Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

ANALISIS UNJUK KERJA SISTEM PENDINGIN MENGGUNAKAN FREON R-404a DENGAN VARIASI PUTARAN KIPAS PENDINGIN KONDENSOR Syahrir Habiba; Fadhli Rahman; Abd Rahman; Wahyu Arisandi
Al-Gazali Journal Of Mechanical Engineering (AJME) Vol. 2 No. 01 (2024): Volume 2, No 1, April, 2024
Publisher : Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mesin pendingin pada saat ini semakin banyak dimanfaatkan sesuai kemajuan teknologi seiring dengan meningkatnya taraf hidup masyarakat. Penggunaan yang umum adalah untuk mengawetkan makanan pada suhu kamar minus derajat celcius sesuai kebutuhan. Untuk mendapatkan suhu udara yang sesuai dengan yang diinginkan banyak alternatif yang dapat diterapkan, diantaranya adalah dengan menaikkan koefisien sehingga akan diperoleh harga koefisien prestasi yang lebih besar. Dalam sistem pendingin, yang paling sederhana umumnya memiliki komponen utama, yaitu kompresor, kondensor, katup ekspansi dan evaporator.Penelitian ini menggunakan Coldroom 3 pk, dengan variasi putaran kipas pendingin kondensor posisi Low (750rpm), Medium (1500 rpm), dan High (3000rpm). Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan diperoleh kerja kompresor mengalami penurunan, dari 0,7 kJ/s (posisi Low) ke 0,44 kJ/s (posisi High). Nilai laju aliran kalor kondensasi mengalami penurunan, dari 1,8 kJ/s (posisi Low) ke 1,2 kJ/s (posisi High). Nilai laju aliran kalor evaporasi juga mengalami penurunan, dari 1,1 kJ/s (posisi Low) ke 0,7 kJ/s (posisi High). Sedangkan COP aktual dan COP ideal meningkat, COP aktual dari 1,5 (posisi Low) ke 1,7 (posisi High), dan COP ideal dari 4,5 (posisi Low) ke 4,6 (posisi High). Nilai efisiensi juga meningkat, dari 33,5% (posisi Low) ke 38,4 % (posisi High).
MODIFIKASI MESIN PEMBERSIH KERAK OLI OTOMATIS DENGAN SISTEM PNEUMATIK Muhammad Syafrun; Hammada Abbas; Fadhli Rahman; Try Ruslamsyah Yans
Al-Gazali Journal Of Mechanical Engineering (AJME) Vol. 2 No. 01 (2024): Volume 2, No 1, April, 2024
Publisher : Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengunaan sistem pneumatik pada bengkel otomotif saat ini menjadi pilihan utama dibandingkan sistem hidrolik, karena dianggap lebih mudah dan bersih. Dalam penggunaannya sistem pneumatik diutamakan sebab beberapa hal yaitu paling umum dipertimbangkan buat beberapa mekanisasi dan dapat bertahan lebih lama terhadap keadaan tertentu.Saat ini, proses pembersihan masih meggunakan cara lama dengan memanfaatkan bantuan kuas atau mahjun sebagai alat bantu dalam pembersihan komponen. Proses ini tidak maksimal dalam penggunaanya karena prosesnya lama dan tidak efisien. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yakni studi literatur, studi perancangan alat penelitian, flowchart penelitian dan flowchart perancangan untuk menampilkan langkah-langkah dalam bentuk simbol-simbol grafis. Hasil dari proses pembersihan komponen mesin membutuhkan waktu rata – rata 18 menit untuk pembersihan komponen mesin dan sistem penggerak kendaran. Perhitungan yang dilakukan pada rangkaian sistem pneumatik ini menghasilkan diameter piston silinder yang diperlukan sebesar 16 mm sedangkan diameter piston silinder pneumatik yang terpasang pada mesin adalah 25 mm. Gaya yang digunakan untuk untuk mengerakkan pipa penyemprot dengan gaya langkah maju sebesar 192,08 N dan langkah mundur sebesar 160,72 N. Kebutuhan udara yang dibutuhkan piston silinder untuk melakukan langkah maju 18,1 liter/menit dan untuk langkah mundur 15,1 liter/menit. Kecepatan yang terjadi pada saat piston silinder pneumatik melakukan langkah maju sebesar 0,615 m/s dan untuk langkah mundur sebesar 0,613 m/s.
PENGARUH PERLAKUAN PANAS TERHADAP KEKUATAN TARIK BAJA ST 60 Muh. Syaifullah R; Muh. Yusuf; Jamaluddin; Fadhli Rahman
Al-Gazali Journal Of Mechanical Engineering (AJME) Vol. 3 No. 02 (2025): Volume 3, No 2, Oktober, 2025
Publisher : Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kemajuan dan inovasi dalam pengembangan material baru atau peningkatan material yang sudah ada. Sifat material umumnya diklasifikasikan menjadi sifat mekanik, sifat fisik, sifat kimiawi. Sifat mekanik secara umum ditentukan melalui pengujian destruktif (destructive test) dari sampel material pada kondisi pembebanan yang terkontrol. Dalam Penelitian ini, akan membandingkan pengaruh perlakuan panas terhadap kekuatan tarik dan mempelajari respon tegangan dan regangan terhadap Baja ST 60. Spesimen yang digunakan yaitu material poros baja dengan ukuran diameter 25,4 mm dengan perlakuan panas 800oC, 900oC, 1000 oC, 1100oC dan 1200oC. Hasil uji tarik rata-rata temperature 800oC memiliki nilai tertinggi dalam tingkat nilai kekuatan tarik yaitu 604,900 MPa, sedangkan 900oC memiliki kekuatan tarik rata rata 603,542 MPa, 1000oC dengan nilai 598,653 MPa, 1100oC yaitu dengan nilai 537,538 MPa, dan 1200oC dengan nilai 476,967 MPa. Sedangkan Hasil perhitungan regangan di peroleh hasil rata rata pada spesimen temperature 800 oC memiliki nilai regangan 25,64667, pada temperature 900oC nilai regangan meningkat dengan nilai 31,36, pada temperature 1000oC memiliki nilai tertinggi dari hasil regangan spesimen lainnya yaitu dengan nilai 32,80667, pada temperature 1100oC dan 1200oC mengalami penurunan nilai regangan yaitu 30,94 dan 31,26667.Berdasarkan percobaan dapat diartikan hasil uji tarik rata rata mengalami penurunan kekuatan tarik berdasarkan nilai suhu perlakuan panas. Untuk nilai persentase regangan pada temperature 1000 oC memiliki nilai dengan persentase tertinggi dengan nilai rata rata 32,80667. Sedangkan pada temperature 800 oC memiliki persentase nilai terendah yaitu dengan nilai 25,64667 Hal ini dapat disebabkan dari beberapa faktor yaitu faktor suhu/temperature pemanasan yang diberikan pada spesimen itu sendiri atau pada kondisi permukaan spesimen. Selain itu faktor yang dapat mempengaruhi nilai regangan yaitu dari struktur mikro material karena struktur butir, orientasi kristal, dan keberadaan fasa atau inklusi dalam material dapat mempengaruhi bagaimana material berdeformasi di bawah tegangan tarik. Material dengan struktur butir halus cenderung memiliki regangan yang lebih besar dibandingkan dengan material berbutir kasar.
RANCANG BANGUN ALAT SEDERHANA PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA AIR BERBASIS MIKROHIDRO Angga Triasari; Fadhli Rahman; Djupri Juma Pabeta
Al-Gazali Journal Of Mechanical Engineering (AJME) Vol. 3 No. 02 (2025): Volume 3, No 2, Oktober, 2025
Publisher : Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pembangkit listrik tenaga mikrohidro merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang ramah lingkungan dan memiliki potensi sebagai alternatif pengganti bahan bakar fosil. Namun, tantangan utama di Indonesia terletak pada keterbatasan pemahaman masyarakat mengenai optimalisasi energi air. Sebagai langkah awal, dirancang sebuah prototipe pembangkit listrik mikrohidro yang berfungsi sebagai model penelitian. Penelitian ini berfokus pada analisis pengaruh debit air terhadap daya listrik yang dihasilkan. Dalam prosesnya, air dialirkan melalui pompa ke turbin, dengan debit, jenis turbin, dan generator menjadi variabel kunci yang memengaruhi hasil tegangan listrik. Desain prototipe disusun menggunakan aplikasi Solidworks dengan mengadopsi turbin tipe Cross Flow. Untuk meningkatkan kinerja, dilakukan optimalisasi pada alat dengan langsung menghubungkan antara runner turbin dan runner generator. Hasil pengukuran menggunakan alat ukur, dimana daya output turbin yang dihasilkan terhadap debit aliran air I, II, dan III berturut-turut adalah 1,86885216 watt, 1,88717424 watt, 1,92687208 watt. Sedangkan hasil output generator yang dipengaruhi debit aliran air I, II, dan III berturut-turut adalah 2,816 watt, 3,15 watt, dan 3,572 watt. Adapun putaran yang dihasilkan yaitu putaran turbin yang dipengaruhi oleh debit aliran air I, II, dan III berturut-turut adalah 103,53 rpm, 109,84 rpm, dan 112,62 rpm. Dan putaran generator terhadap debit aliran air I, II, dan III berturut-turut adalah 115,73 rpm, 118,92 rpm, dan 124,24 rpm. Prototype memiliki nilai efisiensi sebesar 83%.
APLIKASI REFRIGERAN R-404A UNTUK MENGANALISA UNJUK KERJA SISTEM PENDINGIN PADA VARIASI PUTARAN KIPAS EVAPORATOR Muhammad Nasrul Saidhan; Djupri Juma Pabeta; Fadhli Rahman
Al-Gazali Journal Of Mechanical Engineering (AJME) Vol. 4 No. 01 (2026): Volume 4, No 1, April, 2026
Publisher : Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mesin pendingin kini semakin penting untuk menjaga kualitas bahan makanan melalui proses pendinginan yang mencegah perkembangan mikroorganisme. Efisiensi sistem ini sangat bergantung pada perpindahan panas yang dilakukan oleh refrigeran melalui komponen utama seperti kompresor, kondensor, katup ekspansi, dan evaporator. Variasi kecepatan aliran udara pada evaporator diketahui dapat mempengaruhi penyerapan kalor dan beban kerja kompresor. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa unjuk kerja sistem pendingin yang menggunakan refrigeran R-404a dengan variasi putaran kipas evaporator pada posisi low (750 rpm), medium (1500 rpm), dan high (3000 rpm). Fokus penelitian adalah untuk menentukan putaran kipas yang optimal guna mencapai kinerja mesin yang maksimal pada unit cold room. Penelitian ini dilaksanakan di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas (BBPVP) Makassar menggunakan mesin pendingin cold room 3 PK. Data dikumpulkan melalui pengukuran tekanan dan temperatur pada berbagai titik siklus pendinginan, serta pengukuran arus listrik kompresor. Analisis dilakukan dengan menghitung kerja kompresor, laju aliran kalor kondensasi dan evaporasi, serta Coefficient of Performance (COP) aktual maupun ideal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan putaran kipas evaporator memberikan pengaruh signifikan terhadap performa sistem. COP aktual rata-rata tertinggi dicapai pada posisi high (3000 rpm) sebesar 1,79, diikuti posisi medium (1500 rpm) sebesar 1,60, dan posisi low (750 rpm) sebesar 1,51. Selain itu, kerja kompresor terendah ditemukan pada putaran high (0,44 kJ/s) dibandingkan pada posisi low (0,7 kJ/s), yang menunjukkan bahwa putaran kipas yang lebih tinggi membuat kerja kompresor menjadi lebih ringan. Variasi putaran kipas evaporator berpengaruh langsung terhadap unjuk kerja mesin pendingin. Putaran kipas posisi high (3000 rpm) merupakan pengaturan yang paling optimal karena menghasilkan efisiensi dan nilai COP tertinggi serta beban kerja kompresor yang paling rendah bagi sistem pendingin cold room yang menggunakan refrigeran R-404a.
ANALISIS PENGARUH KECEPATAN PUTARAN MESIN BUBUT DENGAN MENGGUNAKAN PAHAT HSS TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN Nur Asaf Abdullah; Fadhli Rahman
Al-Gazali Journal Of Mechanical Engineering (AJME) Vol. 4 No. 01 (2026): Volume 4, No 1, April, 2026
Publisher : Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Islam Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada proses pembubutan sering terjadi peningkatan panas, hal ini akan berpengaruh terhadap Tingkat kekasaran permukaan benda kerja. Kekasaran permukaan pada hasil pembubutan sangat penting diperhatikan, karena permukaan komponen mesin memiliki pengaruh yang penting. Pemilihan bahan baku juga berpengaruh pada hasil pembubutan terutama berkaitan dengan kualitas kekasaran permukaan. Rumusan masalah yang ada yaitu : 1) Bagaimana pengaruh variasi kecepatan potong pada mesin bubut terhadap nilai kekasaran permukaan yang dihasilkan pada material Baja ST 42 menggunakan pahat HSS?, 2) Kecepatan putaran manakah yang memberikan nilai kekasaran permukaan terendah pada material baja ST 42 saat menggunakan pahat HSS?. Adapun tujuan penelitian ini yaitu : Menganalisis pengaruh variasi kecepatan potong mesin bubut terhadap nilai kekasaran permukaan yang dihasilkan pada material baja ST 42 menggunakan pahat HSS, 2) Menentukan kecepatan putaran yang menghasilkan nilai kekasaran permukaan terendah pada material tertentu saat menggunakan pahat HSS. Hasil penelitian yang didapat berdasarkan hasil pengujian, variasi kecepatan putaran mesin bubut memberikan pengaruh nyata terhadap nilai kekasaran permukaan pada material baja ST 42 menggunakan pahat HSS. Pada putaran rendah (360 rpm), kekasaran permukaan masih tergolong tinggi dengan rata-rata 2,76 ?m. Saat kecepatan ditingkatkan ke 500 rpm, terjadi penurunan kekasaran menjadi rata-rata 2,662 ?m, yang menunjukkan peningkatan kualitas permukaan. Namun, pada putaran tinggi (840 rpm), kekasaran meningkat kembali menjadi 3,00 ?m, yang kemungkinan disebabkan oleh getaran mesin dan suhu tinggi pada pahat selama pemesinan. Dari ketiga variasi putaran yang diuji putaran paling optimal adalah 500 rpm, terbukti memberikan hasil kekasaran permukaan terendah dan paling optimal. Ini menunjukkan bahwa kecepatan sedang cenderung menghasilkan proses pemotongan yang lebih stabil, minim getaran, dan memberikan hasil permukaan yang lebih halus.