Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

PENGEMBANGAN BUSANA CASUAL UNTUK IBU MENYUSUI Ulya, Rahmatul; ., Novita; ., Nurbaiti
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 8, No 2 (2023): MEI 2023
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24815/jimpkk.v8i2.25099

Abstract

Mengembangkan busana casual khusus untuk ibu menyusui dilakukan agar memudahkan saat ibu menyusui berada di tempat umum ketika akan memberikan ASI tanpa ada kekhawatiran, busana dikembangakan dengan desain yang tetap modis dan memiliki fungsi mempermudah saat ingin ibu menyusui. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain dan membuat busana casual untuk ibu menyusui serta , mengetahui tanggapan ibu menyusui mengenai busana busana tersebut. Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian Research and Development atau penelitian dan pengembangan dengan model PPE (Planing, Production and Evaluation) dengan pendekatan kuantitatif dengan melibatkan 25 orang responden yang merupakan ibu dalam masa menyusui. Data dikumpulkan menggunakan instrumen penelitian berupa kuesioner dan dianalisis dengan teknik analisis deskriptif kuantitatif. Adapun hasil penelitian ini yaitu: 1) Desain busana casual untuk ibu menyusui dibuat sesuai dengan pemasalahan dan kebutuhan bagi ibu menyusui serta kesesuaian dengan busana casual yang sedang populer. 2) Hasil produk pengembangan busana casual memiliki banyak tampilan dengan model 1 dan 2, masing-masing model memiliki 6 tampilan yang dapat disesuaikan dengan keinginan penggunanya. 3) Tanggapan responden terhadap hasil produk pengembangan busana casual. Tanggapan mengenai model desain tampilan dengan presentase dominan sangat suka terhadap tampilan 1 (68%) dan 3 (68%), kesesuaian model dengan kegiatan sangat suka terhadap tampilan 9 (76%), sesuai kriteria busana dominan sangat suka terhadap tampilan 4, 5 dan 10 (64%), kecocokan jenis bahan dominan sangat suka terhadap tampilan 9 (72%), kerapian dominan sangat suka terhadap tampilan 6, 10 dan 11 (72%), mengenai hasil pengembangan sangat suka terhadap tampilan 11 (76%), menyukai tampilan produk dominan suka terhadap tampilan 3 (76%), menyukai produk dominan sangat suka terhadap tampilan 5 (76%), warna dan motif dominan sangat suka terhadap tampilan 9 dan 10 (72%). Berdasarkan hasil produk busana casual untuk ibu menyusui busana ini dapat digunakan dan disukai oleh ibu menyusui. Saran peneliti pemilihan model, bahan dan warna dapat disesuaikan dengan kesempatan yang diinginkan.Kata kunci: Pengembangan Busana, Busana Casual, Ibu Menyusui
IDENTIFIKASI RAGAM HIAS TRADISIONAL ACEH BESAR Raehana, Rina; ., Fitriana; ., Novita
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 6, No 2 (2021): MEI
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ragam hias Aceh Besar merupakan motif peninggalan di masa peradabannya. Seiring perkembangan zaman, banyak motif yang sudah jarang diterapkan dan sangat sedikit yang mengetahui dan memahami makna motif. Adanya pengelompokkan motif menjadi lebih mudah dalam mengenal simbol pada motif. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi ragam hias tradisional Aceh Besar dan menjelaskan makna simbolis dari ragam hias tradisional Aceh Besar. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan subjek penelitian empat responden, dua orang yang mengetahui filosofi dari motif Aceh Besar, satu orang yang mengetahui motif pada tenun songket dan satu orang yang mengetahui motif pada rumah Aceh. Teknik pengumpulan data diperoleh melalui studi kepustakaan, observasi, wawancara dan dokumentasi. Pengolahan data berupa lembar pedoman wawancara yang disesuaikan dengan kepentingan dari tujuan penelitian. Hasil penelitian menunjukkan identifikasi ragam hias motif Aceh Besar yaitu motif flora terdiri dari, motif Pucok Reubong, Bungong Keupula, Bungong Jeumpa, Bungong Seulanga, Bungong Meulu, Oun Ranub, Oun Labu, Oun Muroung, Oun Ubi, Oun Paku, Boh Aneuh. Motif fauna yaitu motif Gigo Darut, Sisik Naga, Sisik Uleu, Bungong Aneuk Abiek, Bungong Ek Leuek. Motif cosmos/alam yaitu motif Awan Meucanek, Bulan Bintang. Makna simbolis motif mengandung arti yang dapat diterapkan dalam kehidupan, seperti motif Pinto Aceh memiliki makna keterbukaan masyarakat Aceh dalam menerima pendatang yang berkunjung ke Aceh.Kata kunci: Ragam Hias, Aceh Besar, Songket, Rumah Aceh.
PENGARUH PERKEMBANGAN MODE BUSANA BAGI REMA PUTRI Mardhiah, Ainul; ., Fadhilah; ., Novita
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 5, No 1 (2020): FEBRUARI
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mode busana adalah gaya dalam memperlakukan atau membuat sesuatu tentang busana agar dapat diterima dan diikuti oleh masyarakat luas pada tempat tertentu. Mengangkat tentang faktor-faktor yang mempengaruhi mode busana di kalangan remaja putri. Dampak yanga ditimbulkan pada remaja putri dengan adanya perkembangan mode busana. Perkembangan mode busana tanpa disadari akan mempengaruhi gaya berbusana dikalangan remaja putri, terbukti dengan banyaknya remaja putri saat ini lebih menggunakan busana dengan jenis skinny jeans, blouse, semi sweater, denim, varsity jacket, sneaker serta hijab ala street perkembangan mode Oleh karena itu peneliti ingin mengkaji lebih mendalam melalui suatu penelitian tentang pengaruh perkembangan mode busana bagi remaja putri. Secara khusus penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan mode busana di kalangan remaja putri. mengetahui dampak yang ditimbulkan pada remaja putri dengan adanya perkembangan mode busana. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Data dikumpulkan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan reduksi data, penyajian data, penarikan kesimpulan, dan triaguliasi data. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor yang mempengaruhi dalam berbusana yaitu keinginan pribadi karena merasa nyaman dengan busana yang digunakan, lingkungan disekitar, pergaulan dengan teaman-teman yang menyebabkan memakai busana tersebut. Dampak yang ditimbulkan yaitu ada yang positif dan ada yang negatif yang dimaksud dengan positif adalah remaja putri banyak yang mengikuti perkembangan mode busana sedangkan yang negatif remaja putri dengan mengikuti perkembangan mode busana remaja putri tidak mengunakan busana sesuai dengan Syariat Islam. Disimpulkan bahwa remaja putri lebih mengutamakan kenyamanan dalam berbusana daripada etika berbusana dan mengakibatkan tingkat kesopanan dalam bebusana menjadi kurang diperhatiakn, sekalipun remaja putri menyadari bawah busana yang digunakan tidak memenuhi Syariat Islam.Kata Kunci: Perkembangan, Mode Busana, Remaja Putri
MAKNA SIMBOLIS RAGAM HIAS TRADISIONAL PADA RUMAH ADAT KABUPATEN ACEH SELATAN DI PKA RATU SAFIATUDDIN Sahputra, M. Andika; ., Fitriana; ., Novita
Jurnal Ilmiah Mahasiswa Pendidikan Kesejahteraan Keluarga Vol 3, No 3 (2018): AGUSTUS
Publisher : Universitas Syiah Kuala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ragam hias tradisional yang terdapat pada anjungan Aceh Selatan dan mengetahui arti dari masing-masing ragam hias tradisional yang terdapat di anjungan Aceh Selatan di Taman Ratu Safiatuddin. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan enam subjek penelitian yang terdiri dari dua tokoh adat di Kecamatan Tapak Tuan dan Kecamatan Menggammat, pengurus Dekranas Aceh Selatan dan tiga penjaga rumah adat Aceh Selatan di Taman Ratu Safiatuddin. Pengumpulan data melalui observasi, wawancara dan dukumentasi. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa ragam hias yang terdapat pada rumah adat Aceh Selatan di Taman Ratu Safituddin merupakan perwakilan dari tiga suku yaitu suku Aceh (ragam hias bungong jeumpa, bungong silimeng, bungong meulu, awan mecanek), suku Aneuk Jamee(ragam hias buah pala, lok talo, daun teratai, bungong lawang, aka memanjek, dan naga baralih, dan Suku Klut terdiri dari ragam hias bulung nilam, bulung cabai, bulung terkei, kalok paku, payung panji, dan ragam hias tombak raja. Makna simbolis memiliki nilai penting yang dapat diterapkan dalam keseharian baik dari suku dan kebudayaannya bagi kehidupan. Pada setiap ragam hias memiliki nasehat- nasehat yang baik untuk dipahami. Diharapkan agar generasi muda mengetahui mengenai adat dan budaya mereka sendiri sehingga tetap terjaga dan tidak terlupakan oleh perkembangan zaman.
MASJID RAYA SINTANG ., Novita
Jurnal Teknik Sipil Vol 13, No 2 (2013): Edisi Desember 2013
Publisher : Fakultas Teknik Universitas Tanjungpura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26418/jtst.v13i2.2355

Abstract

Secara etimologi, kata masjid berasal daribahasa Arab yaitu sajada, yangartinya tempat sujud. Kemudian kata sajadamendapatkan awalan ma- sehinggaterbentuklah kata masjid. Menurut arti katanya, fungsi masjid yang utama adalahsebagai tempat sujud. Secara luas, masjid dapat diartikan sebagai tempat bagiorang Islam untuk mengabdikan diri dan melakukan segala aktivitas yangmengandung makna kepatuhan kepada Tuhan. Berdasarkan musyawarah masjid DKIJakarta, masjid raya yaitu tingkatan masjid terbesar yang ada di suatu provinsi(Susanta, dkk, 2007). Menurut Dr. Ir. Soegijanto (Effendi, 2008), melaluipenelitian kinerja akustik di Indonesia sesuai dengan fungsi dan dimensinya, masjidraya yaitu masjid yang mempunyai skala kota. Dengan adanya masjid yang besarini tentunya membutuhkan energi yang besar pula untuk pemenuhan penghawaannya.Salah satu esensi bangunan masjid ialah terciptanya suasana khusyu’ dalamberibadah, karena masjid yang dibangun cukup besar dan daya tampung jamaah yangramai sehingga membutuhkan penghawaan yang cukup berupa penghawaan secara alamipada bangunan.Kata-kata kunci:      masjidraya, penghawaan alami