SENI RUPA POP I Made Sudana; I Wayan Setem; I Wayan Mudana
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.49166

Abstract

Balinese traditional painting, especially Wayang Kamasan painting, has a long and rich history. However, in the era of globalization and modernization, traditional arts often experience difficulties in surviving. This phenomenon is not unique to Bali, but is happening in traditional art communities around the world. With the advent of digital media, fast-paced urban lifestyles, and changing cultural values, traditional artists often feel pressure to adapt their work to changing market tastes. Some Balinese traditional artists are trying to incorporate modern elements into their work to appeal to the younger generation and the international market, as well as to preserve the culture. Nevertheless, this challenge cannot be ignored and maintain the sustainability of this traditional painting art in the face of increasing modernization trends. This creation discusses the creation of pop art by displaying the form of palelintangan which is poured into several mass cultural products in order to form creative and innovative works. In its creation process, this work follows the principles outlined by Hawkins in his book "Creating Through Dance," which states that creating good painting and dance art involves three main stages: exploration, improvisation, and forming or composition. Palelintangan is a series of paintings that depict astronomical information and provide interpretations of individuals' character and destiny based on their date of birth. By studying palelintangan, one can understand predictions about their personality and fortune. The purpose of creating this is to preserve palelintangan art to remain relevant in the future. The ultimate outcome of this creation process is the production of works inspired by various forms of palelintangan with a touch of modern popular culture embedded within them.Keywords: Birth, Palelintangan, Pop ArtAbstrakSeni lukis tradisional Bali khususnya seni lukis wayang Kamasan mempunyai sejarah yang panjang dan kaya akan makna filosofis seperti cerita Mahabarata, Ramayana, Sutasoma, Tantri, Men Brayut, dan Palelintangan. Namun di era globalisasi dan modernisasi, kesenian tradisional seringkali mengalami kesulitan dalam bertahan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Bali saja, namun dinamika ini terjadi di berbagai komunitas seni tradisional di seluruh dunia. Dengan munculnya media digital, gaya hidup perkotaan yang serba cepat, dan perubahan nilai-nilai budaya, seniman tradisional seringkali merasakan tekanan untuk menyesuaikan karyanya dengan perubahan selera pasar. Beberapa seniman tradisional Bali berusaha memasukkan unsur-unsur modern ke dalam karyanya untuk menarik perhatian generasi muda dan pasar internasional, sekaligus untuk melestarikan budaya. Meski demikian, tantangan ini tidak bisa diabaikan dan menjaga keberlangsungan seni lukis tradisional ini dalam menghadapi tren modernisasi yang semakin meningkat. Penciptaan ini membahas penciptaan seni rupa pop dengan menampilkan bentuk palelintangan yang dituangkan dalam beberapa produk budaya masa agar terbentuk karya yang kreatif dan inovatif. Dalam proses penciptaannya, karya ini mengikuti prinsip-prinsip yang dijelaskan oleh Hawkins dalam bukunya "Creating Through Dance", yang menyatakan bahwa penciptaan seni lukis dan tari yang baik melibatkan tiga tahap utama: eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan atau komposisi. Palelintangan adalah sebuah seri lukisan yang menggambarkan informasi ilmu astronomi serta memberikan interpretasi tentang karakter dan nasib seseorang berdasarkan hari kelahiran mereka. Dengan mempelajari palelintangan, seseorang dapat memahami ramalan tentang kepribadian dan nasib mereka. Tujuan dari penciptaan ini adalah untuk melestarikan seni palelintangan agar tetap relevan di masa depan. Hasil akhir dari proses penciptaan ini adalah terciptanya karya-karya yang terinspirasi dari bentuk-bentuk palelintangan dengan sentuhan budaya pop modern di dalamnya.Kata Kunci: Kelahiran, Palelintangan, Seni Rupa PopAuthors:I Made Sudana : ISI DenpasarI Wayan Setem : ISI DenpasarI Wayan Mudana : ISI Denpasar ReferencesGunada, I. Wayan Agus. "Ajaran Agama Hindu Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Tradisional Bali." Gorga: Jurnal Seni Rupa 9.1 (2020): 158-165.Helai Buku, 2020.Watak Kelahiran Anak yang Dipengaruhi Oleh Wuku, Lintang, Pranamangsa, dan Zodiak,  DAFTAR RUJUKANGunada, I. Wayan Agus. "Ajaran Agama Hindu Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Tradisional Bali." Gorga: Jurnal Seni Rupa 9.1 (2020): 158-165.Helai Buku, 2020.Watak Kelahiran Anak yang Dipengaruhi Oleh Wuku, Lintang, Pranamangsa, dan Zodiak, https://helaibuku.blogspot.com/2020/10/watak-kelahiran-anak- yang-dipengaruhi.html?m=1 , diakses pada 02 November 2021.I Made Sukanta. 22 November 2021. Rumah Wayang Kamasan, Br. Pande, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, Bali.I Wayan Pande Sumantra. 22 November 2021. Rumah Wayang Kamasann. Br. Pande, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, Bali.Made Hendra Sasmita dan Salamun Kaulam. (2016). Proses Dan Visualisasi Seni Lukis I Nyoman Mandra. Jurnal Seni Rupa, 4(02), 177“183.Ni Made Sinarwati. 22 November 2021. Rumah Wayang Kamasan, Br. Pande, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, Bali.Ni Wayan Sri Wedari. 20 November 2021. Sanggar Wasundari. Br. Sangging, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, BaliRajudin, R., M. Miswar, and Y. Muler. "Metode Penciptaan Bentuk Representasional, Simbolik, Dan Abstrak (Studi Penciptaan Karya Seni Murni Di Sumatera Barat, Indonesia). Gorga." Jurnal Seni Rupa 9.2 (2020): 261.Saragih, Lisa Andriani. Analisis Kerajinan Souvenir Diorama Berbahan Limbah Pada Pengrajin Dikraf Berdasarkan Prinsip-Prinsip Desain. Diss. UNIMED, 2018.Setem, Wayan. (2021). KOSARUPA BALI. Denpasar: Prasasti.Soedarsono, R. M. AUTOBIOGRAFI RM SOEDARSONO: Perintis dan Pengembang Pendidikan Seni Pertunjukan di Indonesia Dari Yogyakarta Mendunia untuk Indonesia. UGM PRESS, 2021.Tabrani, Primadi. "Bahasa Rupa Dan Kemungkinan Munculnya Senirupa Indonesia Kontemporer Yang Baru." Jurnal Komunikasi Visual WIMBA 8.1 (2017): 1-12.
PALELINTANGAN DALAM SENI RUPA POP Sudana, I Made; Setem, I Wayan; Mudana, I Wayan
Gorga : Jurnal Seni Rupa Vol. 13 No. 1 (2024): Gorga : Jurnal Seni Rupa
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/gr.v13i01.49166

Abstract

Balinese traditional painting, especially Wayang Kamasan painting, has a long and rich history. However, in the era of globalization and modernization, traditional arts often experience difficulties in surviving. This phenomenon is not unique to Bali, but is happening in traditional art communities around the world. With the advent of digital media, fast-paced urban lifestyles, and changing cultural values, traditional artists often feel pressure to adapt their work to changing market tastes. Some Balinese traditional artists are trying to incorporate modern elements into their work to appeal to the younger generation and the international market, as well as to preserve the culture. Nevertheless, this challenge cannot be ignored and maintain the sustainability of this traditional painting art in the face of increasing modernization trends. This creation discusses the creation of pop art by displaying the form of palelintangan which is poured into several mass cultural products in order to form creative and innovative works. In its creation process, this work follows the principles outlined by Hawkins in his book "Creating Through Dance," which states that creating good painting and dance art involves three main stages: exploration, improvisation, and forming or composition. Palelintangan is a series of paintings that depict astronomical information and provide interpretations of individuals' character and destiny based on their date of birth. By studying palelintangan, one can understand predictions about their personality and fortune. The purpose of creating this is to preserve palelintangan art to remain relevant in the future. The ultimate outcome of this creation process is the production of works inspired by various forms of palelintangan with a touch of modern popular culture embedded within them.Keywords: Birth, Palelintangan, Pop ArtAbstrakSeni lukis tradisional Bali khususnya seni lukis wayang Kamasan mempunyai sejarah yang panjang dan kaya akan makna filosofis seperti cerita Mahabarata, Ramayana, Sutasoma, Tantri, Men Brayut, dan Palelintangan. Namun di era globalisasi dan modernisasi, kesenian tradisional seringkali mengalami kesulitan dalam bertahan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Bali saja, namun dinamika ini terjadi di berbagai komunitas seni tradisional di seluruh dunia. Dengan munculnya media digital, gaya hidup perkotaan yang serba cepat, dan perubahan nilai-nilai budaya, seniman tradisional seringkali merasakan tekanan untuk menyesuaikan karyanya dengan perubahan selera pasar. Beberapa seniman tradisional Bali berusaha memasukkan unsur-unsur modern ke dalam karyanya untuk menarik perhatian generasi muda dan pasar internasional, sekaligus untuk melestarikan budaya. Meski demikian, tantangan ini tidak bisa diabaikan dan menjaga keberlangsungan seni lukis tradisional ini dalam menghadapi tren modernisasi yang semakin meningkat. Penciptaan ini membahas penciptaan seni rupa pop dengan menampilkan bentuk palelintangan yang dituangkan dalam beberapa produk budaya masa agar terbentuk karya yang kreatif dan inovatif. Dalam proses penciptaannya, karya ini mengikuti prinsip-prinsip yang dijelaskan oleh Hawkins dalam bukunya "Creating Through Dance", yang menyatakan bahwa penciptaan seni lukis dan tari yang baik melibatkan tiga tahap utama: eksplorasi, improvisasi, dan pembentukan atau komposisi. Palelintangan adalah sebuah seri lukisan yang menggambarkan informasi ilmu astronomi serta memberikan interpretasi tentang karakter dan nasib seseorang berdasarkan hari kelahiran mereka. Dengan mempelajari palelintangan, seseorang dapat memahami ramalan tentang kepribadian dan nasib mereka. Tujuan dari penciptaan ini adalah untuk melestarikan seni palelintangan agar tetap relevan di masa depan. Hasil akhir dari proses penciptaan ini adalah terciptanya karya-karya yang terinspirasi dari bentuk-bentuk palelintangan dengan sentuhan budaya pop modern di dalamnya.Kata Kunci: Kelahiran, Palelintangan, Seni Rupa PopAuthors:I Made Sudana : ISI DenpasarI Wayan Setem : ISI DenpasarI Wayan Mudana : ISI Denpasar ReferencesGunada, I. Wayan Agus. "Ajaran Agama Hindu Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Tradisional Bali." Gorga: Jurnal Seni Rupa 9.1 (2020): 158-165.Helai Buku, 2020.Watak Kelahiran Anak yang Dipengaruhi Oleh Wuku, Lintang, Pranamangsa, dan Zodiak,  DAFTAR RUJUKANGunada, I. Wayan Agus. "Ajaran Agama Hindu Sebagai Inspirasi Penciptaan Karya Seni Lukis Tradisional Bali." Gorga: Jurnal Seni Rupa 9.1 (2020): 158-165.Helai Buku, 2020.Watak Kelahiran Anak yang Dipengaruhi Oleh Wuku, Lintang, Pranamangsa, dan Zodiak, https://helaibuku.blogspot.com/2020/10/watak-kelahiran-anak- yang-dipengaruhi.html?m=1 , diakses pada 02 November 2021.I Made Sukanta. 22 November 2021. Rumah Wayang Kamasan, Br. Pande, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, Bali.I Wayan Pande Sumantra. 22 November 2021. Rumah Wayang Kamasann. Br. Pande, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, Bali.Made Hendra Sasmita dan Salamun Kaulam. (2016). Proses Dan Visualisasi Seni Lukis I Nyoman Mandra. Jurnal Seni Rupa, 4(02), 177“183.Ni Made Sinarwati. 22 November 2021. Rumah Wayang Kamasan, Br. Pande, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, Bali.Ni Wayan Sri Wedari. 20 November 2021. Sanggar Wasundari. Br. Sangging, Desa Kamasan, Kec. Klungkung, BaliRajudin, R., M. Miswar, and Y. Muler. "Metode Penciptaan Bentuk Representasional, Simbolik, Dan Abstrak (Studi Penciptaan Karya Seni Murni Di Sumatera Barat, Indonesia). Gorga." Jurnal Seni Rupa 9.2 (2020): 261.Saragih, Lisa Andriani. Analisis Kerajinan Souvenir Diorama Berbahan Limbah Pada Pengrajin Dikraf Berdasarkan Prinsip-Prinsip Desain. Diss. UNIMED, 2018.Setem, Wayan. (2021). KOSARUPA BALI. Denpasar: Prasasti.Soedarsono, R. M. AUTOBIOGRAFI RM SOEDARSONO: Perintis dan Pengembang Pendidikan Seni Pertunjukan di Indonesia Dari Yogyakarta Mendunia untuk Indonesia. UGM PRESS, 2021.Tabrani, Primadi. "Bahasa Rupa Dan Kemungkinan Munculnya Senirupa Indonesia Kontemporer Yang Baru." Jurnal Komunikasi Visual WIMBA 8.1 (2017): 1-12.
REVITALISASI FUNGSI PARIWISATA KALI UNDA SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN EKONOMI DESA PAKSEBALI, KECAMATAN DAWAN, KABUPATEN KLUNGKUNG Setem, Wayan; Gulendra, I Wayan; Yudha, I Made Bendi; Kariana, I Nengah; Putra, Anak Agung Ramanda
Abdi Seni Vol. 15 No. 1 (2024)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/abdiseni.v15i1.5181

Abstract

Paksebali Village is one of 12 villages in Dawan District, Klungkung, Bali, which is one of the supporting villages for winning Adi Pura, which has natural resource potential in the form of the Kali Unda tourism object. The problem that occurs, the potential of human resources, namely the surrounding community, does not optimize and utilize the existing natural potential. Poor management of facilities makes this tour less attractive to visitors. The background is that the management of the Kali Unda tourist attraction has not been optimal so that it has an impact on the lack of interest of tourists to visit and this also has an impact on the absence of locally-generated revenue (PAD) from tourism activities. This community service is to revitalize the tourism function as an effort to improve the economy of Paksebali Village, Dawan District, Klungkung Regency. The ABCD (Asset Based Community Development) method used in the implementation of this community service consists of five key steps, namely discovery, dream, design, define and destiny. The aim of revitalizing the Kali Unda tourist area is an effort to organize the area to restore the vitality of the area which has declined by building reflection therapy ponds, fish nursery ponds, ornamental fish ponds, self-photo spots, goldfish statues, dragon statues, and mural art. The impact of the development and improvement of the function of facilities and infrastructure is able to influence the increase in tourist visits which also has an impact on people's welfare.