Drs. Asril Marjohan,MA .
Unknown Affiliation

Published : 84 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

THE QUALITATIVE EVIDENCES THAT DIFFERENTIATE PELAGA AND TAMBAKAN DIALECTS: A CONTRASTIVE STUDY ., Putu Bagus Mahardika; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Drs. Asril Marjohan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedakan sistem fonologi antara dialek Pelaga (PD) dan Tambakan (TD) dan pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Subjek dari penelitian ini adalah dialek Pelaga dan Tambakan. Penelitian ini merupakan jenis dari penelitian konstrastif. Sistem fonologi dari kedua dialek dipaparkan pertamanya. Data dipaparkan menggunakan 3 jenis wordlist (Swadesh, Budasi, dan Holle) yang dikumpulkan menggunakan teknik perekaman dan pencatatan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dari kedua dialek. Dalam hal fonem, PD memiliki 55 dan TD memiliki 48. Sementara itu, distribusi dari vokal kedua dialek menunjukkan perbedaan, walaupun jumlah keduanya sama. PD dan TD memiliki jumlah diftong yang sama, yakni 9. Dari 19 konsonan kedua dialek, kebanyakan memiliki distribusi yang lengkap. Namun, konsonan /ʔ/ dalam PD muncul di posisi tengah dan akhir, sementara dalam TD hanya muncul di posisi akhir. Dalam hal gugus konsonan, PD memiliki 17 dan TD hanya 11. Dalam pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, fonem bahasa Inggris /ӕ/, /ɒ/, /ɜ/, /ɑ/, /ɑI/, /ɑʊ/, /f/, /v/, /ɵ/, /ð/, /z/, /ʃ/, /ʤ/ dan semua triftong menjadi kendala dalam pengucapannya oleh orang-orang Pelaga dan Tambakan.Kata Kunci : bukti-bukti kualitatif, dialek Pelaga, dialek Tambajan, penelitian kontrastif The study aimed at contrasting the phonological systems of Pelaga Dialect (PD) and Tambakan Dialect (TD) and its implication to learning English as a foreign language. The subjects of this study were Pelaga and Tambakan dialects. This study was a contrastive research. The phonological systems of both dialects were firstly described. The obtained data in the form of wordlists (Swadesh, Budasi, and Holle) were collected through recording and listening and noting techniques. The result of the study shows that PD and TD have differences. In terms of phonemes, it was found that PD had 55 phonemes and TD had 48 phonemes. In term of vowel, the distribution of the vowels is different, although they have the same number of it. PD has 9 diphthongs and TD also has 9 diphthongs. From the 19 consonants of both dialects, most of the consonant have complete distribution. There is only the distribution of consonant /ʔ/ that differentiates both dialects in which in PD consonant /ʔ/ appears in the middle and final position, while in TD it appears in the final position only. In term of consonant cluster, PD has 17 consonant clusters and TD only has 11 consonant clusters. On the implication to learning English as a foreign language, English phonemes /ӕ/, /ɒ/, /ɜ/, /ɑ/, /ɑI/, /ɑʊ/, /f/, /v/, /ɵ/, /ð/, /z/, /ʃ/, /ʤ/ and all of the English triphthong are difficult to be pronounced by people in Pelaga and Tambakan.keyword : qualitative evidences, Pelaga dialect, Tambakan dialect, contrastive study
THE USE OF PODCAST TO IMPROVE THE SPEAKING COMPETENCY OF THE TENTH GRADE STUDENTS OF SMA NEGERI 1 AMLAPURA IN ACADEMIC YEAR 2015/2016 ., Ni Wayan Anggi Septya Dianithi; ., Drs. Asril Marjohan,MA; ., Kadek Sonia Piscayanti, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.6067

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah peningkatan kemampuan berbicara siswa dalam Bahasa Inggris dengan penggunaan podcast dalam kegiatan belajar mengajar Bahasa Inggris. Penelitian ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Amlapura. Subjek dari penelitian ini adalah siswa kelas X MIA 1, dengan kemampuan  siswa kelas X MIA 1 dalam berbicara dengan menggunakan Bahasa Inggris sebagai objek penelitian. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian tindakan kelas (PTK) yang dilakukan dalam dua siklus, masing-masing siklus meliputi langkah-langkah, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan, observasi/evaluasi dan refleksi. Data yang diambil dalam penelitian ini adalah data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil kuisioner dan observasi. Sementara data kuntitatif didapat melalui hasil pre-test dan post-test yang diberikan kepada siswa. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai rata-rata kemampuan berbicara siswa dengan menggunakan Bahasa inggris saat pre-test sebesar 60.43, pada post-test 1 sebesar 72.46, pada post-test 2 mencapai 79.78 dan jumlah siswa yang mencapai nilai ketuntasan dalam berbicara Bahasa Inggris naik menjadi 83.33%. Oleh karena itu, dapat dikatakan bahwa implementasi podcast sebagai media pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar Bahasa Inggris dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa. Selain itu, berdasarkan hasil kuesioner dan observasi selama kegiatan belajar mengajar berlangsung, dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran ini juga dapat meningkatkan motivasi siswa untuk belajar Bahasa Inggris.Kata Kunci : Berbicara, Kemampuan berbicara, TIK, Podcast The objective of this research was to improve students’ English speaking competency by using podcast in teaching and learning. This research was conducted in SMA Negeri 1 Amlapura, as the subject of the research was the tenth grade students of SMA Negeri 1 Amlapura, i.e. X MIA 1 class. The object of research was English speaking competency of X MIA 1 students. The method used in this study was Classroom Action Research (CAR), conducted in two cycles. Each cycle consisted of the steps of planning, action, observation/evaluation and reflection. There were two kinds of data collected in this research namely qualitative and quantitative data. The qualitative data were obtained from the questionnaires and observation checklist. Meanwhile, the quantitative data were collected by conducting speaking pre-test and post-test. The result of study showed that the main score of the students’ English speaking competency gained on the pre-test was 60.43, on the post-test 1 was 72.46 and on post-test 2 was 79.78 and 83.33% of students could pass the standard minimum score. It can be concluded that the English speaking competency of the X MIA 1 students could be improved by using podcast in English teaching and learning. In addition, the result of the questionnaire and observation in the classroom showed that the students were more motivated to learn by using podcast.keyword : Speaking, Speaking Competency, ICT, Podcast  
AN ANALYSIS OF CLASSROOM INTERACTION IN AN ENGLISH CLASS: THE CASE AT ELEVENTH GRADE OF AN IMMERSION CLASS IN SMA NEGERI BALI MANDARA ., Ni Putu Rika Amanda Putri; ., Drs. Asril Marjohan,MA; ., I G A Lokita P Utami, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3377

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kategori interaksi kelas pada kelas immersi dengan menggunakan Foreign Language Interaction (FLINT) system. FLINT system dibagi menjadi 22 kategori, yaitu: (1) Deals with Feeling, (2) Praise or Encouraging, (2a) Jokes, (3) Uses Ideas of Students, (3a) Repeats Student Response Verbatim, and (4) Asks Questions (5) Gives information, (5a) Corrects without Rejection, (6) Gives Directions, (6a) Direction Pattern Drills, (7) Criticizes Student Behaviour, and (7a) Criticizes Student Response (8) Student Response Specific, (8a) Student Response Choral, (9) Student Response Open-Ended or Student-Initiated, (10) Silence, (10a) Silence AV, (11) Confusion Work-Oriented, (11a) Confusion Non Work-Oriented, (12) Laughter, (13) Uses of the Native Language, and (14) Nonverbal. Penelitian ini dilaksanakan di kelas XI IPA I SMA Negeri Bali Mandara yang terdiri dari dua puluh dua siswa. Penelitian ini dirancang dengan menngunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Terdapat lima instrument yang digunakan dalam penelitian ini yaitu, peneliti, kamera video, catatan lapangan, panduan wawancara dan daftar kategori.Data dikumpulkan dengan cara merekam interaksi kelas di kelas XI IPA I sebanyak empat kali. Kemudian, data ditranskrip dan dikategorikan berdasarkan FLINT system. Hasil analisis data menunjukan bahwa semua kategori interaksi kelas berdasarkan FLINT system terjadi di kelas. Jumlah interaksi yang dihasilkan oleh siswa 53.57 % sedangkan interkasi guru sebanyak 46.42%. Ini berarti bahwa interaksi guru dan siswa cukup seimbang dan siswa telah diberikan kesempatan terbaik untuk berpartisipasi di kelas.Kata Kunci : Kata kunci: Interaksi kelas, Foreign Language Interaction (FLINT) system, kelas immersi Abstract This study was aimed at finding the classroom interaction categories in an immersion class by using Foreign Language Interaction (FLINT) system. FLINT system is divided into 22 categories, namely: (1) Deals with Feeling, (2) Praise or Encouraging, (2a) Jokes, (3) Uses Ideas of Students, (3a) Repeats Student Response Verbatim, and (4) Asks Questions (5) Gives information, (5a) Corrects without Rejection, (6) Gives Directions, (6a) Direction Pattern Drills, (7) Criticizes Student Behaviour, and (7a) Criticizes Student Response (8) Student Response Specific, (8a) Student Response Choral, (9) Student Response Open-Ended or Student-Initiated, (10) Silence, (10a) Silence AV, (11) Confusion Work-Oriented, (11a) Confusion Non Work-Oriented, (12) Laughter, (13) Uses of the Native Language, and(14) Nonverbal. This study was conducted in XI Science I class of SMA Negeri Bali Mandara which consists of twenty two students. This study was designed by using descriptive qualitative approach. There were five instruments used in this study namely the researcher, video camera, observation sheet, interview guide and checklist. The data was collected by recording the classroom interaction in XI Science I class for four times. After that, the records were transcribed and categorized based on the FLINT system. The result of the data analysis shows that all categories of classroom interaction based on FLINT system occurred in classroom. The total interaction produced by the students was 53.57 % while the teacher produced 46.42%. It means that the interaction between teacher and students is quite balance and students are given best possible opportunity to participate in classroom. keyword : Keywords: Classroom interaction, Foreign Language Interaction (FLINT) system, Immersion class
A STUDY ON CLASSROOM INTERACTION IN THE PROCESS OF ENGLISH TEACHING AND LEARNING AT CLASS VIII.14 IN SMP NEGERI 2 SINGARAJA ., Ni Nengah Suastini; ., Prof. Dr.I Ketut Seken,MA; ., Drs. Asril Marjohan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3234

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif yang bertujuan untuk: (1) mengidentifikasi jenis interaksi yang digunakan oleh guru bahasa Inggris dan siswa selama proses belajar mengajar di kelas VIII.14 di SMP Negeri 2 Singaraja dan bertujuan (2) mengidentifikasi tujuan dari jenis-jenis interaksi yang digunakan selama proses belajar dan mengajar. Objek penelitian ini adalah interaksi guru dan siswa dalam proses belajar mengajar. Data yang berupa interaksi antara siswa dan guru bahasa Inggris dikumpulkan melalui tehnik rekam, observasi, dan interview. Kemudian, data yang berhasil dikumpulkan dianalisis dengan model analisis Sinclair dan Coulthard. Berdasarkan hasil analisis, ditemukan bahwa (1) terdapat enam jenis interaksi kelas yang digunakan oleh guru dan siswa dalam proses belajar mengajar, yakni: pertanyaan, arah, tanggapan, dorongan, pengabaian, dan pengakuan. dan (2) terdapat delapan tujuan dari dilakukanya jenis-jenis interaksi tersebut, yakni: elisitasi (el), pemeriksaan (ch), pengarahan (d), balasan (rep), komentar (com), tawaran (b), petunjuk (cl), nominasi (n) penerimaan (acc).Kata Kunci : Interaksi Kelas , Sinclair dan Coulthard Teori , I-R-F This is a descriptive qualitative study which aimed at describing: (1) the types of classroom interaction used by the English teacher and students during teaching and learning process at class VIII.14 in SMP Negeri 2 Singaraja and describing (2) the purposes of those types of classroom interaction during teaching and learning process. In order to analyze the data, the model of classroom interaction study, I-R-F, proposed by Sinclair and Coulthard theory was used to identify the classroom interaction. Some methods were used in collecting the data, such as: video recording during the classroom interaction, observation, and interview. According to the results of this study (1) six types of classroom interaction were used by the teacher and students in teaching and learning process, which consisted of Questions, Direction, Response, Prompt, Ignoring, Acknowledgment and (2) eight types of acts were produced to identify the purposes of the types of classroom interaction in the process of teaching and learning which consisted of Elicitation (el), Check (ch), Directive (d), Reply (rep), Bid (b), Clue (cl), Nomination (n), Accept (acc).keyword : Classroom Interaction, Sinclair and Coulthard Theory, I-R-F
THE EFFECTIVENESS OF IMPLEMENTING SCRIPTED SONGS ON THE FIFTH GRADE STUDENTS ENGLISH COMPETENCE ., Putu Eka Juniariani; ., Dra.Ni Made Ratminingsih, MA; ., Drs. Asril Marjohan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.5278

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek dari lagu kreasi berbasis media audio pada kompetensi Bahasa Inggris siswa. Ini merupakan penelitian eksperimen yang mengimplementasikan desain posttest only control group. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh sekolah dasar yang berada di Kecamatan Sawan. Sampel dari penelitian ini merupakan kelas 5 Sd di SD Negeri 1 Sangsit dimana pengambilan sampel menggunakan tehnik random sampling. Kelas 5 A terdiri dari 33 siswa yang bertindak sebagai grup eksperimen dan kelas B yang terdiri dari 33 siswa bertindak sebagai grup kontrol. Kedua grup tersebut diberikan perlakuan yang berbeda dan diakhiri dengan pemberian posttest. Hasil dari posttest dianalisis secara deskriptif dan inferensial. Hasil menunjukkan bahwa (a) nilai rata-rata dari grup eksperimen lebih tinggi dibandingkan grup control. Nilai rata-rata dari grup eksperimen adalah 89.94 dan nilai rata-rata dari grup kontrol adalah 82.67, dan (b) analisis dari independent samples t-test menunjukkan bahwa nilai tobs adalah 4.116 dan nilai tcv adalah 1.9977. Oleh karena nilai tobs lebih tinggi dibandingkan nilai tcv, maka dapat disimpulkan bahwa lagu kreasi memberikan efek yang signifikan pada kompetensi Bahasa Inggris siswa.Kata Kunci : Kompetensi Bahasa Inggris, Lagu Kreasi This research aimed at investigating the effect of scripted songs based audio media on the students’ English competence. It was an experimental research which implemented posttest only control group design. The population was all primary schools in Sawan Sub-District. The samples were the two classes of the fifth grade in SD N 1 Sangsit which was chosen by using random sampling. The 5A class which consisted of 33 students was determined as the experimental group and the 5B class which consisted of 33 students was determined as the control group. Both experimental and control group were given different treatments and they were ended by administering the posttest. The result of the posttest was analyzed using both of descriptive and inferential statistical analysis. The result shows that (a) the mean score of the experimental group is higher than that of the control group. The mean score of the experimental group is 89.94 and the mean score of the control group is 82.67, and (b) the analysis of the independent samples t-test that tobs is 4.116 and tcv is 1.9977. Since tobs is higher than tcv, it can be concluded that scripted songs give a significant effect on the students’ English competence.keyword : English competence, Scripted songs
The Naturalness of Translation in Translating Short Story Entitled "Drupadi" from Indonesian into English ., Ni Luh Putu Vita Dewi; ., Drs. Asril Marjohan,MA; ., Made Hery Santoso, S.Pd, M.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.6005

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis keberterimaan terjemahaan dan menemukan persetanse dari keberterimaan terjemahaan tersebut dalam cerita pendek yang berjudul “Drupadi” yang diterjemahkan dari Bahasa Indonesia kedalam Bahasa Inggris. Subjek dalam penelitian ini adalah dua native speakers yang berasal dari native area. Sedangkan, objek dalam penelitian ini yaitu cerita pendek yang berjudul “Drupadi” khususnya kalimat-kalimat yang terdapat dalam kedua versi cerita. Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teori Larson sebagai teori acuan penelitian untu menganalisis keberterimaan terjemahaan cerita pendek yang berjudul “Drupadi” dari Bahasa Indonesia kedalam Bahasa Inggris. Tterdapat dua cara yang dilakukan oleh peneliti untuk mengumpulkan data, yiatu dengan menggunakan checklist dan melakukan interview. Jumlah data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 131 kalimat dan data tersebut di analisis secara descriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa data yang tergolong dalam tingkat “unnatural” sebanyak 0%, 2.29% untuk data yang tergolong dalam tingkat “less natural”, 13.74% untuk data yang tergolong dalam tingkat “natural”, dan 83.97% untuk data yang tergolong ke dalam tingkat “highly natural”. Berdasarkan hasil penelitian, dapat disimpulkan bahwa cerita pendek yang berjudul “Drupadi” yang diterjemahkan oleh Tom Hunter dari Bahasa Indonesia ke dalam Bahasa Inggris tergolong dalam tingkat “highly natural” dan cerita pendek tersebut dalam digunakan sebagai bahan ajar oleh guru yang mengajar bahasa, khususnya dalam bidang terjemahaan. Kata Kunci : terjemahaan, cerita pendek, keberterimaan. This study aimed at analyzing the naturalness of translation and finding the percentage of the naturalness of translation in translating short story entitled “Drupadi” from Indonesian into English. The subjects of this study were two native speakers which are come from the native area. Meanwhile, the object of this study was a short story entitled “Drupadi” especially the sentences in both Indonesian and English version. In this study, the researcher used Larson’s theory as the reference of the study in order to analyze the naturalness of translation in short story entitled “Drupadi” from Indonesian into English. The data were obtained by two methods of data collection, namely checklist and interview. The total of the data in this study was 131 sentences and it was analyzed descriptively. The result of this study showed that, 0% of the data is considered to fall into “unnatural” level, 2.29% are considered to fall into “less natural” level, 13.74% of the data belong to the “natural” level, and 83.97% of the data is classified as “highly natural”. Based on the result, it can be concluded that the short story entitled “Drupadi” which has been translated by Tom Hunter from Indonesian into English was in “highly natural” level and it can be used as teaching material for the teacher who teaches language, especially translation. keyword : translation, short story, the naturalness
An Analysis of Code Switching Used by Lecturer of English Education Department at Ganesha University of Education ., Danu Wijaya; ., Drs. I Wayan Suarnajaya,MA., Ph.D.; ., Drs. Asril Marjohan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tipe dari alih kode bahasa, fungsi alih kode bahasa, dan alasan penggunaan alih kode bahasa yang digunakan oleh dosen bahasa Inggris sebagai strategi komunikasi untuk mengajar bahasa Inggris sebagai bahasa asing di semester II Jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di Universitas Pendidikan Ganesha. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Subjek penelitian ini adalah dosen laki-laki. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah perekam MP3, catatan lapangan, dan panduan wawancara. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada dua jenis alih kode yang digunakan oleh guru bahasa Inggris. Mereka adalah intra-sentential alih kode bahasa (52%) dan inter sentensial alih kode bahasa (48%). Ada tujuh fungsi alih kode bahasa yang digunakan oleh dosen bahasa Inggris; fungsi klarifikasi (36%), fungsi penekanan (29%), fungsi perhatian (12%), fungsi instruksi (9%), fungsi kebutuhan bahasa (8%), fungsi regulasi (3%) dan fungsi hiburan (3% ) . Alasan penggunaan alih kode bahasa adalah untuk membicarakan topik tertentu, menegaskan sesuatu, pengulangan yang digunakan untuk klarifikasi, maksud untuk menjelaskan isi pembicaraan pada pendengar, meningkatkan motivasi dalam belajar bahasa Inggris, membantu siswa untuk menangkap informasi yang diberikan oleh pengajar, menciptakan suasana yang menyenangkan belajar, dan memberikan perintah atau instruksiKata Kunci : Alih Kode Bahasa, dosen Bahasa Inggris, Strategi Komunikasi, Bahasa Inggris sebagai Bahasa Asing This study is aimed at analyzing the types of code switching, the functions of code switching, and the reasons of using code switching by English lecturer as a Communication Strategy to teach English as a Foreign Language in second semester of English Education Department at Ganesha University of Education.This study is a descriptive qualitative research. The subject of this study is a male lecturer. The instruments used in this study are MP3 recorder, a field note, and an interview guide. The results of this study show that there are two types of code switching used by the English teacher. They are intra-sentential code switching (52%) and inter sentential code switching (48%). There are seven functions of code switching used by the English lecturer that are; clarification functions (36%), emphasis function (29%), attention function (12%), instruction function (9%), lexicalization function (8%), regulatory function (3%) and sociolinguistic play function (3%).The reasons of using code switching are talking about particular topic, being emphatic about something, repetition used for clarification, intention of the speech content for the interlocutor, increasing motivation in learning English, helping students to catch the information given by the lecturer, creating a fun learning atmosphere, and giving command or instructionkeyword : Code Switching, English Lecturer, Communication Strategy, English as a Foreign Language
THE QUALITATIVE EVIDENCES THAT DIFFERENTIATE PELAGA AND TAMBAKAN DIALECTS: A CONTRASTIVE STUDY ., Putu Bagus Mahardika; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Drs. Asril Marjohan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3358

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk membedakan sistem fonologi antara dialek Pelaga (PD) dan Tambakan (TD) dan pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing. Subjek dari penelitian ini adalah dialek Pelaga dan Tambakan. Penelitian ini merupakan jenis dari penelitian konstrastif. Sistem fonologi dari kedua dialek dipaparkan pertamanya. Data dipaparkan menggunakan 3 jenis wordlist (Swadesh, Budasi, dan Holle) yang dikumpulkan menggunakan teknik perekaman dan pencatatan. Hasil dari penelitian ini menunjukkan perbedaan yang signifikan dari kedua dialek. Dalam hal fonem, PD memiliki 55 dan TD memiliki 48. Sementara itu, distribusi dari vokal kedua dialek menunjukkan perbedaan, walaupun jumlah keduanya sama. PD dan TD memiliki jumlah diftong yang sama, yakni 9. Dari 19 konsonan kedua dialek, kebanyakan memiliki distribusi yang lengkap. Namun, konsonan /ʔ/ dalam PD muncul di posisi tengah dan akhir, sementara dalam TD hanya muncul di posisi akhir. Dalam hal gugus konsonan, PD memiliki 17 dan TD hanya 11. Dalam pengaruhnya terhadap pembelajaran bahasa Inggris sebagai bahasa asing, fonem bahasa Inggris /ӕ/, /ɒ/, /ɜ/, /ɑ/, /ɑI/, /ɑʊ/, /f/, /v/, /ɵ/, /ð/, /z/, /ʃ/, /ʤ/ dan semua triftong menjadi kendala dalam pengucapannya oleh orang-orang Pelaga dan Tambakan.Kata Kunci : bukti-bukti kualitatif, dialek Pelaga, dialek Tambajan, penelitian kontrastif The study aimed at contrasting the phonological systems of Pelaga Dialect (PD) and Tambakan Dialect (TD) and its implication to learning English as a foreign language. The subjects of this study were Pelaga and Tambakan dialects. This study was a contrastive research. The phonological systems of both dialects were firstly described. The obtained data in the form of wordlists (Swadesh, Budasi, and Holle) were collected through recording and listening and noting techniques. The result of the study shows that PD and TD have differences. In terms of phonemes, it was found that PD had 55 phonemes and TD had 48 phonemes. In term of vowel, the distribution of the vowels is different, although they have the same number of it. PD has 9 diphthongs and TD also has 9 diphthongs. From the 19 consonants of both dialects, most of the consonant have complete distribution. There is only the distribution of consonant /ʔ/ that differentiates both dialects in which in PD consonant /ʔ/ appears in the middle and final position, while in TD it appears in the final position only. In term of consonant cluster, PD has 17 consonant clusters and TD only has 11 consonant clusters. On the implication to learning English as a foreign language, English phonemes /ӕ/, /ɒ/, /ɜ/, /ɑ/, /ɑI/, /ɑʊ/, /f/, /v/, /ɵ/, /ð/, /z/, /ʃ/, /ʤ/ and all of the English triphthong are difficult to be pronounced by people in Pelaga and Tambakan.keyword : qualitative evidences, Pelaga dialect, Tambakan dialect, contrastive study
AN ANALYSIS OF DERIVATIONAL AND INFLECTIONAL MORPHEME IN SILANGJANA DIALECT ., I Gede Erlan Cahaya Unggawan; ., Dr. I Gede Budasi,M.Ed,Dip.App.Lin; ., Drs. Asril Marjohan,MA
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3363

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan awalan dan akhiran di Silangjana Dialek yang mengalami proses derivasi dan infleksi. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif. Dua informan sampel Silangjana Dialek dipilih berdasarkan seperangkat kriteria. Data dikumpulkan berdasarkan tiga teknik, yaitu: observasi, teknik perekaman, dan wawancara (mendengarkan dan mencatat). Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada enam jenis prefiks di Silangjana Dialek; awalan {mΛ-}, {n-}, {} ŋ-, {ñ-}, {m-} dan {Λ}-. Ada tiga macam akhiran di Silangjana Dialek; akhiran {-ē}, {-Λŋ}, dan {}-In. Prefiks dan sufiks di Silangjana Dialek menjalani proses derivasi: prefix {mΛ-}, {n-}, dan {m-} dan sufiks {-Λŋ}, dan {-in}. Prefiks dan sufiks di Silangjana Dialek menjalani proses infleksional: prefix {n-}, {} ŋ-, {ñ-}, {m-}, dan {Λ}-dan akhiran {-ē}, {-Λŋ}, dan {-In}.Kata Kunci : derivasi, infleksi, dialek silangjana The study aimed at describing the prefixes and suffixes in Silangjana Dialect which undergo derivational and inflectional processes. This research is a descriptive qualitative research. Two informants sample of Silangjana Dialect were chosen based on a set of criteria. The data were collected based on three techniques, namely: observation, recording technique, and interview (listening and noting) technique. The results of the study showed that there were six kinds of prefixes in Silangjana Dialect; prefix {mΛ-}, {n-}, {ŋ-}, {ñ-}, {m-} and {Λ-}. There were three kinds of suffixes in Silangjana Dialect; suffix {-ē}, {-Λŋ}, and {-In}. Prefixes and suffixes in Silangjana Dialect undergo derivational process: prefix {mΛ-}, {n-}, and {m-} and suffix {-Λŋ}, and {-in}. Prefixes and suffixes in Silangjana Dialect undergo inflectional process: prefix {n-}, {ŋ-}, {ñ-}, {m-}, and {Λ-} and suffix {-ē}, {-Λŋ}, and {-In}.keyword : derivational, inflectional, morpheme and silangjana dialect
A STUDY ON REINFORCEMENT TOWARD STUDENTS SHOWING GOOD CHARACTER AT NORTH BALI BILINGUAL SCHOOL ., I Made Suta Wijana Giri; ., Drs. Asril Marjohan,MA; ., I G A Lokita P Utami, S.Pd.
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris undiksha Vol 1, No 1 (2013): May
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpbi.v1i1.3109

Abstract

Penelitian ini difokuskan pada penguatan yang digunakan oleh guru untuk mendorong karakter yang baik dari siswa. Penelitian ini dilakukan di North Bali Bilingual School. Berdasarkan temuan dari hasil pengamatan di North Bali Bilingual School ditemukan bahwa di sana menggunakan penguatan positif dan konsekuensi dalam mengembangkan karakter yang baik dari siswa. Para guru di North Bali Bilingual School banyak menggunakan penguatan positif berupa penguatan verbal dan non verbal. Penguatan verbal yang biasanya diberikan oleh guru di North Bali Bilingual School adalah dalam bentuk kata-kata seperti pekerjaan yang baik, bagus, dan menakjubkan. Penguatan non verbal yang diberikan oleh guru dalam bentuk chip, stiker, lima belas menit waktu tambahan untuk waktu perpustakaan, lima belas menit waktu tambahan untuk ruang kreativitas, lima belas menit waktu tambahan untuk beristirahat, super bonus waktu ekstra tiga puluh menit untuk melakukan apa yang mereka inginkan (ruang kreativitas, waktu perpustakaan, waktu istirahat), sertifikat, dan dalam bentuk gerakan tubuh seperti tersenyum, menjabat tangan, dan menyentuh bahu siswa. Di North Bali Bilingual School guru tidak menggunakan penguatan negatif. Para guru di North Bali Bilingual School menggunakan konsekuensi. Pandangan guru terhadap penggunaan penguatan untuk meningkatkan karakter siswa di North Bali Bilingual School yaitu seluruh guru sepakat bahwa penggunaan penguatan dalam mengembangkan karakter siswa sangatlah efektif. Para guru mengatakan bahwa ketika mereka diberikan penguatan para siswa terlihat senang. Pemberian reward jika siswa menunjukkan perilaku yang baik siswa akan membuat siswa mau untuk mengulangi perilaku tersebut.Kata Kunci : Penguatan, karakter This study focused on reinforcement that was used by the teachers to encourage good character of students. This research was conducted at North Bali Bilingual School. Based on the finding from the observation at North Bali Bilingual School it was found that positive reinforcement and consequence were used in developing the good characters. The teachers at North Bali Bilingual School mostly used positive reinforcement in the form of verbal and non verbal reinforcement. The verbal reinforcement which was usually given by the teacher at North Bali Bilingual School was in the form of words such as good job, nice, and amazing. Non verbal reinforcements given by the teachers were in the form of chip, sticker, fifteen minutes extra time for library time, fifteen minutes extra time for creativity room, fifteen minutes extra time for take a rest, super bonus extra time thirty minutes to do what they want (creativity room, library time, rest time), certificate, and in the form of body movement such as smile, shakes hand, and touches the students’ shoulder. The teachers at North Bali Bilingual School used consequence. The teachers view about the Implementation of character building by using reinforcement at North Bali Bilingual School was the entire teachers agreed that using reinforcement in developing the students’ characters is effective. The teachers said that when they reinforced the students, such as by giving reward if the students showed good behavior, the students would keep doing that behavior. keyword : Reinforcement, character
Co-Authors Danu Wijaya ., Danu Wijaya Dewa Ayu Eka Agustini Dewa Made Cipta Dwijaya ., Dewa Made Cipta Dwijaya Drs.Gede Batan,MA . Ery Al Ridho . Fitria Ningtyas . Gusti Ayu Putu Shintia Anggrakusuma ., Gusti Ayu Putu Shintia Anggrakusuma I Gede Bagus Oka Wisnaya ., I Gede Bagus Oka Wisnaya I Gede Budasi I Gede Erlan Cahaya Unggawan . I Gusti Agung Anom Maruti Putra ., I Gusti Agung Anom Maruti Putra I Gusti Ngurah Edy Suwastrawan . I Made Ery Indrawan ., I Made Ery Indrawan I Made Mas Indra ., I Made Mas Indra I Made Suta Wijana Giri . I Putu Edi Sutrisna . I Wayan Suarnajaya I Wayan Wiranata . Ida Ayu Putri Riyana Sari . Ida Bagus Made Widyatmika ., Ida Bagus Made Widyatmika Kadek Era Kusuma Dewi ., Kadek Era Kusuma Dewi Kadek Meri Puspita ., Kadek Meri Puspita Kadek Sonia Piscayanti Komang Adi Arta ., Komang Adi Arta Luh Diah Surya Adnyani Luh Putu Pipin Dwineta . Luh Putu Widianingsih . M.Pd ., I Nyoman Pasek Hadi Saputra, S.Pd., M.Pd M.Pd. ., Made Hery Santoso, S.Pd, M.Pd. Ni Kadek Widiantari . Ni Komang Arie Suwastini Ni Luh Kade Duwinitia Ningsih ., Ni Luh Kade Duwinitia Ningsih Ni Luh Putu Vita Dewi ., Ni Luh Putu Vita Dewi NI MADE ELIS PARILASANTI . Ni Made Rahayuni . Ni Made Ratminingsih Ni Nengah Suastini . Ni Putu Ari Prananti . Ni Putu Rika Amanda Putri . Ni Putu Risma Listyariani . Ni Wayan Anggi Septya Dianithi ., Ni Wayan Anggi Septya Dianithi Ni Wayan Partini . Ni Wayan Surya Mahayanti Nyoman Karina Wedhanti PIPIT OLVA ANDAYANI . Prof. Dr.I Ketut Seken,MA . Putu Bagus Mahardika . Putu Eka Juniariani ., Putu Eka Juniariani S.Pd. I G A Lokita P Utami .