Claim Missing Document
Check
Articles

Found 40 Documents
Search

Perspektif Pengunjung terhadap Bangunan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman Cirebon Suci Dewi Rahmawati; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.68 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3559

Abstract

Abstract. Indonesia has a lot of cultural diversity that makes Indonesia has potential in the field of cultural tourism. Cultural heritage buildings are one of the cultural attractions that are in great demand by visitors. Kasepuhan Palace and Kanoman Palace are one of the cultural heritage buildings because they have cultural historical values ​​in them. Cultural heritage buildings, especially Kanoman Palace and Kasepuhan Palace, need preservation. Visitors have an important role in the implementation of conservation, one way for visitors to preserve cultural heritage buildings is by visiting these objects. This study analyzes the perspective of visitors to the buildings of the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace. The purpose of this study is as a reference for visitors' perspectives on cultural heritage buildings and policy recommendations. The method used in this research is a descriptive qualitative approach. The results of this study are that there is visitor interest in the object of cultural tourism attraction and the perspective of visitors to the Kasepuhan Palace and Kanoman Palace buildings that the buildings inside are still well preserved with their atmosphere and cultural historical values. Abstrak. Indonesia memiliki banyak keragaman budaya yang menjadikan Indonesia memiliki potensi dalam bidang wisata budaya. Bangunan cagar budaya merupakan salah satu objek wisata budaya yang banyak diminati para pengunjung. Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman merupakan salah satu bangunan cagar budaya karena memiliki nilai sejarah budaya di dalamnya. Bangunan cagar budaya khususnya Keraton Kanoman dan Keraton Kasepuhan perlu adanya pelestarian. Pengunjung memiliki peranan penting dalam pelaksanaan pelestarian, salah satu cara pengunjung melestarikan bangunan cagar budaya dengan mengunjungi objek tersebut. Pada penelitian ini menganalisis perspektif pengunjung terhadap bangunan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman. Tujuan dari penelitian ini adalah sebagai referensi perspektif pengunjung terhadap bangunan cagar budaya dan rekomendasi kebijakan. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu dengan pendekatan kualitatif yang bersifat deskriptif. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat ketertarikan pengunjung terhadap objek daya tarik wisata budaya dan perspektif pengunjung terhadap bangunan Keraton Kasepuhan dan Keraton Kanoman bahwa bangunan di dalamnya masih terjaga baik suasana dan nilai sejarah budayanya.
Identifikasi Pola Ruang Kampung Sarugo Jorong Sungai Dadok Nagari Koto Tinggi Kabupaten Limapuluh Kota Fajar Maulana; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (448.108 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.3683

Abstract

Abstract. Jorong Sungai Dadok is an administrative area under Nagari Koto Tinggi. In Jorong, the Dadok River consists of the division of areas based on Minangkabau customs, namely there are several hamlets with settlement centers and community activities located in Koto called Kampung Sarugo. The village is the oldest village in Koto Tinggi and consists of tribes that coexist harmoniously. So that in its territory in one koto consists of several gadang houses, that in the concept of Kampuang or the settlement of the historical gadang house is intended for one tribe, but in Kampung Sarugo there are several tribes with their rumah gadang. The purpose of this study is to identify spatial patterns and settlement patterns. The approach method used is the Exploratory approach method with the aim of identifying spatial patterns and settlements. The conclusion is basically that the concept of the Jorong Dadok River space pattern is an administrative boundary of the area in which there are four hamlet areas, namely Lake, Mudiak Dadok, Padang Jungkek and kampung Tingga surrounded by Taratak and the four hamlets are centered on Koto or what is referred to as Kampung Sarugo as the center of community activities and activities in Jorong Sungai Dadok. Sarugo village as a traditional village in it contains local knowledge and wisdom, which is seen in the matrilineal kinship system, art, traditional ceremonies and physical settlement elements in the form of rumah gadang, balai adat, rangkiang lasuang, cibuak and others. Abstrak. Jorong Sungai Dadok merupakan wilayah administrasi dibawah Nagari Koto Tinggi. Didalam Jorong Sungai Dadok terdiri atas pembagian wilayah berdasarkan adat istiadat Minangkabau yakni terdapat beberapa dusun dengan pusat permukiman dan kegiatan masyarakatnya berada di Koto yang dinamakan Kampung Sarugo. Kampung tersebut merupakan kampung tertua yang ada di Koto Tinggi dan didalamnya terdiri atas suku-suku yang hidup berdampingan secara harmonis. Sehingga dalam wilayahnya dalam satu koto terdiri atas beberapa rumah gadang, bahwa secara konsep Kampuang atau pemukiman rumah gadang sejarahnya itu diperuntukan untuk satu suku, akan tetapi di Kampung Sarugo ini terdapat beberapa suku dengan rumah gadangnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi pola ruang dan pola permukiman. Metode pendekatan yang digunakan yaitu metode pendekatan Eksploratif dengan tujuan untuk mengidentifikasi pola ruang dan permukiman. Kesimpulannya adalah Pada dasarnya bahwa konsep pola ruang Jorong Sungai Dadok merupakan suatu batasan administrasi wilayah yang didalamnya terdapat empat wilayah dusun yakni Danau, Mudiak Dadok, Padang Jungkek dan Kampung Tingga yang dikelilingi oleh Taratak dan keempat dusun tersebut berpusat pada Koto atau yang disebut sebagai Kampung Sarugo sebagai pusat aktivitas dan kegiatan masyarakat di Jorong Sungai Dadok. Kampung Sarugo sebagai kampung adat didalamnya terkandung pengetahuan dan kearifan lokal yakni terlihat dalam sistem kekerabatan matrilineal, kesenian, upacara adat dan elemen permukiman fisik yakni berupa rumah gadang, balai adat, rangkiang lasuang, cibuak dan lainya.
Kajian Falsafah Aboge dalam Sistem Ruang Hunian di Kota Cirebon Mochamad Ghiffary; Ina Helena Agustina
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 2 No. 2 (2022): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.643 KB) | DOI: 10.29313/bcsurp.v2i2.4003

Abstract

Abstract. Indonesia has many ancient philosophies, one of which is in the city of Cirebon which has other important cultural sources. Cirebon has historical evidence that comes from cultural heritage that is local but intangible or intangible. In Cirebon itself, the concept of the embodiment of residential space emerged, namely in the Aboge Philosophy. The purpose of this study is to describe the Aboge philosophy in the residential space system. The approach and analysis method used in this research is to use the hermeneutic approach. In the Aboge philosophy there is a balance between humans, God, and the environment, which is shown through the elements of time, the layout of a room, the direction of the wind, and holding rituals, all of these elements are an effort to get rid of negative energy in the construction of a dwelling. The aboge philosophy that exists and develops in the city of Cirebon is intengible, but this is still maintained by some people and the Cirebon palace by means of "getok tular". Consideration of the aboge philosophy in the creation of a residential space is the location (where will the house face), time (hour, date, day, month), person (name, date of birth, what day was born, whose son), and the process of making a dwelling begins. from making the foundation to raising the temperature. Abstrak. Di Negara Indonesia memiliki banyak falsafah-falsafah kuno salah satunya berada di Kota Cirebon yang memiliki sumber kebudayaan penting lainnya. Cirebon memiliki bukti sejarah yang berasal dari warisan budaya yang sifatnya lokal namun tidak berwujud atau intangible. Di Cirebon itu sendiri muncul konsep perwujudan ruang hunian yakni di dalam Falsafah Aboge. Tujuan dari penelitian ini adalah mendeskripsikan Falsafah Aboge dalam sistem ruang hunian. Metode pendekatan dan analisis yang digunakan pada penelitian ini yaitu dengan menggunakan metode pendekatan hermeneutik. Dalam Falsafah Aboge terdapat keseimbangan antara manusia, tuhan, dan lingkungan itu ditunjukan melalui unsur waktu, tata letak suatu ruangan, arah mata angin, serta mengadakan ritual, semua unsur-unsur tersebut merupakan upaya untuk membuang energi negatif dalam pambangunan suatu hunian. Falsafah aboge yang berada dan berkembang di Kota Cirebon ini bersifat intengible, namun hal ini masih tetap dipertahankan oleh sebagaian masyarakat dan keraton Cirebon dengan cara “getok tular”. Pertimbangan falsafah aboge dalam penciptaan suatu ruang hunian terdapat lokasi (rumah akan menghdap kemana), waktu (Jam, Tanggal, Hari, Bulan), orang (nama, tanggal lahir, hari apa dilahirkan, bin siapa), dan proses pembuatan suatu hunian tersebut dimulai dari pembuatan pondasi hingga menaikan suhunan.
Perspektif Wisatawan Terhadap Komponen Pariwisata Situs Astana Gede, Kabupaten Ciamis Dika Saputra; Ina Helena Agustina; Riswandha Risang Aji
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8578

Abstract

Abstract. Astana Gede Site is a historical area that is part of the heritage of the Sunda-Galuh Kingdom. It has diverse tourism potentials that are not limited to the historical aspect alone. Despite its great potential, the number of tourists visiting the Astana Gede Site is still relatively low compared to the surrounding tourist attractions. This research aims to identify tourists' perspectives on the tourism components of the Astana Gede Site in order to understand tourists' views and provide evaluations for the development of the Astana Gede Site. The research method used is a qualitative and quantitative descriptive research method. Data collection was done through a survey using questionnaires distributed to tourists visiting the Astana Gede Site. The research findings indicate that cultural, pilgrimage, and natural tourist attractions have received good ratings from tourists. The attractions and accessibility of the tourist attractions are considered adequate by tourists, indicating that this destination has attractive features and can be relatively easily reached. However, there are some amenity facilities that are considered inadequate by tourists. The Astana Gede Site lacks an adequate number of toilets, cleanliness of the prayer room, seating for tourists, and resting places for visitors, furthermore, the reason for the low number of tourist visits is due to insufficient promotion. Abstrak. Situs Astana Gede adalah wilayah bersejarah yang merupakan bagian dari warisan Kerajaan Sunda-Galuh, memiliki beragam potensi wisata yang tidak terbatas pada aspek sejarah saja. Meskipun memiliki potensi yang besar, jumlah wisatawan yang mengunjungi Situs Astana Gede masih relatif rendah dibandingkan dengan objek wisata di sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perspektif wisatawan terhadap komponen pariwisata Situs Astana Gede dalam rangka mengetahui padangan wisatawan dan menjadi evaluasi bagi pengembangan Situs Astana Gede. Metode penelitian yang digunakan metode penelitian deskriptif kualitatif dan juga kuantitatif. Pengambilan data dilakukan dengan survei menggunakan kuesioner yang disebarkan kepada wisatawan yang mengunjungi Situs Astana Gede. Hasil penelitian menunjukkan bahwa objek wisata budaya, ziarah, dan alam telah memperoleh penilaian yang baik dari wisatawan. Atraksi dan aksesibilitas objek wisata dinilai memadai oleh wisatawan, menunjukkan bahwa destinasi ini memiliki daya tarik yang menarik dan dapat dicapai dengan relatif mudah. Namun, terdapat beberapa fasilitas amenitas yang dinilai kurang memadai oleh wisatawan. Situs Astana Gede memiliki kekurangan pada jumlah toilet, kebersihan mushola, tempat duduk bagi wisatawan dan tempat beristirahat bagi wisatawan yang berkunjung, selain itu alasan minimnya kunjungan wisatawan dikarenakan kurangnya promosi.
Kajian Konservasi Gua Pawon Berdasarkan Kondisi Ekosistem Deden Rizki Oktaviana; Ina Helena Agustina; Riswandha Risang Aji
Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning Vol. 3 No. 2 (2023): Bandung Conference Series: Urban & Regional Planning
Publisher : UNISBA Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/bcsurp.v3i2.8749

Abstract

Abstract. Pawon Cave is a natural cave located in the Citatah karst formation area, Rajamandala and is included in the list of geological nature reserves protected by the West Java Provincial Government. Pawon Cave is evidence of the existence of the Ancient Lake Bandung. However, at this time the vulnerability of the cave ecosystem and natural beauty began to change. There is quite an alarming phenomenon where the cave area has begun to be destroyed. It can be seen in the current physical form of the cave, where there is vandalism or there are graffiti on the walls of the cave carried out by irresponsible humans, not only that limestone mining which is currently still taking place in the area is also worrying because it can erode the rocks around the area. The existence of limestone processing also increases air pollution which is getting worse because can be seen that thick black smoke continues to float into the air caused by the processing. Therefore, the purpose of this research is "to identify the internal and external condition classes of Pawon Cave, as well as conservation efforts that will be carried out based on the identification of condition classes." This research uses quantitative and qualitative approach methods. With a scoring analysis method based on the results of field observations according to applicable parameters. Therefore, the conclusion of this research is that there are two components, namely the internal condition of the cave and the external condition of the cave. overall, the internal and external conditions of Pawon Cave are included in the moderate category. There are several factors that must be improved, such as the physical aspects of the cave, the type of ornamentation and the utilization of the area which will later be carried out in the direction of conservation in the Pawon Cave area. Abstrak. Gua pawon adalah gua alami yang berada di kawasan formasi karst Citatah, Rajamandala dan termasuk kedalam daftar cagar alam geologi yang dilindungi oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat. Gua Pawon menjadi bukti akan keberadaan Danau Purba Bandung. Namun pada saat ini kerentanan ekosistem gua serta keindahan alam mulai mengalami perubahan. Terdapat fenomena cukup mengkhawatirkan dimana Kawasan gua sudah mulai hancur. Terlihat pada bentuk fisik gua saat ini, dimana terdapat vandalisme atau terdapat coretan – coretan pada dinding gua yang dilakukan oleh manusia yang tidak bertanggung jawab tidak hanya itu penambangan batuan kapur yang saat ini masih terjadi di kawasan tersebut juga mengkhawatirkan karena dapat mengikis batuan di sekitar kawasan tersebut. Adanya pengolahan batuan kapur juga meningkatkan polusi udara yang semakin memburuk karena terlihat asap tebal hitam yang terus menerus mengapung ke udara yang diakibatkan dari pengolahan tersebut. Maka dari itu tujuan dalam penelitian ini yaitu “mengindentifikasi kelas kondisi internal dan eksternal Gua Pawon, serta upaya konservasi yang akan dilakukan berdasarkan identifikasi kelas kondisi.” Penelitian ini menggunakan metode pendekatan kuantitatif dan kualitatif. Dengan metode analisis skoring berdasarkan hasil dari observasi lapangan sesuai parameter yang berlaku. Maka dari itu kesimpulan dari penelitian ini terdapat dua komponen yaitu kondisi internal gua serta kondisi eksternal gua. secara keseluruhan kondisi internal dan eksternal Gua Pawon termasuk dalam kategori sedang. Dengan demikian terdapat beberapa faktor yang harus ditingkatkan, seperti aspek fisik gua, jenis ornamen dan pemanfaatan kawasan yang nantinya akan dilakukan arahan konservasi di Kawasan Gua Pawon.
KAJIAN STRUKTUR EKONOMI KABUPATEN BEKASI YUKHA SUNDAYA; Ina Helena Agustina
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 11 No. 2 (2011)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v11i2.257

Abstract

Dalam menetapkan suatu kebijakan pembangunan dibutuhkan replika atau model perekonomian demikian halnya dengan Kabupaten Bekasi. Kabupaten Bekasi merupakan salah satu daerah dengan Pendapatan asli Daerah terbesar di Jawa Barat,maka kajian struktur ekonomi sangat penting untuk menunjang kinerja pembangunan. Pendekatan yang digunakan adalah dengan menggunakan analisis input-output. Dimana hasil input output ini menunjukkan struktur ekonomi Kabupaten Bekasi dapat diidentifikasi bahwa sektor industri pengolahan makanan-minuman-tembakau, dan industri kimia serta barang dari kimia memiliki daya dorong yang sangat kuat terhadap sektor pertanian
GERAK RUANG KAWASAN KERATON KASEPUHAN Ina Helena Agustina; ACHMAD DJUNAEDI; SUDARYONO; DJOKO SURYO
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 13 No. 1 (2013)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v13i1.262

Abstract

Teori lokal mulai dikembangkan setelah adanya kegagalan teori-teori yang didasarkan oleh filsafat rasionalisme. Paradigma Postmodernisme semakin memberi peluang pengembangan teori yang berbasis lokalitas dan komunitas. Kawasan Keraton Kasepuhan yang berdiri sejak abad ke 14 kaya akan nilai-nilai lokal. Didasarkan oleh pendekatan fenomenologi menangkap suatu fenomena yang menunjukkan nilai lokalitas berupa gerak ruang. Gerak adalah keluarnya sesuatu dari titik kemungkinan menuju titik yang dimungkinkan ( Ammar, 1993). Gerak ruang yang terjadi di kawasan ini berupa gerak ruang substansi dan gerak ruang aksiden. Gerak ruang substansi yang ditunjukkan dalam fenomena gerak tradisi ke politik memiliki nilai lokal kesadaran integral dinamika spirit yang ditunjukkan oleh: 1) keyakinan terhadap tanggung jawab sebagai pemegang amanah; 2) keyakinan terhadap persatuan umat (keluarga); 3) keyakinan untuk membuka diri pada yang lain. Sedangkan gerak ruang aksiden yang ditunjukkan oleh kegiatan revitalisasi keraton memiliki nilai lokal “ kebersamaan “.
MODEL PERTANIAN DENGAN MENGGUNAKAN MODEL EKONOMETRIKA DI KABUPATEN BEKASI Ina Helena Agustina
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 14 No. 2 (2014)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v14i2.279

Abstract

Dalam upaya meningkatkan pembangunan pertanian merupakan dokumen penting bagi Pemerintah Daerah. Strategi atau rencana tersebut merupakan dasar bagi Pemerintah Daerah untuk merumuskan kebijakan dan program yang efektif bagi pembangunan pertanian pada khusus-nya, dan pembangunan daerah secara keseluruhan. Sebagaimana dipahami, per-tumbuhan ekonomi di Kabupaten Bekasi cukup pesat. Kabupaten Bekasi, selain sektor manufaktur atau industri pengolahan tumbuh pesar dan menjadi cluster besar di Jawa Barat, disamping sektor pertanian juga terus ber-kembang. Pertumbuhan penduduk juga terus menigkat. Hal itu berdampak pada masalah penggunaan lahan bagi kegiatan pertanian dan aspek sosial serta ekonomi. Kerangka pikir penyelesaian Metodologi yang akan diterapkan untuk memenuhi tujuan studi adalah berbasis pendekatan empiris. Pendekatan empiris menunjang tahapan pemodelan sistem ekonomi Kabupaten Bekasi. Pertanian merupakan sub dari sistem tersebut. Sementara itu, teori yang relevan ditempatkan sebagai model dasar (basic model) untuk dilonggarkan asumsinya agar mampu merekam sistem ekonomi Kabupaten Bekasi. Berdasarkan simulasi model, penyuluhan yang efektif terhadap kelompok tani, kemudian pengelolaan irigasi yang baik, dorongan pengembangan investasi di sektor peternakan dan perkebunan, serta mempertajam fungsi KUD, dapat berkontribusi pada peningkatan PDRB sektor pertanian dari sub sektor tanaman bahan makanan, peternakan, perikanan, dan perkebunan
STUDI KONSEP RENCANA DAN STRATEGI PROGRAM BIKE TO SCHOOL DI KOTA BANDUNG Ina Helena Agustina
Jurnal Perencanaan Wilayah dan Kota Vol. 15 No. 1 (2015)
Publisher : Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, UPT Publikasi Publikasi Ilmiah UNISBA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/jpwk.v15i1.281

Abstract

Transportasi adalah kegiatan perpindahan orang atau barang dari satu tempat (asal) ke tempat lain (tujuan) dengan menggunakan sarana kendaraan bermotor maupun tidak bermotor. Transportasi terbagi menjadi beberapa jenis yaitu transportasi darat (mobil, motor, kereta api, sepeda, dll), udara (pesawat terbang, helikopter, dll), dan laut (perahu layar, perahu dayung, kapal motor, dll). Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah Analitycal Hierarchy Process. Analitycal Hierarchy Process adalah salah satu metode yang digunakan dalam menyelesaikan masalah yang mengandung banyak kriteria. AHP bekerja dengan cara memberi prioritas kepada alternatif yang penting mengikuti kriteria yang telah ditetapkan. Lebih tepatnya, AHP memecah berbagai peringkat struktur hirarki berdasarkan tujuan, kriteria, sub- kriteria, dan pilihan atau alternative. Dari hasil analisis, ada beberapa variabel untuk mendukung strategi dan program Bike To School, seperti : ketersediaan sepeda, Perizinan dari orang tua untuk memperbolehkan anaknya menggunakan sepeda, Penyediaan parkir sepeda di sekolah, Penyediaan jalur sepeda, Melakukan kampanye penggunaan sepeda, Ketersediaan marka dan rambu-rambu sepeda dan Memberikan pendidikan mengenai keselamatan berkendara sepeda.
Identifikasi Relasi Sosial Permukiman Magersari, Keraton Kasepuhan, Cirebon Kintan Ayu Sevila; Ina Helena Agustina
Prosiding Seminar Nasional Unimus Vol 4 (2021): Inovasi Riset dan Pengabdian Masyarakat Post Pandemi Covid-19 Menuju Indonesia Tangguh
Publisher : Universitas Muhammadiyah Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kebesaran Islam di Jawa Barat tak lepas dari peranan Sunan Gunung Djati yang mendirikanKesultanan Cirebon. Magersari merupakan kawasan permukiman heritage yang sejak dahuludiperuntukan sebagai hunian bagi abdi dalem (orang yang bekerja di Keraton). Sebagai kawasanheritage, permukiman Magersari tentulah memiliki kekayaan nilai budaya yang terlihat secaralangsung seperti fisik bangunan, maupun secara eksplisit melalui pola prilaku dan pola interaksimasyarakatnya. Saat ini pemukim Magersari telah bercampur dengan masyarakat yang bukanberperan sebagai abdi dalem. Berdasarkan fenomena tersebut maka relasi social antar anggotamasyarakat Magersari menjadi menarik karena eksistensi Raja masih ada di Keraton Kasepuhan.Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan identifikasi Relasi social pemukim.Metode penelitian menggunakan pendekatan  kualitatif.  Pengumbulan data dilakukan melalui observasi lapangan dansurvey selama dua minggu, mewawancara penduduk, serta merekam secara visual. Setelah serangkaianupaya pencarian data dan analisa yang dilakukan dengan cara deskriptif-kualitatif berdasarkan hasiltemuan empiris, didapatkan hasil ada relasi yang guyub antar sesama pemukim. Hubungan antrapihak pemukim dengan pihak keraton juga terjalin kental terutama karena adanya tradisi yangmengikat. Kata Kunci : Magersari-Kasepuhan, Relasi Sosial, Kawasan-Heritage.