Claim Missing Document
Check
Articles

Found 27 Documents
Search

Pelatihan Pembuatan Aromatherapy Soap Bar Sebagai Peningkatan Hardskill Pemuda Muhammadiyah Diah Indah Kumala Sari; Elasari Dwi Pratiwi; Fransisca Dita Mayangsari
RENATA: Jurnal Pengabdian Masyarakat Kita Semua Vol. 4 No. 1 (2026): Renata - April 2026
Publisher : PT Berkah Tematik Mandiri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61124/1.renata.245

Abstract

Project Based Learning (PjBL) metode pembelajaran ini memberikan tugas-tugas project yang harus diselesaikan oleh siswa dengan mencari sumber Pustaka untuk menentukan penyelesaian masalahnya. Berkaitan dengan itu, maka perlu dicari solusi untuk mengatasi masalah ketidak aktifan dan kurangnya hard skill siswa. Salah satu yang dapat meningkatkan hardskill adalah dengan pelatihan. Pelatihan dapat meningkatkan skill seseorang karena pada pelatihan siswa dapat langsung praktik membuat sediaan soap bar aromatherapy. Pelatihan ini membuat siswa-siswi menjadi sangat aktif dan antusias baik Ketika diberikan materi, dilanjutkan dengan sesi pelatihan kemudian tanya jawab dan diakhiri dengan kuis. Hasil dari evaluasi diperoleh jawaban benar dari 30 siswa adalah keseluruhan sedangkan jawaban salah adalah nol dengan demikian dapat dianalisa bahwa kemampuan siswa mengenai soap bar aromaterapi cukup mempuni sehingga keterampilan dan pemahaman tersebut dapat digali lebih dalam dan perlu didukung oleh pihak sekolah dengan memfasilitasi kebutuhan untuk peningkatan soft maupun hardskill.
Uji Karakteristik dan Stabilitas Fisik dari Deodoran Krim yang Mengandung Tawas dengan Variasi Konsentrasi Beeswax dan Lemak Tengkawang Fransisca Dita Mayangsari; Safira Yulita Fazadini; Ainun Filzah Fazliana
CERATA Jurnal Ilmu Farmasi Vol 17 No 1 (2026): Cerata Jurnal Ilmu Farmasi
Publisher : Universitas Muhammadiyah Klaten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61902/cerata.v17i1.1886

Abstract

Tawas merupakan mineral alami dengan sifat astringen dan antibakteri yang menjadikannya bahan aktif yang efektif dalam sediaan deodoran. Dalam penelitian ini, tawas diformulasikan dalam bentuk krim. Viskositas merupakan salah satu aspek yang memengaruhi kualitas fisik krim. Aspek ini dapat dipengaruhi oleh jenis basis atau fase minyak. Penelitian ini mengamati pengaruh beeswax dan lemak tengkawang sebagai basis krim. Rasio beeswax dan lemak tengkawang yang diamati adalah 100:0 (F1), 50:50 (F2), dan 0:100 (F3). Penilaian karakteristik fisik dan stabilitas fisik meliputi organoleptik, pH, viskositas, daya sebar, dan jenis krim. Berdasarkan uji karakteristik fisik, dapat disimpulkan bahwa variasi konsentrasi beeswax dan lemak tengkawang dalam sediaan deodoran krim dapat memengaruhi konsistensi, warna, pH, viskositas, dan daya sebar sediaan. Namun, hal tersebut tidak memengaruhi bau dan tipe krim. Berdasarkan uji stabilitas, dapat disimpulkan bahwa variasi konsentrasi beeswax dan lemak tengkawang dalam sediaan deodoran krim dapat memengaruhi pH sediaan. Sementara itu, tidak terdapat pengaruh terhadap aspek organoleptik, viskositas, daya sebar, dan jenis emulsi.
Comparison of Continuous Percolation and Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) Methods on Total Phenolic Content of 70% Ethanol Extract of Purslane (Portulaca oleracea L.) Aditya Sindu Sakti; Fransisca Dita Mayangsari; Sri Bintang Sahara Mahaputra Kusuma Negara; Elasari Dwi Pratiwi; Sandrawati
Jurnal FARMASIMED (JFM) Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Farmasimed (JFM)
Publisher : Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/dxzsgc71

Abstract

Background: Portulaca oleracea L., commonly known as Krokot, is rich in phenolic compounds with notable pharmacological benefits. Optimizing extraction methods is critical to maximize its bioactive potential. Objective: This study aimed to compare the efficiency of Continuous Percolation (CP) and Ultrasound-Assisted Extraction (UAE) in obtaining total phenolic content (TPC) from 70% ethanol extract of P. oleracea. Methods: Dried powdered P. oleracea was subjected to CP and UAE using a 1:10 (w/v) plant-to-solvent ratio. Qualitative screening with FeCl₃ confirmed the presence of phenolics. TPC was quantified using the Folin–Ciocalteu method, expressed as mg gallic acid equivalent (GAE)/g extract. Statistical analysis included normality testing, Levene’s test, and the Mann–Whitney U test. Results: UAE yielded significantly higher TPC (420.04 ± 0.40 mg GAE/g) compared to CP (354.30 ± 0.00 mg GAE/g; p = 0.034), although CP produced a higher extract mass. Statistical results confirmed the superiority of UAE in selectively extracting phenolic constituents. Conclusion: UAE is more effective than CP in extracting phenolic compounds from P. oleracea, likely due to enhanced cavitation-induced mass transfer. This method is recommended for maximizing phenolic recovery in plant-based extractions, especially for thermolabile compounds.
Nanostructured Lipid Carrier (NLC) Based Gel as Patchouli Oil Delivery : Physical Characteristic and In Vivo Skin Irritation Test Fransisca Dita Mayangsari; Aditya Sindu Sakti; Merry Anggelya Mentari
Jurnal FARMASIMED (JFM) Vol 8 No 1 (2025): Jurnal Farmasimed (JFM)
Publisher : Fakultas Farmasi Institut Kesehatan Medistra Lubuk Pakam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35451/vc33d509

Abstract

Patchouli oil (PO) contained patchoulol, which has antioxidant activity, making it a valuable ingredient in anti-aging products. However, this oil is volatile and chemically unstable. Therefore, it needs to be formulated into a Nanostructured Lipid Carriers based gel (NBG). This study aims to observe the effect of PO’s concentration on the physical characteristics and skin irritation of NBG preparations. NBG consists of 50% NLC and 50% gel. There are three formulas observed in this study, namely NBG-0 (0% PO), NBG-2 (2% PO), NBG-4 (4% PO). NLC prepared using the High Shear Homogenization method. Based on the physical characteristics test, it is known that all formulas have differences in the aroma aspect, where NBG-0 odorless, while NBG-2 and NBG-4 have a patchouli scent. All formula do not have differences in color and consistency. All formula have a pH in the range of 5.92 - 6.21. Statistically, increasing the concentration of PO decreases the pH of NBG. The three formulas have a viscosity in the range of 4.493 - 9.880 cP. Statistically, viscosity of NBG increasased by increasing concentration of PO. Based on in vivo skin irritation tests using white mice, it is known that all formulas have the same IIP (Primary Irritation Index) value. Based on the study, it can be concluded that the concentration of PO (0%, 2%, 4%) affects the aroma, pH and viscosity aspects but does not affect the color and consistency of NBG. Increasing the PO concentration in NBG up to 4% did not cause skin irritation.
Karakteristik Fisik dan Tingkat Kesukaan Body scrub Kopi Robusta dengan Variasi Konsentrasi Madu Aini, Reyda Eka; Khurin’in, Laura Ayu; Ats-Tsaqiifah, Nadya Jauharo; Maulidah, Mufarokhah Sukma; Nasrul Haq, Nifa’il; Dita Mayangsari, Fransisca
Majalah Farmasetika Vol 11, No 4 (2026)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/mfarmasetika.v11i4.71384

Abstract

Body scrub merupakan sediaan kosmetik yang digunakan untuk mengangkat sel kulit mati melalui proses eksfoliasi. Serbuk kopi robusta dapat digunakan sebagai bahan eksfoliasi alami, sedangkan madu berfungsi sebagai humektan yang mampu mempertahankan kelembapan kulit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik fisik dan tingkat kesukaan Body scrub serbuk kopi robusta dengan variasi konsentrasi madu 5% (F1) dan 15% (F2). Parameter yang diamati meliputi organoleptik, pH, viskositas, daya sebar, dan tingkat kesukaan dari panelis. Data organoleptik dan tingkat kesukaan (hedonik) dianalisis secara deskriptif, sedangkan data pH, viskositas, dan daya sebar dianalisis secara statistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedua formula memiliki bentuk semi solid dan aroma kopi yang khas, tetapi berbeda pada intensitas warna. Nilai pH Formula 1 dan Formula 2 berturut-turut sebesar 7,28 ± 0,02 dan 7,33 ± 0,01, dengan viskositas 9.874-9.878 cPs serta daya sebar 5,24-5,36 cm. Berdasarkan uji tingkat kesukaan (hedonik), Formula 2 lebih disukai pada aspek tekstur, sedangkan Formula 1 lebih disukai pada aspek warna dan aroma. Variasi konsentrasi madu mempengaruhi warna sediaan, nilai pH, dan tingkat kesukaan panelis, tetapi tidak mempengaruhi viskositas maupun daya sebar.
Penambahan Probiotik Pada Formula Serum Antiaging terhadap Penentuan Sun Protection Factor (SPF) dan Aktivitas Antioksidan Elasari Dwi Pratiwi; Fransisca Dita Mayangsari; Diah Indah Kumala Sari; Djati Wulan Kusumo
Lumbung Farmasi: Jurnal Ilmu Kefarmasian Vol 6, No 2 (2025): Juli
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MATARAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/lf.v6i2.30981

Abstract

Paparan sinar UV yang berlebihan mampu memperparah kondisi kulit wajah, sehingga perlu adanya pengembangan sediaan kosmetik yang mengandung antioksidan dan SPF. Probiotik diketahui mampu menyembuhkan eksim atopik, dermatitis atopik, menyembuhkan luka bakar, menghilangkan bekas luka, mengobati jerawat, dan mencegah penuaan dini, serta regenerasi kulit. Penelitian ini bertujuan mengetahui nilai antioksidan dan nilai SPF serum probiotik. Pada Penelitian akan dibuat 2 formula yaitu F1 (0%) dan F2 (1%), yang selanjutnya dilakukan pengukuran nilai antioksidan menggunakan metode DPPH dan nilai SPF menggunakan metode mansur. Pada pengukuran nilai SPF yaitu F1 dengan nilai SPF 5,632 dan F2 dengan nilai SPF 5,735, kedua formula masuk dalam kategori efektivitas SPF sedang. Sedangkan pada pengukuran nilai antikoksidan yaitu F2 dengan nilai IC50 10.20 ppm dan K+(Serum probiotik dan Vitamin C) dengan nilai IC50 9.47 ppm, kedua formula masuk dalam katgoeri aktivitas antioksidan sangat kuat. Dengan demikian, penambahan probiotik 1% memliki aktivitas antioksidan dan nilai SPF yang baik.
Optimization of the Mixing of Hibiscus Flower (Hibiscus rose sinensis) Extract as a Lip Balm Color with Variations in Concentration Kumala Sari, Diah Indah; Mayangsari, Fransisca Dita; Pratiwi, Elasari Dwi
Journal of Fundamental and Applied Pharmaceutical Science Vol. 4 No. 1 (2023): August
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jfaps.v4i1.16179

Abstract

Hibiscus rosa sinensis L. is widely used by the community to decorate the garden because of its splendor. In addition, Hibiscus flowers containing anthocyanin and flavonoids have antioxidants, which function as antioxidants against free radicals. This natural dye can be obtained by extracting Hibiscus flowers through maceration using 96% ethanol. In this research, Hibiscus flowers were obtained from Sendang Rejo Village, Lamongan Regency. In the extract process, the Hibiscus flower’s petals were blended until smooth, then added to 96% ethanol (1 liter) and stirred for 30 minutes. Filtrate results were taken, placed in a porcelain dish, and put in an oven at 60 °C for a day. Four formulas were made with varying levels of Hibiscus flower extract: F1 (0%), F2 (2%), F3 (4%), and F4 (6%). Physical evaluation included organoleptic, homogeneity, dispersibility, pH, and qualitative tests for the identification of anthocyanins. The results of the organoleptic, homogeneity, dispersion, pH, and identification of anthocyanins evaluations were then analyzed descriptively. The data from the organoleptic test indicated that F1 had an odorless white color, while F2, F3, and F4 had a red and white color with a distinctive Hibiscus flower aroma. The homogeneity test revealed that while F1 had good homogeneity, F2, F3, and F4 were not homogeneous (heterogeneous). The spreadability test on the four formulas did not fall within the range of requirements, namely 5-7 cm, with an average value of 3.53, but this was related to several significant reasons. In addition, the pH test results matched the requirements for topical preparations, namely 4.5–6.5, with an average value of 5.075. In conclusion, Hibiscus flower extract obtained through the maceration method with 96% ethanol could not give a homogeneous red color from the anthocyanin substance. Physical evaluation and anthocyanin identification tests also obtained good results.