Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Stres Kerja pada Perawat di RS Kartika Husada Setu Bekasi Tahun 2025 Dame Haryanti Siagian; Ahmad Irfandi; Mirta Dwi Rahmah Rusdy; Mugi Wahidin
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v5i1.8085

Abstract

Stres kerja merupakan salah satu masalah psikologis yang banyak dialami oleh perawat akibat tuntutan pekerjaan, beban kerja yang tinggi, serta sistem kerja shift di rumah sakit. Kondisi ini dapat berdampak pada penurunan kualitas pelayanan dan kesejahteraan perawat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan stres kerja pada perawat di RS Kartika Husada Setu Bekasi. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel penelitian berjumlah 60 responden yang dipilih menggunakan teknik total sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner Depression Anxiety Stress Scale (DASS-21). Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji chi-square dengan tingkat signifikansi 95% (α = 0,05). Hasil analisis univariat menunjukkan bahwa sebagian besar responden berada pada kelompok umur dewasa madya (61,7%), berjenis kelamin perempuan (65,0%), memiliki masa kerja berisiko (≤ 5 tahun) (53,3%), dan bekerja pada shift pagi dan siang (73,3%). Mayoritas responden memiliki beban kerja rendah (86,7%) dan tidak mengalami stres kerja (88,3%). Hasil analisis bivariat menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara umur (p = 0,010), jenis kelamin (p = 0,045), shift kerja (p = 0,000), masa kerja (p = 0,043), dan beban kerja (p = 0,000) dengan stres kerja pada perawat. Kesimpulan penelitian ini adalah bahwa beban kerja, shift kerja, umur, masa kerja, dan jenis kelamin berhubungan dengan stres kerja pada perawat, dengan beban kerja sebagai faktor yang paling dominan. Oleh karena itu, manajemen rumah sakit disarankan untuk melakukan pengelolaan beban kerja secara optimal melalui penyesuaian distribusi tugas dan rasio perawat-pasien, serta pengaturan sistem shift kerja yang lebih seimbang. Perawat juga diharapkan meningkatkan kemampuan manajemen stres melalui strategi coping adaptif. Penelitian selanjutnya disarankan untuk menambahkan variabel lain seperti dukungan organisasi dan kepemimpinan serta menggunakan desain longitudinal untuk memperoleh gambaran hubungan sebab-akibat yang lebih komprehensif.
Analisis Faktor-Faktor yang Berhubungan Dengan Gejala Sick Building Syndrome (SBS) pada Pekerja di Lantai 12 PT Y Tahun 2025 Muhammad Fadhlillah Ramadhan; Eka Cempaka Putri; Izzatu Millah; Mirta Dwi Rahmah Rusdy
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 1 (2026): June 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v5i1.8110

Abstract

Sick Building Syndrome (SBS) merupakan kumpulan keluhan kesehatan yang muncul pada individu saat berada di dalam bangunan atau ruangan, seperti mengantuk atau kelelahan, sakit kepala, sulit berkonsentrasi, iritasi mata dan kulit, iritasi hidung atau tenggorokan, hingga keluhan pernapasan. Penelitian ini bertujuan menganalisis faktor-faktor yang berhubungan dengan gejala SBS pada pekerja staf di PT Y tahun 2025 serta menggambarkan kondisi kualitas udara dalam ruang (Indoor Air Quality) di ruang kerja lantai 12. Penelitian menggunakan desain kuantitatif analitik dengan pendekatan cross-sectional pada tahun 2025. Sampel diambil dengan total sampling sebanyak 68 responden. Variabel independen meliputi usia, jenis kelamin, dan masa kerja, sedangkan variabel dependen adalah gejala SBS. Gejala SBS diukur menggunakan kuesioner, sementara data IAQ diperoleh dari hasil pengukuran internal perusahaan berupa kadar karbon dioksida (CO₂) dan total volatile organic compounds (TVOC) pada beberapa titik di ruang kerja lantai 12. Analisis data dilakukan secara univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-square (continuity correction) serta perhitungan Prevalence Ratio (PR). Hasil penelitian menunjukkan prevalensi SBS sebesar 75,0% (51 orang). Hasil pengukuran IAQ menunjukkan seluruh titik pengukuran CO₂ tidak memenuhi baku mutu (100%) karena melebihi 1.000 ppm, sedangkan seluruh titik pengukuran TVOC memenuhi baku mutu (100%) karena ≤3 ppm. Uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara usia (p=0,880), jenis kelamin (p=0,663), maupun masa kerja (p=0,254) dengan gejala SBS (p>0,05). Analisis hubungan CO₂ dan TVOC dengan SBS tidak dapat dilakukan karena seluruh hasil pengukuran berada pada satu kategori sehingga tidak terdapat variasi data.
ANALISIS TINGKAT RISIKO POSTUR KERJA MENGGUNAKAN METODE REBA PADA ANGGOTA KASSA STERIL DI INSTALASI CSSD RUMKITAL Dr. MINTOHARDJO JAKARTA PUSAT CUT ALIA KEUMALA MUDA; JANO DAMANIK; DESYAWATI UTAMI; MIRTA DWI RAHMAH RUSDY
Journal of Nursing and Public Health Vol 13 No 1 (2025)
Publisher : UNIVED Press, Universitas Dehasen Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37676/jnph.v13i1.8517

Abstract

Pendahuluan: Postur kerja yang dikemukakan oleh Tarwaka adalah posisi tubuh yang diterapkan pada saat seseorang melakukan pekerjaannya. Postur kerja terbagi menjadi 2 yaitu postur netral adalah postur yang baik, karena keadaan seluruh bagian tubuh berada dalam posisi yang wajar atau semestinya ketika melakukan pekerjaan dan postur janggal adalah sebaliknya. Postur kerja yang kurang baik dapat mengakibatkan risiko terjadinya keluhan musculoskeletal pada pekerja. Instalasi CSSD menunjang pendistribusian alat dan bahan yang akan digunakan pada setiap ruangan baik IGD, kamar operasi, rawat inap, ICU, poli klinik, penunjang medic, ruang bayi dan pekerjaan sterilisasi alat-alat medis dengan menggunakan alat bantu mesin autoklaf dan dry heat, khususnya dalam penyiapan kassa steril guna menjaga agar kondisi bahan tidak terkontaminasi. Metode: Penelitian ini menggunakan penelitian kuantitatif dengan desain cross sectional. Hasil dan Pembahasan: Pengambilan sampel dalam penelitian ini menggunakan tekniktotal sampling dimana jumlah sampel yang diambil adalah 10 responden. Metode analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah univariat dengan analisa risiko menggunakan metode REBA dan software Ergo Fellow. Pekerja yang memiliki risiko tinggi sebanyak 9 anggota (90%) dan yang memiliki risiko sedang sebanyak 1 anggota (10%). Kesimpulan: Hasil menunjukan bahwa proporsi tertinggi yaitu dengan tingkat risiko tinggi sebanyak 9 anggota dan proporsi terendah dengan tingkat risiko sedang sebanyak 1 anggota.
PENYEBAB KUALITAS TIDUR BURUK PADA PEKERJA YANG BEKERJA DARI RUMAH DI JABODETABEK TAHUN 2021 Situngkir, Decy; Ayu, Ira Marti; Putri, Eka Cempaka; Rusdy, Mirta Dwi Rahmah
Jumantik Vol 9 No 1 (2022): JUMANTIK: Jurnal Mahasiswa dan Penelitian Kesehatan
Publisher : Universitas Muhammadiyah Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29406/jjum.v9i1.3839

Abstract

Kualitas tidur yang buruk pada pekerja dapat menyebabkan kinerja berkurang, tidak konsentrasi, gangguan kesehatan baik fisik dan mental serta menurunkan kualitas hidup Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi faktor yang mempengaruhi kualitas tidur pekerja Work From Home, yang dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2021. Penelitian ini adalah penelitian kuantitatif dengan desain potong lintang. Sampel pada penelitian sebanyak 87 responden yang diambil dengan Teknik sampling purposive. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner melalui google form yang terkait variabel terkait yaitu usia, jenis kelamin, stres, kelelahan, konsumsi kafein, kebiasaan olahraga, kebiasaan merokok, riwayat penyakit dan screen time. Analisa bivariat dilakukan dengan menggunakan uji chi-square. Hasil analisa bivariat menunjukkan bahwa usia (p : 0,017; POR : 1,357 ) , kelelahan (p : 0,002; POR : 1,500), dan konsumsi kafein (p : 0,048; POR : 1,409) merupakan penyebab kualitas tidur yang buruk pada pekerja yang bekerja dari rumah. raga. Disarankan agar instansi perlu meninjau prosedur kerja, mengadakan pelatihan mengenai kelelahan, senam online bersama, penerapan peregangan, 20-20-20 dan juga aktivitas berkedip pada mata agar tidak menjadi kering.