Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Gejala Klinis Ikan Komet (Carassius auratus) yang Terinfeksi Bakteri Aeromonas hydrophila dan Pascapengobatan dengan Larutan Propolis M. Riswan; Lukistyowati, Iesje; Syawal, Henni; Riauwaty, Morina; Alfinda, Rudi; Kurniawan, Ronal; Putri, Mega Novia
South East Asian Aquaculture Vol. 3 No. 1 (2025): Juli
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seaqu.3.1.1-8

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gejala klinis ikan komet yang terinfeksi bakteri Aeromonas hydrophila dan pascapengobatan dengan larutan propolis. Metode yang digunakan adalah metode eksperimen dengan menerapkan rancangan acak lengkap (RAL) dengan satu faktor lima taraf perlakuan dan tiga kali ulangan perlakuan. Perlakuan tersebut adalah adalah Kn (tidak terinfeksi A.hydrophila dan tidak diobati propolis), Kp (terinfeksi A. hydrophila  tetapi tidak diobati propolis), sedangkan ikan terinfeksi A.hydrophila diobati dengan propolis dosis P1 (700 ppm), P2 (800 ppm), dan P3 (900 ppm). Pengobatan dilakukan dengan cara penyuntikan propolis pada ikan yang terinfeksi A.hydrophila di bagian intramuscular sebanyak 0,1 ml. Bahan uji yang digunakan adalah ikan komet (Carassius auratus) ukuran 8-10 cm sebanyak 150 ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ikan yang terinfeksi bakteri A.hydrophila menunjukkan gejala klinis sirip ekor gripis, bercak merah, mata menonjol (exopthalmia), perut mengembung (dropsy), sisik tubuh lepas. Setelah 14 hari pascapengobatan dengan larutan propolis perlakuan terbaik adalah perlakuan P2 dosis (800 ppm) mengalami kondisi pemulihan mendekati gejala klinis kondisi ikan normal terlihat dari warna tubuh cerah, produksi lendir normal, sirip ekor utuh, tidak terdapat mata menonjol (exopthalmia), dan perut tidak mengembung (dropsy).
RESPONSE IMMUNITY OF GOLDFISH (Carassius auratus) INFECTED WITH Aeromonas hydrophila BACTERIA AND POST-TREATMENT WITH PROPOLIS SOLUTION Riswan, M; Lukistyowati, Iesje; Syawal, Henni; Kurniawan, Ronal; Putri, Rianti; Putri, Mega Novia
Asian Journal of Aquatic Sciences Vol. 8 No. 2 (2025): August
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31258/ajoas.8.2.223-229

Abstract

This study aims to determine the immunity response of  Carassius auratus infected with Aeromonas hydrophila bacteria and post-treatment with propolis solution by measuring total leukocytes and phagocytosis index. The method used is experimental by applying a completely randomized design (CRD) with five treatments and three replications. The treatments were Kn (not infected with A. hydrophila and not treated with propolis), Kp (infected with A. hydrophila but not treated with propolis), while fish infected with A. hydrophila were treated with propolis doses P1 (700 ppm), P2 (800 ppm), and P3 (900 ppm). Treatment was done by injecting 0.1 ml of propolis into fish infected with A. hydrophila intramuscularly. The test material was 150 fish of 8-10 cm in size. The results showed that propolis significantly gave an immune response to the C. auratus infected with A. hydrophila (p<0.05). The 800 ppm propolis dose was the most effective, as indicated by a total leukocyte count of 3.70×104 cells/mm3, a phagocytosis index value of 28.33%, and a survival rate of 83.33%. This study highlights that propolis has potential as a natural immunostimulatory agent in enhancing non-specific defense mechanisms in C. auratus infected with pathogenic bacteria
Immunostimulant effect of Chaetomorpha sp in Tilapia infected with Aeromonas hydrophila Kurniawan, Ronal; Putri, Mega N.; Riswan, M.; Wahyuni, Sri; Mursawal, Asri
Aceh Journal of Animal Science Vol 10, No 2 (2025): June 2025
Publisher : Syiah Kuala University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13170/ajas.10.2.45364

Abstract

Chaetomorpha sp is a type of green marcoalgae that is rich in bioactive compound that function as antibacterial, anti-inflammatory and can increase fish immunity. This study aims to determine the immunostimulating effect of Chaetomorpha sp macroalgae extract on the leukocyte profile of Tilapia infected with A. hydrophila. The experimental method used a completely randomized design (CRD) with four extract dose treatments (0, 25, 50, 75 mL/kg feed) and three replicates. The test fish used were 2.63 0.26g, reared in black tanks with a size of 60x30x30 cm, a volume of 80 L with a stocking density of 1 fish/4 L, and a recirculation system. Maintenance was carried out for 60 days with a frequency of feeding three times a day, namely 08.00 AM, 01.00 PM, and 05.00 PM, as much as 5% of body weight. The parameters observed were total leukocytes, leukocyte differentiation, and phagocytosis index. The results showed that the administration of Chaetomorpha sp extract significantly increased total leukocytes, lymphocyte differentiation, and phagocytosis index (p0.05). The dose of 50 mL/kg feed is the optimal dose that affects the leukocyte profile of Tilapia. T0 (without extract) experienced 100% mortality, while the treatment group showed increased resistance to infection. Bioactive compounds such as sulfated polysaccharides and flavonoids in Chaetomorpha sp are thought to play a role in stimulating the innate immune system. This study highlights the potential of Chaetomorpha sp as an alternative to antibiotics in sustainable tilapia aquaculture.
Pemijahan Ikan Kakap Putih (Lates Calcarifer) Putri, Mega Novia; Kurniawan, Ronal; Riswan, M.
South East Asian Aquaculture Vol. 1 No. 2 (2024): Januari
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seaqu.1.2.30-33

Abstract

Ikan kakap putih (Lates calcarifer) merupakan salah satu komoditas ikan laut bernilai ekonomis tinggi dan memiliki beberapa keunggulan yaitu pertumbuhan yang cepat, mudah dipelihara, daging berwarna putih tebal dan memiliki pangsa pasar yang tinggi. Tujuan dari kegiatan ini ini adalah untuk mengetahui proses pemijahan alami ikan kakap putih di Balai Perikanan dan Budidaya Laut (BPBL) Batam. Metode yang digunakan adalah observasi langsung dilapangan dan pengumpulan data primer dan sekunder. Berdasarkan kegiatan yang dilakukan di Balai Perikanan Budidaya Laut Batam dapat disimpulkan bahwa pemijahan ikan kakap putih dilakukan secara alami dengan jumlah induk yang dipijahkan sebanyak 15 ekor yaitu dengan 5 ekor betina dan 10 ekor jantan (berat rata-rata induk betina besar dari 3,8 kg, berat rata-rata induk jantan 1,5 kg). Jumlah total telur yang diambil sebanyak 3.200.000 butir setelah pemijahan. Derajat pembuahan sebesar 80% atau sebanyak  2.560.000  butir telur yang terbuahi. Sedangkan derajat penetasan sebesar HR 85% atau 2.176.000 telur yang menetas
Pemetaan Visual Ketersediaan Sarana Kesehatan di Desa/Kelurahan per Provinsi di Indonesia Tahun 2024 Menggunakan Analisis Biplot Shafira, Cut Nisa; Mulyani, Riska; Salsabila, Nanda; M. Riswan
South East Asian Management Concern Vol. 3 No. 1 (2025): November
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seamac.3.1.1-5

Abstract

Ketimpangan distribusi sarana kesehatan di Indonesia masih menjadi persoalan dalam mewujudkan pemerataan layanan kesehatan. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan visualisasi ketersediaan sarana kesehatan di tingkat desa/kelurahan per provinsi di Indonesia tahun 2024 dengan menggunakan analisis biplot. Data yang digunakan bersumber dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan mencakup enam jenis sarana kesehatan di 38 provinsi. Hasil analisis Principal Component Analysis (PCA) menunjukkan bahwa dua komponen utama mampu menjelaskan 93,3% total variasi data. Komponen pertama (86,5%) didominasi oleh jumlah rumah sakit, rumah sakit bersalin, puskesmas, pustu, dan apotek. Komponen kedua (6,8%) mengindikasikan variasi pada persebaran puskesmas pembantu. Hasil biplot menunjukkan bahwa Provinsi Jawa Barat dan Jawa Timur memiliki ketersediaan sarana kesehatan yang tinggi, tercermin dari posisinya yang jauh ke arah positif pada Dim1. Sebaliknya, Papua Selatan, Papua Pegunungan, dan Gorontalo berada dekat titik pusat atau kuadran negatif, menandakan rendahnya jumlah fasilitas kesehatan. Provinsi Jawa Tengah terlihat sebagai outlier pada Dim2, yang mengindikasikan distribusi fasilitas yang tidak biasa. Hasil ini memberikan informasi visual yang berguna untuk mendukung kebijakan pemerataan sarana kesehatan nasional
Blue Economy sebagai Kerangka Transformasi Akuakultur Berkelanjutan di Indonesia Kurniawan, Ronal; Wahyuni, Sri; Syuhada, Nur Ikhlas; Karsih, Okta Rizal; Riswan, M
South East Asian Management Concern Vol. 3 No. 1 (2025): November
Publisher : Science, Technology, and Education Care

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61761/seamac.3.1.18-25

Abstract

Pertumbuhan sektor akuakultur yang pesat telah menjadi respons terhadap meningkatnya permintaan protein hewani global, namun ekspansi yang tidak terkendali menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan, sosial, dan ekonomi. Konsep Blue Economy menawarkan kerangka pembangunan alternatif yang mengintegrasikan pertumbuhan ekonomi dengan pelestarian ekosistem kelautan. Review artikel ini bertujuan mensintesis literatur terkini mengenai penerapan pendekatan Blue Economy dalam manajemen budidaya ikan berkelanjutan. Kajian ini mengeksplorasi berbagai sistem produksi berkelanjutan seperti Integrated Multitrophic Aquaculture (IMTA), Recirculating Aquaculture Systems (RAS), dan aquaponik yang terbukti mampu mengurangi limbah, meningkatkan efisiensi sumber daya, dan mendiversifikasi produk. Implementasi Blue Economy juga mencakup dimensi sosial-ekonomi melalui pemberdayaan masyarakat lokal, pengembangan kapasitas, peningkatan akses pasar dan pembiayaan, serta penciptaan lapangan kerja. Hasil kajian menunjukkan bahwa pendekatan ini mampu mengurangi beban nitrogen hingga 40-50% dan fosfor hingga 30-40% melalui sistem IMTA, serta menghemat konsumsi air hingga 99% melalui RAS. Meskipun menjanjikan, implementasi masih menghadapi hambatan berupa keterbatasan investasi, kompleksitas regulasi, dan kurangnya kapasitas pembudidaya. Kajian ini memberikan kontribusi konseptual dalam memperkuat integrasi Blue Economy pada praktik budidaya ikan di Indonesia melalui tata kelola berbasis teknologi dan inklusivitas sosial
PELATIHAN DAN PENDAMPINGAN PEMBUATAN RANCANG BANGUN UNDERWATER LED UNTUK BAGAN PERAHU DI LHOK LAYEUN, ACEH BESAR Fuah, Ricky Winrison; Agustina, Imelda; Halim, Raji Ufranal; Rusminda, Heni; Gurki, Yeni Safitri; Riswan, M
Jurnal Abdi Insani Vol 12 No 9 (2025): Jurnal Abdi Insani
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/abdiinsani.v12i9.2949

Abstract

Lift-net fishermen in Gampong Lhok Layeun, Leupung Sub-district, Aceh Besar District, still use mercury lamps which are energy-intensive, require high operational costs, and are less effective in attracting fish. This condition leads to low profits for fishermen. To address this problem, a community service program was conducted in the form of training and assistance in the development of underwater light emitting diode (LED) as an alternative technology that is more energy-efficient and effective. This activity aimed to enhance fishermen’s capacity in mastering appropriate technology and reducing fishing operational costs. The program was held on August 23–24, 2025, at the Layeun Village Office Hall, involving 15 fishermen, three lecturers, and three students from Universitas Syiah Kuala. The implementation method applied an applicative and participatory approach through several stages: preparation, training, hands-on practice, and evaluation. Participants received materials on the concept and advantages of underwater LED, followed by direct assistance in assembling the devices and conducting simple trials. The results showed an increase in fishermen’s understanding of the differences between lighting technologies as well as their ability to assemble underwater LED devices independently. Fishermen expressed their readiness to adopt this technology because it is more energy-efficient, reduces operational costs, and has the potential to increase fish catches. In conclusion, this program successfully improved fishermen’s knowledge and skills in utilizing underwater LED technology, which can serve as an alternative solution to enhance the welfare of coastal communities and support sustainable fisheries resource management.