Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Akumulasi α-Tokoferol pada Organ Tanaman dan Kultur Suspensi Sel Jatropha gossypiifolia Dari Nusa Tenggara Timur Meri Helsiana Mata
Saintek Lahan Kering Vol 4 No 1 (2021): JSLK JUNI 2021
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/slk.v4i1.1411

Abstract

Jatropha gossypiifolia Linn. is a type of medicinal plant because it has bioactive compounds such as phenolic acids, flavonoids, saponins, tannins, alkaloids, coumarins, lignins, phenols, steroids, and terpenoids contained in leaves, bark, roots, seeds, fruit, and sap. In addition to these bioactive compounds, another bioactive compound was found, namely tocopherol which is known to have antioxidant activity and can be used to treat several diseases. This study aimed to measure α-tocopherol in plant organs and cell culture of J. gossypiifolia. Crumb callus was induced using Murashige and Skoog (MS) medium and Vitamin Gamborg with the addition of 1.35 x 10-5 2,4-Dichlorophenoxyacetate (2,4-D) and 4,4 x 10-6 M kinetin. Cell suspension cultures were produced by subculture of crumbled callus on MS medium with the addition of 1.35x10-5 2,4-D and 4.4 x 10-6 M kinetin and 30 g/L sucrose. Measurement of the content of -tocopherol seen in plant organs and culture age 0; 3; 6; 9; 12; 15; 18 days using High Performance Liquid Chromatography (HPLC) method using methanol:water (95:5) as mobile phase. The results showed that the callus formation of J. gossypiifolia was observed after the explants were incubated for one week. The content of α-tocopherol in cell suspension culture of J. gossypiifolia was detected at the beginning of the culture age and then decreased and increased again until the 9th day. The content of α-tocopherol on day 9 was 0.23%. After the 9th day, the α-tocopherol content began to decrease. In culture medium, α-tocopherol was also found since the beginning of culture and the percentage increased on the 9th day until it reached a maximum on the 12th day of 0.12%. The level of α-tocopherol in the plant organs of J. gossipiifolia was highest in the roots of 0.12%.
PENGUATAN PERILAKU UNTUK PENCEGAHAN PENULARAN PENYAKIT COVID-19 PADA MASYARAKAT DI PASAR EBAN KEFAMENANU Ite Morina Yostianti Tnunay; Florian Mayesti Prima Remba Makin; I Gede Arya Wiguna; Matius Stefanus Batu; Risna Erniyati Adu; Meri Helsiana Mata; Wilda Lumban Tobing; Kamaluddin Kamaluddin
Jurnal Pasopati : Pengabdian Masyarakat dan Inovasi Pengembangan Teknologi Vol 3, No 2 (2021)
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masih rendahnya kesadaran akan bahaya virus Corona menyebabkan banyak masyarakat tidak menjalankan protokol kesehatan secara benar terutama di tempat ramai misalnya di Pasar Eban. Akibatnya peluang penyebaran virus Corona semakin tinggi. Oleh karena itu, perlu dilakukan kembali penguatan perilaku untuk mencegah penularan penyakit Covid-19 kepada masyarakat di Pasar Eban Kefamenanu. Bentuk Kegiatan Pengabdian yang dilakukan adalah pembagian masker dan edukasi mengenai dampak penyakit Covid-19 kepada pedagang dan pengunjung Pasar Eban Kefamenanu. Hasil dari kegiatan ini adalah masyarakat dapat melakukan protokol kesehatan secara sadar dan benar yaitu melalui 3M: memakai masker, menjaga jarak dan menghindari kerumunan, serta mencuci tangan pakai sabun. 
Karakteristik Buah dan Biji Lontar (Borassus Flabelifer L.) Ite Morina Yostianti Tnunay; Dicky Frengky Hanas; Meri Helsiana Mata
BIOEDUSAINS:Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains Vol 6 No 1 (2023): BIOEDUSAINS:Jurnal Pendidikan Biologi dan Sains
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/bioedusains.v6i1.5443

Abstract

The purpose of this study was to provide the data about character of lontar fruit and seeds in Kefamenanu City, North Central Timor Regency. This research was conducted from August to September 2022 using exploration and sample collection methods than contnued with characterization of fruit and seed. The results showed that the lontar fruit and seed in Kefamenanu can be characterized using the characteristics of the diameter of the base of the petals, the diameter of the tip of the petals, the length of the inner petals, the length of the outer petals, the width of the inner petals, the width of the outer petals, the number of petals, color. petals, edges of petals, petal shape, weight of petals, weight of fruit with petals, weight of fruit without petals, fruit diameter, fruit length, fruit circumference, fruit skin color, fruit shape, fruit skin surface, fruit tip and base surface, base color and fruit tip, seed weight, seed length, seed width, seed diameter, endosperm diameter, seed coat thickness, endosperm length, and endoperm color. In conclusion, there are 31 qualitative and quantitative characters that have been used to characterize lontar fruit and seed in Kefamenanu City. Keywords: Fruit and Seed Characters, Lontar
PELATIHAN PEMBUATAN PUPUK ORGANIK CAIR DAN BOKASI PADA KELOMPOK TANI DI DESA NAPAN KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA Ite Morina Yostianti Tnunay; Dicky Frengky Hanas; Meri Helsiana Mata; Ebenhaiser Liunokas
LOGISTA - Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol 6 No 2 (2022)
Publisher : Department of Agricultural Product Technology, Faculty of Agricultural Technology, Universitas Andalas Kampus Limau Manis - Padang, Sumatera Barat Indonesia-25163

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/logista.6.2.56-59.2022

Abstract

Penggunaan pupuk organik merupakan salah satu upaya untuk meminimalisir penggunaan pupuk anorganik yang sulit dijangkau dan pada pembutannya petani dapat memanfaatkan limbah rumah tangga serta bahan hijauan di sekitar. Pupuk organik berperan sebagi peningkat unsur hara tanah dan penstimulan pertumbuhan tanaman, memperbaiki struktur dan porositas tanah, dan merangsang pertumbuhan mikroorganisme tanah yang menguntungkan. Pengetahuan tentang pembuatan Pupuk Organik Cair (POC) dan bokasi sebagai pupuk organik ramah lingkungan perlu dimiliki dan diterapkan oleh petani di Desa Napan Kabupaten Timor Tengah Utara. Selain itu, pemanfaatan kotoran hewan dapat mencegah terjadinya pencemaran lingkungan. Oleh karena itu, perlu diberikan edukasi kepada petani tentang pemanfaatan limbah pertanian dan peternakan sebagai bahan baku pembuatan POC dan bokasi serta cara pembuatan dan penggunaan POC dan bokasi pada tanaman. Bentuk Kegiatan Pengabdian yang dilakukan adalah edukasi tentang pemanfaatan limbah, praktek pembuatan serta cara aplikasi POC dan bokasi pada tanaman. Hasil dari kegiatan ini adalah petani mendapat pemahaman tentang pemanfaatan limbah, cara membuat POC dan bokasi, serta cara mengaplikasikan pupuk organik yang sudah dibuat. Kata kunci: Napan, POC dan bokasi, pupuk organik ABSTRACT The use of organic fertilizers is one of the efforts to minimize the use of inorganic fertilizers that are difficult to reach and in its manufacture farmers can utilize household waste and forage materials around them. Organic fertilizers act as an increase in soil nutrients and plant growth stimulants, improve soil structure and porosity, and stimulate the growth of beneficial soil microorganisms. Knowledge about the manufacture of Liquid Organic Fertilizer (POC) and bokasi as environmentally friendly organic fertilizer needs to be owned and applied by farmers in Napan Village, North Central Timor Regency. In addition, the use of animal waste can prevent environmental pollution. Therefore, it is necessary to provide education to farmers about the use of agricultural and livestock waste as raw materials for making POC and bokasi and how to make and use POC and bokasi. The form of service activities carried out is education about the use of waste, manufacturing practices and how to apply POC and bokasi to plants. The result of this activity is that farmers can understanding about the use of waste, how to make POC and bokasi, and how to apply organic fertilizers that have been made. Keywords: organic fertilizer, POC and bokasi, Napan
Perlakuan Sakarifikasi Fisik, Stratifikasi Suhu, H2SO4, dan Giberelin terhadap Pematahan Dormansi dan Perkecambahan Biji Lontar (Borassus flabillifer L.) Tnunay, Ite Morina Yostianti; Hanas, Dicky Frengky; Mata, Meri Helsiana
INDIGENOUS BIOLOGI : JURNAL PENDIDIKAN DAN SAINS BIOLOGI Vol 7 No 1 (2024): INDIGENOUS BIOLOGI : JURNAL PENDIDIKAN DAN SAINS BIOLOGI
Publisher : Prodi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Kristen Artha Wacana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33323/indigenous.v7i1.586

Abstract

Lontar termasuk anggota tumbuhan palem-paleman multi fungsi karena hampir seluruh bagiannya telah diketahui dapat dimanfaatkan. Bagi beberapa kelompok etnis masyarakat, tumbuhan ini tergolong sangat penting berdasarkan indeks kepentingan budaya, walaupun begitu pemanfaatan lontar masih mengandalkan tumbuhan yang tumbuh secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perlakuan yang efektif terhadap perkecambahan biji lontar. Metode uji perkecambahan menggunakan perlakuan sakarifikasi, stratifikasi suhu, H2SO4 dan giberelin dengan tiga taraf uji pada setiap perlakuan, menggunakan biji lontar matang fisiologis dengan berat 70-170 g. Perlakuan sakarifikasi meliputi pengurangan sabut benih dengan metode pengamplasan, pembuatan goresan dengan cutter sepanjang punggung benih dan pembuatan goresan di sekitar titik tumbuh benih. Pemberian perlakuan stratifikasi suhu dilakukan dengan merendam benih pada suhu kamar 25°C, 50°C, dan 75°C selama 24 jam dan kemudian dibiarkan dingin. Perendaman benih dengan H2SO4 dilakukan pada tiga konsentrasi berbeda yaitu 25%, 50%, dan 75% selama masing-masing 10 menit. Perendamana dengan giberelin menggunakan tiga konsentrasi yakni 100 ppm, 150 ppm, dan 200 ppm selama 24 jam. Jumlah biji lontar yang berkecambah bervariasi pada tiap perlakuan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biji lontar mulai berkecambah pada hari kedua setelah tanam. Presentase perkecambahan tertinggi terdapat pada perlakuan sakarifikasi yakni 32-36%. Sedangkan presentase tertinggi biji yang berkecambah dengan normal terdapat pada perlakuan sakarifikasi yang dilakukan pada sekitar titik tumbuh dan juga pada perlakuan giberelin 100 ppm masing-masing sebesar 24%.
Pembuatan Signboard sebagai Media Edukasi Keanekaragaman Hayati Tumbuhan bagi Masyarakat Pengunjung Hutan Wisata Alam Oeluan, Kefamenanu, NTT Hanas, Dicky Frengky; Tnunay, Ite Morina Yostianti; Mata, Meri Helsiana
Jurnal Abdimas BSI: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 6, No 1 (2023): Februari 2023
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Bina Sarana Informatika

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31294/jabdimas.v6i1.14333

Abstract

Hutan wisata alam Oeluan merupakan bagian kawasan konservasi keanekaragaman hayati dan juga sebagai tempat wisata. Kawasan ini memiliki keanekaragaman tumbuhan yang dapat dijadikan laboratorium alam bagi pengunjung dalam mengenal keanekaragaman hayati tumbuhan. Tujuan dari kegiatan ini yaitu mendata jenis tumbuhan serta membuat dan memasang papan nama tumbuhan (signboard) sebagai sumber informasi keanekaragaman hayati tumbuhan. Metode yang digunakan dalam kegiatan ini yaitu eksplorasi, identifikasi dan sosialisasi. Tahapan pelaksanaan diawali dengan inventarisasi dan identifikasi nama jenis, pembuatan dan pemasangan papan nama tumbuhan serta melakukan evaluasi persepsi pengunjung. Hasil identifikasi menunjukkan bahwa terdapat 22 jenis tumbuhan di sekitar area jelajah hutan wisata alam Oeluan yang dikelompokkan dalam 19 genus dan 14 famili. Evaluasi kegiatan menunjukkan 90,32% pengunjung berpendapat bahwa pemasangan papan nama tumbuhan dapat memberikan informasi terkait jenis tumbuhan sehingga dapat digunakan sebagai media edukasi tentang keanekaragaman hayati tumbuhan. Hasil Kegiatan ini diharapkan dapat menunjang fungsi hutan wisata alam Oeluan sebagai kawasan konservasi dan wisata khusunya wisata edukasi.
Pengaruh Hormon 2.4-D (2,4-Dichlorophenoxyacetic Acid) Terhadap Kultur Kalus Daun Tembakau (Nicotiana tabacum L) Welsiliana, Welsiliana; Mata, Meri Helsiana
Journal Science of Biodiversity Vol. 5 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/jsb/vol5i1pp39-44

Abstract

Budidaya tanaman melalui teknik kultur jaringan selalu mengalami perkembangan dalam menghasilkan bibit unggul. Keberhasilan kultur jaringan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang meliputi media dan penggunaan zat pengatur tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh zat pengatur tumbuh (hormon) dalam menginisiasi kalus pada tanaman tembakau. Metode penelitian diawali dengan pembuatan larutan stok dan pembuatan media Murashige dan Skoog (MS) serta dilanjutkan dengan kultur eksplan daun tembakau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormon 2.4-D (2 ppm) pada eksplan daun tembakau dapat merangsang terbentuknya kalus hingga menghasilkan diameter 0.6 cm di minggu ke-4.
Pengaruh Hormon 2.4-D (2,4-Dichlorophenoxyacetic Acid) Terhadap Kultur Kalus Daun Tembakau (Nicotiana tabacum L) Welsiliana, Welsiliana; Mata, Meri Helsiana
Journal Science of Biodiversity Vol. 5 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : Program Studi Biologi, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/jsb/vol5i1pp39-44

Abstract

Budidaya tanaman melalui teknik kultur jaringan selalu mengalami perkembangan dalam menghasilkan bibit unggul. Keberhasilan kultur jaringan sangat dipengaruhi oleh faktor lingkungan yang meliputi media dan penggunaan zat pengatur tumbuh. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh zat pengatur tumbuh (hormon) dalam menginisiasi kalus pada tanaman tembakau. Metode penelitian diawali dengan pembuatan larutan stok dan pembuatan media Murashige dan Skoog (MS) serta dilanjutkan dengan kultur eksplan daun tembakau. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian hormon 2.4-D (2 ppm) pada eksplan daun tembakau dapat merangsang terbentuknya kalus hingga menghasilkan diameter 0.6 cm di minggu ke-4.
THE EFFECT OF GUANO COMPOST AND COMPOST TYPES ON THE GROWTH AND YIELD OF CAISIM MUSTARD (Brassica juncea L.) IN DRY LANDS Nahak, Maria Ernaldis Bano; Bria, Deseriana; Mata, Meri Helsiana; Naisali, Hyldegardis
Agrisaintifika: Jurnal Ilmu-Ilmu Pertanian Vol. 10 No. 1 (2026): Agrisaintifika
Publisher : Universitas Veteran Bangun Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32585/ags.v10i1.7881

Abstract

This research was carried out in September-November 2025 in the Greenhouse and continued at the Laboratory of the Faculty of Agriculture, Science and Health, University of Timor, Sasi Village, Kota Kefamenanu District, North Central Timor Regency, East Nusa Tenggara Province. The most dominant problems in dry land areas include lack of water, acidic soil reaction, lack of nutrients, cation exchange capacity and shallow soil solum. This study aims to examine the effect of providing guano compost tea and types of compost on the growth and yield of caisim mustard greens in dry land.Data analysis using the SAS 9.1 program. The findings showed that the interaction between guano compost tea and the type of compost had a significant effect on plant height at 7 days after planting, observations of the number of leaves at 14 and 21 days after planting and the total fresh weight of the plants. A single treatment of compost tea had a significant effect on plant height at 21 and 28 HST, shoot fresh weight, root fresh weight, root length and root dry weight with the best treatment being 300 ml of guano compost tea. The single treatment of compost type had a significant effect on the observation of plant height at 7, 14, 21, 28 HST, observation of the number of leaves at 14, 21, 28 HST, fresh weight of the crown, fresh weight of the root, root volume, dry weight of the crown, dry weight of the root and harvest index with the best treatment at K1: 1.5 kg of soil + 1.5 kg of biochar compost.  Keywords: Crop yield, Compost types, Dry land, Mustard greens, Guano compost tea, Mustard greens
PEMBERDAYAAN PETANI MELALUI PELATIHAN PENGOLAHAN BERAS MENJADI TEPUNG BERAS SEBAGAI BAHAN PANGAN OLAHAN ANEKA KUE DI KECAMATAN BIKOMI UTARA KABUPATEN TIMOR TENGAH UTARA Mardit Nikodemus Nalle; Meri Helsiana Mata; Febrya Christin Handayani Buan; Josua Sahala
Jurnal Pengabdian Masyarakat FKIP UTP Vol 7 No 2 (2026): PROFICIO : Jurnal Abdimas FKIP UTP
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tunas Pembangunan Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36728/.v7i2.6820

Abstract

The concept of Entrepreneurship is needed for the community to increase farmers' income for the community so that a strong push is needed for the community to seize opportunities in the border areas of Indonesia and Timor Leste. The Melati Women Farmers Group of Haumeni Village became a threshing area in an effort to mobilize group members in developing Entrepreneurship through training in processing local products made from rice flour into other local foods to be made into local specialties which can later become regional souvenirs. For this reason, strong training is needed both from processing methods, how to utilize the technology used and how to manage the business in order to increase income and in the future can expand the scale of the business. The problem approach that will be formulated in developing Farmer Empowerment activities in North Bikomi District for the Haumeni Women Farmers Group is: Socialization, Scheduling and Training and Programs. The conclusion of the farmer group can increase knowledge in processing raw materials into processed foods that have high added value. Local processed food products have high economic value in increasing the profits of farmers and women's farmer groups from the production results which can later be sold either at their own outlets or through collaboration with shops or other kiosks