Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Resposisi Peran Tokoh Masyarakat dan Tradisi Lokal dalam Pemasaran Sosial Kesehatan: Literatur Review Pada Masyarakat Terpencil Muhammad Alghfari; Irwan Saputra
Public Health Journal Vol. 3 No. 1 (2026): January–March, Nutrition and Public Health
Publisher : Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/gnm9a030

Abstract

Tokoh adat memiliki peran penting dalam struktur sosial masyarakat terpencil, terutama dalam mempengaruhi perilaku norma sosial, termasuk perilaku kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran tokoh adat dalam mempromosikan kesehatan masyarakat daerah terpencil melalui pengamatan literatur. Metode yang digunakan adalah pengamatan literatur yang dirangkai dengan pencarian literatur yang dilakukan melalui Google Scholar. Sebanyak 20 artikel yang sesuai dengan kriteria inklusi dianalisis menggunakan pendekatan tematik. Hasil kajian menunjukkan bahwa tokoh adat berperan sebagai fasilitator, penyampai pesan, dan penjaga nilai-nilai budaya yang mampu meningkatkan kesadaran dan penerimaan masyarakat terhadap program kesehatan. Meskipun demikian, keterlibatan aktif tokoh adat terbukti meningkatkan efektivitas promosi kesehatan, terutama dalam program imunisasi, kebersihan lingkungan, dan perawatan ibu dan anak. Disimpulkan bahwa integrasi peran tokoh adat dalam strategi promosi kesehatan dapat menjadi pendekatan yang efektif dalam upaya peningkatan status kesehatan masyarakat di daerah terpencil.
Integrasi Rekam Medis Elektronik (RME) Melalui Platform SatuSehat: Tinjauan Manajemen Data dan Keamanan Informasi Nasional Alya Masthura Safwan; Irwan Saputra
Public Health Journal Vol. 3 No. 1 (2026): January–March, Nutrition and Public Health
Publisher : Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/gc4kyk96

Abstract

Transformasi kesehatan di Indonesia menempatkan integrasi data sebagai fondasi utama dalam penguatan sistem pelayanan kesehatan berbasis digital. Dalam konteks tersebut, platform SATUSEHAT dikembangkan untuk mengintegrasikan data rekam medis secara nasional dan meningkatkan interoperabilitas antar fasilitas pelayanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis integrasi Rekam Medis Elektronik (RME) melalui platform SATUSEHAT dengan menitikberatkan pada aspek manajemen data dan keamanan informasi nasional. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan deskriptif kualitatif melalui penelusuran database Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect dengan rentang tahun 2019–2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa Indonesia telah memiliki fondasi regulasi yang kuat, namun implementasi masih menghadapi berbagai tantangan seperti ketimpangan infrastruktur, kendala interoperabilitas, serta risiko keamanan data. Kesimpulan menunjukkan bahwa integrasi RME melalui SATUSEHAT memiliki potensi besar dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan, tetapi membutuhkan penguatan tata kelola data, keamanan sistem, serta kesiapan sumber daya manusia.
Komunikasi Sosial Stunting: Digitalisasi, Partisipasi dan Perubahan Yoanna Sativa Wita; Irwan Saputra
Public Health Journal Vol. 3 No. 1 (2026): January–March, Nutrition and Public Health
Publisher : Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/vnp6zd90

Abstract

Stunting masih menjadi masalah kesehatan masyarakat serius di Indonesia. Komunikasi sosial dan pemasaran sosial berperan strategis dalam mengubah perilaku masyarakat. Tinjauan naratif ini bertujuan mengidentifikasi prinsip dan praktik komunikasi sosial untuk stunting berdasarkan 18 jurnal ilmiah terbitan 2020–2025. Hasil sintesis menunjukkan tiga pilar utama: digitalisasi (media sosial, aplikasi mobile, mHealth), partisipasi (pemberdayaan kader, modal sosial, keterlibatan komunitas), dan perubahan perilaku (teori HBM, komunikasi persuasif, pendekatan dekolonial). Bukti empiris menunjukkan bahwa aplikasi mobile seperti AECAS dan Edu Stunting secara signifikan meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu, sementara komunikasi interpersonal kader Posyandu yang empatik terbukti lebih efektif daripada penyuluhan satu arah. Pendekatan dekolonial mengkritik intervensi SBCC konvensional yang cenderung top-down dan mengabaikan ekologi pangan lokal serta praktik sosiokultural masyarakat. Implikasi praktisnya, pemerintah dan dinas kesehatan perlu mengintegrasikan ketiga pilar secara simultan dalam kampanye stunting, disertai evaluasi dampak jangka panjang melalui desain studi yang ketat. Kesimpulannya, komunikasi sosial yang efektif memerlukan integrasi ketiga pilar tersebut secara simultan.
Determinan Willingness to Pay dan Ability to Pay dalam Pembiayaan Pelayanan Kesehatan: Sebuah Literature Review Alya Masthura Safwan; Irwan Saputra
Public Health Journal Vol. 3 No. 1 (2026): January–March, Nutrition and Public Health
Publisher : Teewan Journal Solutions

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62710/qvpymz79

Abstract

Pembiayaan pelayanan kesehatan merupakan salah satu aspek penting dalam sistem kesehatan karena berkaitan langsung dengan akses, keadilan, keberlanjutan program, dan perlindungan masyarakat dari beban biaya kesehatan. Dalam konteks tersebut, willingness to pay (WTP) dan ability to pay (ATP) menjadi dua konsep penting untuk menilai sejauh mana masyarakat bersedia dan mampu membayar pelayanan kesehatan, baik melalui iuran jaminan kesehatan, pembayaran langsung, maupun biaya tambahan untuk peningkatan mutu pelayanan. Literature review ini bertujuan untuk mengkaji determinan WTP dan ATP dalam pembiayaan pelayanan kesehatan serta menjelaskan keterkaitan keduanya dalam perspektif kesehatan masyarakat. Metode yang digunakan adalah literature review dengan pendekatan naratif terhadap 18 literatur inti yang dipilih secara purposif pada rentang tahun 2014-2025. Hasil kajian menunjukkan bahwa ATP lebih banyak dipengaruhi oleh faktor ekonomi, seperti pendapatan, pengeluaran rumah tangga, jumlah tanggungan, jenis pekerjaan, dan kestabilan sumber pendapatan. Sementara itu, WTP tidak hanya dipengaruhi oleh kemampuan ekonomi, tetapi juga oleh persepsi mutu pelayanan, pengalaman menggunakan layanan, pengetahuan tentang jaminan kesehatan, persepsi manfaat, risiko sakit, kepuasan pasien, dan kepercayaan terhadap sistem kesehatan. Kajian ini menegaskan bahwa WTP dan ATP perlu dipahami secara bersamaan karena seseorang dapat bersedia membayar tetapi tidak mampu secara ekonomi, atau sebaliknya mampu membayar tetapi tidak bersedia karena pelayanan dianggap kurang bermutu. Oleh karena itu, kebijakan pembiayaan kesehatan perlu dirancang secara lebih adil, adaptif, dan sensitif terhadap kondisi sosial ekonomi masyarakat.