Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

IMPLEMENTASI DEMOKRASI PANCASILA BAGI PEMILIH PEMULA PADA PILPRES 2024 (STUDI KASUS SISWA MAS ISHLAHIYAH BINJAI) Yusuf, Muhammad; Piliang, Fenny Mustika; Tanjung, Alfian
Jurnal Review Pendidikan dan Pengajaran Vol. 7 No. 3 (2024): Volume 7 No 3 Tahun 2024
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jrpp.v7i3.29218

Abstract

Nilai Pancasila sebagai dasar negara perlu diinternalisasikan sejak dini di setiap lapisan masyarakat dan dijadikan landasan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Terutama pada pemilih pemula yang akrab dengan perkembangan teknologi. Internalisasi nilai-nilai Pancasila pada generasi ini dilakukan dalam rangka menghadapi pemilihan presiden agar dapat memilih pemimpin yang tepat. Internalisasi nilai-nilai Pancasila perlu dilakukan selama kampanye, donasi, sosialisasi visi dan misi kandidat presiden dan wakil presiden atau diskusi dengan KPU, BAWASLU, dan Mahkamah Konstitusi yang hasilnya diharapkan akan menjadi pemilihan demokratis dan untuk membuat perdamaian, keadilan, dan lembaga-lembaga yang kuat bagi Indonesia. Signifikansi pengaruh generasi muda terhadap kontestasi dan keterpilihan tidak cukup hanya diwujudkan dengan datang ke TPS lalu memberikan hak suara. Tetapi, partisipasi pemilih pemula, dengan jumlah yang sangat mayoritas mesti memberikan partisipasi yang lebih bermakna (Meaningful Participations).Selain itu dapat dilakukan dengan cara mengedukasi di platform-platform digital yang mudah diakses pemilih pemula, menyelipkan dalam materi wajib lembaga pendidikan, dan membuat asosiasi kelompok-kelompok pemilih pemula untuk membicarakan permasalahan terkait dengan pemilu. Pemilu 2024 adalah momentum konsolidasi demokrasi yang sangat penting bagi Indonesia. Selain itu, pada pelaksanaan Pemilu 2024 terdapat variabel yang penting bagi Indonesia. Variabel itu adalah tingginya angka pemilih muda di Indonesia. Dari 204 juta lebih pemilih Indonesia di Pemilu 2024, lebih dari 50% adalah pemilih usia muda. Diperkirakan bahwa pemilih pemula akan tahu dari pemilu atau membuat pilihan mereka sendiri berdasarkan apa yang mereka yakini dan dapat memulihkan kesadaran Pancasila dan kesedaran politik. Akhirnya, untuk meningkatkan kesadaran dan mempromosikan nilai-nilai politik, internalisasi Pancasila sangat diperlukan, terutama pada pemilih pemula terkhusus siswa yang ada di mas ishlahiyah binjai.
Peranan Literasi Digital dalam Membangun Pola Berpikir Kritis Mahasiswa pada Bidang Statistik Tanjung, Alfian; Piliang, Fenny Mustika
EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 5 No. 3 (2025): Oktober 2025 - Januari 2026
Publisher : Association of Islamic Education Managers (Permapendis) Indonesia, North Sumatra Province

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/edu.v5i3.2524

Abstract

Perkembangan teknologi informasi telah mengubah cara individu mengakses, memproses, dan menyebarkan informasi. Dalam konteks ini, literasi digital menjadi kompetensi esensial yang tidak hanya mencakup kemampuan teknis dalam mengoperasikan perangkat digital, tetapi juga menyangkut kecakapan berpikir tingkat tinggi seperti analisis, evaluasi, dan pengambilan keputusan berbasis informasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji secara mendalam kontribusi literasi digital terhadap penguatan kemampuan berpikir kritis di era digital terkhusus pada bidang statistik. Metode yang digunakan adalah penelitian kepustakaan (library research) dengan menelaah literatur dari berbagai sumber ilmiah terpilih yang relevan yang dijadikan sebagai dasar acuan dalam penyusunan penelitian. Hasil studi literatur menunjukkan bahwa literasi digital berperan penting dalam membentuk pola berpikir mahasiswa yang kritis, reflektif, dan analitis. Mahasiswa yang memiliki kemampuan literasi digital tinggi cenderung lebih mampu menyeleksi informasi, mengevaluasi validitas sumber, serta mengambil keputusan berdasarkan logika dan data yang akurat. Sebaliknya, kemampuan berpikir kritis juga menjadi faktor pendukung dalam meningkatkan kualitas literasi digital karena mendorong mahasiswa untuk tidak sekadar menjadi pengguna pasif teknologi, tetapi menjadi subjek aktif yang mampu memilah dan memaknai informasi secara mandiri. Dengan demikian, kedua kompetensi ini bersifat saling melengkapi dan perlu dikembangkan secara beriringan dalam lingkungan pendidikan tinggi. Temuan ini menegaskan pentingnya pendekatan pembelajaran yang integratif dan transformatif dalam mendukung mahasiswa agar mampu bersaing secara global.