Claim Missing Document
Check
Articles

REGULASI EMOSI MAHASISWA UNIVERSITS BUANA PERUANGAN (UBP) DALAM PEMBELAJARAN DARING PADA MASA PANDEMI COVID 19 Dinda Aisha
Psikologi Prima Vol. 4 No. 2 (2021): Psikologi Prima
Publisher : unprimdn.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/psychoprima.v4i2.2252

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran regulasi emosi pada mahasiswa selama proses pembelajaran daring di Universitas Buana Perjuangan Karawang. Subjek penelitian ini berjumlah 118 mahasiswa Angkatan 2020 yang masih aktif berkuliah di Universitas Buana Perjuangan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa kuesioner. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 76% respon dari partisipan menunjukkan Skor Cognitive Reappraisal > Skor Expressive Suppression. Hasil ini menunjukkan bahwa 76% partisipan meregulasi emosi mereka khususnya selama proses pembelajaran daring dengan menggunakan strategi Cognitive Reappraisal, yang berarti partisipan lebih condong untuk mengubah pemaknaan akan suatu situasi agar mengurangi emosi negatif yang muncul dibandingkan untuk mengekspresikan emosi tersebut. Dapat disimpulkan bahwa 76% partisipan lebih memilih meregulasi emosi mereka dengan cara mengubah cara berpikir akan suatu situasi yang memunculkan emosi negatif. Partisipan juga akan mengubah cara berpikir akan suatu situasi apabila ingin merasakan emosi yang lebih positif. Mereka cenderung kurang dapat mengekspresikan emosi baik emosi negatif maupun emosi positif.
PENGARUH RESILIENSI DAN POLA ASUH OTORITATIF TERHADAP STRES AKADEMIK PADA SISWA DI KARAWANG BARAT Lydia Putri Afandi; Dinda Aisha; Cempaka Putrie Dimala
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 2 No. 3 (2022): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v2i3.677

Abstract

Masa transisi pembelajaran dari online ke offline yang dialami siswa SMA di Karawang Barat setelah 2 tahun belajar dari rumah karena pandemi Covid19, membuat munculnya beberapa masalah yang terjadi salah satunya yaitu ekspektasi akademik baik dari orang tua, guru, serta lingkungan. Hal tersebut menimbulkan stres akademik bagi siswa, sehingga dibutuhkannya kemampuan untuk beradaptasi yang dinamakan resiliensi dan pola asuh yang dinilai paling efektif untuk mengatasi hal tersebut yaitu pola asuh otoritatif. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pengaruh resiliensi dan pola asuh otoritatif terhadap stres akademik pada siswa di Karawang Barat. Populasi penelitian ini adalah siswa di Karawang Barat sebanyak 106 partisipan. Penelitian ini menggunakan metode kuantitaif. Teknik sampel yang digunakan adalah non-probality sampling dengan teknik purposive sampling. Hasil uji hipotesis Ha₁ diterima H₀₁ ditolak dengan nilai Sig. 0,015 < 0,05, Ha₂ ditolak H₀₂ diterima dengan nilai Sig. 0,012 > 0,05, dan Ha₃ diterima H₀₃ ditolak dengan nilai Sig. 0,002 < 0,05 yang berarti terdapat pengaruh resiliensi dan pola asuh otoritatif terhadap stres akademik sebesar R² = 11,1% dan sisanya 88,9% lainnya dipengaruhi oleh variabel dan faktor lain he changing learning methods from online to offline experienced by high school students in West Karawang after 2 years of studying from home due to the Covid-19 pandemic caused several problems, one of that was academic expectations from parents, teachers, and the environment. This causes academic stress for students. The ability to adapt is called resilience and the parenting pattern that is considered the most effective to overcome this is the authoritative parenting style. The purpose of this study was to determine the effect of resilience and authoritative parenting on academic stress in students in West Karawang. The population of this study was 106 students where this study used quantitative methods with non-probability sampling methods and purposive sampling techniques. The results is Ha₁ hypothesis are accepted, H is rejected with a Sig value. 0.015 < 0.05, Ha₂ rejected H₀₂ accepted with a value of Sig. 0.012 > 0.05, and Ha₃ is accepted, H is rejected with a Sig value. 0.002 <0.05, which means there is an effect of resilience and authoritative parenting on academic stress of R² = 11.1% and the remaining 88.9% is influenced by other variables
PERAN DUKUNGAN SOSIAL DAN OPTIMISME TERHADAP SCHOOL WELL BEING PADA REMAJA Nita Rohayati; Cempaka Putrie Dimala; Dinda Aisha
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol 8 No 1 (2023): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psychopedia.v8i1.5545

Abstract

The emergence of the concept of school well-being provides a reference to the ideal school concept that is able to promote the well-being of its students. However, implementing this concept is not easy. School well-being is the subjective assessment by students of how their school meets their basic needs. These basic needs dimensions include having, loving, being, and health. Incorporating perceived social support and optimism into school well-being is a positive action. This study aims to examine the simultaneous role of perceived social support and optimism on school well-being among adolescents. The population of this study consisted of adolescents in the city of Karawang, with a sample of 203 individuals. The sampling technique used was quota sampling. The data in this study were analyzed using multiple linear regression. The results of this study indicate that the relationship between perceived social support, optimism, and school well-being is found to be significant with a significance value of 0.000. R-square value is 0.235, meaning that 23.5% of the variation in school well-being is influenced by perceived social support and optimism, while the remaining 76.5% is due to other unmeasured variables in this study. Keywords: Adolescents, optimism, perceived social support, school well-being Hadirnya konsep school well-being memberikan referensi mengenai konsep sekolah ideal yang mampu menyejahterakan siswanya. Namun demikian untuk mengimplementasikan konsep tersebut tidaklah mudah. School well-being ialah penilaian yang berisifat subjektif oleh siswa terhadap bagaimana sekolahnya yang akan memenuhi kebutuhan dasarnya. Dimensi kebutuhan dasar tersebut ialah having, loving, being, dan health. Memasukkan dukungan sosial dan optimisme ke dalam school well-being merupakan tindakan positif. Penelitian ini bertujuan untuk menguji peran simultan dukungan sosial dan optimismee terhadap school well-being pada remaja. Populasi dalam penelitian ini merupakan remaja di kota Karawang dengan sampel sebanyak 203 orang. Adapun teknik pengambilan sampel adalah dengan metode quota sampling. Data dianalisis dengan menggunakan Regresi linier berganda. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dukungan sosial dan optimisme berpengaruh terhadap school well-being dengan nilai signifikansi sebesar 0,000 < 0,05. Nilai Rsquare sebesar 0,235; artinya sebesar 23,5% variasi pada school well being dipengaruhi oleh dukungan sosial dan optimisme, sisanya sebesar 76,5% disebabkan oleh variabel lain yang tidak diukur dalam penelitian ini. Kata Kunci: Dukungan social, optimisme, remaja, school well-being
Emotional Maturity with Hate Speech Behavior in Late Adolescents Eka Mardia; Dinda Aisha; Cempaka Putrie Dimala
Psikoborneo: Jurnal Ilmiah Psikologi Vol 11, No 2 (2023): Volume 11, Issue 2, Juni 2023
Publisher : Program Studi Psikologi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/psikoborneo.v11i2.11821

Abstract

Hate speech behavior is now common, as seen from the rise of individuals who use abusive language or swear words that are actually inappropriate to say and do when interacting with others. This can certainly affect individual behavior, especially late adolescents and can trigger the development of new languages and negative behaviors such as hate speech. One of the factors influencing hate speech behavior is emotional maturity. This study aims to see the influence of emotional maturity on hate speech behavior in late adolescents in Karawang. The method used is a quantitative approach. The measuring tools used are the hate speech scale and the emotional maturity scale. The sample of this study amounted to 302 respondents. The sampling technique uses non-probability techniques with snowball sampling techniques. Data analysis techniques in this study use normality tests, linearity tests, hypothesis tests with simple regression analysis, determination coefficient tests and categorization tests. The results in this study showed that the emotional maturity variable had a regression coefficient value of -0.434 with a significance of 0.000 < 0.05 which means that emotional maturity has a negative and significant effect on the value of hate speech. It is known that the variable of emotional maturity has a contribution of (4.4%) to influence hate speech behavior in late adolescents in Karawang. The rest (95.6%) were influenced by other variables not studied in the study. The implications obtained in this study are expected to provide information to adolescents to be more able to contribute practically by honing the ability to control emotions and be able to adapt to the sausage environment in order to avoid negative behaviors such as hate speech.Perilaku ujaran kebencian saat ini sudah sering terjadi, terlihat dari maraknya individu yang menggunakan bahasa kasar atau umpatan kata yang sebenarnya tidak pantas diucapkan dan dilakukan ketika sedang berinteraksi dengan orang lain. Hal tersebut tentunya dapat berpengaruh terhadap perilaku individu khususnya para remaja akhir dan dapat memicu berkembangnya bahasa baru serta perilaku negatif seperti ujaran kebencian. Salah satu faktor yang memengaruhi perilaku ujaran kebencian adalah kematangan emosi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat pengaruh kematangan emosi terhadap perilaku ujaran kebencian pada remaja akhir di Karawang. Metode yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif. Alat ukur yang digunakan adalah skala ujaran kebencian dan skala kematangan emosi. Sampel penelitian ini berjumlah 302 responden. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik non-probabilitas dengan teknik snowball sampling. Teknik analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji normalitas, uji linearitas, uji hipotesis dengan analisis regresi sederhana, uji koefisien determinasi dan uji kategorisasi. Hasil dalam penelitian ini menunjukkan variabel kematangan emosi memiliki nilai koefisien regresi sebesar -0,434 dengan signifikansi 0,000 < 0,05 yang berarti bahwa kematangan emosi berpengaruh negatif dan signifikan terhadap nilai ujaran kebencian. Diketahui bahwa variabel kematangan emosi memiliki kontribusi sebesar (4,4%) untuk memengaruhi perilaku ujaran kebencian pada remaja akhir di Karawang. Sisanya (95,6%) dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Implikasi yang didapat dalam penelitian ini yaitu diharapkan dapat memberikan informasi kepada remaja untuk lebih dapat berkontribusi secara praktis dengan mengasah kemampuan dalam mengontrol emosi dan mampu beradaptasi dengan lingkungan sosisal agar dapat menghindari diri dari perilaku negatif seperti ujaran kebencian.
Peran Parental Involvement Terhadap Juvenile Delinquency Pada Remaja di Karawang Dinda Aisha; Eka Mardia; P. Rahayu Utami Rahman
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 7 No. 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dewasa ini seringkali kita mendengarkan, melihat atau bahkan menyaksikan langsung tindakan pelanggaran normal sosial atau masyarakat yang dilakukan oleh remaja. Sebagai contoh perilaku tawuran antar pelajar dengan membawa senjata tajam, kekerasan seksual yang dilakukan oleh remaja, penganiayaan pada teman yang divideokan, perilaku perundungan, ujaran kebencian, dan lain sebagainya. Kejadian ini semakin miris karena dilakukan oleh remaja, yg masih tergolong anak-anak. Penelitian ini bertujuan untuk melihat bagaimana peran parental involvement terhadap juvenile delinquency pada remaja di Karawang. Populasi dari penelitian ini adalah remaja di Karawang. Pengambilan data menggunakan 2 skala yaitu Skala Parental Involvement Rating Scale (PIRS) dan Skala Subtypes of Antisocial Behavior Questionnaire (SABQ). Hipotesis dari penelitian ini adalah semakin tinggi tingkat parental involvement maka semakin rendah tingkat juvenile delinquency. Hasil pada penelitian ini menunjukkan hipotesis diterima dengan nilai signifikansi 0,005 dan dengan arah negatif atau dapat dikatakan bahwa parental involvement berpengaruh negatif dan signifikan terhadap juvenile delinquency. Kontribusi pengaruhnya sebesar 7,5% dipengaruhi oleh faktor parental involvement.
PENGARUH SELF-EFFICACY TERHADAP RESILIENSI MAHASISWA LULUSAN TAHUN AKADEMIK 2021/2022 DI KABUPATEN KARAWANG Tantia Yuliandina; Dinda Aisha; Cempaka Putrie Dimala
Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol. 3 No. 2 (2023): Empowerment Jurnal Mahasiswa Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/empowerment.v3i2.859

Abstract

Mahasiswa yang baru lulus dihadapkan pada suatu tantangan baru, di mana individu perlu bersaing satu sama lain untuk mendapatkan pekerjaan. Dalam usaha mencari pekerjaan, mahasiswa lulusan baru dihadapkan pada berbagai tantangan dan kesulitan yang memberikan dampak kurang baik bagi individu, sehingga diperlukan penyesuaian diri bagi individu untuk mampu mengatasi dampak-dampak tersebut, hal ini dikenal dengan istilah resiliensi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh self-efficacy terhadap resiliensi pada mahasiswa lulusan tahun akademik 2021/2022 di Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan skala psikologi melalui alat ukur The ConnorDavidson Resilience Scale (CD-RISC) oleh Yu & Zhang (2007) dan The General Self-Efficacy Scale (GSES-12) oleh Bosscher & Smit (1998) dengan melibatkan 112 responden. Hasil analisis menunjukkan nilai signifikansi 0.000 < 0.05, maka Ha diterima dan H0 ditolak, sehingga diketahui terdapat penngaruh self-efficacy terhadap resiliensi pada mahasiswa lulusan tahun akademik 2021/2022 di Kabupaten Karawang. Berdasarkan hasil uji koefisien determinasi, diketahui bahwa pengaruh self-efficacy terhadap resiliensi mahasiswa lulusan tahun akademik 2021/2022 di Kabupaten Karawang adalah sebanyak 15.8% dan 84.2% dipengaruhi oleh faktor lain yang tidak termasuk variabel dalam penelitian ini. Newly graduated students are faced with a new challenge, where individuals need to compete with each other for jobs. In an effort to find a job, fresh graduate students are faced with various challenges and difficulties that have an adverse impact on individuals, so that individual adjustments are needed to be able to overcome these impacts, this is known as resilience. The purpose of this study was to determine the effect of self-efficacy on resilience in graduate students in the 2021/2022 academic year in Karawang Regency. This study uses a quantitative method with a psychological scale using The Connor-Davidson Resilience Scale (CD-RISC) by Yu & Zhang (2007) and The General Self-Efficacy Scale (GSES-12) by Bosscher & Smit (1998) involving 112 respondents.The results of the analysis show a significance value of 0.000 < 0.05, then Ha is accepted and H0 is rejected, so it is known that there is an influence of self-efficacy on resilience in students graduating from the 2021/2022 academic year in Karawang Regency. Based on the results of the coefficient of determination test, it is known that the effect of self-efficacy on the resilience of students graduating from the academic year 2021/2022 in Karawang Regency is 15.8% and 84.2% is influenced by other factors that are not included in the variables in this study.
Pengaruh Kontrol Sosial Terhadap Perilaku Ujaran Kebencian pada Remaja Akhir di Karawang Hasan Maulana; Dinda Aisha; Wina Lova Riza
Innovative: Journal Of Social Science Research Vol. 3 No. 4 (2023): Innovative: Journal Of Social Science Research
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/innovative.v3i4.4727

Abstract

Tujuan dari penelitian ini adalah untuk melihat bagaimana kontrol sosial mempengaruhi perilaku ujaran kebencian di kalangan remaja akhir di Karawang. Penelitian ini menggunakan teknik kuantitatif dengan desain penelitian kausal. Populasi terdiri dari remaja akhir yang berusia antara 18 hingga 21 tahun, baik pria maupun wanita, yang tinggal di Karawang. Snowball sampling digunakan dalam prosedur pengambilan sampel. Rumus Lemeshow digunakan untuk menghitung jumlah sampel dengan total 200 responden. Skala ujaran kebencian menggunakan aspek-aspek dari Parekh, yaitu diarahkan pada individu atau kelompok tertentu, menciptakan stigma, dan mengarakan pada diskriminasi. Skala kontrol sosial menggunakan aspek-aspek dari Hirschi yaitu commitment, attachment, involvement, belief. Uji regresi linier sederhana menghasilkan signifikansi 0.000, maka Ha diterima yaitu ada pengaruh kontrol sosial terhadap perilaku ujaran kebencian. Besarnya pengaruh variabel kontrol sosial terhadap variabel ujaran kebencian adalah sebanding dengan 32,3% dan memiliki arah hubungan yang negatif dimana semakin rendah kontrol sosial, maka semakin besar pula perilaku ujaran kebencian pada remaja akhir di Karawang, begitupun sebaliknya.
Pengaruh Optimism Terhadap Body Image Remaja Putri Pengguna Produk Kecantikan Di Karawang Aisyah, Edytia Prameswari; Simatupang, Marhisar; Aisha, Dinda
Psikologi Prima Vol. 6 No. 2 (2023): Psikologi Prima
Publisher : unprimdn.ac.id

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.34012/psychoprima.v6i2.3894

Abstract

In adolescence there are physical changes, such as rapid growth and increase in height, weight, hormonal changes, sexual maturity and increased function of the brain structure. This is a problem that is still felt especially by young women because these teenagers are starting to pay attention to and take an attitude towards their body and appearance. This can be seen from the beauty and body care products from the latest brands and the emergence of beauty and body care products specifically aimed at "teens" or young women, meaning that young women make an effort to take care of their bodies. Efforts to take care of this body certainly affect how teenagers judge or perceive their bodies, this is called body image. One of the factors forming body image is optimism. Optimism is a comprehensive view, in seeing good things, being able to think positively, and easily giving meaning to oneself. This research was conducted to find out whether there is an effect of optimism on body image in young women in Karawang Regency. The hypothesis put forward is that there is an effect of optimism on body image with the assumption that the higher the optimism, the more positive the body image the individual has. The research method used by researchers is a quantitative research method with a sample of 100 young women living in Karawang, data analysis techniques used by researchers are normality test, linearity test, hypothesis test (simple linear regression test), coefficient of determination test and categorization test with the help of SPSS 25.0 software for Windows. The results of this study's data analysis show that there is an influence of optimism on body image in young women in Karawang with a Sig value of 0.003 (p <0.05).
TINGKAT STRES PENGASUHAN PADA IBU DI DESA WALUYA KABUPATEN KARAWANG Aisha, Dinda; Aska, Winda Utari
CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa dan Pendidikan Vol. 2 No. 2 (2022): CENDEKIA: Jurnal Ilmu Sosial, Bahasa dan Pendidikan
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (639.228 KB) | DOI: 10.55606/cendikia.v2i2.309

Abstract

Kekerasan pada anak semakin tahun semakin meningkat datanya. Jika dilihat dari laman resmi KemenPPA, pada tahun 2022 terdapat 1,714 kasus yang dilaporkan mengenai kekerasan anak yang dilakukan oleh orang tua kandung anak tersebut. Kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tua dapat terjadi karena niat melakukan disiplin yang keliru, hukuman yang diberikan karena perilaku yang kurang tepat dari anak atau karena orang tua tidak mampu meregulasi diri dan stres. Stres pengasuhan dapat berdampak pada kondisi psikologis orang tua, konflik dengan pasangan, cara mengasuh dan interaksi antara orang tua dan anak. Jika dilihat dari fenomena tersebut, salah satu upaya dalam pencegahan kekerasan pada anak yang dilakukan oleh orang tua adalah dengan meminimalisir atau mengelola stres pengasuhan yang dimiliki oleh orang tua. Sehingga peneliti tertarik untuk melihat bagaimana tingkat stres pengasuhan pada ibu di Dewa Waluya, Kecamatan Kutawaluya, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. Penelitian ini dilakukan pada 31 responden yaitu ibu yang memiliki anak yang berdomisili di Desa Waluya. Teknik pengumpulan data menggunakan The Parental Stress Scale (PSS) yang dikembangkan oleh Berry & Jones. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 83,9% responden memiliki tingkat stres pengasuhan yang rendah dan 16,1% dengan tingkat stres pengasuhan sedang. Tidak ditemukan responden yang memiliki tingkat stres pengasuhan yang tinggi.
GAMBARAN PARENTAL STRESS PADA IBU DI KABUPATEN KARAWANG Dinda Aisha; Puspa Rahayu Utami Rahman; Eka Mardia; Kurnia Pratiwi
PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang Vol 8 No 2 (2023): PSYCHOPEDIA : Jurnal Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang
Publisher : Fakultas Psikologi Universitas Buana Perjuangan Karawang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36805/psychopedia.v8i2.6118

Abstract

Dewasa ini, kekerasan pada anak semakin marak dan salah satu pelakunya orang terdekat, salah satunya adalah orang tua. Bentuk kekerasan dapat berupa kekerasan fisik, verbal, bahkan kekerasan psikologis. Kekerasan pada anak berdampak negatif bagi perkembangan anak serta bersifat jangka panjang. Dampak kekerasan pada anak antara lain anak menjadi tidak optimal, menurunkan prestasi di sekolah, tidak percaya diri, memiliki konsep diri yang buruk bahkan dapat menghambat dirinya untuk berkembang. Salah satu faktor yang memengaruhi orang tua khususnya ibu dalam melakukan kekerasan adalah karena tingginya tingkat parental stress. Parental stress diartikan sebagai suatu kondisi ketidaknyamanan atau kesulitan dalam menjalani peran sebagai orang tua. Biasanya kesulitan ini diakibatkan ketidakmampuan seorang ibu dalam menjalankan perannya sebagai orang tua karena tuntutan yang tinggi dari anak. Dampak yang diakibatkan dari terjadinya parental stress adalah orang tua dengan tingkat parental stress yang tinggi akan menunjukkan perilaku pengasuhan yang buruk, menggunakan disiplin yang kasar, menghukum secara fisik, kurang terlibat dalam pengasuhan anak dan memandang perannya sebagai orang tua dengan cara yang negatif. Sehingga akan berdampak pada perkembangan anak. Dengan fenomena dan penjelasan di atas, peneliti tertarik untuk meneliti gambaran parental stress pada ibu khususnya di Kabupaten Karawang. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data berupa skala Parental Stress yang dikembangkan oleh Berry & Jones (1995). Hasil dari penelitian ini adalah 80% dari total responden memiliki tingkat parental stresskategori rendah dan 20% sisanya memiliki tingkat parental stress dengan kategori sedang. Tidak ada responden memiliki tingkat parental stress dengan kategori tinggi. Jika ditinjau dari status pekerjaan, ibu yang bekerja memiliki kecenderungan memiliki tingkat parental stress yang lebih tinggi dibandingkan ibu tidak bekerja Nowadays, child abuse is increasingly widespread and one of the perpetrators is the closest person, one of whom is their parent. Forms of violence can be in the form of physical violence, verbal, and even psychological violence. Child abuse has a negative impact on children's development and has long term effect. The impact of child abuse includes children not being optimal, lowering achievement in school, lack of self-confidence, having poor self-concept that may hinder them from optimum development. One of the factors that influence parents, especially mothers, to commit abuse is the high level of parental stress. Parental stress is defined as a condition of discomfort or difficulty in carrying out the role of parent. Usuallythis difficulty is caused by the inability of a mother to carry out her role as a parent because of high demands and expectation. The impact that results from parental stress is that parents with high levels of parental stress will show bad parenting behavior, use harsh discipline, physically punish, be less involved in parenting and view their role as parents in a negative way. With the phenomena and explanations above, researchers interested to know more about parental stress on mothers, especially in Karawang Regency. This study used a descriptive quantitative method with data collection techniques in the form of the Parental Stress scale developed by Berry & Jones (1995). The results of this study were 80% of the total respondents had a low level of parental stress and the remaining 20% had a moderate level of parental stress. None of the respondents had a high level of parental stress. Working mothers tend to have higher levels of parental stress than non-working mothers.