Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Membangun Warga Negara yang Baik (Good Citizen): Sosialisasi Anti-Narkoba di MA Bustanul Wa’izhin NW Janggawana Sawaludin, Sawaludin; Sawaludin; Haslan, Muhammad Mabrur; Zubair, Muh.; Alqadri, Bagdawansyah; Tripayana, I Nengah Agus; Artina, Fitriah; Pertiwi, Melisa
Jurnal Pengabdian Inovasi Masyarakat Indonesia Vol. 4 No. 2b (2025): Edisi khusus Dies Natalis Universitas Mataram
Publisher : Program Studi Pendidikan Kimia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/rj4sgj23

Abstract

Penyalahgunaan narkoba merupakan ancaman nyata bagi generasi muda, termasuk di wilayah pedesaan yang memiliki keterbatasan akses edukasi. Kondisi ini menuntut adanya intervensi berbasis pendidikan kewarganegaraan untuk membangun good citizen. Kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Membangun Warga Negara yang Baik (Good Citizen): Sosialisasi Anti-Narkoba di MA Bustanul Wa’izhin NW Janggawana” dilaksanakan pada 06 September 2025 dengan melibatkan 25 siswa. Tujuannya adalah meningkatkan pemahaman siswa tentang bahaya narkoba bagi kesehatan, kehidupan sosial, dan masa depan; membentuk karakter siswa yang berakhlak mulia, bertanggung jawab, serta peduli terhadap lingkungan bebas narkoba; dan menciptakan lingkungan pendidikan yang sehat, aman, serta mendukung pembelajaran. Metode kegiatan meliputi tiga tahap, yaitu persiapan (perancangan materi, koordinasi, dan perizinan), pelaksanaan (ceramah, diskusi, tanya jawab, serta penggunaan poster dan banner), serta evaluasi (observasi, respons peserta, dan kuesioner pre-test dan post-test). Hasil menunjukkan peningkatan signifikan: pengetahuan jenis narkoba naik dari 35% menjadi 88%, pemahaman dampak kesehatan dan sosial dari 40% menjadi 92%, serta pengetahuan konsekuensi hukum dari 30% menjadi 85%. Pada aspek sikap, komitmen menjauhi narkoba meningkat dari 50% menjadi 90% dan kesediaan mengajak teman sebaya dari 45% menjadi 76%. Luaran kegiatan meliputi peningkatan pemahaman siswa, media kampanye berkelanjutan, pembentukan agen perubahan, publikasi artikel ilmiah minimal Sinta 5, serta naskah akademik. Dengan demikian, kegiatan ini membuktikan bahwa strategi sederhana, partisipatif, dan kontekstual efektif dalam membentuk warga negara yang baik (good citizen) sekaligus mencegah penyalahgunaan narkoba di kalangan pelajar.
Upaya Sekolah Dalam Penguatan Pendidikan Karakter Untuk Mengatasi Terjadinya Perilaku Bullying di SMP Negeri 13 Mataram Putra, Sonny Manggala; Haslan, Muhammad Mabrur; Hadi, M. Samsul
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/amzm6g33

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis upaya sekolah dalam penguatan pendidikan karakter untuk mengatasi terjadinya perilaku bullying serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat di SMP Negeri 13 Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, yang memungkinkan peneliti untuk menggali secara mendalam fenomena upaya penguatan pendidikan karakter di lingkungan sekolah melalui teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta diuji keabsahannya menggunakan triangulasi sumber, waktu, dan teknik, dengan teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah telah menerapkan berbagai upaya strategis dalam penguatan pendidikan karakter yang terbukti efektif menekan angka bullying, meliputi program dan kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai landasan kebijakan yang memperkuat tata tertib berbasis nilai; penerapan Budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) yang berhasil menciptakan iklim sekolah lebih ramah dan positif; integrasi nilai karakter dalam pembelajaran khususnya mata pelajaran PPKn yang efektif meningkatkan pemahaman siswa tentang bahaya bullying dan pentingnya toleransi; workshop dan seminar anti-bullying dengan narasumber eksternal seperti kepolisian dan psikolog yang terbukti meningkatkan kesadaran kolektif warga sekolah; program sahabat karakter yang melibatkan siswa sebagai agen perubahan untuk mendeteksi dini potensi konflik; kampanye melalui media kreatif seperti poster dan video di media sosial yang berhasil mengkomunikasikan nilai-nilai anti-bullying secara visual; pelatihan bagi guru dan staf untuk menyamakan persepsi dalam penanganan kasus; serta kegiatan keagamaan (Imtaq) rutin yang memperkuat nilai religius dan empati siswa. Faktor pendukung keberhasilan ini terdiri atas komitmen pimpinan sekolah dan guru, kerja sama warga sekolah, serta dukungan orang tua, sementara faktor penghambat meliputi keterbatasan waktu guru, kurangnya pemahaman sebagian pendidik tentang pendidikan karakter, serta kurangnya perhatian orang tua siswa secara langsung. Penelitian menyimpulkan bahwa penguatan pendidikan karakter berperan penting dalam membentuk perilaku positif siswa dan menekan bullying, dengan implikasi praktis bahwa sekolah perlu secara berkala mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas guru dalam pengintegrasian nilai karakter serta mengoptimalkan program parenting yang melibatkan orang tua secara lebih intensif guna menciptakan sinergi antara pendidikan di sekolah dan di rumah, sehingga keberhasilan upaya ini menuntut kolaborasi berkelanjutan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Upaya Sekolah Dalam Penguatan Pendidikan Karakter Untuk Mengatasi Terjadinya Perilaku Bullying di SMP Negeri 13 Mataram Putra, Sonny Manggala; Haslan, Muhammad Mabrur; Hadi, M. Samsul
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 1 (2026): Februari
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/amzm6g33

Abstract

Penelitian ini bertujuan menganalisis upaya sekolah dalam penguatan pendidikan karakter untuk mengatasi terjadinya perilaku bullying serta mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat di SMP Negeri 13 Mataram. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kasus, yang memungkinkan peneliti untuk menggali secara mendalam fenomena upaya penguatan pendidikan karakter di lingkungan sekolah melalui teknik pengumpulan data observasi, wawancara, dan dokumentasi, serta diuji keabsahannya menggunakan triangulasi sumber, waktu, dan teknik, dengan teknik analisis data meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sekolah telah menerapkan berbagai upaya strategis dalam penguatan pendidikan karakter yang terbukti efektif menekan angka bullying, meliputi program dan kebijakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) sebagai landasan kebijakan yang memperkuat tata tertib berbasis nilai; penerapan Budaya 5S (Senyum, Salam, Sapa, Sopan, Santun) yang berhasil menciptakan iklim sekolah lebih ramah dan positif; integrasi nilai karakter dalam pembelajaran khususnya mata pelajaran PPKn yang efektif meningkatkan pemahaman siswa tentang bahaya bullying dan pentingnya toleransi; workshop dan seminar anti-bullying dengan narasumber eksternal seperti kepolisian dan psikolog yang terbukti meningkatkan kesadaran kolektif warga sekolah; program sahabat karakter yang melibatkan siswa sebagai agen perubahan untuk mendeteksi dini potensi konflik; kampanye melalui media kreatif seperti poster dan video di media sosial yang berhasil mengkomunikasikan nilai-nilai anti-bullying secara visual; pelatihan bagi guru dan staf untuk menyamakan persepsi dalam penanganan kasus; serta kegiatan keagamaan (Imtaq) rutin yang memperkuat nilai religius dan empati siswa. Faktor pendukung keberhasilan ini terdiri atas komitmen pimpinan sekolah dan guru, kerja sama warga sekolah, serta dukungan orang tua, sementara faktor penghambat meliputi keterbatasan waktu guru, kurangnya pemahaman sebagian pendidik tentang pendidikan karakter, serta kurangnya perhatian orang tua siswa secara langsung. Penelitian menyimpulkan bahwa penguatan pendidikan karakter berperan penting dalam membentuk perilaku positif siswa dan menekan bullying, dengan implikasi praktis bahwa sekolah perlu secara berkala mengadakan pelatihan peningkatan kapasitas guru dalam pengintegrasian nilai karakter serta mengoptimalkan program parenting yang melibatkan orang tua secara lebih intensif guna menciptakan sinergi antara pendidikan di sekolah dan di rumah, sehingga keberhasilan upaya ini menuntut kolaborasi berkelanjutan antara sekolah, keluarga, dan masyarakat.
Transformasi Tradisi Do’a Dana pada Masyarakat Suku Mbojo(Studi di Desa Maria, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima) Setiawan, Rahmat; Mustari, Mohammad; Haslan, Muhammad Mabrur
Journal of Authentic Research Vol. 5 No. 2 (2026): May
Publisher : LITPAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/v8hvzv05

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perubahan dalam tradisi Do'a Dana pada masyarakat Suku Mbojo di Desa Maria, Kecamatan Wawo, Kabupaten Bima, yang sebelumnya dikenal dengan istilah Kasaro sebelum masuknya Islam. Tradisi ini tetap dipertahankan hingga saat ini, terutama karena Desa Maria merupakan salah satu desa wisata yang memiliki kekayaan budaya lokal. Subjek penelitian ini adalah tokoh adat, tokoh agama, tokoh masyarakat, dan masyarakat umum. Namun, belum terdapat kajian ilmiah yang secara rinci mengkaji transformasi pelaksanaan tradisi tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk transformasi tradisi Do'a Dana serta faktor-faktor yang mempengaruhinya. Hasil penelitian menunjukkan tiga bentuk transformasi: perubahan bentuk ritual, perubahan makna ritual, dan perubahan fungsi ritual. Keempat faktor yang mempengaruhi transformasi adalah faktor religius, interaksi budaya, pendidikan, dan identitas budaya. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian kualitatif dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi Do'a Dana mengalami transformasi. Transformasi yang terjadi pada tradisi Do'a Dana mencakup: (1) perubahan pada bentuk ritual, (2) perubahan makna ritual, (3) perubahan fungsi ritual. Perubahan tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yaitu: (1) faktor religius atau perubahan sistem kepercayaan, (2) interaksi budaya, (3) pendidikan, (4) kebutuhan identitas. Transformasi ini menunjukkan adanya proses adaptasi budaya yang tetap mempertahankan nilai-nilai lokal, namun disesuaikan dengan perkembangan zaman dan ajaran Islam.