Claim Missing Document
Check
Articles

Found 39 Documents
Search

Analisis Peran Pemangku Kepentingan dan Pendapatan Pokdarwis Langgar Pusaka dalam Pengelolaan Wisata Bukit Pal Jepang Desa Sapit Kabupaten Lombok Timur Zain, Syarif Hidayatullah; Andi Chairil Ichsan; Eni Hidayati
Journal of Forest Science Avicennia Vol. 6 No. 2 (2023): AGUSTUS
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/avicennia.v6i2.25201

Abstract

Pada masa pandemi Covid-19, wisata alam menjadi salah satu sektor yang berpeluang untuk mendukung ekonomi masyarakat karena wisata alam memberikan keleluasaan untuk tetap menerapkan physical distancing dengan wisatawan lainnya. Salah satu wisata alam yang dibuka pada masa pandemi Covid-19 yaitu wisata alam Bukit Pal Jepang di Lombok Timur. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa peran pemangku kepentingan dalam pengelolaan wisata alam Bukit Pal Jepang dan menghitung pendapatan Pokdarwis Langgar Pusaka pada masa pandemi Covid-19 yaitu tahun 2020 dan 2021. Sebanyak 39 responden dipilih dengan menggunakan metode purposive sampling yang terdiri dari 30 (tiga puluh) pengurus dan anggota Pokdarwis Langgar Pusaka dan 9 (sembilan) responden dari pemangku kepentingan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berdasarkan pengaruh dan kepentingannya, pemangku kepentingan dikelompokkan menjadi 4 yaitu Pemain Kunci (Balai Kesatuan Pengelolaan Hutan Rinjani Timur), Subyek (Pokdarwis Langgar Pusaka), Pendukung (Pemerintah Desa Sapit), dan Pengikut Lain (Kelompok HKM Blok Dupe, Kelompok Tani Bukit Tinggi, Puskesmas Suela, Polsek Suela dan lembaga adat). Pendapatan bersih yang diperoleh kelompok Pokdarwis Langgar Pusaka pada tahun 2020 sebesar Rp32.126.500 dan pada tahun 2021 sebesar Rp16.184.000.
Prediksi Erosi Dengan Metode Universal Soil Loss Equation (USLE) di Daerah Aliran Sungai Malimbu Kabupaten Lombok Utara Diva Balqis Syadina Sabathini; Andi Chairil Ichsan; Diah Permata Sari
Jurnal Pendidikan, Sains, Geologi, dan Geofisika (GeoScienceEd Journal) Vol. 5 No. 3 (2024): Agustus
Publisher : Mataram University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/goescienceed.v5i3.407

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui laju erosi potensial yang terjadi, mengetahui Tingkat Bahaya Erosi, dan mengetahui Indeks Bahaya Erosi di Daerah Aliran Sungai Malimbu. Metode penelitian yang digunakan yaitu deskriptif dan penentuan lokasi penelitian dengan menggunakan purposive sampling. Sumber data diperoleh dari data sekunder dan primer. Hasil penelitian diketahui laju erosi potensial yang berada di DAS Malimbu sebesar 0,26-480,85 ton/ha/thn. TBE pada DAS Malimbu meliputi; kelas sangat ringan (laju erosi: 0,26-3,05 ton/ha/thn) dengan persentase 27%; kelas ringan (laju erosi: 33,70 ton/ha/thn) dengan persentase 36%; kelas sedang (laju erosi: 73,16-145,53 ton/ha/thn) dengan persentase 16%; kelas berat (laju erosi: 209,35-405,66 ton/ha/thn) dengan persentase 17%; kelas sangat berat (laju erosi: 480,85 ton/ha/thn) dengan persentase 4%. Untuk IBE kelas rendah (nilai IBE 0,01-0,11 ton/ha/thn); kelas sedang (nilai IBE: 1,18-2,66 ton/ha/thn); kelas tinggi (nilai IBE: 4,90-9,41 ton/ha/thn); kelas sangat tinggi (nilai IBE: 11,48-21,61ton/ha/thn).
Strategi Pengelolaan Ekowisata Berbasis Masyarakat di Bukit Pergasingan, Desa Sembalun, Lombok Timur: Community-Based Ecotourism Management Strategy in Bukit Pergasingan, Sembalun Village, East Lombok Baiq Jiwa Yulina Putri; Andi Chairil Ichsan; Andi Tri Lestari
PERENNIAL Vol 19 No 2 (2023): Vol. 19 No. 2, Oktober 2023
Publisher : Forestry Faculty of Hasanuddin University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24259/perennial.v19i2.30804

Abstract

Bukit Pergasingan is a tourist attraction that has been developing for a long time. It is necessary to review essential aspects in the management of Bukit Pergasingan, such as attractiveness, facilities, accessibility, and additional services. Apart from that, another problem with its management is that it is not yet known whether it has implemented the principles of community-based ecotourism development in its management. This research aimed to determine community-based ecotourism management strategies in Bukit Pergasingan. The method used in this research is the descriptive method. The objects used in this research are the management institution (BKPH Rinjani Timur) and the management partner (Kelompok Koperasi Wisatani). The tools used in conducting this research were questionnaires, cameras, laptops, recorders, and stationery. The data used in this research are qualitative and quantitative. The data sources used in this research are primary data and secondary data. The data analysis used is SWOT analysis. The results of the research show that the strategies used for managing Ecotourism in the Bukit Pergasingan tourist attraction are socializing Bukit Pergasingan tourism with its potential by involving it to attract tourists, packaging more attractive and more educational tour packages related to conservation to guests, optimizing collaboration with NGOs, the Tourism Office or related agencies for the development of Bukit Pergasingan tourism.
ANALISIS PERSEPSI PENGUNJUNG TERHADAP KENYAMANAN RUANG TERBUKA HIJAU (RTH) TONJENG BERU KELURAHAN PRAPEN KECAMATAN PRAYA Widiawati, Baiq; Ichsan, Andi Chairil; Lestari, Andi Tri
Tengkawang : Jurnal Ilmu Kehutanan Vol 14, No 1 (2024): TENGKAWANG : JURNAL ILMU KEHUTANAN
Publisher : Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jt.v14i1.75255

Abstract

Based on Law Number 26 of 2007 concerning spatial planning, what is meant by Green Open Space (RTH) is an elongated area, path or group whose users are more open, where plants grow, both those that grow naturally and those that are deliberately planted.   This research aims to analyze visitors"™ perceptions of the comfort of the Tonjeng Beru Green Open Space (RTH).   This research uses a quantitative descriptive approach to measure and evaluate visitors"™ perceptions of various aspects of RTH comfort, including cleanliness, safety, aesthetics and availability of facilities. Data was obtained through a survey using a questionnaire filled in by RTH visitors.   The research results indicate that visitors perceive the Tonjeng Beru Green Open Space as a comfortable place, although there are several areas that require attention and improvement.   This study contributes to a better understanding of the factors that influence the perception of comfort in green open spaces and provides recommendations for the management and improvement of green open space in the future.Keywords: 4A Tourism Component, Comfort, Green Open Space, Perception, Visitors.AbstrakBerdasarkan UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang penataan ruang yang dimaksud dengan Ruang Terbuka Hijau (RTH) adalah area memanjang, jalur atau kelompok yang penggunanya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah maupun yang sengaja ditanami. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi pengunjung terhadap kenyamanan Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tonjeng Beru. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif untuk mengukur dan mengevaluasi persepsi pengunjung terhadap berbagai aspek kenyamanan RTH, termasuk kebersihan, keamanan, estetika, dan ketersediaan fasilitas. Data diperoleh melalui survei dengan menggunakan kuesioner yang diisi oleh pengunjung RTH. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa pengunjung mempersepsikan RTH Tonjeng Beru sebagai tempat yang nyaman, meskipun terdapat beberapa area yang memerlukan perhatian dan peningkatan. Studi ini berkontribusi pada pemahaman yang lebih baik tentang faktor-faktor yang mempengaruhi persepsi kenyamanan di ruang terbuka hijau dan memberikan rekomendasi bagi pengelolaan dan perbaikan RTH di masa depan.Kata kunci: Komponen pariwisata 4A, kenyamanan, ruang terbuka hijau, Persepsi, pengunjung
Studi Populasi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis) di Taman Wisata Alam Madapangga Cahyadin, M.; Hadi, Islamul; Ichsan, Andi Chairil
Kalwedo Sains (KASA) Vol 5 No 2 (2024): Kalwedo Sains (KASA), September 2024
Publisher : Program Studi Di Luar Kampus Utama Universitas Pattimura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30598/kasav5i2p59-69

Abstract

Taman Wisata Alam Madapangga merupakan tipe ekosistem hutan dataran rendah yang dicirikan dengan topografi yang bergelombang serta jenis flora dan fauna khas yang ada didalamnya. Kondisi kawasan ini masih relatif baik dengan keanekaragaman hayati yang dimilikinya salah satunya monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ukuran populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) di Taman Wisata Alam Madapangga. Dengan dilakukannya penelitian studi populasi monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dapat memberikan informasi mengenai populasi monyet ekor panjang yang ada di tempat tersebut. Penelitian dilakukan pada bulan Agustus 2022 sampai dengan bulan September 2022 di kawasan Taman Wisata Alam Madapangga Kabupaten Bima. Pengambilan data dimulai pada pagi hari sampai sore hari menggunakan metode reconnaissance. Data yang diperoleh menunjukan pada jalur jalan raya berjumlah 106 individu, jalur blok pemanfaatan berjumlah 12 individu, jalur batas kawasan denga lahan persawahan berjumlah 28 individu, dan jalur blok perlindungan berjumlah 15 individu. Jumlah keseluruhan 161 individu. Nilai sex ratio pada setiap kelompok menunjukan nilai yang bervariasi. Sex ratio pada setiap kelompok Monyet ekor panjang di Taman Wisata Alam Madapangga berkisar antara 1 : 1,6 sampai 1 : 3,3. Menurut Swindler (1998 cit. Sopana, 2018) jumlah individu betina dewasa yang lebih banyak dibandingkan dengan jantan dewasa dapat mengurangi adanya kompetisi antara jantan pada setiap kelompok. kompoosisi kelompok umur monyet ekor panjang (Macaca fascicularis) dikawasan Taman Wisata Alam Madapangga terdiri dari dewasa 79 individu, remaja 52 individu, anak 30 individu.
PENINGKATAN KAPASITAS PENGURUS BUMDES GRAND RINJANI DALAM PENGELOLAAN EKOWISATA DI DESA AIK BERIK KABUPATEN LOMBOK TENGAH Maiser Syaputra; Dr Markum; Andi Chairil Ichsan; Muhamad Rifky Tirta Mudhofir
Alamtana: Jurnal Pengabdian Masyarakat UNW Mataram Vol 2 No 1 (2021): Edisi Mei 2021
Publisher : LPPM UNIVERSITAS NAHDLATUL WATHAN MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51673/jaltn.v2i1.518

Abstract

Desa Aik Berik memiliki beberapa lokasi obyek wisata antara lain, Air Terjun Benang Stukel dan Air Terjun Benang Kelambu. Selain itu, kawasan hutan di Desa Aik Berik juga menyajikan landscape yang menawan, dan sungai yang mengalir sepanjang tahun. BUMDes Grand Rinjani dibentuk tahun 2016. Selain beberapa faktor pendukung dan potensi yang dimiliki, saat ini ditemui beberapa permasalahan dalam mewujudkan tata kelola BUMDes yang baik. Tujuan kegiatan adalah melakukan penguatan kelembagaan BUMDes untuk meningkatkan tata kelola ekowisata dalam mendayagunakan potensi ekowisata lebih bernilai, secara sosial, ekonomi dan lingkungan melalui: 1) Memfasilitasi pengurus BUMDes Grand Rinjani untuk menerapkan sistem pengelolaan ekowisata dengan mendasarkan prinsip kolaboratif dan akuntabel, 2). Meningkatkan pengetahuan dan keterampilan pengurus BUMDes dalam menerapkan pengelolaan ekowisata secara lestari dan berkelanjutan. Pendekatan kegiatan menggunakan metode partisipasi aktif, yaitu melibatkan pengurus BUMDes Grand Rinjani, dalam proses-proses kegiatan yang diselenggarakan oleh tim pengabdian. Kegiatan pengabdian dilaksanakan pada bulan Agustus 2019 di Café BUMDes, dan diikuti oleh 17 orang peserta. Hasil pertemuan dapat disimpulkan bahwa, pengurus BUMDes merencanakan untuk menerapkan sistem manajemen yang terintegrasi antara BUMDes – Masyarakat dan Pemerintah Desa dalam pembagian peran untuk mengelola obyek-obyek wisata seperti pengelolaan akomodasi dan penyediaan pemandu wisata. Pengurus BUMDes akan menindaklanjuti rumusan perencanaan yang lebih kongkrit dengan melakukan pertemuan antara pengurus dengan masyarakat dan perangkat desa dalam merumuskan perencanaan sebagaimana dimaksud.
Identification Tree Damage on The Green line of The Mataram City Ruhil Faizin; Andi Chairil Ichsan; Niechi Valentino
Jurnal Biologi Tropis Vol. 23 No. 2 (2023): Special Issue
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v23i2.6056

Abstract

Street Arya Banjar Getas – Dr. Sujono is one of the green open spaces in the form of lanes in Mataram City. Visually, trees along street Arya Banjar Getas– Dr. Sujono Mataram City experience disturbances in the growth phase caused by biotic and abiotic factors. This study aims to obtain information on the type and extent of tree damage in the Green Open Space area along street Arya Banjar Getas and Dr. Sujono in Mataram City. The method used in collecting primary data and secondary data on tree damage is by census or analyzing all trees in the two green lines of Mataram City. The number of vegetation species found on the green line is 19 with 832 individual trees. The 4 most dominant species found on the green line are Angsana (Pterocarpus indicus) with 244 individuals, Mahogany (Swietenia mahagoni) with 144 individuals, Flamboyan (Delonix regia) with 108 individuals and Canary (Canarium ovatum) with 101 individual trees. Based on the FHM (Forest Health Monitoring) book and using the parameters of tree damage values (Tree Level Index), 3 categories of damage to the green line were obtained, namely with a percentage of healthy class 91%, medium class 7%, and sick class 3%.
The Carbon Stocks Estimation on The Green Belt of Mataram City Aditya Riizki Kurniawan; Andi Chairil Ichsan; Markum
Jurnal Biologi Tropis Vol. 23 No. 2 (2023): Special Issue
Publisher : Biology Education Study Program, Faculty of Teacher Training and Education, University of Mataram, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jbt.v23i2.6304

Abstract

Greenhouse Gases is a phenomenon where infrared radiation from sunlight is partly trapped in the atmosphere by greenhouse gases such as carbon dioxide (CO2), nitrogen oxide (N2O), and other gases, so that it can cause an increase in the temperature of the earth's surface. which results in climate change. This research aims to estimate carbon reserves in the Lingkar Selatan Green Belt of Mataram City. This research uses quantitative descriptive methods. The data collected is vegetation data. Vegetation data is collected by measuring the diameter and height of all vegetation or using the census method. Carbon stocks are estimated using allometric equations. The carbon reserves in the vegetation on the Lingkar Selatan Green Belt are 112.63 tons with 1432 individuals, with a stake level of 0.67 tons, a pole level of 13.75 tons, and a tree level of 98.13 tons. The highest amount of carbon reserves was found in the Canary (Canarium indicum) type at 33.91 ton and the lowest was in the matoa (Pometia pinnata) at 0.0012 ton.
ANALISIS IMPLEMENTASI KEBIJAKAN PERATURAN DAERAH NOMOR 5 TAHUN 2017 TENTANG PENGELOLAAN DAERAH ALIRAN SUNGAI DI NUSA TENGGARA BARAT Susanti, Susi; Ichsan, Andi Chairil; Setiawan, Budhy
JURNAL RIMBA LESTARI Vol 3 No 1 (2023): Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Jurusan Kehutanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

A watershed is a land area that functions as an ecological unit to collect, store, and channel rainfall to lakes or seas naturally. Effective watershed management requires supportive policies and regulations. This study aims to evaluate the implementation of Regional Regulation No. 5 of 2017 on Watershed Management in West Nusa Tenggara and to formulate planning strategies to optimize the policy's implementation. The research methods included literature review, interviews, and observation. Policy analysis was conducted using four criteria derived from William N. Dunn's theory, while management strategies were formulated using SWOT analysis. The findings indicate that the policy implementation falls under the "low" category with a score of 1.58, deeming it ineffective. The highest-scoring strategy is the Weakness-Opportunities (W-O) strategy, which emphasizes optimizing Government Regulation No. 37 of 2012 and Regional Regulation No. 5 of 2017 to enhance coordination in watershed management. These findings highlight the need for strategic measures to strengthen policy implementation for watershed management in West Nusa Tenggara.
Upaya Penetapan Hutan Adat Sebagai Hak Masyarakat Hukum Adat (MHA) di Kabupaten Lombok Utara Jemarut, Wihelmus; Webliana B, Kornelia; Ichsan, Andi Chairil
Nuansa Akademik: Jurnal Pembangunan Masyarakat Vol. 9 No. 2 (2024)
Publisher : Lembaga Dakwah dan Pembangunan Masyarakat Universitas Cokroaminoto Yogyakarta (LDPM UCY)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47200/jnajpm.v9i2.2629

Abstract

Legalization of customary forests is an effective way to resolve social conflicts within customary forest areas and grant access and management rights to Indigenous communities, thereby improving their welfare. This study analyzes the efforts to legalize Customary Forests in North Lombok Regency (KLU). The research method used is the legal empirical research method conducted from May to September 2024. Data were collected through observation, interviews and literature study. Interview informants were selected using purposive sampling technique. The results showed that efforts to legalize Customary Forest in KLU have only reached the process of legalization of the legal subject, namely the Customary Law Community (MHA). The process of legalization of MHA has started since the existence of KLU Regional Regulation No. 6 of 2020. Based on the identification results of the KLU MHA Identification Team, there are 43 (forty-three) Customary Forest areas in KLU. Four (4) of these areas are located within the Forest Estate. The forty-three Customary Forests are located in five (5) Customary Law Community units. The process of establishing these Customary Forests was supported by many parties including customary stakeholders, communities, and social institutions.