Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSI DAN INTERAKSI TEMAN SEBAYA DENGAN PENYESUAIAN SOSIAL PADA SISWA KELAS VIII PROGRAM AKSELERASI DI SMP NEGERI 9 SURAKARTA Ahmad Asrori; Thulus Hidayat; Arista Adi Nugroho
Wacana Vol 2, No 1 (2010)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (110.896 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v2i1.56

Abstract

Sebagai makhluk sosial, pastilah membutuhkan kehadiran orang lain untuk menjalani hidupnya. Hal ini terkait dengan bagaimana seseorang melakukan interaksi, penyesuaian sosial dimana individu tersebut tinggal. Individu yang memiliki kecerdasan emosi yang baik akan mampu dan mudah untuk berhubungan dengan orang lain karena mampu berempati, memotivasi diri, serta mampu mengelola emosi orang lain. Faktor tinggi rendahnya kecerdasan emosi dan interaksi teman sebaya yang dimiliki oleh setiap individu khususnya para siswa berperan penting dalam keberhasilan penyesuaian sosialnya. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kecerdasan emosi dan interaksi teman sebaya dengan penyesuaian sosial, hubungan kecerdasan emosi dengan penyesuaian sosial, dan hubungan interaksi teman sebaya dengan penyesuaian sosial. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas VIII program akselerasi SMP Negeri 9 Surakarta yang  berjumlah 39 siswa. Karena sedikitnya populasi maka penelitian ini menggunakan semua populasi untuk penelitian. Metode analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi linier berganda dan korelasi Pearson Product moment dengan bantuan komputer program SPSS for MS windows versi 16. Berdasarkan analisisa data, diperoleh F regresi = 39,924 dengan p <0,05. Hal ini menunjukkan hasil yang signifikan, bahwa kecerdasan emosi dan interaksi teman sebaya secara bersama-sama memiliki hubungan yang signifikan dengan penyesuaian sosial. Hasil rx1y = 0,756 dengan p<0,05 berarti terdapat hubungan yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan penyesuaian sosial,  sedangkan rx2y = 0,769 dengan p<0,05 berarti terdapat hubungan yang signifikan antara interaksi teman sebaya dengan penyesuaian sosial. Adapun sumbangan efektif yang diberikan prediktor kecerdasan emosi dan interaksi teman sebaya terhadap penyesuaian sosial ditunjukkan dengan R = 0,692 atau 69,2 % artinya masih ada 30,8 % faktor lain yang mempengaruhi penyesuaian sosial sebesar 30,92 % dan interaksi teman sebaya sebesar 38,82 %. Subjek dalam penelitian ini pada umumnya memiliki kecerdasan emosi yang tinggi (mean empirik = 82,7 dan mean hipotetik = 62,5), mempunyai interaksi teman sebaya yang tinggi (mean empirik = 112,4 dan mean hipotetik = 85), dan mempunyai penyesuaian sosial yang tinggi (mean empirik = 119,5 dan mean hipotetik = 92,5)     Kata kunci : Kecerdasan emosi, interaksi teman sebaya, penyesuaian sosial.
Hubungan antara Materialisme dan Penghargaan terhadap Suami dengan Kepuasan Pernikahan pada Guru Profesional di Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar Rizki Setyasri Nugrahani; Machmuroch .; Arista Adi Nugroho
Wacana Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (442.713 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v10i1.122

Abstract

ABSTRAK   Peningkatan perceraian pada guru profesional di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar pascasertifikasi  salah  satunya  dikarenakan  pernikahan  yang  tidak  berhasil.  Pernikahan  yang  berhasil memiliki syarat salah satunya kepuasan pernikahan. Kepuasan pernikahan pada guru profesional di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar diantaranya dipengaruhi oleh materialisme dan penghargaan   terhadap   suami.   Tujuan   penelitian   ini   adalah   untuk   mengetahui   hubungan   antara materialisme dan penghargaan terhadap suami dengan kepuasan pernikahan, hubungan antara materialisme dengan kepuasan pernikahan, dan hubungan antara penghargaan terhadap suami dengan kepuasan pernikahan pada guru profesional di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar.   Populasi dalam penelitian ini  mencakup 362 guru di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar. Penelitian ini menggunakan cluster random sampling sehingga didapatkan responden sebanyak 100 guru. Instrumen yang digunakan adalah skala kepuasan pernikahan, skala materialisme, dan skala penghargaan terhadap suami. Hasil analisis regresi berganda menunjukkan nilai Fhitung sebesar 36,715 (> Ftabel 3,09) dengan sig. 0,000 (p < 0,05) dan nilai R = 0,656. Nilai R2  dalam penelitian ini sebesar 0,431 atau 43,1%, dimana sumbangan efektif materialisme sebesar 0,7% dan sumbangan efektif penghargaan terhadap suami sebesar 42,4%. Secara parsial, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara materialisme dengan kepuasan pernikahan (sig 0,778> 0,05), rx1y  = -0,029; serta terdapat hubungan yang signifikan antara penghargaan terhadap suami dengan kepuasan pernikahan (sig 0,000< 0,05), rx2y = 0,615.   Kesimpulan pada penelitian ini adalah terdapat hubungan antara materialisme dan penghargaan terhadap suami dengan kepuasan pernikahan, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara materialisme dengan kepuasan pernikahan, dan terdapat hubungan yang signifikan antara penghargaan terhadap suami dengan kepuasan pernikahan pada guru profesional di Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Karanganyar.   Kata kunci: materialisme, penghargaan terhadap suami, kepuasan pernikahan, guru profesional, karanganyar
Perbedaan Tingkat Akulturasi antara Mahasiswa Etnik Bali dan Mahasiswa Etnik Papua Ditinjau dari DukunganSosial di Universitas Sebelas Maret Surakarta Rahayan Sadhu Pramesti; Nugraha Arif Karyanta; Arista Adi Nugroho
Wacana Vol 9, No 2 (2017)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (92.809 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v9i2.111

Abstract

Perbedaan Tingkat Akulturasi antara Mahasiswa Etnik Bali dan Mahasiswa Etnik Papua Ditinjau dari DukunganSosial di Universitas Sebelas Maret Surakarta The Difference Of Acculturation Between Balinese and Papuan Students Observed from Social Support inSebelas Maret University Surakarta Rahayan Sadhu Pramesti, Nugraha Arif Karyanta, Arista Adi Nugroho Program Studi Psikologi Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret ABSTRAK Mahasiswa yang berasal dari etnik Bali dan mahasiswa yang berasal dari etnik papua yang berkuliah di Universitas Sebelas Maret Surakarta merupakan mahasiswa etnik minoritas. Mereka diharapkan mampu beradaptasi dengan lingkungan baru dimana etnik Jawa sebagai etnik mayoritas. Dalam membantu proses akulturasi, mahasiswa perantau memerlukan dukungan sosial dari orang-orang yang ada disekitarnya seperti, orang tua, komunitas etnik, teman kuliah dan masyarakat sekitar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan tingkat akulturasi antara mahasiswa etnik Bali dan etnik Papua di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Metode dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif komparatif. Responden penelitian berjumlah 72 mahasiswa, terdiri dari 37 mahasiswa etnik Bali dan 35 mahasiswa etnik Papua di Universitas Sebelas Maret Surakarta. Teknik pengambilan sampel dengan cara studi populasi. Alat pengumpul data menggunakan skala akulturasi yang merupakan adaptasi dari Suinn-Lew Asian Self-Identity Acculturation Scale (SL-ASIA) dengan indeks daya beda 0,516 – 0,896 dan reliabilitas 0,955; serta menggunakan skala dukungan sosial yang merupakan modifikasi dari aspek dukungan sosial Sarafino (1996), dengan indeks daya beda 0,304 – 0,637 dengan reliabilitas 0,880. Analisis menggunakan Two Way Anova. Hasil analisis Two Way Anova untuk akulturasi ditinjau dukungan sosial dari  diperoleh Fhit > Ftabel yaitu 8,300 > 3,14 maka hipotesis diterima, artinya terdapat perbedaan akulturasi antara mahasiswa etnik Bali dan mahasiswa etnik Papua ditinjau dari dukungan sosial. Mahasiswa etnik Bali memiliki nilai akulturasi dengan dukungan sosial yang lebih tinggi dibandingkan dengan mahasiswa etnik Papua. Hasil uji t-test untuk mahasiswa etnik Bali dan mahasiswa etnik Papua diperoleh t tabel = 2,0003 sehingga thitung > ttabel (2,350 > 2,0003) maka hipotesis diterima, artinya terdapat perbedaan akulturasi pada mahasiswa etnik Bali dan mahasiswa etnik Papua. Mahasiswa etnik Bali memiliki tingat akulturasi yang lebih tinggi dibandingkan mahasiswa etnik Papua. Kata kunci: akulturasi, dukungan sosial, mahasiswa etnik Bali, mahasiswa etnik Papua.
KECENDERUNGAN MENYONTEK DALAM KAITANNYA DENGAN KEPERCAYAAN DIRI DAN MOTIVASI DIRI PADA PELAJAR SMK PGRI 1 PACITAN JAWA TIMUR Triyan Kurniasari Aryani; Thulus Hidayat; Arista Adi Nugroho
Wacana Vol 1, No 2 (2009)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (111.696 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v1i2.61

Abstract

Kecenderungan menyontek merupakan salah satu fenomena pendidikan yang sering dan bahkan selalu muncul menyertai aktivitas proses belajar mengajar sehari-hari. Hal ini terjadi karena proses imitasi dan akan terus terjadi secara turun-temurun jika tidak ada perhatian dan perbaikan terhadap sistem. Dalam hal ini, faktor tinggi rendahnya kepercayaan diri dan motivasi diri yang dimiliki oleh setiap individu khususnya para pelajar berperan penting dalam keberhasilan akademiknya. Individu dengan kepercayaan diri dan motivasi diri yang rendah dinilai memiliki kecenderungan menyontek lebih besar dibanding pelajar yang memiliki kepercayaan diri dan motivasi diri yang tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara kepercayaan diri dan motivasi diri dengan kecenderungan menyontek, hubungan kepercayaan diri dengan kecenderungan menyontek, dan hubungan motivasi diri dengan kecenderungan menyontek. Penelitian ini menggunakan populasi seluruh pelajar SMK PGRI I Pacitan Jawa Timur. Sampel berjumlah 90 pelajar. Teknik pengambilan sampelnya adalah cluster random sampling. Metode analisis data yang digunakan adalah teknik analisis regresi simultan dan korelasi Pearson Product moment dengan bantuan komputer program SPSS for MS windows versi 16. Berdasarkan perhitungan analisis data diperoleh hasil uji simultan p-value 0,002<0,05, artinya signifikan, sedangkan F hitung 6,583 > dari F tabel 3,09, artinya signifikan dengan koefisien determinasi (R²) sebesar 0,131 atau 13,1%. Hal ini menunjukkan bahwa hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini dapat diterima, yaitu kepercayaan diri dan motivasi diri secara bersama-sama memiliki hubungan signifikan pada kecenderungan menyontek para pelajar. Sedangkan untuk hubungan antara kepercayaan diri dengan kecenderungan menyontek diperoleh koefisien korelasi r sebesar -0,253 p<0,05, dan koefisien korelasi r sebesar -0,362 p<0,05 untuk hubungan antara motivasi diri dengan kecenderungan menyontek. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan negatif antara kepercayaan diri dengan kecenderungan menyontek dan terdapat hubungan negatif antara motivasi diri dengan kecenderungan menyontek. Adapun sumbangan efektif yang diberikan prediktor kepercayaan diri sebesar 0,88% dan motivasi diri sebesar 12,26%.     Kata kunci : Kepercayaan diri, motivasi diri, kecenderungan menyontek.
THE RELATIONSHIP OF THE ORGANIZATION CULTURAL PERCEPTION WITH EMPLOYEES PERFORMANCE OF PT AMERICAN INTERNATIONAL ASSURANCE (AIA) Diah Ayu Retno Savitri; Bagus Wicaksono; Arista Adi Nugroho
Wacana Vol 2, No 2 (2010)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (135.088 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v2i2.52

Abstract

In  Indonesia  today  a  lot  of  insurance   companies   both  foreign  insurance companies or local insurance companies. PT AIA Indonesia is one of the foreign insurance companies the biggest in Indonesia. Things to note is how the corporate culture is taken into account in working. Enterprise organizational culture is the common perception held by the members of corporate organizations. Positive perceptions of organizational culture can provide a significant influence on attitudes and performance. Successful or not efforts in achieving corporate goals or organization is also influenced by the level of employee performance. The purpose of this study is to determine the relationship of the organization cultural perception with employees performance of PT American International Assurance (AIA) Indonesia in Jakarta. Population numbered 408 people. Sample based on characteristics that have determined that between the ages of 30 to 40 years, working time ≥ 5 years and the daily work in the office. Sampling technique with the purposive sampling. Respondents used in this study as many as 60 employees, the research data obtained using a scale of organization cultural perception 49 aitem and scale performance consisting of 51 aitem. Testing research hypotheses using analysis of product-moment correlation is analyzed using SPSS for Windows Version 16.0. Based on the analysis results showed significant positive the relationship of the organization cultural perception with employees performance of PT American International Assurance (AIA) Indonesia, indicated by the value of the correlation coefficient rxy values of 0.634 and p-values in column sig. (2-tailed) 0.000 < 0.05 level of significant (α). Organization culture perceptions of the respondents were classified research, indicated by the empirical average of 96.17 and the hypothetical average of 122.5. Performance on the classified study's respondents, indicated by the empirical average of 118.62 and the hypothetical average of 127.5. Effective role or contribution of organization cultural perception with a performance of 40.2% is indicated by the value of the determinant coefficient (r2) of 0.402. This means that 59.8% there are still other variables that affect the performance of the employees of PT AIA Indonesia, such as leadership style, motivation, personality, and the application of information systems. Keywords: organization cultural perception, performance
Hubungan antara Kematangan Emosi dan Afeksi Ibu dengan Kemandirian Anak di 4 Taman Kanak-Kanak Kecamatan Pondok Aren, Tangerang Selatan, Banten Annisa Nadya Mursil; Sud Murti Karini; Arista Adi Nugroho
Wacana Vol 10, No 1 (2018)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.13057/wacana.v10i1.118

Abstract

ABSTRAK   Kemandirian    merupakan     salah    satu    faktor    mental    dasar    anak    yang    kuat mempengaruhi    pencapaian   tugas-tugas    perkembangan    lainnya.  Peran  ibu  mempunyai keterlibatan  yang kuat dalam proses  tumbuh  kembang  anak. Faktor mental  pada  ibu yang mungkin mempengaruhi   kemandirian  anak ialah kematangan   emosi dan afeksi ibu. Tujuan penelitian  ini adalah;  ( 1) mengetahui   hubungan  kematangan   emosi dan afeksi ibu dengan  kemandirian  anak, (2) mengetahui   hubungan   kematangan   emosi  ibu dengan kemandirian  anak,  (3) mengetahui   hubungan   afeksi  ibu dengan   kemandirian  anak  di 4 taman  kanak-kanak  kecamatan   Pondok  Aren, Tangerang   Selatan,  Banten.  Penelitian  ini menggunakan    populasi  di 4  taman   kanak-kanak   kecamatan   Pondok  Aren,  Tangerang Selatan,   Banten   dengan   sampel   sebanyak   123   orang   ibu  yang   diambil  berdasarkan purposive  sampling. lnstrumen   yang  digunakan   adalah  skala  kematangan    emosi,  skala afeksi dan skala kemandirian. Hasil analisis  regresi   berganda   menunjukkan   nilai Fhitung  sebesar   66,079   >   3,07 (Fhitung  >   Ftabel)  (p  <   0,05)  dan  nilai R   =   0,724  yang  menunjukkan   hubungan   yang signifikan dan  kuat  antara  kematangan   emosi  dan  afeksi  ibu dengan  kemandirian  anak. Nilai  R2 adalah  0,524 yang menunjukkan  sumbangan   total  efektif  kematangan   emosi dan afeksi   ibu  terhadap     kemandirian    anak   sebesar    52,4%,    dengan    sumbangan    efektif kematangan   emosi  sebesar  17,71%  dan  sumbangan   efektif  afeksi  sebesar  34.69%. Secara parsial, terdapat hubungan  yang signifikan yang lemah antara  kematangan   emosi dengan kemandirian  (pco.os:   rxty =  0.263)  dan  terdapat  hubungan   signifikan yang  cukup  kuat antara   afeksi  dengan   kemandirian   (p<  0,05;  rx2y= 0.440)  dimana  hubungan   keduanya bersifat  positif. Kesimpulan penelitian  ini adalah  terdapat  hubungan  yang signifikan dan kuat  secara positif antara  kematangan   emosi dan afeksi dengan  kemandirian  anak di 4 taman  kanak• kanak kecamatan  Pondok Aren, Tangerang  Selatan,  Banten.   Kata  kunci:  kemandirian,    kematangan     emosi,   afeksi
HUBUNGAN ANTARA KONSEP DIRI DAN KECERDASAN EMOSI DENGAN AGRESIVITAS PADA SISWA KELAS XI MAN KLATEN Rifa Kurnia; Tuti Hardjajani; Arista Adi Nugroho
Wacana Vol 4, No 2 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (115.293 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i2.20

Abstract

Remaja merupakan individu yang rentan dengan masalah dan konflik karena karakteristik remaja yang labil, penuh gejolak emosi dan tekanan jiwa sehingga mendorong munculnya agresivitas. Agresivitas adalah kecenderungan untuk melakukan tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain baik secara fisik maupun non fisik atau verbal yang dapat menimbulkan kerugian pada orang lain secara fisik dan mental. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui: 1. Hubungan antara konsep diri dan kecerdasan emosi dengan agresivitas pada siswa kelas XI MAN Klaten; 2. Hubungan antara konsep diri dengan agresivitas pada siswa kelas XI MAN Klaten; 3. Hubungan antara kecerdasan emosi dengan agresivitas pada siswa kelas XI MAN Klaten. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI MAN Klaten yang berjumlah 199 siswa yang terdiri dari sembilan kelas. Samping menggunakan cluster random sampling, sehingga dari sembilan kelas didapatkan tiga kelas untuk responden penelitian. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Agresivitas dengan koefisien validitas sebesar 0,304-0,693 dan Reliabilitas Alpha 0,878; Skala Konsep Diri dengan koefisien validitas sebesar 0,302-0,668 dan Reliabilitas Alpha 0,897; serta Skala Kecerdasan Emosi dengan koefisien validitas 0,320-0,726 dan Reliabilitas Alpha 0,918. Teknik analisis data yang digunakan untuk menguji hipotesis pertama adalah analisis regresi dua prediktor, dan selanjutnya untuk menguji hipotesis kedua dan ketiga menggunakan analisis korelasi parsial. Berdasarkan hasil analisis regresi dua prediktor diperoleh nilai koefisien korelasi (R) sebesar 0,586; p = 0,000 (p<0,05) dan F hitung 16,223 > F tabel 3,145. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara konsep diri dan kecerdasan emosi dengan agresivitas pada siswa kelas XI MAN Klaten. Secara parsial menunjukkan terdapat hubungan negatif yang signifikan antara konsep diri dengan agresivitas pada siswa kelas XI MAN Klaten dengan koefisien korelasi (r) sebesar -0,277; serta terdapat hubungan negatif yang signifikan antara kecerdasan emosi dengan agresivitas pada siswa kelas XI MAN Klaten yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi (r) sebesar -0,212.   Kata Kunci: konsep diri, kecerdasan emosi, agresivitas
HUBUNGAN ANTARA PERSEPSI SISWA TERHADAP KOMPETENSI GURU DAN REGULASI DIRI DENGAN MOTIVASI BERPRESTASI PADA SISWA SMK FARMASI NASIONAL SURAKARTA Ullum Intivade; Munawir Yusuf; Arista Adi Nugroho
Wacana Vol 4, No 1 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.124 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i1.32

Abstract

Hasil prestasi dalam proses kegiatan belajar-mengajar yang merupakan manifestasi dari motivasi berprestasi yang terdapat dalam diri siswa. Pencapaian tersebut dimungkinkan berasal dari adanya sinergisitas antara guru dengan siswa. Guru sebagai tenaga pendidik yang berkompeten melakukan usaha pengembangan untuk meningkatkan hasil belajar siswa. Siswa pun berperan dalam melakukan regulasi diri terhadap berbagai aktivitas pendidikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: 1) Hubungan persepsi siswa terhadap kompetensi guru dan regulasi diri dengan motivasi berprestasi pada siswa SMK Farmasi Nasional Surakarta; 2) Hubungan persepsi siswa terhadap kompetensi guru dengan motivasi berprestasi pada siswa SMK Farmasi Nasional Surakarta; 3) Hubungan regulasi diri dengan motivasi berprestasi pada siswa SMK Farmasi Nasional Surakarta. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa SMK Farmasi Nasional Surakarta yang berjumlah 10 kelas yang terdiri dari 399 orang. Populasi tersebut didapatkan sampel yang berjumlah 4 kelas yang berjumlah 149. Sampling menggunakan cluster random sampling. Alat pengumpul data yang digunakan dalam penelitian ini adalah Skala Motivasi Berprestasi dengan koefisien validitas sebesar 0,303-0,658 dan Reliabilitas Alpha 0,929; Skala Persepsi Siswa Terhadap Kompetensi Guru dengan koefisien validitas 0,303-0,735 dan Reliabilitas Alpha 0,949; Skala Regulasi Diri dengan koefisien validitas 0,339-0,673 dan Reliabilitas Alpha 0,932. Teknik analisis data yang digunakan adalah analisis regresi berganda. Hasil analisis regresi dua prediktor diperoleh nilai koefisien korelasi ganda (R) sebesar 0,776 (p=0,000; p<0,05) dan F hitung 110,853>F Tabel 3,05805. Hasil tersebut menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi siswa terhadap kompetensi guru dan regulasi diri dengan motivasi berprestasi. Secara parsial menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persepsi siswa terhadap kompetensi guru dengan motivasi berprestasi dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,014 dengan (p=0,870; p>0,05); dan terdapat hubungan positif yang signifikan antara regulasi diri dengan motivasi berprestasi yang ditunjukkan dengan koefisien korelasi (r) sebesar 0,722 dengan (p=0,000; p<0,05). Kata Kunci: kompetensi guru, regulasi diri, motivasi berprestasi
EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PELATIHAN BELAJAR EFEKTIF TERHADAP PENGGUNAAN STRATEGI SELF-REGULATED LEARNING SISWA SMA Nugraha Arif Karyanta; Aditya Nanda Priyatama; Arista Adi Nugroho
Wacana Vol 1, No 1 (2009)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (62.4 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v1i1.69

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat efektivitas penerapan metode belajar efektif terhadap penggunaan strategi Self-Regulated Learning Siswa SMA.  Self-Regulated Learner adalah siswa yang secara metakognitif, motivasional dan behavioral merupakan peserta aktif dalam proses belajar mereka sendiri (Zimmerman, 1989).  Menurut sudut pandang ini, siswa yang efektif menjadi sadar akan relasi fungsional antara pola pikir dan tindakan mereka (sering disebut sebagai strategi) dan hasil-hasil sosial dan lingkungan (Zimmerman & Martinez-Pons, 1988).  Winne (1997) beranggapan bahwa siswa dapat mempelajari bentuk-bentuk baru dari SRL di mana saja, termasuk dalam ruang-ruang kelas mereka.  Lebih jauh lagi, Zimmerman (1989) menyebutkan bahwa siswa dapat diajar atau disarankan untuk menjadi lebih self-regulated learners dengan mendapatkan strategi-strategi efektif dan dengan meningkatkan persepsi atas efikasi diri mereka. Modul pelatihan belajar efektif yang diberikan kepada siswa SMU yang dikembangkan oleh penulis meliputi pengembangan sikap mental positif terhadap belajar, pengembangan keterampilan dalam mengikuti pelajaran di kelas terutama kemampuan mendengarkan dan mencatat, mengembangkan kemampuan membaca efektif, meningkatkan daya ingat, meningkatkan kemampun mengikuti ujian, penguasaan keterampilan manajemen waktu, dan pengaturan lingkungan belajar yang mendukung.  Pemberian pelatihan belajar efektif kepada siswa diharapkan akan menumbuhkan dan meningkatkan penggunaan strategi self regulated-learning siswa. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan pemberian perlakuan berupa penerapan model pelatihan belajar efektif.  Penerapan model pelatihan belajar efektif tersebut diharapkan dapat memiliki peran positif terhadap penggunaan strategi Self-Regulated Learning siswa.  Strategi Self-Regulated Learning di ukur dengan skala strategi Self-Regulated Learning yang diberikan sebelum perlakuan (pre-test) dan sesudah perlakuan (post-test).  Uji beda mean dilakukan dengan teknik paired sample t test dengan bantuan program SPSS versi 15.  Sampel penelitian sebanyak 31 orang siswa SMA Negeri I Karanganyar. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara skor strategi Self-Regulated Learning sebelum perlakuan (pre-test) dan sesudah perlakuan (post-test), thitung > ttabel (13,474 >  2,042), dengan taraf signifikansi 0,000. Kata kunci: Model Pelatihan Belajar Efektif, Strategi Self-Regulated Learning
PENGARUH PEMBERIAN PELATIHAN ASERTIVITAS TERHADAP KECENDERUNGAN KENAKALAN REMAJA PADA SISWA KELAS X SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK) BHINNEKA KARYA SURAKARTA Anisa Ismi Nabila; . Hardjono; Arista Adi Nugroho
Wacana Vol 4, No 2 (2012)
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (189.32 KB) | DOI: 10.13057/wacana.v4i2.19

Abstract

Pengaruh teman sebaya memiliki peran yang sangat besar pada seorang anak yang menginjak usia remaja. Banyak sekali tekanan yang dihadapi dari teman sebaya, misalnya rayuan, ajakan, bahkan paksaan untuk melakukan sesuatu yang tidak diinginkan atau yang tidak pantas dilakukan. Dalam hal ini banyak remaja yang tidak berani atau ragu-ragu untuk berkata “tidak” karena alasan takut tidak memiliki teman, takut dimusuhi, atau takut dianggap tidak cool. Oleh karena itu, remaja membutuhkan suatu keterampilan sosial yaitu asertivitas untuk menolak pengaruh negatif yang berasal dari lingkungan. Salah satu prosedur yang dapat dilakukan untuk mengajarkan asertivitas yaitu dengan melalui beberapa jam pelatihan. Pemberian pelatihan asertivitas dapat membantu mengurangi kecenderungan kenakalan remaja akibat pengaruh negatif yang berasal dari teman sebaya. Tujuan penelitian ini yaitu mengetahui pengaruh pemberian pelatihan asertivitas terhadap kecenderungan kenakalan remaja pada siswa kelas X SMK Bhinneka Karya Surakarta. Penelitian ini merupakan eksperimen kuasi dengan rancangan eksperimental nonrandomized pretest-posttest control-group design. Subyek penelitian adalah 20 siswa kelas X SMK Bhinneka Karya Surakarta yang terbagi menjadi kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Kelompok eksperimen diberi perlakuan pelatihan asertivitas, sedangkan kelompok kontrol tidak diberi perlakuan. Alat ukur dalam penelitian ini menggunakan skala kecenderungan kenakalan remaja yang dikenakan pada subyek sebelum dan setelah perlakuan. Analisis data yang dipergunakan dalam penelitian ini menggunakan statistik parametrik uji T-Test. Diperoleh nilai t=3,680 (t<2,101) dan  p= 0,002 (p<0,05). Nilai rata-rata pada kelompok eksperimen adalah 90,6 sedangkan nilai rata-rata pada kelompok kontrol adalah 104,1. Nilai rata-rata ini dapat diinterpretasi bahwa terdapat perbedaan pada kedua kelompok sebesar 13,5. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pemberian pelatihan asertivitas terhadap kecenderungan kenakalan remaja pada siswa kelas X SMK Bhinneka Karya Surakarta.   Kata Kunci : Kecenderungan kenakalan remaja, pelatihan asertivitas