Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Exploring istighfar as an emotive and religious interjection in Indonesian Afrizal, Mohamad; Mijianti, Yerry; Anggraeni, Astri Widyaruli
Diglosia: Jurnal Kajian Bahasa, Sastra, dan Pengajarannya Vol 8 No 4 (2025)
Publisher : Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/diglosia.v8i4.1362

Abstract

Istighfar is an interjection in the Indonesian, borrowed from Arabic and widely used in various social situations, both in personal and public spheres. As a religious interjection that holds a significant position in the linguistic practices of Muslim communities, istighfar reflects both emotional responses and moral awareness toward events perceived as negative or sinful. This study aims identified the characteristics of istighfar as an interjection and to analyze its meaning using the Natural Semantic Metalanguage (NSM) approach. Employing a qualitative-descriptive method, the primary data were drawn from fifteen Indonesian novels by prominent authors, while supplementary data were taken from online news headlines and everyday communicative experiences, including spontaneous conversations and selected social media comments within the researcher’s observation. The analysis proceeded in two stages: categorizing istighfar within interjection typology and constructing semantic explications using NSM. The results show that istighfar fulfills nearly all prototypical features of interjections and carries complex spiritual content. Its use not only reflects emotional expression but also constructs and represents the speaker’s religious identity. This research affirms that language can reflect levels of religiosity, as demonstrated by the frequent use of religious interjections in Indonesian society, which is known for its high level of religious devotion.
Anjing sebagai Umpatan Kajian Sosiokultural Nadia, Khoirun; Amilia, Fitri; Mijianti, Yerry
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/h6ngmk52

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan kata anjing dan variasinya sebagai bentuk kegunaan dalam konteks sosiokultural masyarakat Indonesia. Kajian ini menggunakan teori sosiokultural Vygotsky (1978) yang menekankan bahwa bahasa berfungsi sebagai alat budaya menengahi hubungan antara individu dan masyarakat. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner kepada 102 responden dari berbagai kelompok usia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai, norma, dan kebiasaan memainkan peran penting dalam menentukan makna dan fungsi kata umpatan. Bagi generasi muda, kata anjing dan variasinya seperti anjir atau anjay tidak selalu dianggap sebagai penghinaan, melainkan sebagai ekspresi spontanan keakraban sosial. Sebaliknya, generasi tua menilai bahwa penggunaan kata tersebut bertentangan dengan norma kesopanan dan nilai moral budaya. Fenomena ini menegaskan adanya pergeseran makna dan makna norma bahasa yang dipengaruhi oleh konteks sosial, media digital, serta perkembangan budaya populer. Secara sosiokultural, penggunaan umpatan mencerminkan proses internalisasi nilai-nilai budaya dan dinamika sosial yang terus berubah dalam masyarakat Indonesia. Kata Kunci: kata anjing, umpatan, kajian sosiokultural
Interaksi Simbolik dalam Novel Buya Hamka Karya A. Fuadi: Kajian Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead sila_; Rahmatina, Sila; Nova Ali Vardani, Eka; Mijianti, Yerry
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/432vws23

Abstract

Novel Buya Hamka karya A. Fuadi menggambarkan perjalanan spiritual dan sosial tokohnya melalui proses pembentukan kesadaran diri yang kompleks. Dengan menggunakan teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead, kajian ini menelusuri bentuk-bentuk interaksi simbolik yang membentuk kesadaran diri (Self) tokoh Buya Hamka, yang terdiri atas dua unsur utama, yaitu I (diri spontan, kreatif, dan reflektif) serta Me (diri sosial yang dibentuk oleh norma dan nilai masyarakat). Pendekatan yang digunakan bersifat deskriptif kualitatif dengan kajian terhadap kutipan narasi, dialog, dan monolog yang menampilkan dinamika batin, relasi sosial, serta nilai-nilai religius dalam teks. Hasil kajian menunjukkan bahwa tokoh Buya Hamka mencerminkan keseimbangan antara dorongan personal dan kesadaran sosial. Unsur I tampak melalui semangat intelektual, keberanian moral, serta daya cipta tokoh dalam menghadapi tantangan, sedangkan unsur Me tercermin melalui kepatuhan terhadap nilai agama, kepedulian sosial, dan tanggung jawab moralnya sebagai ulama dan pemimpin. Interaksi antara keduanya melahirkan Self yang matang secara spiritual dan etis, memperlihatkan bahwa pembentukan kepribadian religius merupakan hasil dialog antara individu dan lingkungan sosial. Kajian ini menegaskan relevansi teori Mead dalam memahami dimensi sosial dan spiritual tokoh sastra, serta menunjukkan bahwa Buya Hamka berfungsi sebagai refleksi filosofis tentang pembentukan identitas dan moralitas manusia dalam konteks sosial religius.
Representasi Kekuasaan dalam Novel Negeri Para Bedebah Karya Tere Liye: Analisis Wacana Kritis Ardiansyah, Muhammad Hardika; Mijianti, Yerry; Susetyo, Agus Milu
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 3 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i3.1633

Abstract

This study aims to analyze the representation of power in the novel Negeri Para Bedebah by Tere Liye using the Norman Fairclough model of Critical Discourse Analysis (AWK) framework combined with Michel Foucault's concept of power. This study uses a qualitative approach with the Critical Discourse Analysis method through Fairclough's three-dimensional analysis, namely text analysis, discourse practice, and social practice, combined with three categories of power according to Foucault. The data collection technique was carried out through documentation studies by identifying, selecting, and recording narrative quotes and dialogues in the novel Land of the Babies that represent power relations. Data analysis was carried out by examining the text based on the three dimensions of AWK Fairclough, then associating it with Foucault's concept of power. The results of this study indicate that the representation of power in the novel Negeri Para Bedebah by Tere Liye operates through three main mechanisms, namely the formation of desires, regulation of behavior, and the formation of social norms. AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis representasi kekuasaan dalam novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye dengan menggunakan kerangka Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fairclough yang dipadukan dengan konsep kekuasaan Michel Foucault. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis melalui analisis tiga dimensi Fairclough, yaitu analisis teks, praktik wacana, dan praktik sosial, yang dikombinasikan dengan tiga kategori kekuasaan menurut Foucault. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan mengidentifikasi, menyeleksi, dan mencatat kutipan narasi serta dialog dalam novel Negeri Para Bedebah yang merepresentasikan relasi kekuasaan. Analisis data dilakukan dengan mengkaji teks berdasarkan tiga dimensi AWK Fairclough, kemudian mengaitkannya dengan konsep kekuasaan Foucault. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa representasi kekuasaan dalam novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye beroperasi melalui tiga mekanisme utama yaitu pembentukan keinginan, pengaturan perilaku, dan pembentukan norma sosial.