Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

GERAK RUANG KAWASAN KERATON KASEPUHAN Agustina, Ina Helena; DJUNAEDI, ACHMAD; SUDARYONO; SURYO, DJOKO
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 13 No. 1 (2013)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (568.129 KB)

Abstract

Teori lokal mulai dikembangkan setelah adanya kegagalan teori-teori yang didasarkan oleh filsafat rasionalisme. Paradigma Postmodernisme semakin memberi peluang pengembangan teori yang berbasis lokalitas dan komunitas. Kawasan Keraton Kasepuhan yang berdiri sejak abad ke 14 kaya akan nilai-nilai lokal. Didasarkan oleh pendekatan fenomenologi menangkap suatu fenomena yang menunjukkan nilai lokalitas berupa gerak ruang. Gerak adalah keluarnya sesuatu dari titik kemungkinan menuju titik yang dimungkinkan ( Ammar, 1993). Gerak ruang yang terjadi di kawasan ini berupa gerak ruang substansi dan gerak ruang aksiden. Gerak ruang substansi yang ditunjukkan dalam fenomena gerak tradisi ke politik memiliki nilai lokal kesadaran integral dinamika spirit yang ditunjukkan oleh: 1) keyakinan terhadap tanggung jawab sebagai pemegang amanah; 2) keyakinan terhadap persatuan umat (keluarga); 3) keyakinan untuk membuka diri pada yang lain. Sedangkan gerak ruang aksiden yang ditunjukkan oleh kegiatan revitalisasi keraton memiliki nilai lokal “ kebersamaan “.
MODEL PERTANIAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL EKONOMETRIKA DI KABUPATEN BEKASI Agustina, Ina Helena
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (537.568 KB)

Abstract

Dalam upaya meningkatkan pembangunan pertanian merupakan dokumen penting bagi Pemerintah Daerah. Strategi atau rencana tersebut merupakan dasar bagi Pemerintah Daerah untuk merumuskan kebijakan dan program yang efektif bagi pembangunan pertanian pada khusus-nya, dan pembangunan daerah secara keseluruhan. Sebagaimana dipahami, per-tumbuhan ekonomi di Kabupaten Bekasi cukup pesat. Kabupaten Bekasi, selain sektor manufaktur atau industri pengolahan tumbuh pesar dan menjadi cluster besar di Jawa Barat, disamping sektor pertanian juga terus ber-kembang. Pertumbuhan penduduk juga terus menigkat. Hal itu berdampak pada masalah penggunaan lahan bagi kegiatan pertanian dan aspek sosial serta ekonomi. Kerangka pikir penyelesaian Metodologi yang akan diterapkan untuk memenuhi tujuan studi adalah berbasis pendekatan empiris. Pendekatan empiris menunjang tahapan pemodelan sistem ekonomi Kabupaten Bekasi. Pertanian merupakan sub dari sistem tersebut. Sementara itu, teori yang relevan ditempatkan sebagai model dasar (basic model) untuk dilonggarkan asumsinya agar mampu merekam sistem ekonomi Kabupaten Bekasi. Berdasarkan simulasi model, penyuluhan yang efektif terhadap kelompok tani, kemudian pengelolaan irigasi yang baik, dorongan pengembangan investasi di sektor peternakan dan perkebunan, serta mempertajam fungsi KUD, dapat berkontribusi pada peningkatan PDRB sektor pertanian dari sub sektor tanaman bahan makanan, peternakan, perikanan, dan perkebunan
STUDI KONSEP RENCANA DAN STRATEGI PROGRAM BIKE TO SCHOOL DI KOTA BANDUNG Agustina, Ina Helena
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 15 No. 1 (2015)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (830.217 KB)

Abstract

Transportasi adalah kegiatan perpindahan orang atau barang dari satu tempat (asal) ke tempat lain (tujuan) dengan menggunakan sarana kendaraan bermotor maupun tidak bermotor. Transportasi terbagi menjadi beberapa jenis yaitu transportasi darat (mobil, motor, kereta api, sepeda, dll), udara (pesawat terbang, helikopter, dll), dan laut (perahu layar, perahu dayung, kapal motor, dll). Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analitycal Hierarchy Process. Analitycal Hierarchy Process adalah salah satu metode yang digunakan dalam menyelesaikan masalah yang mengandung banyak kriteria. AHP bekerja dengan cara memberi prioritas kepada alternatif yang penting mengikuti kriteria yang telah ditetapkan. Lebih tepatnya, AHP memecah berbagai peringkat struktur hirarki berdasarkan tujuan, kriteria, sub- kriteria, dan pilihan atau alternative. Dari hasil analisis, ada beberapa variabel untuk mendukung strategi dan program Bike To School, seperti : ketersediaan sepeda, Perizinan dari orang tua untuk memperbolehkan anaknya menggunakan sepeda, Penyediaan parkir sepeda di sekolah, Penyediaan jalur sepeda, Melakukan kampanye penggunaan sepeda, Ketersediaan marka dan rambu-rambu sepeda dan Memberikan pendidikan mengenai keselamatan berkendara sepeda.
CIREBON PALACES IN THE DIGITAL ERA Ina Helena Agustina; Astri Mutia Ekasari; Irland Fardani; Hilwati Hindersah
SAMPURASUN Vol 5 No 2 (2019): Sampurasun Vol. 5 No. 2 - 2019
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (738.3 KB) | DOI: 10.23969/sampurasun.v5i2.1737

Abstract

Keraton is a result of the creation from the past. In order to compete in the digital era, Keraton has to make an advancement which is inline to the development of the digital era. The aim of this paper is to describe the existentialism concept of Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, and Keraton Kacirebonan, which are located in the city of Cirebon, in the digital era. The method used in this research is the qualitative-descriptive approach of the phenomena which appear in the field. The results are then matched with the theory to form the conclusion of the existentialism concept of the Keraton in this digital era. The obtained concept can be utilized as an example for other Keraton in Indonesia to retain their existence especially for the generation of millennials.
“FROM TANGIBLE SPACE TO INTANGIBLE SPACE“ KANOMAN PALACE AND KACIREBONAN PALACE Ina Helena Agustina
SAMPURASUN Vol 3 No 2 (2017): Sampurasun Vol. 3 No. 2 - 2017
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (417.298 KB) | DOI: 10.23969/sampurasun.v3i2.635

Abstract

Physical space or called tangible spaces are spaces that can be physically captured by the senses while nonphysical or intangible space is a space that is not caught by the senses. Anthropological research argues that the first 'double built' space is a physical building and the second is a result of interpretation of taste and imagination (Gieryn, in Short, 2015). Kanoman palace and Kacirebonan palace is a palace located in the city of Cirebon. The two palaces not only physically still have the form of a palace building but also still have mystics believed by the community as an integral part of human life. The purpose of this paper is to show tangible space and intangible space in both palaces as part of the meaning of the palace. The method used is the research method of Husserl phenomenology and conducting the review literature from the results of the themes that appear especially space in both palaces. The result shows that these two palaces have different spatial arrangements and different building arrangements but the direction of the northward winds into the sacred position of the palace. The position is related to the position of the tomb of Sunan Gunung Jati as an ancestor and founder of the palace in Cirebon. The position is manifested as intangible space palaces in Cirebon.
Kepuasan Pengendara Motor Terhadap Penggunaan Smart system parking di Ruas Jalan Braga, Kota Bandung Dhea Viranti Alaydrus; Ina Helena Agustina
Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota Volume 2, No. 1, Juli 2022, Jurnal Riset Perencanaan Wilayah dan Kota (JRPWK)
Publisher : UPT Publikasi Ilmiah Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (153.898 KB) | DOI: 10.29313/jrpwk.v2i1.928

Abstract

Abstract. The smart system parking machine is not functioning properly, so it is necessary to evaluate whether the machine is useful or not for the parking system on Braga road. To determine the effectiveness of using smart system parkings on Braga road researcher uses descriptive research method with a qualitative approach. In this study, researchers used Likert scale analysis with research variables and indicators, namely motorcycle rider satisfaction and management of the use of smart system parkings on Bandung City ,Braga road. The analysis is used to determine the satisfaction of motorcyclists with the smart system parking on Braga road. The result of this study are level of motorist satisfaction is seen from the location placement, the tariff issued, the level of service and the carrying capacity. The use of this smart system parking is managed by a parking institution that is under the auspices of the Department of Transportation where the collection is directly by the Department of Transportation through a parking interpreter who manages the smart system parking on Braga road. and security of parking locations. Abstrak. Mesin smart system parking tidak berfungsi sebagaimana mestinya maka perlu adanya evaluasi terhadap mesin tersebut apakah bermanfaat atau tidak bagi sistem parkir yang ada di Jalan Braga. Untuk mengetahui keefektifan penggunaan smart system parking di Jl. Braga ini peneliti menggunakan metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan analisis skala likert dengan variabel dan indikator penelitian yaitu kepuasan pengendara motor dan kepengelolaan penggunaan smart system parking di Jl. Braga Kota Bandung. Analisis digunakan untuk mengetahui kepuasan pengendara motor terhadap smart system parking di Jl.Braga. Hasil penelitian ini yaitu tingkat kepuasan pengendara dilihat dari penempatan lokasi, tarif yang dikeluarkan tingkat pelayanan dan daya dukung. Penggunaan smart system parking ini dikelola oleh suatu kelembagaan parkir yaitu dibawah naungan Dinas Perhubungan yang dimana, pemungutan nya langsung oleh pihak Dinas Perhubungan melalui juru parkir yang mengelola smart system parking di Jalan Braga. Butuh pengembangan, yaitu para masyarakat khususnya pengendara motor adalah tata cara penggunaan nya dan keamanan lokasi.
Konstruksi Sosial Ibn Al-Farabi dalam Masyarakat di Permukiman Magersari Keraton Kasepuhan dan Kanoman Cirebon Kintan Ayu Sevila; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (177.733 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3289

Abstract

Abstract. The increase in population which is in line with the increasing need for housing has made the Magersari of Kasepuhan and Kanoman Palaces no longer only intended for courtiers. As a heritage area that is a witness to the history and culture of the Palace from time to time, the Magersari residential social condition in Kasepuhan and Kanoman palaces must have changed along with the entry of immigrants who were neither courtiers nor relatives of the palace. Given the changes that happen to social conditions will affect the meaning formed in social space, the social construction of the Magersari settlements, Keraton Kasepuhan, and Kanoman is a highlight to study. Usage of Ibn Al-Farabi's theory is based on Magersari's background as a heritage area of ​​the Cirebon Sultanate constitutes an Islamic kingdom and also Al-Farabi is an Islamic philosopher and thinker. After a series of observations and in-depth interviews, the author tries to interpret the phenomena caught by using the social construction formulation of Ibn Al-Farabi's theory. Based on empirical findings, it was discovered that the Magersari settlers have positive, optimistic, and open thoughts. Fellow settlers always help each other and have a sense of kinship but still provide boundaries so that they are not too excessive. The settler community still adheres to Islamic values ​​and culture. However, these values ​​began to fade among young people in line with their reluctance to participate in routine agendas in the Magersari settlement, as well as traditional and cultural events held by the Keraton. Abstrak. Peningkatan populalsi yang sejalan dengan peningkatan kebutuhan akan tempat tinggal membuat Magersari Keraton Kasepuhan dan Kanoman tak lagi hanya diperuntukan bagi para abdi dalem. Sebagai kawasan heritage yang merupakan saksi dari sejarah dan kebudayaan Keraton dari masa ke masa, keadaan sosial permukiman Magersari Keraton Kasepuhan dan Kanoman pasti mengalami perubahan seiring dengan masuknya para pendatang yang bukan merupakan abdi dalem maupun kerabat Keraton. Mengingat perubahan yang terjadi pada keadaan sosial akan mempengaruhi pemaknaan yang terbentuk terhadap ruang sosial, maka konstruksi sosial dari permukiman Magersari Keraton Kasepuhan dan Kanoman menjadi hal yang penting untuk diteliti. Penggunaan teori dari Ibn Al-Farabi didasari oleh latar belakang Magersari sebagai kawasan heritage dari Kesultanan Cirebon yang merupakan kerajaan Islam dan Al-Farabi yang merupakan filsuf serta pemikir Islam. Setelah serangkaian observasi dan wawancara mendalam yang dilakukan, penulis berusaha menginterpretasi fenomena yang tertangkap dengan menggunakan rumusan konstruksi sosial dari teori Ibn Al-Farabi. Berdasarkan temuan empiris, didapatkan hasil bahwa masyarakat pemukim Magersari memiliki pemikiran yang positif, optimis dan terbuka. Antar sesama pemukim senantiasa saling membantu dan memiliki rasa kekeluargaan tapi tetap memberi batasan agar tidak terlalu berlebihan. Masyarakat pemukim masih berpegang pada nilai-nilai Islam dan kebudayaan. Namun nilai-nilai ini mulai luntur pada kalangan muda sejalan dengan keengganan mereka untuk berpartisipasi dalam agenda-agenda rutin di dalam permukiman Magersari, maupun agenda-agenda adat-budaya yang diadakan oleh Keraton.
Konstruksi Lingkungan Seyyed Hossein Nasr: Studi Kasus: Permukiman Magersari Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, Cirebon Chairunisa Matondang; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (101.834 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3358

Abstract

Abstract. Kasepuahan Village and Keraton Kanoman are located in Lemahwungkuk District, Cirebon City. Keraton Kasepuhan was established in 1430 and Keraton Kanoman was established in 1678, Keraton Kanoman has the main purpose of spreading Islam in the land of Sunda. In Seyyed Hossein Nasr's Environmental Theology there is a relationship between God, Man and Nature that must be maintained for the harmony of human life. So the purpose of this study is to construct Seyyed Hossein Nasr's Environmental Theology and validate how things are going in the Magersari settlement. However, over time, magersari settlements have changed from the shape of buildings to population density which causes settlements to look dense, besides that because of the increasing number of people, the residential environment becomes less maintained and less clean. However, the community still carries out activities such as devotional work, this is done by residents to maintain the cleanliness of their residential environment and they are aware of the importance of maintaining personal and surrounding health. Abstrak. Kelurahan Kasepuahan dan Keraton Kanoman terletak di Kecamatan Lemahwungkuk Kota Cirebon. Keraton Kasepuhan berdiri pada Tahun 1430 dan Keraton Kanoman berdiri pada Tahun 1678, Keraton Kanoman memiliki tujuan utama yaitu untuk menyebarkan agama islam di tanah Sunda. Dalam Teologi Lingkungan Seyyed Hossein Nasr ada nya hubungan Tuhan, Manusia dan Alam yang harus dijaga untuk keharmonisan kehidupan manusia. Maka tujuan dari penelitian ini adalah mengkonstruksikan Teologi Lingkungan Seyyed Hossein Nasr dan memvalidasi bagaimana keadaan di permukiman Magersari. Namun seiring berjalannya waktu, permukiman Magersari mengalami perubahan dari bentuk bangunan hingga kepadatan penduduk yang menyebabkan permukiman terlihat padat, selain itu karena semakin banyak nya masyarakat maka lingkungan permukiman menjadi kurang terjaga dan kurang bersih. Namun masyarakat masih melakukan kegiatan seperti kerja bakti, hal ini dilakukan warga untuk tetap menjaga kebersihan lingkungan permukiman mereka dan mereka sadar akan pentingnya menjaga kesehatan pribadi dan sekitar.
Perspektif Pengunjung terhadap Tradisi Budaya Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman Cirebon Muhammad Hendra Maulana; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (179.208 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3370

Abstract

Abstract. The visitor's perspective on the cultural traditions found in the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace is a step to find out the potential that can attract visitors. The historical evidence left in the two palaces is still preserved, it can be seen from the shape of the building which is still the same, and some aspects of culture that are still carried out today. The cultural traditions found in the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace are intangible cultural tours that have been registered in the intangible cultural heritage of West Java, so they must be preserved and maintained. The methodology used in this research is exploratory. This method is used with the aim of mapping the object of study in depth. In this study, the author aims to find out what attracts visitors to the cultural traditions found in the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace, so that they can get a potential that can increase public enthusiasm for participating in a series of activities. The result of the analysis that is expected by the author is to find out a potential that can be the main attraction of the end in following the ritual traditions in the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace. Abstrak. Perspektif pengunjung terhadap tradisi budaya yang terdapat di Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, menjadi suatu langkah untuk mengetahui potensi yang dapat menarik minat pengunjung. Bukti sejarah yang ditinggalkan dikedua Keraton tersebut masih terjaga dapat dilihat dari bentuk bangunan yang masih sama, dan beberapa aspek kebudayaan yang masih dilakukan hingga sekarang. Tradisi budaya yang terdapat di Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman menjadi wisata budaya takbenda yang telah terdaftar dalam warisan budaya takbenda Jawa Barat, sehingga harus dilestarikan dan dijaga. Metodologi yang digunakan dalam penelitian ini yaitu eksploratif. Metode ini digunakan dengan tujuan memetakan objek kajian secara mendalam. Pada penelitian ini penulis memiliki tujuan untuk mengetahui apakah yang menjadi daya tarik pengunjung terhadap tradisi budaya yang terdapat di Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman, sehingga dapat mendapatkan suatu potensi yang bisa meningkatkan antusias masyarakat mengikuti rangkaian kegiatan Hasil dari analisis yang diharapkan oleh penulis adalah mengetahui suatu potensi yang dapat menjadi daya tarik utama pengujung dalam mengikuti tradisi ritual di Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman.
Kajian Falsafah Aboge dalam Sistem Ruang Hunian Di Kota Cirebon Mochamad Ghiffary; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.337 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3460

Abstract

Abstract. Indonesia has many ancient philosophies, one of which is in the city of Cirebon which has other important cultural sources. Cirebon has historical evidence that comes from cultural heritage that is local but intangible or intangible. In Cirebon itself, the concept of the embodiment of residential space emerged, namely in the Aboge Philosophy. The purpose of this study is to describe the Aboge philosophy in the residential space system. The approach and analysis method used in this research is to use the hermeneutic approach. In the Aboge philosophy there is a balance between humans, God, and the environment, which is shown through the elements of time, the layout of a room, the direction of the wind, and holding rituals, all of these elements are an effort to get rid of negative energy in the construction of a dwelling. The aboge philosophy that exists and develops in the city of Cirebon is intengible, but this is still maintained by some people and the Cirebon palace by means of "getok tular". Consideration of the aboge philosophy in the creation of a residential space is the location (where will the house face), time (hour, date, day, month), person (name, date of birth, what day was born, whose son), and the process of making a dwelling begins. from making the foundation to raising the temperature. Abstrak. Di Negara Indonesia memiliki banyak falsafah-falsafah kuno salah satunya berada di Kota Cirebon yang memiliki sumber kebudayaan penting lainnya. Cirebon memiliki bukti sejarah yang berasal dari warisan budaya yang sifatnya lokal namun tidak berwujud atau intangible. Di Cirebon itu sendiri muncul konsep perwujudan ruang hunian yakni di dalam Falsafah Aboge. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan Falsafah Aboge dalam sistem ruang hunian. Metode pendekatan dan analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode pendekatan hermeneutik. Dalam Falsafah Aboge terdapat keseimbangan antara manusia, tuhan, dan lingkungan itu ditunjukan melalui unsur waktu, tata letak suatu ruangan, arah mata angin, serta mengadakan ritual, semua unsur-unsur tersebut merupakan upaya untuk membuang energi negatif dalam pambangunan suatu hunian. Falsafah aboge yang berada dan berkembang di Kota Cirebon ini bersifat intengible, namun hal ini masih tetap dipertahankan oleh sebagaian masyarakat dan keraton Cirebon dengan cara “getok tular”. Pertimbangan falsafah aboge dalam penciptaan suatu ruang hunian terdapat lokasi (rumah akan menghdap kemana), waktu (Jam, Tanggal, Hari, Bulan), orang (nama, tanggal lahir, hari apa dilahirkan, bin siapa), dan proses pembuatan suatu hunian tersebut dimulai dari pembuatan pondasi hingga menaikan suhunan.