Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Anjing sebagai Umpatan Kajian Sosiokultural Nadia, Khoirun; Amilia, Fitri; Mijianti, Yerry
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/h6ngmk52

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penggunaan kata anjing dan variasinya sebagai bentuk kegunaan dalam konteks sosiokultural masyarakat Indonesia. Kajian ini menggunakan teori sosiokultural Vygotsky (1978) yang menekankan bahwa bahasa berfungsi sebagai alat budaya menengahi hubungan antara individu dan masyarakat. Penelitian ini menerapkan metode kualitatif dengan pengumpulan data melalui kuesioner kepada 102 responden dari berbagai kelompok usia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai, norma, dan kebiasaan memainkan peran penting dalam menentukan makna dan fungsi kata umpatan. Bagi generasi muda, kata anjing dan variasinya seperti anjir atau anjay tidak selalu dianggap sebagai penghinaan, melainkan sebagai ekspresi spontanan keakraban sosial. Sebaliknya, generasi tua menilai bahwa penggunaan kata tersebut bertentangan dengan norma kesopanan dan nilai moral budaya. Fenomena ini menegaskan adanya pergeseran makna dan makna norma bahasa yang dipengaruhi oleh konteks sosial, media digital, serta perkembangan budaya populer. Secara sosiokultural, penggunaan umpatan mencerminkan proses internalisasi nilai-nilai budaya dan dinamika sosial yang terus berubah dalam masyarakat Indonesia. Kata Kunci: kata anjing, umpatan, kajian sosiokultural
Interaksi Simbolik dalam Novel Buya Hamka Karya A. Fuadi: Kajian Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead sila_; Rahmatina, Sila; Nova Ali Vardani, Eka; Mijianti, Yerry
JURNAL KONFIKS Vol 12 No 4 (2025): KONFIKS
Publisher : LEMBAGA PENELITIAN DAN PENGABDIAN PADA MASYARAKAT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26618/432vws23

Abstract

Novel Buya Hamka karya A. Fuadi menggambarkan perjalanan spiritual dan sosial tokohnya melalui proses pembentukan kesadaran diri yang kompleks. Dengan menggunakan teori Interaksionisme Simbolik George Herbert Mead, kajian ini menelusuri bentuk-bentuk interaksi simbolik yang membentuk kesadaran diri (Self) tokoh Buya Hamka, yang terdiri atas dua unsur utama, yaitu I (diri spontan, kreatif, dan reflektif) serta Me (diri sosial yang dibentuk oleh norma dan nilai masyarakat). Pendekatan yang digunakan bersifat deskriptif kualitatif dengan kajian terhadap kutipan narasi, dialog, dan monolog yang menampilkan dinamika batin, relasi sosial, serta nilai-nilai religius dalam teks. Hasil kajian menunjukkan bahwa tokoh Buya Hamka mencerminkan keseimbangan antara dorongan personal dan kesadaran sosial. Unsur I tampak melalui semangat intelektual, keberanian moral, serta daya cipta tokoh dalam menghadapi tantangan, sedangkan unsur Me tercermin melalui kepatuhan terhadap nilai agama, kepedulian sosial, dan tanggung jawab moralnya sebagai ulama dan pemimpin. Interaksi antara keduanya melahirkan Self yang matang secara spiritual dan etis, memperlihatkan bahwa pembentukan kepribadian religius merupakan hasil dialog antara individu dan lingkungan sosial. Kajian ini menegaskan relevansi teori Mead dalam memahami dimensi sosial dan spiritual tokoh sastra, serta menunjukkan bahwa Buya Hamka berfungsi sebagai refleksi filosofis tentang pembentukan identitas dan moralitas manusia dalam konteks sosial religius.
Representasi Kekuasaan dalam Novel Negeri Para Bedebah Karya Tere Liye: Analisis Wacana Kritis Ardiansyah, Muhammad Hardika; Mijianti, Yerry; Susetyo, Agus Milu
Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 7, No 3 (2025): Bahasa: Jurnal Keilmuan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Publisher : ppjbsip

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/bahasa.v7i3.1633

Abstract

This study aims to analyze the representation of power in the novel Negeri Para Bedebah by Tere Liye using the Norman Fairclough model of Critical Discourse Analysis (AWK) framework combined with Michel Foucault's concept of power. This study uses a qualitative approach with the Critical Discourse Analysis method through Fairclough's three-dimensional analysis, namely text analysis, discourse practice, and social practice, combined with three categories of power according to Foucault. The data collection technique was carried out through documentation studies by identifying, selecting, and recording narrative quotes and dialogues in the novel Land of the Babies that represent power relations. Data analysis was carried out by examining the text based on the three dimensions of AWK Fairclough, then associating it with Foucault's concept of power. The results of this study indicate that the representation of power in the novel Negeri Para Bedebah by Tere Liye operates through three main mechanisms, namely the formation of desires, regulation of behavior, and the formation of social norms. AbstrakPenelitian ini bertujuan menganalisis representasi kekuasaan dalam novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye dengan menggunakan kerangka Analisis Wacana Kritis (AWK) model Norman Fairclough yang dipadukan dengan konsep kekuasaan Michel Foucault. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode Analisis Wacana Kritis melalui analisis tiga dimensi Fairclough, yaitu analisis teks, praktik wacana, dan praktik sosial, yang dikombinasikan dengan tiga kategori kekuasaan menurut Foucault. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui studi dokumentasi dengan mengidentifikasi, menyeleksi, dan mencatat kutipan narasi serta dialog dalam novel Negeri Para Bedebah yang merepresentasikan relasi kekuasaan. Analisis data dilakukan dengan mengkaji teks berdasarkan tiga dimensi AWK Fairclough, kemudian mengaitkannya dengan konsep kekuasaan Foucault. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa representasi kekuasaan dalam novel Negeri Para Bedebah karya Tere Liye beroperasi melalui tiga mekanisme utama yaitu pembentukan keinginan, pengaturan perilaku, dan pembentukan norma sosial. 
Formulasi dan Kesantunan Tindak Tutur Izin ke Kamar Mandi dalam Bahasa Indonesia Mijianti, Yerry; Afrizal, Mohamad
GERAM (Gerakan Aktif Menulis) Vol. 14 No. 2 (2026): GERAM (Gerakan Aktif Menulis)
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Universitas Islam Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/geram.2026.28066

Abstract

Asking for permission to go to the bathroom is a common linguistic practice in daily interactions, yet it carries complex pragmatic implications as it involves both individual needs and the orderliness of social interaction. This study aims to describe the formulation of bathroom permission speech acts in Indonesian and the pragmatic impact of these formulations on interaction. The study focuses on lexical variations, speech forms and structures, politeness strategies, and the acceptability of utterances across various interactional contexts. A qualitative approach with field research methods was employed. Oral data of bathroom permission utterances were collected through Discourse Completion Tasks (DCT), in-depth interviews, and covert field experiment. The data were analyzed using descriptive pragmatics, considering the speech situation, formulation structure, and the hearer's response. The results indicate that bathroom permission formulations are dominated by euphemistic locational references with the three most dominant lexicons being ke belakang (going to the back), ke kamar mandi (going to the bathroom), and toilet, and realized through indirect speech. The speech structure is graded according to the level of formality, ranging from complete structures in formal contexts to minimal structures in everyday settings. Furthermore, verbal and non-verbal politeness strategies play a crucial role in maintaining utterance acceptability and interactional flow, positioning bathroom permission as a socially negotiated cooperative interruption. Theoretically, this study contributes to the development of formulaic language studies in Indonesia by mapping social routine speech patterns that bridge individual biological needs with cultural politeness norms.
UPAYA PENINGKATAN KETERAMPILAN MENULIS PUISI MELALUI TEKNIK ALIH WAHANA NASKAH DRAMA BERBANTUAN MEDIA TRANSFORMASI KALIMAT MAJAS PADA SISWA KELAS XI-1 SMAN 2 JEMBER Roro Ramadhanty Putri Khoirunissa, Raden; Mijianti, Yerry; Santoso, Agus
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 03 (2026): Volume 11 Nomor 03, September 2026 Publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i03.62602

Abstract

Writing poetry is a language skill that requires the ability to choose diction and use figures of speech so that ideas can be conveyed in an imaginative, expressive, and aesthetically pleasing manner. However, students still struggle to transform their ideas into poetic language. This study aims to improve poetry-writing skills through the application of the drama script adaptation technique, aided by media for transforming figurative language sentences, among students in Class XI-1 at SMAN 2 Jember. The study employed a mixed-methods approach that combined a descriptive qualitative approach with the Kemmis and McTaggart model of Classroom Action Research (CAR), conducted over two cycles. Data were collected through poetry writing tests, observations, interviews, and field notes. The results showed that the application of the drama script adaptation technique, supported by media for transforming figurative language, was able to improve both the process and outcomes of students’ poetry writing skills. The mastery of figurative language use increased from 28.57% in the pre-cycle to 65.71% in Cycle I and 91.43% in Cycle II, while the use of diction increased from 37.14% to 68.57% and 91.43%. The aspect of content alignment with the theme improved from 77.14% to 88.57% and 100%; idea development improved from 57.14% to 77.14% and 94.29%; and the coherence of the poem’s lines improved from 48.57% to 77.29% and 94.29%. In addition, students became more active, confident, and capable of transforming dialogue from a play into more poetic lines of verse. Thus, the technique of adapting a play script using media for transforming figurative language is effective as an alternative learning method to improve poetry-writing skills in high school.