Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

VISUAL BRANDING PRODUK BELIMBING OLAHAN UMKM DEPOK MELALUI DESAIN LOGO Ariefika Listya; Yayah Rukiah
Desain Komunikasi Visual, Manajemen Desain dan Periklanan (Demandia) Vol 3 No 02 (2018): Vol 03, No 02 (September 2018) demandia - Jurnal Desain Komunikasi Visual, Manaj
Publisher : Telkom University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25124/demandia.v3i02.1548

Abstract

Penelitian ini berfokus pada desain logo sebagai visual branding produk lokal asal Depok produksi Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM). Depok memiliki komoditas pertanian unggulan yakni belimbing. Ada lima brand produk belimbing olahan di Depok, yaitu Rasa Dewa, Totoka, Delira, Maharani, dan Olavera. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan estetika dan pendekatan ilmu pemasaran. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara dan studi literatur. Observasi dilakukan dengan mengamati keberadaan logo pada kemasan dan media promosi. Fungsi utama logo adalah untuk membentuk identitas dan membedakannya dengan pesaing, namun desain logo dari kelima brand tersebut memiliki kemiripan dan nampaknya belum kuat identitasnya. Selain itu beberapa diantaranya kurang konsisten dalam implementasinya ke media kemasan maupun media promosi, padahal identitas yang kuat dan branding yang baik diperlukan UMKM agar berdaya saing. Penelitian ini bertujuan mengetahui desain logo sebagai visual branding kelima brand UMKM Depok terkait identitas brand sebagai produk lokal asal Depok. Hasil penelitian menunjukkan beberapa brand tersebut belum memiliki keunikan tersendiri dan identitas yang kuat melalui logonya, dan belum merepresentasikan produk lokal asal Depok melalui logonya.
MAKNA WARNA PADA WAJAH WAYANG GOLEK Yayah Rukiah
Jurnal Desain Vol 2, No 03 (2015): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (496.829 KB) | DOI: 10.30998/jurnaldesain.v2i03.583

Abstract

Indonesia kaya akan seni dan budaya, wayang sebagai warisan budaya Indonesia yang patut dijadikan milik bersama karena isi kandungannya, baik berupa etika maupun estetikanya, tahan uji selama berabad-abad, dan tidak henti-hentinya memukau perhatian orang-orang di dalam maupun di luar negeri. Arti dari wayang adalah bayangan, tetapi dalam perjalanan waktu pengertian wayang itu berubah, dan kini wayang dapat berarti pertunjukan panggung atau teater atau dapat pula berarti aktor dan aktris. Menurut jenis aktor dan aktrisnya, wayang dapat digolongkan atas lima golongan, yaitu: (1) wayang kulit; (2) wayang golek; (3) wayang wong atau wayang orang; (4) wayang beber; (5) wayang klithik. Wayang golek adalah boneka tiga dimensi yang dibuat dari kayu, bulat dan tebal. Pada bagian bawah dan kaki, dibalut dengan pakaian. Boneka golek baru dinikmati sebagai alat perupaan cerita. Raut golek yang secara visual melambangkan watak para tokoh cerita. Warna, terutama warna wajah wayang, mendukung nilai wanda. Warna wajah merupakan tanda watak wayang. 
APLIKASI MOTIF MEGA MENDUNG DARI KAIN BATIK KE MURAL Yayah Rukiah
Jurnal Desain Vol 2, No 01 (2014): Jurnal Desain
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (362.491 KB) | DOI: 10.30998/jurnaldesain.v2i01.571

Abstract

Motif hias awan dalam sebuah ornamen adakalanya dikembangkan dari motif meader. Motif hias demikian sangat dikenal di Cina dan masuk ke Nusantara. Kelokan motif meader yang bersudut siku atau tajam setelah menjadi motif awan, sudut yang tajam diubah menjadi belokan garis lengkung berlipat. Motif mega mendung termasuk dalam ornamen organis karena menggambarkan alam. Mega mendung adalah motif awan yang dihasilkan oleh pengaruh dari cina. Bentuknya yang khas beraut jajar genjang atau belah ketupat dengan kontur bergelombang dan liukan-liukan bersudut, banyak diterapkan pada batik, sehingga menjadi ciri khas batik Cirebon. Dan saat ini banyak motif pada kain batik di aplikasikan ke desain komunikasi visual seperti mural.
Analisis Visual Iklan GoPay Versi Belajar Membaca dan Menulis khikmah susanti; Yayah Rukiah
Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol 4, No 3 (2022): Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/vh.v4i3.5991

Abstract

Iklan merupakan salah satu media promosi berbentuk audio visual. Penelitian ini mengambil objek iklan GoPay versi Belajar Membaca dan Menulis. GoPay merupakan fasilitas yang ada pada aplikasi Gojek. Gojek yang pada awalnya hanya perusahaan teknologi jasa angkutan bermotor, dan terus berkembang dengan aplikasi online nya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis visual pada iklan GoPay versi Belajar Membaca dan Menulis, dimana iklan ini terdiri dari beberapa halaman yang akan dikaji elemen-elemen visualnya dan mengkaji karakter Budi yang ada pada iklan tersebut. Metode yang digunakan adalah kualitatif deskripsi dengan pendekatan analisis visual. Pengumpulan data diperoleh dari artikel-artikel jurnal, buku dan objek iklan online. Hasil dari penelitian ini adalah penggunaan elemen-elemen visual pada setiap halaman iklan dan figur Budi dengan karakter yang baik, tidak sombong, suka menolong agar pesan dalam iklan tersebut sampai pada target yang dituju. 
Promosi Keripik Kentang “Terbang” Ibu Yati Oma Melalui Label Produk Kemasan Yayah Rukiah; Taufiq Akbar; FC. Ndaru Ranuhandoko
TRIDHARMADIMAS: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Jayakarta Vol 1 No 2 (2021): TRIDHARMADIMAS: December 2021
Publisher : Sekolah Tinggi Manajemen Informatika dan Komputer Jayakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1348.394 KB) | DOI: 10.52362/tridharmadimas.v1i2.657

Abstract

Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat atau abdimas ini adalah untuk membantu mitra untuk mempromosikan produk dagangnya melalui label dagang/label produk pada kemasan. Abdimas yang dilakukan adalah salah satu kewajiban dari tridarma dosen. Kegiatan ini dilakukan di PKM KERIPIK KENTANG “TERBANG” IBU YATI OMA SRENGSENG JAKARTA BARAT yang berlokasi di Jalan Delima No. 48 Rt 008 Rw 01 Kelurahan Srengseng Kecamatan Kembangan Jakarta Barat. Keripik kentang “Terbang” ibu Yati Oma ini merupakan industri tumah tangga (homeindustry). Industri rumahan selama ini kurang memiliki kemampuan untuk bersaing di pasar, disebabkan karena rendah pengetahuan, keterampilan, dan kapabilitas terhadap penguasaan teknologi serta akses permodalan, padahal keberadaannya memiliki posisi penting dalam perekonomian nasional. Hal ini juga yang terjadi pada industri rumah tangga keripik kentang “Terbang”. Sejak membuka usaha ini sampai sekarang keripik kentang “Terbang” belum memiliki label dagang pada kemasannya. Berdasarkan hal tersebut tim kami berinisiatif untuk memberikan rancangan label dagang yang akan ditempelkan pada kemasan keripik kentang yang merupakan salah satu media promosi. Label memiliki peran penting pada produk makanan kemasan dan harus memenuhi persyaratan pelabelan. Label produk merupakan identitas dari sebuah produk yang akan dipasarkan. Tujuan dari pengabdian kepada masyarakat ini adalah agar keripik kentang “Terbang” memiliki identitas pada produknya, sebagai pengingat bagi konsumen (brand awareness) dan dapat meningkatkan penjualan. Kata kunci: label dagang, media promosi, keripik kentang, makanan
PASAR LEGI KOTAGEDE YOGYAKARTA Perancangan Alternatif Perangkat Jualan di Pasar Legi Kotagede Yayah Rukiah; M. Sjafei Andrijanto
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 14 No. 1 (2017)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2010.08 KB) | DOI: 10.25105/dim.v14i1.2330

Abstract

AbstractKotagede market has been established since the 16th century. This market is also often called the legi market, because the peak of the crowd always happens on the days of the lgi market (Legi is the name of one of these in the Java calender). Various kinds of merchandise (commodity merchandise) tools, various live poultry birds such as birds are good at chirping, fodder, plant seeds, knick-knacks accessories household, agate,various traditional medicinal herbs until the furniture can be found in this market. This research is based on the ability to create a product design that can serve to organize the interaction of traders, while also providing an orderly, clean room that still maintains the traditional market identity context. From the results of the identification of market problems taht exist in yard kotagede Yogyakarta market, the researchers found two fundamental problems that exist in the region that is the problem berween the merchant shop and street vendors or “emperan”. The secondexistence of this trader who became the masis of the researcher to create a useful design work for yard legi kotagede Yogyakarta is the creation of trading devices for the traders who do not have a trading room or store, especially for street vendors.  AbstrakPasar Kotagede telah berdiri sejak abad 16. Pasar ini juga kerap disebut Pasar Legi, karena puncak keramaiannya selalu terjadi pada hari-hari pasaran Legi (Legi adalah nama salah satu hari dalam kalender Jawa). Berbagai jenis barang dagangan (komoditas dagangan) yaitu dari sayur-sauran, alat-alat pertanian, berbagai hewan unggas hidup seperti burung yang pandai berkicau, pakan ternak, bibit tanaman, pernak-pernik aksesoris kebutuhan rumah tangga, batu akik, berbagai ramuan obat tradisional hingga mebel dapat ditemui di pasar ini. Penelitian ini didasari untuk mampu menciptakan suatu desain produk yang dapat berfungsi untuk menata tatanan interaksi para pedagang, sekaligus juga memberikan ruang yang tertib, bersih yang masih mempertahankan konteks identitas pasar tradisional. Dari hasil identifikasi persoalan Pasar yang ada di Pasar Legi Kotagede Yogyakarta, peneliti menemukan dua persoalan mendasar yang ada diwilayah tersebut yaitu persoalan antara pedagang toko dan pedagang kaki lima atau “emperan”.Kedua keberadaan pedagang inilah yang menjadi dasar peneliti untukmenciptakan karya desain yang bermanfaat untuk Pasar Legi KotagedeYogyakarta adalah Penciptaan Perangkat Dagang Bagi kalangan Parapedagang yang tidak mempunyai ruang dagang atau toko khususnya bagipara pedagang kaki lima.
PERANCANGAN FILM DOKUMENTER KECIMPRING SEBAGAI KOMODITAS UTAMA MASYARAKAT LEMBANG JAWA BARAT Muhammad Akbar Dwisatrio; Yayah Rukiah; Khikmah Susanti
Jurnal Dimensi Seni Rupa dan Desain Vol. 18 No. 1 (2021)
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2529.054 KB) | DOI: 10.25105/dim.v18i1.10609

Abstract

Abstract The design of a documentary film kecimpring as the main commodity of the people of Lembang, West Java, as well as an effort to be able to provide understanding to the wider community and also to tourists who often visit the West Java area. The research method used is a descriptive qualitative analysis approach, because this study aims to obtain an authentic understanding in other words to understand the phenomenon of what is experienced by research subjects in a special natural context. This descriptive qualitative method is used to produce descriptive data in the form of words and writings on the medium of the kecimpring documentary film. The data obtained is the result of a search for literature studies in the form of books, journals, observations, and interviews with competent sources in their fields. With the data collected, it shows that kecimpring is one of the traditional snacks typical of West Java that must be preserved and preserved, and this kecimpring documentary is an effective medium for an introduction to history, how to make kecimpring, and how to preserve traditional snacks. typical of West Java.Keywords: Kecimpring, main commodity, traditional food, West Java Abstrak Perancangan film dokumenter Kecimpring sebagai komoditas utama masyarakat Lembang Jawa Barat, serta sebagai upaya untuk dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat luas dan juga para turis yang sering kali berkunjung ke daerah Jawa Barat. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan analisis kualitatif deskriptif, karena penelitian ini bertujuan untuk memperoleh pemahaman otentik dengan kata lain memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian pada konteks khusus yang alamiah. Metode kualitatif deskriptif ini digunakan untuk menghasilkan data secara deskriptif dalam bentuk kata-kata maupun tulisan mengenai media film dokumenter     kecimpring. Data yang didapat adalah hasil dari pencarian studi literatur berupa      buku, jurnal, observasi, dan wawancara dengan narasumber yang berkompeten dibidangnya. Dengan data yang dikumpulkan menunjukkan bahwa kecimpring       adalah salah satu makanan ringan tradisional khas Jawa Barat yang wajib dijaga      dan dilestarikan keberadaannya dan film dokumenter kecimpring ini merupakan salah satu media yang efektif untuk pengenalan mengenai sejarah, bagaimana cara pembuatan kecimpring, dan cara untuk melestarikan makanan ringan tradisional khas Jawa Barat.Kata kunci: Kecimpring, komoditas utama, makanan tradisional, Jawa Barat 
FESYEN SEBAGAI GAYA HIDUP MASYARAKAT KOTA Studi Kasus: Gaya Hijabers Community Yayah Rukiah
Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain Vol. 1 No. 2 (2016): Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1660.878 KB) | DOI: 10.25105/jdd.v1i2.1358

Abstract

AbstractFesyen as City Lifestyle (Study Case: Hijabers Community Style). Hijab or veil in Islam is very obliged to all women or muslim. Today the veil or hijab is a lifestyle to urban women. According to David Chaney, lifestyle function as style, ordinances, or how to use the goods, place and time, typical of particular groups of people, which relies heavily on cultural forms, although it is not the totality of social experience. Lifestyle describe the “whole person” in interacting with the environment. Lifestyle describethe entire pattern of someone in the act and interact in the world. Currently the veil or hijab phenomenon is no longer enough simply be understood solely as an expression ofpiety. However, for some people the modern, muslim clothing itself does not change as the turn of the fesyen sense to dress. Hijabers Community is a community of people whosparked the veiled hijab style today. Due to the existence of this Community Hijabers many styles or how to use the hijab is more modern but still syar’i.AbstrakFesyen sebagai Gaya Hidup Masyarakat Kota (Studi Kasus: Gaya Hijabers Community). Hijab atau berjilbab dalam agama Islam sangat diwajibkan untuk semua wanita atau muslimah. Saat ini jilbab atau hijab menjadi gaya hidup wanita perkotaan.Menurut David Chaney, gaya hidup merupakan gaya, tata cara, atau cara menggunakan barang, tempat dan waktu, khas kelompok masyarakat tertentu, yang sangat bergantungpada bentuk-bentuk kebudayaan, meskipun bukan merupakan totalitas pengalaman sosial. Gaya hidup menggambarkan “keseluruhan diri seseorang” dalam berinteraksi dengan lingkungannya. Gaya hidup menggambarkan seluruh pola seseorang dalam beraksi dan berinteraksi di dunia. Saat ini fenomena kerudung atau jilbab tidak cukuplagi hanya dipahami semata-mata sebagai ungkapan takwa. Akan tetapi, bagi sebagian kalangan orang modern, busana muslimah itu sendiri tidak ubahnya seperti pergantianselera mode berpakaian saja. Hijabers Community adalah suatu komunitas orang-orang berjilbab yang mencetuskan gaya hijab saat ini. Dengan adanya Hijabers Community inibanyak gaya atau cara menggunakan hijab yang lebih modern tapi tetap syar’i
PERUBAHAN LOGO HARIAN SINGGALANG Yayah Rukiah; Nurulfatmi Amzy; Angga Kusuma Dawami
Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain Vol. 4 No. 1 (2019): Jurnal Dimensi DKV Seni Rupa dan Desain
Publisher : Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (420.937 KB) | DOI: 10.25105/jdd.v4i1.4562

Abstract

AbstractThe Changes of Singgalang Newspaper Logo. Logo becomes an inseparable identity in introducing a brand to society in general. The construction of the shape represents the identity in itself to show the entity and become a characteristic that is finally known to the target audience. Changes to the logo are based on the need for the entity to always make a new appearance to be better known and to imprint the meaning of theentity in the minds of consumers. As one of the National newspapers, the Singgalang daily also changed its logo from the beginning of its publication in 1969. Changes in form that corresponded to Singgalang’s identity brought a different perception between one logo and another. The shapes differ from the first logo to the online media logo, indicating that Singgalang has special characteristics to show himself to the generalpublic. This article discusses the development of the Singgalang Daily logo that was published for the first time, until the logo is displayed in online media. The results of this study used the semiotic-Sumbo Tinarbuko approach, to see logos as symbols that exist and continue to make changes over time. By using semiotic analysis, the results ofthis study show that logos are important for re-branding to get into the community in general.AbstrakPerubahan Logo Harian Singgalang. Logo merupakan salah satu identitas yang tidak terpisahkan dalam mengenalkan sebuah merek kepada masyarakat secara umum. Konstruksi bentuk merepresentasikan identitas dalam dirinya untuk menunjukkan entitasnya dan menjadi ciri khas yang akhirnya dikenal kepada target pembacanya. Perubahan logo didasari pada kebutuhan entitas untuk selalu membuat tampilan baru agar lebih dikenal dan lebih menancapkan makna bentuk entitasnya di benak konsumen. Sebagai salah satu koran nasional, Harian Singgalang juga melakukan perubahan logo dari awal terbitnya di 1969. Perubahan bentuk yang sesuai dengan identitas Singgalang membawa persepsi yang berbeda antar satu logo dengan logo yang lain. Bentukbentuknyayang berbeda dari logo pertama sampai logo media daringnya, menandakan Singgalang memiliki ciri khusus untuk menunjukkan dirinya kepada masyarakat umum.Tulisan ini membahas tentang perkembangan logo Harian Singgalang yang terbit pertama kali, sampai logo yang ditampilkan di media daring. Hasil penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika-Sumbo Tinarbuko, untuk melihat logo sebagaisebuah simbol yang ada dan terus dilakukan perubahan dari waktu ke waktu. Dengan menggunakan analisis semiotika, hasil penelitian ini memperlihatkan bahwa logo menjadi penting untuk dilakukan desain ulang (re-branding) untuk dapat masuk ke masyarakat secara umum.
Perancangan Buku Informasi Kain Bentenan Khas Minahasa Utara Nuren Febhimaesuri; Suwito Casande; Yayah Rukiah
Cipta Vol 1, No 1 (2022): Cipta
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1825.396 KB) | DOI: 10.30998/cpt.v1i1.1159

Abstract

Tujuan penelitian untuk merancang buku informasi yang berjudul Kain Bentenan Minahasa Utara yang berada di Pulau Sulawesi yang terletak di Kepulaun Bentenan, dalam upaya mengenalkan kembali kain tenun Bentenan. Metode yang digunakan yaitu dengan pendekatan metode kualitatif dengan teknik pengumpulan data berupa kajian pustaka meliputi studi literatur berupa buku, jurnal, dan hasil wawancara dengan narasumber yang berkompeten dalam bidangnya. Hasil yang dicapai yaitu Kain Bentenan merupakan kain tenun yang bernilai seni tinggi, demikian dinamakan Bentenan karena pertama kali ditemukan dari Desa Bentanan terletak di Pantai Timur Minahasa. Sempat menghilang dari peradaban, kini kain ini muncul kembali dan mulai diproduksi oleh sebagian pengrajin dan para pengusaha kain. Dengan begitu agar keberadaan kain tenun Bentenan bisa benar-benar dirasakan oleh masyarakat luas guna menambah tujuan pariwisata, penghasilan para pengrajin dan para pengusaha kain tenun Bentenan agar terus dapat melestarikan kain tenun tersebut. Pelestarian kain tenun Bentenan bukan hanya tugas Pemerintah Kota Manado dan pihak-pihak terkait, melainkan membutuhkan peran seluruh komponen masyarakat Manado agar dapat terus melestarikan aset benda bersejarah baik dari cara memperkenalkan ke khalayak luas maupun sampai Mancanegara.