Claim Missing Document
Check
Articles

PREFERENSI KUTU DAUN Aphis gossypii Glover (HEMIPTERA:APHIDIDAE) PADA BEBERAPA JENIS TANAMAN INANG Putri, Alisya; Yunus, Moh; Hasriyanty, Hasriyanty
AGROTEKBIS : JURNAL ILMU PERTANIAN (e-journal) Vol 11 No 6 (2023): December
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agrotekbis.v11i6.2004

Abstract

Kutu daun merupakan salah satu hama utama pada sebagian besar jenis tanaman budidaya yang memberi dampak pada pengurangan hasil panen. Salah satu spesies kutu daun yang menjadi keluhan oleh petani adalah Aphis gossypii Glover. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari preferensi kutu daun A. gossypii Glover (Hemiptera: Aphididae) dibeberapa jenis tanaman inang. Penelitian dilaksanakan November sampai Desember 2022 di Laboratorium Hama Tumbuhan dan Kebun Akademik Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu. Penelitian ini menggunakan metode Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 5 perlakuan yang diacak menjadi 5 kelompok berdasarkan pengamatan Minggu Setelah Investasi (MSI) 1 MSI, 2 MSI, 3 MSI, 4 MSI dan 5 MSI sebagai berikut P1= 2 kutu daun A. gossypii + Tanaman Jagung (Z. mays), P2= 2 kutu daun A. gossypii + Tanaman Kacang panjang (V. sinensis), P3= 2 kutu daun A. gossypii + Tanaman Terong (S. melongena), P4= 2 Kutu daun A. gossypii + Tanaman Tomat (S. lycopersicum) dan P5= 2 Kutu Daun A. gossypii + Tanaman Cabai (C. annum). Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan Sidik Ragam yang dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada taraf uji 5%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa A. gossypii mempunyai preferensi paling tinggi pada tanaman cabai dengan jumlah nimfa terbanyak 8 ekor (pada pengamatan 1 MSI) dan jumlah nimfa terendah terdapat pada tanaman terong 1 ekor (pada pengamatan 2 MSI)
Keanekaragaman semut dan pola keberadaannya pada daerah urban di Palu, Sulawesi Tengah Hasriyanty, Hasriyanty; Rizali, Akhmad; Buchori, Damayanti
Jurnal Entomologi Indonesia Vol 12 No 1 (2015): Maret
Publisher : Perhimpunan Entomologi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (746.873 KB) | DOI: 10.5994/jei.12.1.39

Abstract

Land-use change, mainly from natural forest to agricultural or settlement area, beside have negative impact on biodiversity also cause a new problem such as the presence of pests. In urban area, the most intrusive and common pest is ant. The objective of this research was to study the occurrence pattern of ants in urban habitat. The research was conducted in several urban habitat in of Palu, Central Sulawesi include of settlement, garden, city park, shrub, agricultural area and forest margin. Ants were observed with bait trap using tuna and sugar. In total, we found 38 ant species from all gradients of urban habitat in Palu. Ant diversity were significantly correlated with habitat condition. Species richness and composition of ants tend to increase with decreasing degree of human disturbance (from settlement to forest margin). The most dominant ant that always found in all urban habitat are Anoplolepis gracilipes, Solenopsis geminata and Paratrechina longicornis. Those species are wellknown as tramp species that co-exist with human and have negative impact to local ant species. Urbanization and anthropological disturbance facilitate the occurrence of tramp ant species in Palu urban habitat.
UJI MORTALITAS DAN DAYA HAMBAT MAKAN EKSTRAK DAUN TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza) TERHADAP LARVA Spodoptera frugiperda J.E. Smith (LEPIDOPTERA: NOCTUIDAE) Inda Listari; Nurkhasanah; Hasriyanty
AGROTEKBIS : JURNAL ILMU PERTANIAN (e-journal) Vol 14 No 2 (2026): April
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/f0sdfk69

Abstract

Tanaman jagung (Zea mays L.) merupakan salah satu tanaman yang banyak diminati oleh masyarakat Indonesia. Namun produksinya terhambat oleh serangan hama seperti Spodoptera frugiperda. Pengendalian bahan kimia berpotensi menyebabkan resistensi dan dampak negatif terhadap lingkungan. Oleh karena itu, pencarian alternatif pengendalian hama yang lebih ramah lingkungan dan berkelanjutan menjadi sangat penting. Salah satu solusi yang dapat digunakan untuk pestisida ramah lingkungan yaitu seperti menggunakan ekstrak daun temulawak (Curcuma xanthorrhiza). Sejumlah penelitian melaporkan bahwa ekstrak temulawak memiliki aktivitas antimikroba, antioksidan, dan insektisida terhadap beberapa jenis hama. Ekstrak daun temulawak (Curcuma xanthorrhiza). mengandung senyawa bioaktif seperti flavonoid, saponin, dan kurkuminoid yang berpotensi menjadi insektisida alami. Penggunaan ekstrak daun temulawak untuk mengurangi intensitas serangan S. frugiperda memiliki dua keuntungan. Pertama, memanfaatkan bagian daun yang biasanya menjadi limbah sehingga bernilai ekonomis. Kedua, senyawa bioaktif yang terkandung di dalam daun dapat berperan ganda, yaitu meningkatkan mortalitas larva dan menghambat aktivitas makan sehingga mengurangi kerusakan tanaman. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh ekstrak daun temulawak terhadap mortalitas dan penghambatan makan larva S. frugiperda, dan untuk menentukan konsentrasi ekstrak yang paling efektif terhadap kematian dan penghambatan pemberian makan larva S. frugiperda. Penelitian dilakukan di Laboratorium Hama dan Penyakit Tumbuhan Universitas Tadulako dengan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan (termasuk kontrol) dan 4 ulangan. Konsentrasi ekstrak daun temulawak bervariasi dari 0,125 g/ml hingga 2 g/ml. Parameter yang diamati adalah mortalitas dan penghambatan makan larva instar III dalam waktu 1-5 hari setelah aplikasi. Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil bahwa Konsentrasi 2 g/ml (P1) menghasilkan mortalitas tertinggi sebesar 88,75% dan penghambatan makan sebesar 99,55% pada 4 jam setelah aplikasi, kandungan senyawa aktif dalam kurkuma menyebabkan kerusakan fisiologis dan sistem pencernaan larva, sehingga dapat disimpulkan bahwa ekstrak daun temulawak (Curcuma xanthorrhiza) telah terbukti mampu mengendalikan larva Spodoptera frugiperda, terutama pada konsentrasi 2 g/ml. Aplikasi ini berpotensi menjadi solusi pengendalian hama yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
KEJADIAN PENYAKIT PURU AKAR OLEH NEMATODA PADA TANAMAN HORTIKULTURA DI SIGI BIROMARU Ali, Nindah Shafitri; Edy, Nur; Hasriyanty, Hasriyanty
AGROTEKBIS : JURNAL ILMU PERTANIAN (e-journal) Vol 13 No 6 (2025): Desember
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agrotekbis.v13i6.2813

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi nematoda parasit dan menghitung kejadian penyakit yang disebabkan oleh nematoda parasit pada tanaman hortikultura. Penelitian ini dilaksanakan pada bulan Desember 2023 sampai Februari 2024. Pengambilan sampel tanaman dilakukan di Desa Pombewe dan Desa Langaleso, Kabupaten Sigi, Provinsi Sulawesi Tengah. Serta pengamatan dilakukan di Laboratorium Penyakit, Fakultas Pertanian Universitas Tadulako, Palu. Penelitian ini dilakukan di perkebunan tomat, seledri, dan kacang tanah di kedua desa tersebut dengan masing-masing umur tanaman sekitar 35 hari setelah tanam untuk tanaman kacang tanah dan tanaman tomat, dan 3 bulan setelah tanam untuk tanaman seledri. Pada pengambilan sampel dilakukan di 3 titik lokasi berbeda. Pada setiap lokasi diambil sebanyak 3 bedeng sebagai petak sampel, dimana setiap petaknya dipilih secara acak sehingga diperoleh 3 titik sampel dengan ukuran 10x10 cm. Sebelum melakukan pengambilan sampel, terlebih dahulu dilakukan pengamatan di lapangan dengan metode survei dan wawancara secara langsung dengan petani. Ekstraksi nematoda dari sampel akar dilakukan dengan menggunakan metode Baermann funnel yang telah dimodifikasi menggunakan nampan. Hasil ekstraksi nematoda yang ingin diamati dapat disimpan dalam larutan fiksatif, yaitu larutan FA (formalin 4%; 20 ml + akuades 30 ml). Serta dilakukan pengamatan menggunakan mikroskop binokuler dengan perbesaran 40x. Hasil analisis data menunjukkan bahwa nematoda yang telah ditemukan sebanyak lima genus yaitu Meloidogyne sp., Ditylenchus sp., Trichodorus sp., Pratylenchus sp., dan Xiphinema sp.. Jenis nematoda yang paling mendominasi dan memiliki daerah sebar 100% adalah Meloidogyne sp.
PENGARUH TANAMAN Panicum sarmentosum DAN Crotalaria juncea TERHADAP SERANGAN Spodoptera frugiperda J. E. Smith (LEPIDOPTERA:NOCTUIDAE) DAN KEANEKARAGAMAN ARTHROPODA PADA TANAMAN JAGUNG Ardiansyah, Ardiansyah; Saleh, Shahabuddin; Hasriyanty, Hasriyanty
AGROTEKBIS : JURNAL ILMU PERTANIAN (e-journal) Vol 13 No 5 (2025): Oktober
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/agrotekbis.v13i5.2800

Abstract

Tanaman Dorong-Tarik merupakan tanaman yang digunakan untuk mengendalikan hama ulat grayak S. frugiperda. Metode ini telah banyak dikembangkan di luar negeri dan hasilnya mampu mengendalikan hama S. frugiperda. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh P. sarmentosum dan C. juncea sebagai tanaman penarik ulat grayak terhadap populasi larva S. frugiperda, tingkat kerusakan tanaman jagung dan keanekaragaman arthropoda. Penelitian ini menggunakan uji T dengan metode eksperimen dengan membandingkan dua perlakuan C. juncea dan P. sarmentosum dengan kontrol. Variabel pengamatan meliputi populasi larva S. frugiperda, tingkat kerusakan tanaman jagung, dan keanekaragaman arthropoda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa populasi larva S. frugiperda lebih rendah pada tanaman jagung yang ditumpangsarikan dengan P. sarmentosum dan C. juncea dibandingkan dengan tanaman jagung dengan tanaman push-pull. Tingkat serangan S. frugiperda pada pengamatan 3-5 MST pada perlakuan P. sarmentosum dan C. juncea yaitu sebesar 0,42; 0,90; 2,31. Sedangkan tingkat serangan S. frugiperda pada perlakuan kontrol yaitu 2,58, 7,17, 9,86. Hasil penelitian keanekaragaman arthropoda pada tanaman jagung perlakuan C. juncea dan P. sarmentosum serta perlakuan kontrol ditemukan ada 8 ordo dan 23 spesies. Arthropoda yang ditemukan pada jagung ditanam bersama C. juncea dan P. sarmentosum sebanyak 19 famili dan 23 spesies, dengan nilai H’ 2.94, lebih tinggi dibandingkan jagung monokultur yaitu sebanyak 12 family dan 15 spesies dengan nilai H’ = 2.069. Namun demikian keanekaragaman arthropoda pada kedua perlakuan termasuk kriteria sedang.
KEANEKARAGAMAN ARTHROPODA PADA EKOSISTEM TANAMAN PALA (Myristica fragrans Hout.) DI DESA WOSU, KECAMATAN BUNGKU BARAT, KABUPATEN MOROWALI Fichar, Zoel; Anshary, Alam; Hasriyanty
AGROTEKBIS : JURNAL ILMU PERTANIAN (e-journal) Vol 14 No 1 (2026): Februari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/0wegy795

Abstract

Keanekaragaman serangga berperan penting dalam menjaga kestabilan pada suatu ekosistem. Penelitian ini bertujuan untuk melihat nilai keaneragaman Arthropoda pada ekosistem tanaman Pala (Myristica fragrans Hout.), di Desa Wosu Kecamatan Bungku Barat, Kabupaten Morowali. Penelitian ini dilakukan di lahan milik petani yang berada di Desa Wosu Kecamatan Bungku Barat Kabupaten Morowali, penelitian dilaksanakan pada bulan Juli sampai bulan Agustus 2024, penelitian ini menggunakan metode Relatif Nisbi, dengan menggunakan perangkap yellow trap, pitfall trap, dan light trap. Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan dapat disimpulkan bahwa Tingkat keanakaragaman pada masing-masing perangkap, yellow trap dan light trap menunjukkan Tingkat keanekaragaman yang tinggi dengan hasil (H’ = 3,35) pada perengkap yellow trap, dan (H’ = 3,32) pada ligh trap serta tingkat kemerataan jenis yang stabil (E = 0,90) pada yellow trap, dan (E = 0,95) pada lightrap, sedangkan pada perangkap pitfall trap menunjukkan hasil tingkat keanekaragaman yang menunjukkan kategori sedang dengan tingkat keanekaragaman (H’ = 2,50) dan tingkat kemerataan yang stabil dengan indeks kemerataan (E = 0,90), dari total keseluruhan nilai indeks keanekaragaman dan kemerataan ditemukan hasil H’= 4,15 yang menunjukkan indeks keanekaragaman kategori tinggi dan nilai E = 1,00 yang menunjukkan indeks kemerataan kategori stabil.
EKSPLORASI ARTHROPODA YANG BERASOSIASI PADA TANAMAN BAWANG MERAH VARIETAS LEMBAH PALU (Allium wakegi Araki) Tjambaru, Supriadin I; Wahid, Abd; Hasriyanty
AGROTEKBIS : JURNAL ILMU PERTANIAN (e-journal) Vol 14 No 1 (2026): Februari
Publisher : Fakultas Pertanian, Universitas Tadulako

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22487/mhsx7h12

Abstract

Bawang merah merupakan suatu komoditas hortikultura penting karena menjadi sumber penghasilan masyarakat dan memberikan sokongan terhadap pembangunan ekonomi wilayah, sehingga banyak Di budidayakan di hampir seluruh wilayah di Indonesia. Bawang merah kaya akan manfaat yaitu sebagai sumber vitamin, sebagai bumbu pelezat masakan dan sebagai obat. Salah satu kendala yang dihadapi dalam proses budidaya tanaman bawang merah adalah serangan hama yang berpotensi adanya kerusakan pada daun bawang merah. Hama utama yang menyebabkan adanya kerugian pada tanaman bawang merah yaitu hama Spodoptera. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas, keanekaragaman serta mengidentifikasi peran arthropoda yang berasosiasi pada tanaman bawang merah varietas Lembah Palu. Metode pengambilan data dilakukan dengan tiga teknik yaitu hand collecting, pitfal trap, dan yellow trap. Hasil penelitian menujukkan 1.282 individu. Arthropoda yang ditemukan di kelurahan Kayumalue Ngappa, yang terdiri dari 3 kelas yaitu insekta, arachnida, dan collembola, 10 ordo, 17 famili, dan 27 genus, 2.210 individu. Arthropoda yang ditemukan di kelurahan Tanamodindi, yang terdiri dari 3 kelas yaitu insekta, arachnida, dan collembola, 9 ordo, 16 famili, dan 22 genus, 2066 individu. Arthropoda yang ditemukan di Desa Watunonju, yang terdiri dari 3 kelas yaitu insekta, arachnida, dan collembola, 9 ordo, 14 famili, dan 22 genus dengan peran fungsional yang berbeda, seperti herbivora, parasitoid, predator, polinator, dan dekomposer. Hasil analisis di kelurahan Kayumalue Ngappa menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman (H’) berada pada kategori rendah (0,14), dengan indeks kemerataan (E) tinggi (0,72), dan indeks dominansi (D) rendah (0,41), di kelurahan Tanamodindi menunjukkan bahwa indeks keanekaragaman (H’) berada pada kategori sedang (1,95), dengan indeks kemerataan (E) tinggi (0,61), dan indeks dominansi (D) rendah (0,25) di Desa Watunonju menunjukkan nilai indeks keanekaragaman sedang (2,28), indeks kemerataan tinggi (0,75) dan indeks dominansi rendah (0,14).