Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Hubungan Usia dengan Tingkat Kecemasan Pasien pada Saat Pencabutan Gigi di RSUD Nene Mallomo Utari Zulkaidah; Arsad; Dewi Lidiawati; Indirwan Hasanuddin
Media Kesehatan Gigi : Politeknik Kesehatan Makassar Vol 25 No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Jurusan Keperawatan Gigi Poltekkes Kemenkes Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32382/mkg.v25i1.1961

Abstract

Based on basic health research data (riskesdas) in 2018 released by the Ministry of Health, it was recorded that 57.6% of the Indonesian population experienced dental and oral health problems. However, only 10.2% of them received treatment from dental medical personnel. Anxiety is a feeling of fear that is not clearly defined which is accompanied by uncertainty, helplessness, isolation, and insecurity In this condition, emotions arise in the absence of a specific object being targeted. Anxiety is generally triggered by the unknown and often accompanies any new experience faced by the individual. The purpose of this study was to determine the relationship between age and anxiety levels at the time of tooth extraction. The design of this study is a type of analytical observational research that adopts a cross-sectional design. The researcher applied the sampling technique with the accidental sampling method. This research method is based on chance, where anyone who unexpectedly encounters a researcher can be sampled, provided that the individual is considered relevant as a data source. Research Results: The results of the chi-square statistical test of the relationship between age and the patient's anxiety level showed a p value of 0.000 because the p value < 0.05 then h0 was rejected and ha was accepted, which means that there is a significant relationship between age and the patient's anxiety level at the time of tooth extraction at RSU Cahaya Medika Makassar. Conclusion The study found a relationship between age and the level of anxiety of patients at the time of tooth extraction with moderate (low) anxiety levels of 11 respondents of 36%, while the level of severe anxiety of 3 respondents was 10% and the level of high anxiety was 53.3% of 16 respondents
Pengembangan Aplikasi Swamedikasi E-Farmasi Dengan Metode MADLC Hasrul Hasrul; Shabran Hadiq; Dewi Lidiawati; Reny Anggraeny
JURNAL PETISI (Pendidikan Teknologi Informasi) Vol. 7 No. 3 (2026): JURNAL PETISI (Pendidikan Teknologi Informasi)
Publisher : Universitas Pendidikan Muhammadiyah Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36232/jurnalpetisi.v7i3.3878

Abstract

Tingginya praktik swamedikasi di masyarakat memerlukan media edukasi yang mampu menyediakan informasi obat dan penyakit secara akurat, mudah diakses, dan mendukung penggunaan obat yang rasional. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan dan mengevaluasi kelayakan aplikasi E-Farmasi berbasis Android sebagai media edukasi swamedikasi dan sumber informasi kefarmasian bagi masyarakat. Penelitian ini menggunakan metode Research and Development (R&D) dengan pendekatan Mobile Application Development Life Cycle (MADLC). Evaluasi aplikasi dilakukan melalui black box testing, uji coba kepada 30 responden masyarakat umum, serta expert judgment oleh 3 orang ahli untuk menilai aspek teknis, kemudahan penggunaan, dan kelayakan konten. Hasil black box testing menunjukkan seluruh fitur aplikasi berjalan sesuai spesifikasi dengan tingkat keberhasilan 100%. Uji coba terhadap 30 responden juga menunjukkan seluruh aspek yang dinilai memperoleh tingkat keberhasilan 100%, meliputi kemudahan instalasi, proses login, navigasi, penyajian informasi penyakit, panduan swamedikasi, serta kemudahan memperoleh informasi obat dan penyakit. Hasil expert judgment memperlihatkan bahwa seluruh aspek teknis, tampilan antarmuka, navigasi, akurasi informasi, fungsi pencarian, dan kelayakan aplikasi memperoleh penilaian 100% layak dari seluruh ahli. Temuan ini menunjukkan bahwa aplikasi mampu memberikan informasi kefarmasian yang mudah dipahami dan mendukung praktik swamedikasi yang lebih aman. Aplikasi E-Farmasi berbasis Android memiliki fungsionalitas yang sangat baik, mudah digunakan, dan dinilai layak oleh pengguna maupun tim ahli sebagai media edukasi dan informasi kefarmasian.
Penetapan Kadar Niacinamide Pada Seru Wajah Menggunakan Spektrofotometri UV-Vis Sri Anggy Ramadani; Dewi Lidiawati; Iskandar Iskandar
Jurnal Ilmiah Manusia Dan Kesehatan Vol. 9 No. 3 (2026): Jurnal Ilmiah MANUSIA DAN KESEHATAN
Publisher : FAKULTAS ILMU KESEHATAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PAREPARE

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31850/makes.v9i3.4554

Abstract

Niacinamide merupakan bentuk tengahda dari vitamin B3 yang banyak digunakan dalam produk serum wajah karena mampu mencerahkan kulit, mengurangi hiperpigmentasi, serta memperkuat fungsi barier kulit. Semakin banyaknya produk serum yang beredar di pasaran membuat penting untuk memastikan kesesuaian kadar niacinamide pada label dengan kadar sebenarnya, karena overclaim kadar bahan aktif dapat merugikan konsumen serta mempengaruhi efektivitas dan keamanan produk. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan kadar niacinamide pada tiga merek serum wajah yang berlabel 10% niacinamide serta mengetahui tidaknya perbedaan antara kadar yang diukur dengan kadar yang diklaim pada label. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental kuantitatif menggunakan metode spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 262 nm. Kurva kalibrasi dibuat dari larutan standar niacinamide dengan konsentrasi 10, 20, 30, 40, dan 50 ppm, sedangkan sampel serum dipreparasi melalui ekstraksi dengan metanol, pengendapan, penyaringan, dan pengenceran 100 kali sebelum diukur serapannya. Kurva kalibrasi menghasilkan persamaan regresi linier y = 0,0283x − 0,0017 dengan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,9942 yang menunjukkan linearitas baik. Hasil pengukuran menunjukkan kadar niacinamide sebesar 4,02% pada Serum A, 4,9% pada Serum B, dan 4,22% pada Serum C, yang seluruhnya lebih rendah dibandingkan kadar 10% yang tercantum pada label. Serum B memiliki kadar tertinggi, sedangkan Serum A memiliki kadar terendah. Hasil ini menunjukkan bahwa kadar niacinamide pada sampel ketiga tidak sesuai dengan label klaim. Dapat disimpulkan bahwa terdapat ketidaksesuaian antara kadar niacinamide aktual dan kadar yang tercantum pada label produk serum wajah komersial, sehingga diperlukan pengawasan mutu dan verifikasi label yang lebih ketat pada produk kosmetik.