Claim Missing Document
Check
Articles

Found 22 Documents
Search

Prioritisasi Wilayah Ketahanan Pangan Di Kabupaten Jayawijaya Menggunakan Pendekatan SIG–AHP Tambunan, Ayu Anggraini; Gultom, Parapat; Hanafiah, Arif; Ferdiansyah, Ronando
Benefit: Journal of Bussiness, Economics, and Finance Vol. 4 No. 1 (2026): BENEFIT: Journal Of Business, Economics, and Finance
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Publikasi Ilmiah (lppi) Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70437/benefit.v4i1.1685

Abstract

Ketahanan pangan merupakan isu strategis di wilayah pegunungan dan daerah dengan keterbatasan infrastruktur, seperti Kabupaten Jayawijaya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat ketahanan pangan antar distrik di Kabupaten Jayawijaya menggunakan pendekatan Indeks Ketahanan Pangan (IKP) berbasis Analytical Hierarchy Process (AHP), serta mengidentifikasi faktor-faktor dominan yang memengaruhi variasi ketahanan pangan secara spasial. Data yang digunakan meliputi indikator ketersediaan, aksesibilitas, dan pemanfaatan pangan, yang diperoleh dari data sekunder dan diolah melalui proses normalisasi serta pembobotan AHP. Nilai IKP dihitung menggunakan metode penjumlahan terbobot dan diklasifikasikan ke dalam tiga kategori, yaitu rendah (0,00–0,33), sedang (0,34–0,66), dan tinggi (0,67–1,00). Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai IKP 20 distrik di Kabupaten Jayawijaya berada pada rentang 0,28–0,72 dengan nilai rata-rata sekitar 0,51. Sebanyak 4 distrik (20%) tergolong dalam kategori ketahanan pangan rendah, 13 distrik (65%) berada pada kategori sedang, dan 3 distrik (15%) termasuk kategori tinggi. Pembobotan AHP mengindikasikan bahwa indikator produksi pangan dan aksesibilitas, khususnya akses jalan, jarak ke pasar, dan harga pangan, merupakan faktor dominan yang memengaruhi nilai IKP. Distrik dengan ketahanan pangan rendah dicirikan oleh dominasi indikator biaya seperti keterbatasan infrastruktur dan tingginya harga pangan, sementara distrik dengan ketahanan pangan tinggi menunjukkan dominasi indikator manfaat berupa produksi pangan yang lebih baik, aksesibilitas memadai, dan stabilitas harga. Penelitian ini menyimpulkan bahwa ketahanan pangan di Kabupaten Jayawijaya masih bersifat tidak merata dan memerlukan strategi kebijakan yang bersifat diferensial dan berbasis wilayah. Pendekatan IKP berbasis AHP terbukti mampu merepresentasikan kompleksitas ketahanan pangan secara kuantitatif dan dapat dimanfaatkan sebagai dasar perencanaan serta evaluasi kebijakan ketahanan pangan yang lebih tepat sasaran.
The Role of Creative Economics in Sei Nagalawan Mangrove Ecotourism Sector Ayu Anggraini Tambunan; Tiomy Butsianto Adi; Tukijan Tukijan
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 10 No SpecialIssue (2024): Science Education, Ecotourism, Health Science
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v10iSpecialIssue.6146

Abstract

Sei Nagalawan Village in Serdang Bedagai Regency, Indonesia, utilizes the mangrove ecosystem for economic benefits through creative activities and fishing. However, long-term use raises ecological and social problems, requiring a balance between conservation and development. This post-positivism-based study explores the transformation of Sei Nagalawan into an ecotourism center, involving stakeholders such as local government, ecotourism managers and the media. Drone mapping reveals a variety of attractions at Mangrove Beach, but challenges such as marketing, infrastructure problems and limited shrimp cultivation skills hinder community empowerment. This program, led by the Muara Baimbai Mangrove Conservation Group, aims to increase capabilities, improve economic prosperity and environmental awareness. Identified weaknesses indicate low awareness and support. Opportunities arise from tourist interests, but threats arise from waste problems and conflicts of interest. The strategy includes mangrove management, conservation, online promotion and education, aiming to achieve a balance between conservation and economic activities, while recognizing existing challenges and the need for sustainable efforts