Claim Missing Document
Check
Articles

Found 31 Documents
Search

Physical and chemical characteristics of gluten-free cookies based on the variation of mocaf flour and tofu dregs flour proportions: Karakteristik fisik dan kimia cookies gluten-free berdasarkan variasi proporsi tepung mocaf dan tepung ampas tahu Prabowo, Ivy Dian Puspitasari; Tanone, Cindy Felicia
JITIPARI Vol 10 No 2 (2025): JITIPARI
Publisher : Universitas Slamet Riyadi Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33061/jitipari.v10i2.11772

Abstract

This study explores the effect of varying proportions of mocaf flour and tofu dregs flour on the physical and chemical characteristics of gluten-free cookies. The study was conducted using a Completely Randomized Design (CRD) with one factor: the proportion of mocaf flour and tofu dregs flour. The treatment levels were as follows: 45g mocaf flour + 15g tofu dregs flour, 30g mocaf flour + 30g tofu dregs flour, and 15g mocaf flour + 45g tofu dregs flour. Sensory evaluations (taste, aroma, appearance, and texture) and chemical analyses (moisture, protein, fat, and ash content) were conducted. The results indicate that the proportion of mocaf flour and tofu dregs flour significantly affects panelists' acceptance in terms of taste, aroma, and appearance. The most preferred formulation was 30g mocaf flour + 30g tofu dregs flour, with sensory scores of 3.80 for taste, 3.20 for aroma, 4.28 for texture, and 3.61 for appearance. Proximate analysis revealed that the product contained 2.58% moisture, 1.63% ash, 25.27% protein, and 24.86% fat.
Substitution of Cow's Milk with Mung Bean in Instant Porridge Formulation: Nutritional Value and Organoleptic Characteristics Analysis: Substitusi Susu Sapi dengan Kacang Hijau dalam Formulasi Bubur Instan: Analisis Nilai Gizi dan Karakteristik Organoleptik Dian P. Prabowo., Ivy; Gunadi, Benyamin Klemens
jurnal makanan tropis dan teknologi agroindustri Vol 7 No 01 (2026): January
Publisher : Universitas Muhammadiyah Sidoarjo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21070/jtfat.v7i01.1658

Abstract

This study aims to analyze the effect of substituting cow’s milk with mung bean powder in instant porridge formulation on nutritional value and organoleptic characteristics. Three formulations were tested: P1 (75% milk powder + 25% mung bean powder), P2 (50% milk powder + 50% mung bean powder), and P3 (25% milk powder + 75% mung bean powder). Organoleptic analysis included hedonic tests for appearance, taste, aroma, and texture, while nutritional value was assessed through moisture, ash, protein, and fat content analysis. The results showed that increasing mung bean substitution significantly decreased texture and fat content while increasing moisture content. Taste and aroma decreased but did not show significant differences. The most optimal substitution occurs at a formulation of 50% milk powder and 50% mung bean powder (P2), with appearance scoring 6.40, taste 6.00, aroma 5.93, and texture 5.97. Meanwhile, its nutritional values are 4.82% moisture, 4.68% ash, 22.98% protein, and 14.89% fat.
Pengaruh Korean Wave terhadap Pengetahuan, Minat, Gaya Hidup, dan Keputusan Pembelian Produk Makanan Korea di Surabaya Daniel Pandu Mau; Geneiver Konny; Mahmudi; Ivy Dian Puspitasari Prabowo; Yesarela Pandu Mau; I Wayan Arta Artana
Permana : Jurnal Perpajakan, Manajemen, dan Akuntansi Vol. 17 No. 2 (2025): August
Publisher : Faculty of Economics and Business, University of Pancasakti Tegal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24905/permana.v17i2.471

Abstract

Penelitian ini mengkaji pengaruh Korean Wave (Hallyu) terhadap pengetahuan, minat, gaya hidup, dan keputusan pembelian produk makanan Korea di Surabaya, Indonesia. Korean Wave telah menyebar secara global dan memberikan dampak signifikan pada berbagai aspek budaya, termasuk musik, drama, makanan, dan fashion. Penelitian ini berfokus pada pengaruh fenomena budaya tersebut terhadap perilaku konsumen di Surabaya, sebuah kota besar di Indonesia. Pendekatan kuantitatif dengan menggunakan kuesioner yang terdiri dari 29 item diterapkan kepada individu yang tertarik pada budaya dan makanan Korea. Data dianalisis menggunakan Partial Least Squares-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) untuk menguji hubungan antara variabel-variabel terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan tentang produk makanan Korea meningkat secara signifikan, yang pada gilirannya mendorong minat yang lebih besar dan integrasi elemen budaya Korea ke dalam gaya hidup sehari-hari. Citra merek yang positif dari produk makanan Korea turut memperkuat keputusan pembelian konsumen. Penelitian ini menyimpulkan bahwa Korean Wave memiliki pengaruh yang kuat terhadap pasar konsumen di Surabaya, dengan implikasi yang signifikan bagi pemasar yang ingin memanfaatkan tren budaya ini. Temuan ini memberikan pemahaman penting mengenai peran fenomena budaya global dalam membentuk perilaku konsumen lokal, serta memberikan rekomendasi untuk pengembangan strategi pemasaran di industri makanan Korea.
Pelatihan Keterampilan Kuliner bagi Siswa Sekolah Menengah Atas Katolik Stella Maris Surabaya sebagai Bekal Kewirausahaan Ivy Dian Puspitasari Prabowo; Daniel Pandu Mau; Achmad Taufiq; Tjhing Man Lie
Jurnal Pengabdian Masyarakat Indonesia Vol 5 No 4 (2025): JPMI - Agustus 2025
Publisher : CV Infinite Corporation

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52436/1.jpmi.3633

Abstract

Pelatihan keterampilan kuliner bagi siswa SMAK Stella Maris Surabaya dilatarbelakangi oleh pentingnya membekali generasi muda dengan keterampilan praktis yang dapat menunjang kemandirian, kreativitas, dan potensi kewirausahaan. Untuk mengatasi hal tersebut, dilakukan pelatihan keterampilan kuliner bagi siswa SMAK Stella Maris Surabaya. Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan pelatihan dasar memasak yang aplikatif dan menyenangkan, sekaligus menumbuhkan minat berwirausaha sejak dini. Metode pelatihan dilakukan secara klasikal dan praktik langsung selama tujuh sesi, dimulai dari penyusunan modul, pengenalan alat dan bahan, demonstrasi, praktik memasak, hingga evaluasi hasil. Sebanyak 60 siswa mengikuti kegiatan ini dengan antusias dan aktif dalam setiap sesi. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan keterampilan memasak, kepercayaan diri, serta munculnya inisiatif siswa untuk menjual produk yang dihasilkan. Pelatihan ini turut memperkuat kerja sama antarsiswa, memberikan pengalaman belajar kontekstual yang bermanfaat di luar pembelajaran formal, dan menumbuhkan jiwa kewirausahaan siswa dalam lingkungan sekolah.
Consumer Preference Analysis On Thai Cassava Sauce With Varying Coconut Milk Types Ivy Dian Puspitasari Prabowo; Mashita Rafflesia Mustofa
Jurnal Pendidikan Tata Boga dan Teknologi Vol 7, No 1 (2026): Jurnal Pendidikan Tata Boga dan Teknologi
Publisher : Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jptbt.v7i1.26897

Abstract

This study aimed to analyze consumer preferences for Thai cassava sauce using three types of coconut milk: fresh coconut milk, instant liquid coconut milk, and instant powdered coconut milk. Sensory evaluation was carried out using a 5-point hedonic scale involving 30 untrained panelists. The evaluated sensory attributes included taste, aroma, and appearance. The collected data were analyzed using analysis of variance (ANOVA) with a significance level of α = 0.05 to determine differences in consumer preference among treatments. The results showed that Thai cassava sauce prepared with instant liquid coconut milk obtained the highest average scores for all sensory attributes, including taste (4.60), aroma (4.50), and appearance (4.36). Meanwhile, fresh coconut milk showed moderate acceptance, while instant powdered coconut milk received the lowest scores for most sensory attributes. These findings indicate that the use of instant liquid coconut milk produces Thai cassava sauce with the highest level of consumer acceptance compared to fresh coconut milk and instant powdered coconut milk.
PERAN DESAIN BOX KEMASAN COOKIES DALAM MEMBENTUK PERSEPSI KUALITAS DAN NILAI PRODUK Laurencia Kelly; Ivy Dian Puspitasari Prabowo; Achmad Taufiq
The Sages Journal Vol. 4 No. 01 (2025): The Sages Journal: Culinary Science and Business_Agustus
Publisher : LPPM Akademi Sages

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61195/sages.v4i01.32

Abstract

Persaingan dalam industri makanan ringan, khususnya produk cookies, menuntut strategi pengembangan produk yang tidak hanya berfokus pada kualitas intrinsik, tetapi juga pada elemen ekstrinsik yang membentuk persepsi konsumen sejak tahap awal interaksi. Dalam konteks ini, kemasan box cookies berperan sebagai media komunikasi visual dan simbolik yang memediasi hubungan antara produk dan konsumen. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis persepsi konsumen terhadap kemasan box cookies serta perannya dalam membentuk daya tarik dan daya saing produk. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif dengan metode wawancara semi-terstruktur terhadap konsumen yang memiliki pengalaman membeli atau mengonsumsi cookies dalam kemasan box. Informan dipilih secara purposive, dan data dianalisis menggunakan analisis tematik untuk mengidentifikasi pola persepsi, makna, dan mekanisme evaluasi yang digunakan konsumen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemasan box cookies berfungsi sebagai pemicu kognitif dalam tahap awal evaluasi produk, membentuk asumsi awal mengenai kualitas, profesionalisme produsen, dan nilai produk melalui isyarat visual. Selain itu, integrasi aspek visual, fungsional, informatif, dan simbolik kemasan secara signifikan memperkuat persepsi nilai dan kepercayaan konsumen, serta memperluas konteks konsumsi, terutama dalam situasi pemberian hadiah. Hasil ini menegaskan bahwa kemasan box cookies tidak dapat diposisikan semata-mata sebagai elemen pelindung produk, melainkan sebagai bagian integral dari strategi diferensiasi dan komunikasi nilai produk. Pemahaman yang komprehensif terhadap persepsi konsumen terhadap kemasan menjadi landasan penting dalam perancangan kemasan yang mampu meningkatkan daya saing produk secara berkelanjutan.
PENGARUH SUHU PEMANGGANGAN TERHADAP KARAKTERISTIK SENSORIK COOKIES GLUTEN-FREE BERBAHAN TEPUNG SINGKONG Jessica Joanne Japira; Ivy Dian Puspitasari Prabowo; Tjhing Man Lie
The Sages Journal Vol. 4 No. 01 (2025): The Sages Journal: Culinary Science and Business_Agustus
Publisher : LPPM Akademi Sages

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61195/sages.v4i01.34

Abstract

Pengembangan produk cookies gluten-free masih menghadapi tantangan dalam mencapai mutu sensorik yang optimal akibat ketiadaan gluten sebagai pembentuk struktur adonan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh variasi suhu pemanggangan terhadap karakteristik sensorik cookies gluten-free berbahan tepung singkong, meliputi tekstur, warna, aroma, dan rasa. Penelitian dilakukan menggunakan pendekatan eksperimental kuantitatif dengan rancangan acak lengkap satu faktor, yaitu suhu pemanggangan sebesar 140 °C, 160 °C, dan 180 °C, dengan waktu pemanggangan dikendalikan selama 20 menit. Evaluasi sensorik dilakukan menggunakan uji hedonik skala 1–5 oleh 30 panelis tidak terlatih. Data dianalisis menggunakan analisis varians (ANOVA) satu arah dan uji lanjut Tukey HSD pada taraf signifikansi 5%. Hasil ANOVA menunjukkan bahwa suhu pemanggangan berpengaruh signifikan terhadap seluruh atribut sensorik yang diamati (p < 0,05). Cookies yang dipanggang pada suhu 180 °C menunjukkan tingkat kesukaan tekstur tertinggi (3,6), tetapi disertai penurunan signifikan pada atribut warna (2,3), aroma (3,0), dan rasa (2,4). Sebaliknya, suhu pemanggangan 160 °C menghasilkan nilai sensorik yang lebih seimbang dengan skor warna tertinggi (4,2), aroma (3,7), dan rasa (3,4), serta tingkat kesukaan tekstur yang relatif tinggi (3,3). Suhu pemanggangan 140 °C menghasilkan skor tekstur terendah (2,6) dan warna yang relatif kurang menarik (3,3). Berdasarkan integrasi hasil tersebut, suhu pemanggangan 160 °C direkomendasikan sebagai kondisi paling mendekati optimum untuk menghasilkan cookies gluten-free berbahan tepung singkong dengan mutu sensorik yang seimbang dan tingkat penerimaan konsumen yang lebih tinggi.
Pelatihan Kewirausahaan Kuliner bagi Guru Bimbingan Konseling SMA: Mengolah Zuppa Soup sebagai Peluang Usaha Pensiun Daniel Pandu Mau; Ivy Dian Puspitasari Prabowo; Mahmudi; Titin Lestariningsih; Daniel Ch. Tarigan; Andreas Aditama Dachi
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v8i2.2618

Abstract

Pelatihan kewirausahaan kuliner bagi Guru Bimbingan dan Konseling (BK) di Kabupaten Sidoarjo bertujuan untuk mempersiapkan peserta menghadapi masa pensiun melalui pengembangan keterampilan berwirausaha, khususnya dalam pembuatan Zuppa Soup. Pelatihan ini diikuti oleh 60 peserta dari MGBK SMA Kabupaten Sidoarjo dan dilaksanakan melalui analisis kebutuhan, pembekalan teori terkait bisnis makanan dan minuman (F&B), pelatihan praktis pembuatan Zuppa Soup, serta evaluasi yang dilakukan dengan menggunakan kuesioner dan wawancara. Hasil pelatihan menunjukkan peningkatan signifikan dalam keterampilan dan pengetahuan peserta. Sebanyak 86,7% peserta puas atau sangat puas dengan materi yang disampaikan, khususnya dalam aspek manajemen usaha, pengembangan produk, dan operasional dapur. Namun, beberapa peserta menginginkan pendalaman lebih lanjut pada materi pemasaran digital dan manajemen keuangan. Evaluasi juga menunjukkan bahwa tantangan utama peserta adalah dalam penerapan strategi digital dan pengelolaan cash flow. Kesimpulannya, pelatihan ini berhasil meningkatkan keterampilan kewirausahaan peserta, namun perlu perbaikan pada materi pemasaran digital dan manajemen keuangan untuk mendukung keberlanjutan bisnis kuliner mereka. Rekomendasi untuk pelatihan berikutnya meliputi peningkatan materi pemasaran digital, pendalaman manajemen keuangan, dan dukungan mentoring pasca pelatihan.
Sensory Evaluation and Consumer Preference of a Tempeh–Beef Burger Prototype for Urban Markets Ivy Dian Puspitasari Prabowo; Daniel Pandu Mau; Titin Lestariningsih; kezia Tjahjadi; Nani Kharisma Nur Hidayah; Prijo Tjahjono
THE SPIRIT OF SOCIETY JOURNAL : International Journal of Society Development and Engagement Vol 9 No 1: September 2025
Publisher : LPPM of NAROTAMA UNIVERSITY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29138/scj.v9i1.3465

Abstract

Urban culinary development creates opportunities to reintroduce local ingredients in formats that meet modern consumer preferences for taste, nutrition, and attractive presentation. This study explored the acceptance of a tempeh-based burger (ITBurger) as an innovative soybean product for urban markets. A total of 20 urban consumers aged 18–30 participated in a controlled sensory evaluation. The burger patty was formulated with 60% steamed tempeh and 40% lean ground beef, then assessed for taste, texture, aroma, and appearance using a 9-point hedonic scale. Participants also identified the primary reason for their preference among taste, texture, appearance, or nutritional value. Results showed high overall acceptance, with taste receiving the highest mean score (8.2 ± 0.5), followed by appearance (8.0 ± 0.4), texture (7.8 ± 0.6), and aroma (7.6 ± 0.7). Taste was the most frequently cited reason for liking the product (50%), while appearance and texture each accounted for 20%, and nutritional value 10%. These findings confirm that flavor and visual appeal are the key drivers of consumer acceptance, while health benefits play a secondary role. The positive response to a tempeh–beef hybrid highlights the potential of flexitarian approaches to reposition traditional soybean products as modern, appealing foods. This model offers a practical pathway for small food enterprises to promote healthy, locally based innovations in urban culinary markets.
Innovational Processing Model of Traditional Snack Klepon Craquelin Become a Culinary Icon of Surabaya City mahmudi mahmudi; ivy dian puspitasari prabowo; tjhing man lie; Panca Rahmi Azzahra; Bryanda Arya Prabusta Martin; Diyan Lesmana; Woro Andrini
THE SPIRIT OF SOCIETY JOURNAL : International Journal of Society Development and Engagement Vol 9 No 1: September 2025
Publisher : LPPM of NAROTAMA UNIVERSITY

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29138/scj.v9i1.3478

Abstract

Traditional snacks are one of Indonesia's traditional culinary heritages that have significant cultural, social, and economic value. In the city of Surabaya, traditional snacks are not only seen as complementary foods, but also have the potential to become an instrument of food security and the city's culinary identity. However, with the development of more practical modern foods, the existence of traditional snacks is increasingly marginalized. This study aims to develop a traditional snack processing model based on innovation, branding, and empowerment of MSMEs to increase competitiveness while strengthening Surabaya's city branding. The product is made by making Klepon Craquelin cakes as part of the traditional klepon innovation that has been enjoyed by most of the general public, especially the people of Surabaya. The study used the implementation method in the Sages Academy laboratory and was conducted with a taste test. The results showed that Klepon Craquelin cakes as part of the traditional klepon innovation are a solution for local food diversification, encouraging the growth of MSMEs, and strengthening tourism attractions. This research is an innovation of traditional klepon market snacks that will become a new city branding for the city of Surabaya, so that traditional culinary is not only sustainable but also develops in a global context. Klepon Craquelin cake has a unique, contemporary taste that will be loved by Generation Z.