Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Postur Kerja dengan Keluhan Gangguan Otot Rangka Akibat Kerja (Gotrak) pada Pekerja Unit Quality Control (QC) PT.X Banten Fierdania Yusvita; Hadi Nugroho
Malahayati Nursing Journal Vol 8, No 1 (2026): Volume 8 Nomor 1 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v8i1.23781

Abstract

ABSTRACT Work-Related Musculoskeletal Disorders are an ergonomic risk that can affect every worker, including workers in the Quality Control (QC) Unit. The work process in the QC Unit of PT.X involves a series of activities such as analyzing and testing raw materials, analyzing production processes up to the final product, and compiling reports. These activities are often not supported by an ergonomic working posture, thus increasing the incidence of musculoskeletal pain complaints. The aim of this study was to determine the relationship between work posture and GOTRAK complaints in QC Unit workers at PT.X. This study used a quantitative research method with a cross-sectional research design, conducted on 30 workers in the QC Unit of PT.X. Work posture assessment was performed using the Rapid Office Strain Assessment (ROSA), while WMSDs complaints were measured using the Nordic Body Map (NBM). Data analysis was conducted using the Chi-square test. 63.3% of workers had GOTRAK complaints with the highest complaints in the neck, back and waist. Statistical test results showed a p value = 0,028, so it was concluded that there was a relationship between work posture andGOTRAK complaints. Work posture has been proven to be related to GOTRAK complaints. It is recommended that PT.X increase its commitment to managing ergonomic hazards and risks by improving work design, providing education on ergonomic work processes, and ensuring that ergonomic risks in the form of GOTRAK complaints can be controlled in accordance with applicable regulations. Keyword: Work-Related Musculoskeletal Disorders, Work Posture, Ergonomics.  ABSTRAK Gangguan Otot Akibat Pekerjaan (GOTRAK) merupakan risiko ergonomi yang dapat menimpa setiap pekerja, termasuk pekerja di Unit Quality Control (QC).  Proses pekerjaan di Unit QC PT.X merupakan rangkaian aktivitas seperti menganalisis dan menguji bahan baku, menganalisis proses produksi sampai dengan produk serta menyusun laporan, hal ini seringkali tidak ditunjang oleh postur kerja ergonomis sehingga meningkatkan keluhan nyeri muskuloskeletal. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui hubungan postur kerja dengan keluhan GOTRAK pada pekerja Unit QC PT.X. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan desain penelitian cross sectional yang dilakukan pada 30 orang pekerja Unit QC PT.X. Penilaian postur kerja menggunakan Rapid Office Strain Assessment (ROSA), sedangkan keluhan GOTRAK diukur menggunakan Nordic Body Map (NBM). Analisis data menggunakan uji Chi-square. Sebanyak 63,3% pekerja memiliki keluhan GOTRAK dengan keluhan tertinggi pada  bagian leher, punggung dan pinggang. Hasil uji statistik menunjukkan hasil p value = 0,028 sehingga disimpulkan terdapat hubungan antara postur kerja dengan keluhan GOTRAK. Postur kerja terbukti memiliki hubungan dengan keluhan GOTRAK. Disarankan kepada PT.X untuk meningkatkan komitmen pada pengelolaan bahaya dan risiko ergonomi berupa perbaikan desain kerja, edukasi terkait proses kerja yang ergonomis dan memastikan risiko ergonomi berupa keluhan GOTRAK dapat dikendalikan sesuai peraturan yang berlaku.  Kata Kunci: GOTRAK, Postur Kerja, Ergonomi.
Review of Active Fire Protection Compliance Based on National Fire Protection Association (NFPA) Standards in Building X, PT Y Nita, Widian; Cut Alia Keumala Muda; Fierdania Yusvita; Namira Wadjir Sangadji; Muhammad Rizky Jayana
Jurnal Kesehatan Masyarakat Perkotaan Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Kesehatan Masyarakat Perkotaan
Publisher : LPPM Universitas Mohammad Husni Thamrin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37012/jkmp.v6i1.3335

Abstract

Fire remains a global problem with a significant impact on life safety and economic losses. Data from the National Fire Protection Association shows that in 2023, there were approximately 1,389,000 fires in the United States, including 470,000 building fires, resulting in fatalities and billions of dollars in losses. Office buildings have a high fire risk due to the intensity of activity and the use of electrical installations, requiring fire protection systems that adhere to National Fire Protection Association (NFPA) standards. In 2025, a fire occurred on the first floor of Building X, South Jakarta, triggered by a short circuit due to an air conditioning drainage leak and unprotected cables. This study aimed to assess the compliance of fire extinguishers (APAR), hydrants, sprinklers, detectors, and fire alarms with NFPA standards. The method used was qualitative with a narrative design through observation using the NFPA checklist, measuring installation distances, documenting equipment, and reviewing documents, which were then analyzed chronologically (restorying). The results showed that 35.7% of fire extinguishers did not comply with NFPA 10, 13.3% of fire hydrants did not comply with NFPA 14, and 25% of sprinklers did not comply with NFPA 13. All detectors and alarms were 100% compliant with NFPA 72. Installation improvements, increased maintenance, and regular monitoring in accordance with NFPA standards are recommended to minimize fire risk.
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP KEJADIAN STUNTING DI PUSKESMAS SEPATAN, KABUPATEN TANGERANG: THE RELATIONSHIP BETWEEN MATERNAL KNOWLEDGE AND STUNTING INCIDENCE AT THE SEPATAN HEALTH CENTER, TANGERANG REGENCY, 2025 Hadi Nugroho; Fierdania Yusvita; Gunita Fauziati
Quality: Jurnal Kesehatan Vol 20 No 1 (2026): Quality: Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/qjk.v20i1.3124

Abstract

Stunting is a chronic nutritional problem affecting children's growth, cognitive development, and human resource quality. Maternal knowledge is a key factor in stunting prevention through appropriate feeding and child-rearing practices. This study aimed to analyze the association between maternal knowledge and stunting incidence in children under five at Puskesmas Sepatan, Tangerang Regency, and to quantify the adjusted risk through multivariate analysis while controlling for confounders. A case-control design was used with 80 respondents (40 stunting cases and 40 non-stunting controls) drawn from the same source population and selected purposively. Data were collected through structured interviews using a validated questionnaire and height-for-age measurements based on WHO standards. Bivariate analysis used the Chi-square test and multivariate analysis used binary logistic regression with backward elimination and confounding assessment. Bivariate results showed a significant association between maternal knowledge and stunting (p=0.001); the proportion of mothers with poor knowledge was higher in the case group (62.5%) than the control group (25.0%). Multivariate modeling, controlling for maternal education and maternal age as confounders, showed that mothers with poor knowledge had a 7.93-fold higher risk of having a stunted child (adjusted OR=7.93; 95% CI: 2.36–26.55; p<0.001). The model yielded a Nagelkerke R Square of 0.381 and was declared fit (Hosmer-Lemeshow p=0.761). Maternal knowledge is the modifiable determinant most strongly associated with stunting. Improving maternal knowledge through continuous nutrition counseling at the health center should be prioritized as a stunting prevention strategy
Pelatihan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) di UPTD SDN Mekarjaya 11 Depok Fierdania Yusvita; Desyawati Utami; Cut Alia Keumala Muda
IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services Vol. 3 No. 2 (2022): IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ijecs.v3i2.2875

Abstract

Risiko kecelakaan dan berbagai kondisi darurat dapat terjadi di mana saja dan menimpa siapa saja, termasuk para siswa/i di sekolah dasar (SD) sehingga meningkatkan pengetahuan dan memberdayakan setiap warga sekolah untuk dapat melakukan pertolongan pertama jika terjadi kecelakaan dan kondisi darurat di sekolah penting untuk dilakukan. Kegiatan pengabdian masyarakat yang berupa pemberian edukasi dan pelatihan P3K pada siswa/I sekolah dasar ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan siswa/I tentang bahaya dan risiko keselamatan di sekolah, mengenal kecelakaan yang dapat terjadi di sekolah serta meningkatkan kemampuan siswa/I SD dalam memberikan pertolongan pertama pada kecelakaan (P3K). Kegiatan ini dilaksanakan melalui kegiatan ANR-Minerva goes to school yang diselenggarakan oleh Minerva.Cons dan ANR pada Bulan Oktober 2022 dengan Tema “Pelatihan P3K-Dokcil di UPTD SDN Mekarjaya 11”. Sasaran kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah siswa/I SDN Mekarjaya 11, dengan jumlah peserta sebanyak 31 orang siswa/i. Evaluasi pelaksanaan kegiatan abdimas menunjukkan terjadinya peningkatan pengetahuan sebesar 26% pada siswa/I tentang jenis bahaya dan kecelakaan yang ada di sekolah dan keterampilan siswa/I dalam  melakukan P3K pada luka di kepala dan tangan dengan menggunakan mitela/ kain segitiga. Diharapkan kegiatan P3K ini akan berlangsung secara kontinyu dan bertahap pada jenis P3K lainnya yang dapat dilakukan jika terjadi kecelakaan di sekolah.
Edukasi Kesehatan Kerja Tentang Gangguan Ginjal Akut Pada Pekerja PT. Andalan Utama Transportasi Otomotif Tahun 2024 Fierdania Yusvita; Cut Alia Keumala Muda; Namira Wadjir Sangadji
IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services Vol. 5 No. 1 (2024): IJECS: Indonesian Journal of Empowerment and Community Services
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ijecs.v5i1.5088

Abstract

Gangguan Ginjal Akut merupakan kerusakan secara mendadak pada ginjal yang terjadi karena penyumbatan urin saat melalui ginjal. Hal ini dapat dialami oleh setiap populasi termasuk pekerja di sektor logistik sehingga perlu dilakukan edukasi tentang kesehatan kerja terkait gangguan ginjal akibat kerja. Tujuan kegiatan pengabdian masyarakat ini adalah meningkatkan pengetahuan pekerja tentang pentingnya penerapan kesehatan kerja di tempat kerja khususnya berkaitan dengan masalah gangguan ginjal akut akibat kerja. Pengabdian Masyarakat ini dilaksanakan pada Bulan Januari 2024 pada 21 orang perwakilan pekerja. Hasil kegiatan ini berupa terjadinya peningkatan pengetahuan peserta, diukur berdasarkan perbedaan nilai rata-rata hasil pre-test dan post-test peserta abdimas. Nilai rerata pre-test adalah sebesar 46,71 sedangkan nilai rerata saat post-test adalah sebesar 75,23 sehingga dapat disimpulkan terjadi peningkatan sebesar 28,52%. Disarankan kepada perusahaan untuk meningkatkan frekuensi kegiatan edukasi dan promosi secara reguler, setidaknya per 2-3 bulan khususnya berkaitan dengan topik kesehatan kerja sehingga derajat kesehatan pekerja dapat tercapai dengan optimal.
PENGUATAN PENGETAHUAN DASAR KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA PADA OPERATOR WISATA JBOUND GEO EDU PARK BOGOR TAHUN 2026 Muda, Cut Alia Keumala; Cholik, Dudi Abdul; Yusvita, Fierdania; Andani, Dhea Julia
Jurnal Pengabdian Masyarakat AbdiMas Vol 12, No 5 (2026): Jurnal Pengabdian Masyarakat Abdimas
Publisher : Universitas Esa Unggul

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47007/abd.v12i5.10959

Abstract

AbstrakKeselamatan dan kesehatan kerja (K3) merupakan hal yang penting dan mendasar dalam berbagai kegiatan termasuk kegiatan berwisata ke objek wisata. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dasar Keselamatan dan Kesehatan Kerja tentang bahaya, resiko, dan pengendaliannya. Pelatihan dilakukan menggunakan metode ceramah dan diskusi interaktif, pada bulan Maret 2026 yang diberikan oleh dosen kesehatan masyarakat dan praktisi bekerja di ketinggian yang menjelaskan tentang definisi bahaya, resiko, dan pengendaliannya. Dalam sesi diskusi interaktif, peserta dapat bertanya dan berbagi pengalaman mereka tentang dasar-dasar keselamatan dan kesehatan kerja, hal ini membantu peserta dalam memperkuat pemahaman mereka. Pelatihan ini dilaksanakan di Jbound Geo Edu Park Bogor dan dihadiri sebanyak 25 peserta. Kegiatan pelatihan dimulai dari kedatangan peserta, senam pagi dan pelatihan yang didalamnya juga terdapat pembagian pre-test, penyampaian materi, sesi tanya jawab, serta pembagian post-test. Kegiatan pelatihan berjalan dengan lancar dan kondusif, ditandai dengan keaktifan partisipan selama kegiatan berlangsung. Hal ini dapat dilihat melalui hasil pre-test dan post-test yang telah diberikan kepada responden bahwa terdapat peningkatan pengetahuan mengenai dasar keselamatan dan kesehatan kerja yang telah disampaikan.Kata kunci : K3, Operator, Wisata
Gambaran Stres Kerja, Depresi, dan Kecemasan pada Perawat RS XYZ Tahun 2025 Dedi Gunawan; Eka Cempaka Putri; Fierdania Yusvita; Izzatu Millah; Erna Veronika
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v5i1.8086

Abstract

Stres kerja, depresi, dan kecemasan merupakan masalah kesehatan mental yang berpotensi dialami perawat akibat tuntutan pekerjaan, tanggung jawab profesional, dan tekanan lingkungan kerja rumah sakit. Kondisi ini dapat memengaruhi kesejahteraan psikologis serta kualitas pelayanan keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran stres kerja, depresi, dan kecemasan pada perawat di RS XYZ Tahun 2025. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 85 perawat yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner untuk mengukur tingkat stres kerja, depresi, dan kecemasan dengan kategori normal, ringan, sedang, parah, dan sangat parah. Data dianalisis secara univariat dalam bentuk distribusi frekuensi dan persentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar perawat berada pada kategori normal untuk stres kerja (77,6%), depresi (77,6%), dan kecemasan (78,8%). Meskipun demikian, masih terdapat perawat yang mengalami stres kerja, depresi, dan kecemasan pada tingkat ringan hingga parah dalam proporsi yang lebih kecil. Kesimpulan yang didapatkan adalah kondisi kesehatan mental perawat di RS XYZ Tahun 2025 berada pada kategori normal, namun tetap ditemukan gejala pada sebagian responden sehingga diperlukan upaya pemantauan dan dukungan psikologis secara berkelanjutan.
Pengukuran Tingkat Pengetahuan Tentang Bahaya Keselamatan Sebelum Dan Sesudah Edukasi Pada Siswa/I Sekolah Dasar X Depok Fierdania Yusvita; Desyawati Utami
Journal of Religion and Public Health Vol. 7 No. 2 (2025)
Publisher : Public Health Study Program, Faculty of Health Science, State Islamic University (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/jrph.v7i2.49906

Abstract

Schools have various safety hazards due to their teaching and learning activities. These hazards can cause losses such as injuries, health problems, and damage to school property and the environment. This study aims to determine the effect of safety education on students' knowledge levels. A pre-experimental design with a one-group pretest-posttest was used for the research design. A total of 32 respondents, including student representatives, Junior Doctors, and Scouts from SD X in Mekarjaya, Kota Depok, West Java, participated in the study. The study was conducted in October 2024. Safety education was delivered through lectures, posters, and PowerPoint presentations. Knowledge improvement was measured by distributing questionnaires about safety hazards and risks at school before and after the educational program. The analysis was conducted using a t-test. The results showed that the average score was 50.84 before the educational program and increased to 89.22 after. These results indicate a significant improvement in knowledge of safety hazards at school (p-value = 0.000). It is recommended that SDN Mekarjaya 11 Depok's management conduct regular health and safety education activities involving all stakeholders, including parents and the local education office, to optimize the development of a safety culture at the school.   Keywords : Safety Hazard, Safety at School, Safety Promotion 
HUBUNGAN PENGETAHUAN IBU TERHADAP KEJADIAN STUNTING DI PUSKESMAS SEPATAN, KABUPATEN TANGERANG: THE RELATIONSHIP BETWEEN MATERNAL KNOWLEDGE AND STUNTING INCIDENCE AT THE SEPATAN HEALTH CENTER, TANGERANG REGENCY, 2025 Hadi Nugroho; Fierdania Yusvita; Gunita Fauziati
Quality: Jurnal Kesehatan Vol 20 No 1 (2026): Quality: Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Kemenkes RI Jakarta I

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36082/qjk.v20i1.3124

Abstract

Stunting is a chronic nutritional problem affecting children's growth, cognitive development, and human resource quality. Maternal knowledge is a key factor in stunting prevention through appropriate feeding and child-rearing practices. This study aimed to analyze the association between maternal knowledge and stunting incidence in children under five at Puskesmas Sepatan, Tangerang Regency, and to quantify the adjusted risk through multivariate analysis while controlling for confounders. A case-control design was used with 80 respondents (40 stunting cases and 40 non-stunting controls) drawn from the same source population and selected purposively. Data were collected through structured interviews using a validated questionnaire and height-for-age measurements based on WHO standards. Bivariate analysis used the Chi-square test and multivariate analysis used binary logistic regression with backward elimination and confounding assessment. Bivariate results showed a significant association between maternal knowledge and stunting (p=0.001); the proportion of mothers with poor knowledge was higher in the case group (62.5%) than the control group (25.0%). Multivariate modeling, controlling for maternal education and maternal age as confounders, showed that mothers with poor knowledge had a 7.93-fold higher risk of having a stunted child (adjusted OR=7.93; 95% CI: 2.36–26.55; p<0.001). The model yielded a Nagelkerke R Square of 0.381 and was declared fit (Hosmer-Lemeshow p=0.761). Maternal knowledge is the modifiable determinant most strongly associated with stunting. Improving maternal knowledge through continuous nutrition counseling at the health center should be prioritized as a stunting prevention strategy
Faktor-Faktor yang Berhubungan dengan Perilaku Tidak Aman pada Karyawan Departemen Produksi di PT X Jakarta laras dewi untari; Devi Angeliana Kusumaningtiar; Putri Handayan; Fierdania Yusvita
Jurnal Ilmiah Kesehatan Masyarakat : Media Komunikasi Komunitas Kesehatan Masyarakat Vol 13 No 2 (2021): JIKM Vol. 13, Edisi 2, Mei 2021
Publisher : Public Health Undergraduate Program, Faculty of Health Science, Universitas Pembangunan Nasional Veteran Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52022/jikm.v13i2.181

Abstract

Abstrak Latar Belakang : Kasus perilaku tidak aman pada divisi produksi PT X Jakarta menyebabkan kecelakaan kerja dengan total 19 kasus dari data tahun 2015-2020. Tujuan dilakukannya penelitian ini adalah untuk mengethui bebrapa faktor penyebab terkait dengan perilaku tidak aman pada karyawan departemen produksi di PT X Jakarta tahun 2021. Metode : Desain penelitian yang digunakan adalah sectional cross. Populasi penelitian ini adalah karyawan pada divisi produksi PT X Jakarta. Sampel pada penelitian ini berjumlah 45 responden. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner terdiri dari 6 variabel diantaranya adalah perilaku tidak aman, umur, pendidikan, pengetahuan, pelatihan K3 dan pengawasan. pengujian chi square dilakukan untuk melakukan analisis data secara univariat dan bivariat. Hasil : Hasil dari penelitian diketahui bahwa ada hubungan yang kuat antara pendidikan (Pv=0.02), pelatihan (Pv=0.04) dan pengawasan (Pv=0.03) dengan kasus perilaku tidak aman, sedangkan tidak terdapat hubungan antara umur (Pv=0.71) dan pengetahuan (Pv=0.92) dengan kejadian perilaku tidak aman. Kesimpulan : Perusahaan harus dapat mengoptimalkan segala bentuk program K3 yang ada dengan mengatur jadwal pelatihan K3 yanglebih baik lagi dan melakukan peningkatan pengawasan kepada seluruh karyawan terkait kecelakaan kerja yang disebabkan oleh perilaku tidak aman serta memberikan pembinaan yang lebih mendalam lagi terkait pengetahuan perilaku tidak aman. The Factors Associated With Unsafe Behavior in The Production Department Employees at PT X Jakarta Abstract Background : Any case of unsafe behavior in production department PT X Jakarta caused work accidents with a total of 19 cases from 2015 - 2020 data. The purposes of this experiment are to determine factors associated with unsafe behavior in production division employees at PT X Jakarta in 2021. Method : Research design used was sectional cross. Population of this study were employees in the production division of PT X Jakarta. 45 respondents are amounted for Sample in this experiment. Instrument used was a questionnaire consisting of 6 variables, namely unsafe behavior, age, education, knowledge, K3 training and supervision. Chi square test are use to analyzing data with univariat and bivariat method. Result : The results showed that there was a significant correlation between education (Pv = 0.02), training (Pv = 0.04) and supervision (Pv = 0.03) with case of unsafe behavior, while there was no relationship between age (Pv = 0.71) and knowledge (Pv = 0.92) with the case of unsafe behavior. Conclusion : Companies must be able to optimize all forms of existing K3 programs by arranging a better K3 training schedule and increasing supervision of all employees regarding unsafe behavior that can lead to work accidents and providing deeper guidance regarding knowledge of unsafe behavior.