Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Pemanfaatan Arang Kayu Kopi Sebagai Penurun Kadar Bau Pada IPAL Prianto, Nawan; Masra, Ferizal; Prihantoro, Prihantoro
MIDWIFERY JOURNAL Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 No 2 Juni 2025
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v5i2.21098

Abstract

 ABSTRAKLatar Belakang: Limbah cair rumah sakit mengandung senyawa organik yang apabila terurai menghasilkan bau tidak sedap, salah satunya disebabkan oleh amonia (NH₃). Salah satu metode pengolahan bau limbah adalah dengan menggunakan arang aktif sebagai media adsorpsi. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas arang aktif berbahan kayu kopi sebagai media filtrasi untuk menurunkan kadar bau (amonia) pada IPAL RSUD Alimuddin Umar.Tujuan: Mengetahui efektivitas penggunaan arang kayu kopi terhadap penurunan kadar amonia pada limbah cair rumah sakit.Metode: Penelitian eksperimen dengan perlakuan media arang aktif kayu kopi setebal 70 cm, 100 cm, dan 120 cm dengan variasi waktu kontak 5, 15, dan 20 menit. Parameter yang diukur meliputi kadar NH₃, pH, dan suhu sebelum dan sesudah proses filtrasi.Hasil: Penurunan kadar NH₃ tertinggi terjadi pada media setebal 120 cm dengan waktu kontak 20 menit (dari 10,45 mg/L menjadi 2,94 mg/L). pH berkisar antara 7,4–7,7 dan suhu antara 25–30 °C, keduanya masih dalam rentang standar.Kesimpulan: Arang aktif dari kayu kopi efektif digunakan untuk menurunkan bau limbah cair rumah sakit, khususnya kandungan amonia.Kata kunci: Arang Aktif, Amonia, Filtrasi, Limbah Cair, Kayu Kopi  
Sanitasi Rumah Balita Penderita Pneumonia Valensia, Rikza; Masra, Ferizal; Barus, Linda; Indarwati, Suami
MIDWIFERY JOURNAL Vol 4, No 1 (2024): Volume 4, Nomor 1 Maret 2024
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v4i1.14683

Abstract

Background: Pneumonia is an acute infection that attacks lung tissue (alveoli) caused by various microorganisms such as viruses, fungi and bacteria. The population susceptible to pneumonia are children aged less than 2 years, elderly aged more than 65 years and people who have health problems (malnutrition, immunological disorders). Risk factors for pneumonia are nutritional status, non-exclusive breastfeeding, vitamin A supplementation, zinc supplementation, low birth weight babies, vaccination, and indoor air pollution, especially cigarette smoke and burnt smoke from the kitchen.Objective: to determine the sanitary conditions of homes for toddlers with pneumonia in the working area of the Puskesmas Rajabasa Indah Bandar Lampung, such as ventilation, humidity, location of the kitchen, type of fuel used and air pollution in the home.Method: The research design used is descriptive research. The population and sample were 64 homes for toddlers with pneumonia in the working area of Puskesmas Rajabasa Indah Bandar Lampung. The research was carried out in April 2022Results: The results of the study showed that the houses of toddlers suffering from pneumonia in the working area of the Puskesmas Rajabasa Indah Bandar Lampung had ventilation that met the requirements of 68.7%, had humidity that met the requirements of 60.9%, the location of the kitchen met the requirements of 45.3%, which used kerosene for cooking is 84.3% and the remainder is still using firewood as much as 15.7%, and indoor air quality that meets the requirements is 84.3%.Conclusion: There are still many toddlers suffering from pneumonia who live in homes where sanitation conditions are still low. And the suggestion is that the Puskesmas Rajabasa Indah Bandar Lampung must provide education to the community about healthy homes so that the risk of disease arising from unhealthy home sanitation can be reduced. Keywords: Pneumonia, Home Sanitation, Toddlers  Latar Belakang: pneumonia adalah infeksi akut yang menyerang jaringan paru-paru (alveoli) yang disebabkan oleh berbagai mikroorganisme seperti virus, jamur dan bakteri. Populasi rentan terserang pneumonia adalah anak-anak usia kurang dari 2 tahun, usia lanjut lebih dari 65 tahun dan orang yang memiliki masalah kesehatan (malnutrisi, gangguan imunologi). Faktor risiko pneumonia adalah status gizi, ASI non eksklusif, suplementasi vitamin A, suplementasi zinc, bayi berat badan lahir rendah, vaksinasi, dan polusi udara dalam rumah terutama asap rokok dan asap bakaran dari dapur.Tujuan: Untuk mengetahui kondisi sanitasi rumah balita pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah Bandar Lampung seperti ventilasi, kelembaban, letak dapur, jenis bahan bakar di dapur, dan polusi udara dalam rumah.Metode: Penelitian menggunakan rancangan deskriptif. Populasi dan sampel adalah 64 rumah balita pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah Bandar Lampung. Penelitian dilaksanakan pada bulan April 2022Hasil: Hasil penelitian menunjukan bahwa rumah balita pneumonia di wilayah kerja Puskesmas Rajabasa Indah Bandar Lampung memiliki ventilasi memenuhi syarat sebanyak 68,7%, memiliki kelembapan memenuhi syarat 60,9%, letak dapur yang memenuhi syarat 45,3%, yang menggunakan minyak tanah untuk memasak sebesar 84,3% dan sisanya masih menggunakan kayu baakar sebanyak 15,7%, dan kualitas udara dalam rumah yang memenuhi syarat sebesar 84,3%.Kesimpulan: masih banyak balita pneumonia menempati rumah yang memiliki kondisi santiasi yang masih rendah. Dan sarannya adalah Puskesmas Rajabasa Indah harus melakukan penyuluhan ke masyarakat tentang rumah sehat agar dapat dikurangi resiko timbulnya penyakit yang disebabkan oleh kondisi sanitasi rumah yang tidak sehat. Kata Kunci: Pneumonia, Sanitasi Rumah, Balita
Analisis Risiko Kesehatan Lingkugan (ARKL) Pajanan Mangan (Mn) Pada Air Sumur Gali Masyarakat Sebagai Sumber Air Minum Izza, Nurul; Karbito, Karbito; Fikri, Ahmad; Masra, Ferizal
MIDWIFERY JOURNAL Vol 5, No 2 (2025): Volume 5 No 2 Juni 2025
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v5i2.21079

Abstract

Latar Belakang: Kendala yang paling sering ditemui dalam menggunakan air tanah adalah masalah kandungan Zat Mangan (Mn) yang terdapat dalam air baku. Mangan dalam air biasanya terlarut dalam bentuk senyawa atau garam bikarbonat, garam sulfat, hidroksida dan juga dalam bentuk koloid atau dalam keadaan bergabung dengan senyawa organik. Adanya kandungan Mangan (Mn) dalam air menyebabkan warna air tersebut berubah menjadi kuning-coklat setelah beberapa saat kontak dengan udara. Disamping kandungan Mangan (Mn) dapat mengganggu kesehatan juga menimbulkan bau yang kurang enak serta menyebabkan warna kuning pada dinding bak serta bercak-bercak kuning pada pakaian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kadar Mangan (Mn) dan melakukan Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan terhadap pajanan Mangan (Mn) pada air sumur gali sebagai air minum masyarakat di Desa Sudimoro, Kecamatan Semaka, KabupatenTanggamus. Metode: Penelitian ini merupakan penelitian Deskriptif, yaitu melakukan pemeriksaan dan analisis risiko kesehatan lingkungan pada air sumur gali yang mengandung kadar Mangan (Mn) sebagai sumber air minum yang dikonsumsi dalam kehidupan sehari-hari.di Desa Sudimoro, Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus. Hasil: Hasil penelitian ini diketahui bahwa kadar Mangan (Mn) pada 5 sampel air sumur gali di Desa Sudimoro Kecamatan Semaka, Kabupaten Tanggamus adalah sumur I (0,2 mg/l), sumur II (0,5 mg/l), sumur III (0,5 mg/l), sumur IV (0,6 mg/l) dan sumur V (0,2 mg/l). Hasil Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan untuk pajanan Mangan (Mn) di air sumur gali yang digunakan masyarakat pada orang dewasa maupun anak–anak dengan konsentrasi tersebut masuk dalam kategori Aman / Berisiko Rendah karena memperoleh hasil RQ < 1. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan didapatkan hasil Tingkat risiko pajanan Mangan (Mn) di air sumur gali pada masyarakat dewasa maupun anak – anak dengan konsentrasi tersebut, Aman / Berisiko Rendah karena memperoleh hasil RQ < 1. Kata Kunci: Analisis Risiko Kesehatan Lingkungan, Sumur Gali, Mangan (Mn), Sudimoro    
High Density Polyethylene (HDPE) Plastic Waste For Making Paving Blocks Can Improve Environmental Health Masra, Ferizal
Jurnal Aisyah : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol 9, No 2 (2024): September
Publisher : Universitas Aisyah Pringsewu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30604/jika.v9i2.2921

Abstract

Waste management is a problem that this nation has never been able to solve. Based on data from Jenna Jambeck (2018), a waste researcher from the University of Georgia, Indonesia is ranked second in the world as a producer of plastic waste, reaching 187.2 million tons after China, which reached 262.9 million tons. The aim of this research is to utilize HDPE (High Density Polyethylene) plastic waste as an additional material for hexagon paving blocks, where the researcher wants to know the savings results from using shredded HDPE plastic waste on sand aggregates in making one paving block and to find out the results of the compressive strength test on Utilization of HDPE (High Density Polyethylene) Plastic Waste as additional material for making Hexagon Model Paving Blocks. This research is a type of experimental research, experimental research or experiment (experimental research) is research by carrying out experimental activities, which aims to determine the symptoms or effects that arise, as a cause and effect of certain treatments or experiments (Notoadmodjo, 2014 ). This research design will use a Completely Randomized Design (CRD) where the variation in the ratio of cement to sand is 1: 6: chopped plastic, 0.45%, 0.5%, 0.55%. The variations in the size of the HDPE plastic pieces were 1 cm and 1.5 cm for each comparison of the number of variations with 3 treatments for each variation in the number of comparisons and variations in the size of the HDPE plastic pieces. The conclusion from this research is that HDPE plastic can be used to make strong paving blocks
Bakti Sosial Dan Penyuluhan Tentang PHBS Dan Pengolahan Sampah Masra, Ferizal; Karbito, Karbito; Barus, Linda; Indarwati, Suami
Jurnal Perak Malahayati: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpmpkm.v7i2.23454

Abstract

Kegiatan pengabdian kepada masyarakat dengan judul Bakti Sosial dan Penyuluhan Tentang Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) serta Pengolahan Sampah merupakan salah satu upaya peningkatan kualitas kesehatan lingkungan dan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan diri serta lingkungan sekitarnya. Program ini dilaksanakan di Panti Asuhan Assalam, Natar, Lampung Selatan, yang merupakan lembaga sosial dengan jumlah penghuni cukup padat dan memiliki permasalahan dalam penerapan PHBS serta pengelolaan sampah organik. Berdasarkan hasil observasi awal, ditemukan rendahnya kesadaran anak-anak panti terhadap kebersihan pribadi dan lingkungan, serta belum adanya sistem pemilahan dan pengolahan sampah yang berkelanjutan (Rahmawati et al., 2021).Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan penghuni panti dalam menerapkan PHBS dan mengolah sampah organik menjadi kompos yang bernilai guna. Metode pelaksanaan meliputi observasi, wawancara, penyuluhan interaktif, dan praktik langsung. Mencakup penyampaian materi tentang PHBS, kebersihan lingkungan, serta demonstrasi pembuatan kompos dengan menggunakan bahan organik rumah tangga dan aktivator EM4. Materi PHBS yang diberikan meliputi cuci tangan pakai sabun, kebersihan makanan, pengelolaan air bersih, dan sanitasi lingkungan sesuai pedoman Kementerian Kesehatan (Kemenkes RI, 2023).Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan signifikan terhadap pengetahuan dan perubahan perilaku peserta dalam menerapkan PHBS dan pengelolaan sampah organik. Sebagian besar peserta mampu menjelaskan kembali langkah-langkah PHBS dengan benar serta menunjukkan keterampilan membuat kompos secara mandiri.Kegiatan bakti sosial dan penyuluhan ini menunjukkan bahwa pendekatan partisipatif dalam pendidikan kesehatan efektif untuk membangun kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat, sekaligus mengajarkan kemandirian dalam pengelolaan lingkungan melalui pengolahan sampah organik menjadi produk bermanfaat (Suwatanti & Widiyaningrum, 2017). Program ini dapat dijadikan model pengabdian masyarakat berkelanjutan dalam bidang kesehatan lingkungan dan pemberdayaan sosial. 
Bakti Sosial Dan Penyuluhan Tentang Kesehatan Kulit Dan Hygiene Sanitasi Makanan Barus, Linda; Indarwati, Suami; masra, Ferizal; Karbito, Karbito
Jurnal Perak Malahayati: Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 November 2025
Publisher : Program Studi Kebidanan Fakultas Ilmu Kesehatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jpmpkm.v7i2.23453

Abstract

Panti asuhan merupakan lingkungan dengan tingkat kepadatan tinggi dan fasilitas sanitasi yang terbatas, sehingga rentan terhadap penularan penyakit menular seperti skabies dan gangguan kesehatan akibat pengelolaan makanan yang tidak higienis (WHO, 2022; Kemenkes RI, 2023). Rendahnya pemahaman anak-anak dan pengurus panti terhadap kebersihan pribadi, serta kurangnya penerapan prinsip hygiene dan sanitasi makanan menjadi faktor utama yang perlu mendapatkan perhatian (Wulandari & Sari, 2022).Metode kegiatan meliputi observasi awal, wawancara, penyuluhan interaktif, dan praktik langsung. Materi yang diberikan mencakup pengenalan penyakit kulit skabies, cara pencegahan dan perawatannya, serta pelatihan hygiene sanitasi makanan mulai dari kebersihan diri, pengolahan bahan pangan, hingga penyimpanan makanan yang aman (Jatmika & Fadila, 2019). Kegiatan ini melibatkan 2 petugas panti dan 20 anak asuh di Panti Asuhan Peduli Harapan Bangsa II, Bandar Lampung.Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta tentang penyebab dan pencegahan skabies serta praktik hygiene dan sanitasi makanan. Peserta mampu mengidentifikasi gejala awal skabies, memahami pentingnya mencuci tangan dan menjaga kebersihan lingkungan tidur, serta menerapkan langkah-langkah dasar pengolahan makanan yang higienis. Kegiatan ini juga mempererat keakraban antara mahasiswa pelaksana, pengurus, dan anak-anak panti, sehingga menciptakan suasana edukatif yang menyenangkan dan efektif dalam membentuk perilaku hidup bersih dan sehat (Putri & Nugraha, 2022).Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini efektif meningkatkan kesadaran dan perilaku higienis penghuni panti asuhan. Melalui edukasi dan praktik langsung, peserta mampu menerapkan PHBS serta hygiene sanitasi makanan secara mandiri guna mencegah penyakit kulit dan penyakit berbasis makanan. Program ini diharapkan dapat menjadi model edukatif berkelanjutan dalam peningkatan kesehatan lingkungan panti asuhan.
Efektivitas Pemanfaatan Limbah Kertas Sebagai Bahan Tambahan Pembuatan Batako Barus, Linda; Masra, Ferizal; Indarwati, Suami
MIDWIFERY JOURNAL Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 No 4 Desember 2025
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v5i4.24162

Abstract

Background: Paper waste contributes approximately 10% of the total national waste in Indonesia. Improper management leads to accumulation in landfills and the production of methane gas. Utilizing paper waste as an additional material in brick manufacturing offers an environmentally friendly innovation that may reduce waste generation and provide more sustainable building materials.Purpose: This study aims to analyze the effect of various paper waste compositions on the compressive strength and water absorption of concrete bricks and to determine the most optimal composition based on SNI 03-0349-1989.Methods: This experimental study used paper waste compositions of 0%, 15%, 20%, and 25%. A total of 30 brick samples were tested. Compressive strength was measured using a Universal Testing Machine (UTM) at 28 days, while water absorption was tested through a 24-hour immersion process. Data were analyzed using ANOVA and Pearson correlation.Results: The findings show that higher paper waste content decreases compressive strength, indicated by a strong negative correlation (r = –0.72). The 0% and 15% variations met SNI standards for Grade I–II, while the 20% and 25% variations met Grade III–IV. Water absorption values for all variations were below 1%, fulfilling SNI requirements (maximum 25%). The 15% composition was identified as the most optimal variation. Conclusion: Paper waste significantly reduces compressive strength but does not negatively affect water absorption. A 15% composition is recommended because it meets SNI standards while supporting waste reduction efforts.Suggestion: Paper waste usage should be limited to a maximum of 15% for non-structural construction. Further studies may incorporate additives such as lime or fly ash to improve brick performance. Local governments and small industries are encouraged to adopt this innovation to reduce paper waste generation. Keywords: Paper Waste, Compressive Strength, Water Absorption, Concrete Brick  Latar Belakang: Sampah kertas menyumbang sekitar 10% dari total timbulan sampah nasional di Indonesia. Pengelolaan yang kurang optimal menyebabkan penumpukan di TPA dan menghasilkan gas metana. Pemanfaatan limbah kertas sebagai bahan tambahan pembuatan batako menjadi inovasi ramah lingkungan yang berpotensi mengurangi timbulan sampah serta menyediakan bahan bangunan yang lebih berkelanjutan. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi komposisi limbah kertas terhadap kuat tekan dan daya serap air batako serta menentukan komposisi paling optimal berdasarkan SNI 03-0349-1989.Metode: Penelitian eksperimen ini menggunakan variasi campuran limbah kertas 0%, 15%, 20%, dan 25%. Total 30 sampel batako diuji. Kuat tekan diukur menggunakan Universal Testing Machine (UTM) pada umur 28 hari, sedangkan daya serap air diuji melalui metode perendaman 24 jam. Data dianalisis dengan uji ANOVA dan korelasi Pearson.Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa semakin tinggi persentase limbah kertas maka semakin rendah kuat tekan batako, ditunjukkan oleh korelasi negatif kuat (r = –0,72). Variasi 0% dan 15% memenuhi SNI Mutu I–II, sementara 20% dan 25% hanya memenuhi Mutu III–IV. Semua variasi memiliki daya serap air di bawah 1%, sehingga memenuhi standar SNI (maksimal 25%). Komposisi paling optimal adalah 15%.Kesimpulan: Limbah kertas berpengaruh signifikan terhadap penurunan kuat tekan batako namun tidak menurunkan kelayakan daya serap air. Komposisi 15% direkomendasikan karena masih memenuhi standar SNI sekaligus mengurangi penggunaan bahan baku mineral.Saran: Penggunaan limbah kertas direkomendasikan maksimal 15% untuk konstruksi non-struktural. Penelitian lanjutan dapat menambahkan bahan additive seperti kapur atau fly ash untuk meningkatkan kualitas batako. Pemerintah daerah dan industri kecil disarankan mengadopsi inovasi ini guna mengurangi timbulan sampah kertas. KataKunci: Limbah Kertas, Kuat Tekan, Daya Serap Air, Batako
Gambaran Penerapan Perilaku Hidup Bersih Dan Sehat Ditatanan Rumah Tangga Pada Penderita Diare Damayanti, Novita; Masra, Ferizal; Barus, Linda; Purwanto, Bambang
MIDWIFERY JOURNAL Vol 5, No 4 (2025): Volume 5 No 4 Desember 2025
Publisher : Universitas Malahayati Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mj.v5i4.24164

Abstract

ABSTRACT: Clean and Healthy Living Behavior among Diarrhea Patients in the Labuhan Ratu Working Area, Bandar Lampung City in 2024Background: Diarrhea is an environment-based disease caused by infections, including bacteria and viruses, and is commonly transmitted through the fecal–oral route. Diarrhea can affect all age groups, including toddlers, children, and adults from various social backgrounds. It is characterized by defecation with a more liquid stool consistency than usual, occurring three or more times within a 24-hour period.Objective: This study aimed to describe the availability of clean water, handwashing with soap (HWWS) habits, and the use of healthy latrines in the Labuhan Ratu working area, Bandar Lampung City, in 2024.Methods: This study employed a descriptive research design, which aimed to objectively describe a situation. The study focused on identifying and describing Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) among diarrhea patients.Results: The results showed that 36.5% of respondents used clean water that did not meet health requirements, while 63.4% used clean water that met the requirements. Handwashing with soap (HWWS) practices that did not meet the requirements were found in 53.7% of respondents, whereas 46.2% practiced proper handwashing with soap. In addition, 31.1% of respondents used latrines that did not meet health standards, while 68.8% used healthy latrines.Conclusion: The study indicates that a considerable proportion of diarrhea patients still experience inadequate clean water availability, poor handwashing with soap habits, and the use of unhealthy latrines, which may contribute to the occurrence of diarrhea.Recommendation: It is recommended that the Labuhan Ratu Health Center and related institutions strengthen health education for the community, particularly diarrhea patients and their families, regarding the importance of using safe clean water, proper handwashing with soap (HWWS) practices, and the use of healthy latrines. In addition, continuous promotion of Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) through education, assistance, and regular monitoring is needed to reduce the risk of diarrhea incidence in the Labuhan Ratu working area, Bandar Lampung City. Keywords: Clean and Healthy Living Behavior, Diarrhea, Clean Water, Handwashing with Soap, Healthy Latrines  Latar Belakang: Diare merupakan penyakit berbasis lingkungan yang disebabkan oleh infeksi, termasuk bakteri dan virus, serta penularan melalui jalur fekal–oral. Penyakit diare dapat menyerang semua kelompok usia, mulai dari balita, anak-anak, hingga orang dewasa dari berbagai latar belakang sosial. Diare ditandai dengan buang air besar dengan konsistensi tinja lebih cair dari biasanya yang terjadi tiga kali atau lebih dalam kurun waktu 24 jam.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran ketersediaan air bersih, kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS), dan penggunaan jamban sehat di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Ratu Kota Bandar Lampung Tahun 2024.Metode: Jenis penelitian ini adalah penelitian deskriptif yang bertujuan untuk menggambarkan secara objektif kondisi yang ada. Penelitian ini berfokus pada penggambaran perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) pada penderita diare. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 36,5% responden menggunakan air bersih yang tidak memenuhi syarat, sedangkan 63,4% menggunakan air bersih yang memenuhi syarat. Kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) yang tidak memenuhi syarat ditemukan pada 53,7% responden, sementara 46,2% responden memiliki kebiasaan CTPS yang memenuhi syarat. Selain itu, sebanyak 31,1% responden menggunakan jamban yang tidak memenuhi syarat, sedangkan 68,8% responden menggunakan jamban sehat.Kesimpulan: Penelitian ini menunjukkan bahwa masih terdapat proporsi responden yang cukup besar dengan ketersediaan air bersih, kebiasaan CTPS, dan penggunaan jamban sehat yang belum memenuhi persyaratan kesehatan, sehingga berpotensi berkontribusi terhadap kejadian diare.Saran: Disarankan kepada pihak Puskesmas Labuhan Ratu dan instansi terkait untuk meningkatkan edukasi kesehatan kepada masyarakat, khususnya penderita diare dan keluarganya, mengenai pentingnya penggunaan air bersih yang memenuhi syarat, kebiasaan cuci tangan pakai sabun (CTPS) yang benar, serta penggunaan jamban sehat. Selain itu, perlu dilakukan penguatan program promosi perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) secara berkelanjutan melalui penyuluhan, pendampingan, dan pemantauan rutin guna menurunkan risiko kejadian diare di wilayah kerja Puskesmas Labuhan Ratu Kota Bandar Lampung. Kata Kunci: Perilaku Hidup Bersih dan Sehat, Diare, Air Bersih, Cuci Tangan Pakai Sabun, Jamban Sehat