Claim Missing Document
Check
Articles

Found 9 Documents
Search

Tinjauan Historis Penggunaan Gotong Dan Bulang Pada Masyarakat Simalungun Damanik, Tresia Trinita; Corry, Corry; Napitu, Ulung
Jurnal Pendidikan Sejarah Humaniora dan Ilmu Sosial Vol 1 No 1 (2023): Vol 1 No. 1 Mei 2023
Publisher : Prodi Pendidikan Sejarah FKIP USI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/b91w5q15

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah penggunaan gootong dan bulang serta mengetahui apa makna dan fungsi penggunaannya pada masyarakat Simalungun. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian sejarah serta pendekatan antropologi budaya. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan peneliti menggunnakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini yaitu awalnya gotong adalah penutup kepala laki-laki yang menggunakan hiou ragi panei, namun setelah raja Jawa memberikan hadiah kain batik sebagai simbol kerjasama dengan raja Simalungun sehingga kain batik digunakan  sebagai bahan dasar pembuatan gotong. Bulang dulunya digunakan kaum perempuan untuk seharihari. Pada masa kerajaan bulang terdiri dari bulang partongah (yang digunakan kaum bangsawan) dan bulang  paruma (yang digunakan masyarakat biasa) Gotong terdiri dari 4 jenis yaitu gotong horja, gotong pandihar, gotong tikkal/porsa dan gotong pottik sama dengan bulang yang terbagi menjadi bulang sulappei, bulang teget, bulang hurbu dan bulang gijang. Makna penggunaan gotong dan bulang yaitu sebagai identitas dan warisan budaya serta sebagai status sosial bagi masyarakat Simalungun. Fungsi penggunaan gotong dan bulang dapat dilihat berdasarkan waktu penggunaannya pada pernikahan gotong dan bulang berfungsi sebagai simbol kedewasaan, pada acara kematian berfungsi sebagai simbol ketulusan dan keikhlasan, pada acara patappei sihilap berfungsi untuk melambangkan bahwa seseorang itu akan menjadi seorang pemimpin dan pada saat siluah kehormatan gotong dan bulang berfungsi untuk melambangkan bahwa seseorang itu telah masuk ke wilayah Simalungun dan sebagai bentuk ucapan bahwa kita menerima mereka denngan hormat dan senang hati
Peristiwa G30S/PKI Pada Stabilitas Sosial Di Bandar Betsy 1965 - 1998 Triana, Fadilla; Corry, Corry; Asnewastri, Asnewastri
Jurnal Pendidikan Sejarah Humaniora dan Ilmu Sosial Vol 1 No 1 (2023): Vol 1 No. 1 Mei 2023
Publisher : Prodi Pendidikan Sejarah FKIP USI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/wyaesf15

Abstract

Pembantaian yang terjadi 14 Mei 1965 itu dikenal dengan nama „Peristiwa Bandar Betsy‟. Tugu Letda Sudjono yang berdiri di tengah kebun Bandar Betsy, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun itu kini menjadi saksi bisu kekejaman PKI di Sumatera Utara.   Barisan PKI dan organisasi sayapnya melancarkan aksi sepihak karena keinginan menguasai tanah negara di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu targetnya adalah lahan kebun karet milik Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) IX Bandar Betsy. Untuk menguasai kebun itu, PKI mempersenjatai ratusan anggota Barisan Tani Indonesia (BTI), Pemuda Rakyat (PR) dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Kala itu, Letda Sudjono bertugas di kebun itu dibantu sebuah traktor yang sering dioperasikannya.  Kisah kematian tragis Letda Sudjono bermula saat anggota BTI berkumpul di tanah perkebunan Bandar Betsy tepatnya di Balai Sumber Sari. Anggota BTI yang berjumlah 200 orang lebih berkumpul dan sepakat merebut kembali lahan perkebunan. Upaya yang mereka lakukan hari itu juga yaitu dengan menanami lahan dengan berbagai tanaman seperti ubi, pisang dan jagung. Ketika proses penanaman, Letda Sudjono dan tiga orang anggotanya datang ke kebun tersebut untuk mengecek traktornya yang terjebak kubangan lumpur. Setelah mengecek alat beratnya, Letda Sudjono kembali melakukan patroli. Pada saat bersamaan, anggota BTI sedang melakukan penanaman di lahan yang kini menjadi milik PTPN III itu.Saat itu, Letda Sudjono melarang BTI menanami lahan. Ketika Letda Sudjono melarang penggarapan lahan, salah satu anggota BTI berupaya merampas helmnya. Melihat adanya rebutan helm, Letda Sudjono memukul anggota BTI itu dengan tongkatnya. Tidak terima dengan sikap itu, anggota BTI marah dan kemudian balik menyerang Letda Sudjono. Letda Sudjono dipukul dari belakang dan terjatuh. Dalam situasi itu, para anggota BTI kemudian mencangkul dan menghujamkan berbagai peralatan tani ke tubuh Letda Sudjono. Hingga pada akhirnya Letda Sudjono tewas dimassa oleh sekelompok BTI yang main hakim sendiri yang ingin merebutkan lahan perkebunan tersebut
Efektivitas Model Daring Dalam Meningkatkan Pembelajaran Daring Kelas VI Semester Ganjil DI SD Negeri 091382 Purba Sinombah Kecamatan Silimakuta Kabupaten Simalungun Girsang, Yusly Fachriza; Corry, Corry; Hasugian, Jalatua H Hasugian
Jurnal Pendidikan Sejarah Humaniora dan Ilmu Sosial Vol 1 No 2 (2023): Vol 1 NO. 2 Nov 2023
Publisher : Prodi Pendidikan Sejarah FKIP USI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/ckv4bb34

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran daring Dalam Meningkatkan Pembelajaran Daring  Kelas VI Semester Ganjil Di SD Negeri 091382 Purba Sinombah Kecamatan Silimakuta Kabupaten Simalungun. Pelaksanaan model daring di SD Negeri 091382 memiliki pembelajaran media online dan memiliki keleluasaan waktu untuk belajar. Pembelajaran daring membangun komunikasi antar guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa juga mampu mengelola waktu secara mandiri dan lebih banyak bersosialisasi dengan keluarga. Kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran daring di antaranya adalah biaya yang besar, jaringan, cuaca, listrik padam, dan kuota internet. Selain itu, motivasi belajar siswa akan menurun jika guru dan orang tua tidak melakukan kontrol belajar secara intensif. Penelitian ini adalah kualitatif lapangan dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus. Sumber data diambil dari Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru, Siswa, dan Orang tua. Teknik pengumpulan data secara observasi, wawancara, dan dokumentasi 
Teacher's Ability To Conduct Deep Assessmentcitizenship Education Learning (Pkn) At Satria Mandiri Private Junior High School, Bandar Tongah. Nasution, Ade Mey Lisca; Gultom, Sariaman; Saragih, Krissi Wahyuni; Napitu, Ulung; Corry, Corry
JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala Vol 8, No 1 (2023): JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala (Februari)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jupe.v8i1.4918

Abstract

Evaluation is an important component in the education system. Evaluation of achievement is separate from the teaching and learning process; In addition, it is very important in the education and teaching system in educational institutions. Improvement and development of education can be identified by the evaluation results. Thus, through evaluation teachers will be able to identify how successful their teaching and learning process is planning and discover the level of program efficiency. Qualitative methods are used in this research. Observation, interview, and documentation of data collection techniques used. Data analysis techniques are data reduction, presentation, and drawing conclusions. The results of this research show that the teacher's ability to teach Civic Education evaluates the learning process in SMP Swasta Satria Mandiri, the teacher has carried out eight evaluation criteria in the teaching and learning process, namely: consistency between the teaching and learning process and the curriculum, implementation by the teacher, implementation by students, student motivation, liveliness, interaction, teacher's ability to teach, student achievement quality; However, the weakness caused by the teacher's lack of ability in planning and evaluating implementation in SMP Swasta  Satria Mandiri. The teacher's ability To Carry Out The Final Evaluation In Learning Citizenship Education at The Satria Mandiri Private Vocational School is quite good. Although in general the evaluation has been carried out well, some weaknesses were found. Suggestions for this research are that Civics teachers in SMP Swasta  Satria Mandiri need improvement in making good lesson plans, and teachers should record student improvements in the learning process in organized notes such as Discussion Assessment sheets, affective Assessment sheets for student objectivity scores.
PERSEPSI PESERTA DIDIK SEKOLAH MENENGAH ATAS DALAM PEMBELAJARAN DARING DI MASA PANDEMI COVID-19 PADA MATA PELAJARAN SEJARAH Mardiani, Mardiani; Corry, Corry; Napitu, Ulung
Puteri Hijau : Jurnal Pendidikan Sejarah Vol. 8 (2023): Puteri Hijau: Jurnal Pendidikan Sejarah (Special Issues)
Publisher : Department of History Education, Faculty of Social Science, Universitas Negeri Medan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/ph.v8i2.44996

Abstract

This study aims to describe the perceptions of high school students in online learning during the COVID-19 pandemic in history subjects. The formulation of the problem in this study is how the perception of high school students in online learning during the COVID-19 pandemic is on the subject of history. The method in this research is a literature study. The results showed that students experienced problems related to signals during online learning. Most students have not mastered the application of learning well which affects the effectiveness of the learning process. There are still many students who find it difficult to understand the material with online learning. Students receive support from the school during online learning. The conclusion of this study is that the implementation of online learning during the COVID-19 pandemic experienced many obstacles based on the perceptions of students. 
Tinjauan Historis Penggunaan Gotong Dan Bulang Pada Masyarakat Simalungun Damanik, Tresia Trinita; Corry, Corry; Napitu, Ulung
Jurnal Pendidikan Sejarah Humaniora dan Ilmu Sosial Vol 1 No 1 (2023): Vol 1 No. 1 Mei 2023
Publisher : Prodi Pendidikan Sejarah FKIP USI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/b91w5q15

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sejarah penggunaan gootong dan bulang serta mengetahui apa makna dan fungsi penggunaannya pada masyarakat Simalungun. Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian sejarah serta pendekatan antropologi budaya. Untuk memperoleh data yang dibutuhkan peneliti menggunnakan metode observasi, wawancara dan dokumentasi. Hasil dari penelitian ini yaitu awalnya gotong adalah penutup kepala laki-laki yang menggunakan hiou ragi panei, namun setelah raja Jawa memberikan hadiah kain batik sebagai simbol kerjasama dengan raja Simalungun sehingga kain batik digunakan  sebagai bahan dasar pembuatan gotong. Bulang dulunya digunakan kaum perempuan untuk seharihari. Pada masa kerajaan bulang terdiri dari bulang partongah (yang digunakan kaum bangsawan) dan bulang  paruma (yang digunakan masyarakat biasa) Gotong terdiri dari 4 jenis yaitu gotong horja, gotong pandihar, gotong tikkal/porsa dan gotong pottik sama dengan bulang yang terbagi menjadi bulang sulappei, bulang teget, bulang hurbu dan bulang gijang. Makna penggunaan gotong dan bulang yaitu sebagai identitas dan warisan budaya serta sebagai status sosial bagi masyarakat Simalungun. Fungsi penggunaan gotong dan bulang dapat dilihat berdasarkan waktu penggunaannya pada pernikahan gotong dan bulang berfungsi sebagai simbol kedewasaan, pada acara kematian berfungsi sebagai simbol ketulusan dan keikhlasan, pada acara patappei sihilap berfungsi untuk melambangkan bahwa seseorang itu akan menjadi seorang pemimpin dan pada saat siluah kehormatan gotong dan bulang berfungsi untuk melambangkan bahwa seseorang itu telah masuk ke wilayah Simalungun dan sebagai bentuk ucapan bahwa kita menerima mereka denngan hormat dan senang hati
Peristiwa G30S/PKI Pada Stabilitas Sosial Di Bandar Betsy 1965 - 1998 Triana, Fadilla; Corry, Corry; Asnewastri, Asnewastri
Jurnal Pendidikan Sejarah Humaniora dan Ilmu Sosial Vol 1 No 1 (2023): Vol 1 No. 1 Mei 2023
Publisher : Prodi Pendidikan Sejarah FKIP USI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/wyaesf15

Abstract

Pembantaian yang terjadi 14 Mei 1965 itu dikenal dengan nama „Peristiwa Bandar Betsy‟. Tugu Letda Sudjono yang berdiri di tengah kebun Bandar Betsy, Kecamatan Bandar Huluan, Kabupaten Simalungun itu kini menjadi saksi bisu kekejaman PKI di Sumatera Utara. Barisan PKI dan organisasi sayapnya melancarkan aksi sepihak karena keinginan menguasai tanah negara di berbagai daerah di Indonesia. Salah satu targetnya adalah lahan kebun karet milik Perusahaan Perkebunan Negara (PPN) IX Bandar Betsy. Untuk menguasai kebun itu, PKI mempersenjatai ratusan anggota Barisan Tani Indonesia (BTI), Pemuda Rakyat (PR) dan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani). Kala itu, Letda Sudjono bertugas di kebun itu dibantu sebuah traktor yang sering dioperasikannya. Kisah kematian tragis Letda Sudjono bermula saat anggota BTI berkumpul di tanah perkebunan Bandar Betsy tepatnya di Balai Sumber Sari. Anggota BTI yang berjumlah 200 orang lebih berkumpul dan sepakat merebut kembali lahan perkebunan. Upaya yang mereka lakukan hari itu juga yaitu dengan menanami lahan dengan berbagai tanaman seperti ubi, pisang dan jagung. Ketika proses penanaman, Letda Sudjono dan tiga orang anggotanya datang ke kebun tersebut untuk mengecek traktornya yang terjebak kubangan lumpur. Setelah mengecek alat beratnya, Letda Sudjono kembali melakukan patroli. Pada saat bersamaan, anggota BTI sedang melakukan penanaman di lahan yang kini menjadi milik PTPN III itu.Saat itu, Letda Sudjono melarang BTI menanami lahan. Ketika Letda Sudjono melarang penggarapan lahan, salah satu anggota BTI berupaya merampas helmnya. Melihat adanya rebutan helm, Letda Sudjono memukul anggota BTI itu dengan tongkatnya. Tidak terima dengan sikap itu, anggota BTI marah dan kemudian balik menyerang Letda Sudjono. Letda Sudjono dipukul dari belakang dan terjatuh. Dalam situasi itu, para anggota BTI kemudian mencangkul dan menghujamkan berbagai peralatan tani ke tubuh Letda Sudjono. Hingga pada akhirnya Letda Sudjono tewas dimassa oleh sekelompok BTI yang main hakim sendiri yang ingin merebutkan lahan perkebunan tersebut
Efektivitas Model Daring Dalam Meningkatkan Pembelajaran Daring Kelas VI Semester Ganjil DI SD Negeri 091382 Purba Sinombah Kecamatan Silimakuta Kabupaten Simalungun Girsang, Yusly Fachriza; Corry, Corry; Hasugian, Jalatua H Hasugian
Jurnal Pendidikan Sejarah Humaniora dan Ilmu Sosial Vol 1 No 2 (2023): Vol 1 NO. 2 Nov 2023
Publisher : Prodi Pendidikan Sejarah FKIP USI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36985/ckv4bb34

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas pembelajaran daring Dalam Meningkatkan Pembelajaran Daring  Kelas VI Semester Ganjil Di SD Negeri 091382 Purba Sinombah Kecamatan Silimakuta Kabupaten Simalungun. Pelaksanaan model daring di SD Negeri 091382 memiliki pembelajaran media online dan memiliki keleluasaan waktu untuk belajar. Pembelajaran daring membangun komunikasi antar guru dan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa juga mampu mengelola waktu secara mandiri dan lebih banyak bersosialisasi dengan keluarga. Kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran daring di antaranya adalah biaya yang besar, jaringan, cuaca, listrik padam, dan kuota internet. Selain itu, motivasi belajar siswa akan menurun jika guru dan orang tua tidak melakukan kontrol belajar secara intensif. Penelitian ini adalah kualitatif lapangan dengan menggunakan jenis penelitian studi kasus. Sumber data diambil dari Kepala Sekolah, Wakil Kepala Sekolah, Guru, Siswa, dan Orang tua. Teknik pengumpulan data secara observasi, wawancara, dan dokumentasi 
The Role of Driving Teachers in Developing Differentiated Learning Strategies And Social-Emotional Competencies in Integrated Social Studies Subjects Girsang, Herti; Corry, Corry; Arent, Ease
Jurnal Indonesia Sosial Sains Vol. 6 No. 4 (2025): Jurnal Indonesia Sosial Sains
Publisher : CV. Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/jiss.v6i4.1676

Abstract

The evolving landscape of education demands innovative teaching practices, with Guru Penggerak playing a pivotal role in implementing differentiated learning strategies and fostering students’ social-emotional competencies, particularly in Integrated Social Studies. This study aims to explore how Guru Penggerak contributes to creating inclusive and adaptive learning environments that respond to students' diverse characteristics while supporting their emotional and interpersonal development. A qualitative research design was employed, using document analysis from academic journals, official reports, and relevant literature to identify key practices, enabling factors, and barriers encountered in the field. The findings reveal that the success of differentiated instruction is largely influenced by the teacher's ability to recognize and respond to varied learning styles. Approximately 70% of students reported increased motivation when instructional strategies aligned with their individual preferences. Additionally, structured efforts to build social-emotional competencies resulted in enhanced student well-being, classroom harmony, and increased engagement. These findings highlight the importance of empowering teachers through continuous professional development to strengthen their pedagogical and socio-emotional facilitation skills. The study provides valuable insights for educational stakeholders to support Guru Penggerak programs and reinforce the integration of differentiated learning and emotional intelligence in curriculum implementation.