Claim Missing Document
Check
Articles

Found 36 Documents
Search

Analisis Person-Job Fit Berdasarkan Pendidikan dan Jabatan Pada Pegawai Satpol PP Kota Surakarta Rahma Nurhaliza; Laila Listiana Ulya; Liya Aryati
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Nusantara Vol. 7 No. 2 (2026): Edisi Mei - Agustus
Publisher : Lembaga Dongan Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penempatan pegawai yang tidak sesuai dengan latar belakang pendidikan masih menjadi tantangan dalam manajemen aparatur sipil negara di Indonesia. Kegiatan pengabdian ini bertujuan menganalisis tingkat person-job fit pegawai Satuan Polisi Pamong Praja Kota Surakarta berdasarkan kesesuaian pendidikan formal dengan kualifikasi jabatan, serta membandingkannya antar status kepegawaian. Metode yang digunakan adalah analisis dokumen kepegawaian yang telah diverifikasi bersama supervisor mitra terhadap 198 pegawai. Hasil analisis menunjukkan bahwa secara keseluruhan tingkat person-job fit mencapai 95,5% (189 pegawai sesuai), dengan 4,5% (9 pegawai) kurang sesuai. Seluruh pegawai yang kurang sesuai berasal dari kelompok Pegawai Negeri Sipil (PNS), dengan tingkat ketidaksesuaian sebesar 19,6%, sementara Pegawai Pemerintah dengan Perjanjian Kerja (PPPK) mencapai 100% kesesuaian. Menariknya, sebagian besar pegawai yang kurang sesuai memiliki masa kerja antara 10 hingga 15 tahun, mengindikasikan bahwa ketidaksesuaian lebih disebabkan akumulasi kebijakan rotasi dan mutasi jangka panjang kesalahan rekrutmen awal. Sebagai solusi, direkomendasikan pelatihan teknis intensif dan pendampingan bagi pegawai senior kurang sesuai, serta dorongan pendidikan lanjutan. Hasil pengabdian ini penting sebagai dasar empiris bagi manajemen SDM Satpol PP dalam menyusun kebijakan penempatan, rotasi, dan pengembangan pegawai yang lebih tepat sasaran.
Competency Gap Analysis and Experiential Learning Needs in Student Organization Nahwa Nur Rofahiyah; Laila Listiana Ulya
Edukasi Vol. 20 No. 1 (2026): Educational Technology & Educational Psychology
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/edukasi.v20i1.37106

Abstract

Background – Student Organizations (Ormawa) serve a strategic role as a non-formal learning environment to bridge graduate competency gaps. However, competency development efforts within these organizations are frequently ad-hoc and assumption-based. Research Urgency – This study is critical to address the inefficiency of irrelevant intervention programs resulting from a lack of objective diagnostic data in designing learning interventions. Objective – This study aims to map the competency gaps of student organization administrators and prioritize their learning intervention needs. Methods – This research employed an explanatory sequential mixed-methods design, involving 46 administrators of the UNNES Psychology Student Association in a quantitative survey based on McGehee & Thayer’s Training Needs Analysis (TNA) model, which was subsequently deepened through Focus Group Discussions (FGD) with 23 representatives. Findings – The results identified the highest competency gaps in ‘Time Management,’ ‘Innovation,’ and ‘Event Management.’ Qualitative analysis revealed that the root causes of these gaps lay at the organizational level, not merely the individual level. Conclusion – These findings confirm that a diagnostic approach is capable of uncovering the actual needs of administrators, including a strong preference for experiential learning methods as a form of non-financial compensation. Novelty/Contribution – This research contributes by demonstrating the application of the Training Needs Analysis (TNA) framework as a formal diagnostic tool to formulate effective learning intervention designs within a non-formal educational setting.
HUBUNGAN GRIT DENGAN INTENSI BERWIRAUSAHA PADA PESERTA PROGRAM PEMBINAAN MAHASISWA WIRAUSAHA (P2MW) DI SEMARANG Hilda Rosana Pramudyawardhani; Laila Listiana Ulya
JOURNAL OF SCIENCE AND SOCIAL RESEARCH Vol. 9 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : Smart Education

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54314/jssr.v9i1.5774

Abstract

Abstract: This research is motivated by the low entrepreneurial intention among university students despite having participated in an entrepreneurship development program. One psychological factor suspected to play a significant role in shaping entrepreneurial intention is grit, which is an individual's perseverance and resilience in achieving long-term goals. This study aims to determine the relationship between grit and entrepreneurial intention among university students participating in the P2MW program in Semarang. This study used a quantitative approach with a correlational design. The study subjects were 147 university students participating in the entrepreneurship development program, with data collection conducted through an online questionnaire. The results showed a strong and significant relationship between grit and entrepreneurial intention, with a correlation coefficient of 0.801, indicating that grit has an 80.1% correlation with students' entrepreneurial intention. Students with high levels of grit, characterized by perseverance, resilience in the face of obstacles, and consistent interest, tend to have stronger intentions to start, maintain, and develop a business. This study concludes that grit is an internal factor that plays a significant role in strengthening students' mental readiness and commitment to entrepreneurship. Therefore, grit development needs to be a priority in the implementation of entrepreneurship development programs to encourage the sustainability of student businesses after the program ends. Keyword: Grit, Entrepreneurial Intention, P2MW Student Participant. Abstrak: Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya intensi berwirausaha di kalangan mahasiswa meskipun telah mengikuti program pembinaan kewirausahaan. Salah satu faktor psikologis yang diduga berperan penting dalam membentuk niat berwirausaha adalah grit, yaitu ketekunan dan ketangguhan individu dalam mencapai tujuan jangka panjang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara grit dan intensi berwirausaha pada mahasiswa peserta P2MW di Semarang. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain korelasional. Subjek penelitian berjumlah 147 mahasiswa peserta program pembinaan kewirausahaan, dengan pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner daring. Hasil penelitian menunjukkan adanya hubungan yang kuat dan signifikan antara grit dan intensi berwirausaha, dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,801, yang mengindikasikan bahwa grit memiliki keterkaitan sebesar 80,1% terhadap intensi berwirausaha mahasiswa. Mahasiswa dengan tingkat grit yang tinggi, ditandai oleh ketekunan, ketahanan menghadapi hambatan, dan konsistensi minat, cenderung memiliki niat yang lebih kuat untuk memulai, mempertahankan, dan mengembangkan usaha. Penelitian ini menyimpulkan bahwa grit merupakan faktor internal yang berperan penting dalam memperkuat kesiapan mental dan komitmen mahasiswa terhadap kewirausahaan, sehingga pengembangan grit perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan program pembinaan kewirausahaan guna mendorong keberlanjutan usaha mahasiswa setelah program berakhir. Kata kunci: Grit, Intensi Berwirausaha, Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha (P2MW).
HUBUNGAN KELELAHAN KERJA DAN KINERJA PADA KARYAWAN SATUAN PELAYANAN PEMENUHAN GIZI DI KABUPATEN TEMANGGUNG Briliyan Yusuf Ananto; Laila Listiana Ulya
DE FACTO : Journal Of International Multidisciplinary Science Vol 4 No 02 (2026): DE FACTO : Journal Of International Multidisciplinary Sciences
Publisher : Pusat Studi Ekonomi, Publikasi Ilmiah dan Pengembangan SDM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62668/defacto.v4i02.2761

Abstract

The Free Nutritious Meal program positions the Nutrition Fulfillment Service Unit (SPPG) as an operational unit facing high work demands within a short timeframe, which can potentially trigger work fatigue among its employees. This study aims to determine the relationship between work fatigue and employee performance among SPPG workers in Temanggung Regency. The research used a quantitative correlational design with a cross-sectional approach, involving 181 employees from 7 SPPG units in Temanggung Regency. The Fatigue Assessment Scale (FAS) was used to measure employees' fatigue levels, while the Individual Work Performance Questionnaire (IWPQ) was used to measure their performance levels. Data were analyzed using Spearman's Rho non-parametric correlation test. The results showed a significant and strong negative relationship between work fatigue and employee performance, with a coefficient of determination of 52.4%. This finding indicates that the higher the level of work fatigue experienced by employees, the lower their performance in carrying out operational tasks.
Grooming Training Berbasis Training Need Analysis untuk Mendukung Profesionalisme dan Kualitas Pelayanan Karyawan Hotel Gets Premiere Semarang Khoirunisa Azahra; Laila Listiana Ulya; Galih Lintang Pratiwi
Jurnal Pengabdian Nasional (JPN) Indonesia Vol. 7 No. 3 (2026): September
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (LPPM) STMIK Indonesia Banda Aceh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63447/jpni.v7i3.1901

Abstract

Human resources, particularly employee competence, appearance, and professional image, are important factors in creating service quality within the hospitality industry. Based on the results of a Training Need Analysis (TNA) conducted through observations and interviews, inconsistencies were found in the implementation of employee grooming standards at Gets Premiere Hotel Semarang. Therefore, a Hospitality Appearance Excellence Training program consisting of grooming refreshment training and beauty class sessions was conducted to improve employees’ understanding, awareness, and consistency in applying hotel grooming standards. The training evaluation was carried out using the Kirkpatrick Model focusing on the reaction, learning, and behaviour aspects through an online feedback questionnaire, post-training quiz, and grooming compliance check inspection. The results showed that participants responded positively to the training and demonstrated a good understanding of hotel grooming standards. In addition, the inspection results indicated an improvement in grooming compliance across all observed aspects, including personal hygiene, which increased from 65% to 82%, appearance from 70% to 95%, and the use of uniforms and work attributes from 64% to 90%. Training designed based on organizational needs was considered relevant in supporting the implementation of employee grooming standards within the hotel work environment, although periodic monitoring and reinforcement are still needed to maintain consistent workplace behaviour.
ANALISIS ENTREPRENEURIAL MINDSET SISWA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN BERDASARKAN KARAKTERISTIK DEMOGRAFIS, PENGALAMAN KEWIRAUSAHAAN, DAN ORIENTASI KARIER Muhammad Naufal Herliansyah; Laila Listiana Ulya
PAEDAGOGY : Jurnal Ilmu Pendidikan dan Psikologi Vol. 6 No. 4 (2026)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/paedagogy.v6i4.16075

Abstract

ABSTRAK Entrepreneurial mindset merupakan aspek penting bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam mengenali peluang kewirausahaan dan menentukan arah karier setelah lulus. Penelitian ini bertujuan menganalisis entrepreneurial mindset siswa berdasarkan karakteristik demografis, pengalaman kewirausahaan, dan orientasi karier. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional yang melibatkan 275 siswa kelas XI SMK Saraswati Kota Salatiga. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur entrepreneurial mindset dan dianalisis menggunakan korelasi Pearson serta regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa entrepreneurial mindset, elaborating mindset, dan implementing mindset siswa berada pada kategori sedang. Karakteristik demografis menunjukkan hubungan yang beragam. Jurusan dan pekerjaan ayah/wali laki-laki memiliki hubungan atau kontribusi signifikan pada beberapa aspek entrepreneurial mindset, sedangkan usia, jenis kelamin, status kewirausahaan orang tua, dan pekerjaan ibu/wali perempuan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Pengalaman mengikuti pelatihan kewirausahaan berkorelasi positif dengan entrepreneurial mindset dan kedua dimensinya, sedangkan pengalaman menjalankan usaha menunjukkan hubungan yang lebih kuat serta berkontribusi positif dan signifikan terhadap entrepreneurial mindset, elaborating mindset, dan implementing mindset. Orientasi karier juga menunjukkan hubungan yang berbeda berdasarkan pilihan karier, dengan hubungan positif pada orientasi kuliah sambil berwirausaha dan berwirausaha. Temuan ini menunjukkan bahwa entrepreneurial mindset siswa lebih berkaitan dengan pengalaman kewirausahaan dan orientasi karier dibandingkan karakteristik demografis. ABSTRACT Entrepreneurial mindset merupakan aspek penting bagi siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dalam mengenali peluang kewirausahaan dan menentukan arah karier setelah lulus. Penelitian ini bertujuan menganalisis entrepreneurial mindset siswa berdasarkan karakteristik demografis, pengalaman kewirausahaan, dan orientasi karier. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross-sectional yang melibatkan 275 siswa kelas XI SMK Saraswati Kota Salatiga. Data dikumpulkan menggunakan kuesioner yang mengukur entrepreneurial mindset dan dianalisis menggunakan korelasi Pearson serta regresi linier berganda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa entrepreneurial mindset, elaborating mindset, dan implementing mindset siswa berada pada kategori sedang. Karakteristik demografis menunjukkan hubungan yang beragam. Jurusan dan pekerjaan ayah/wali laki-laki memiliki hubungan atau kontribusi signifikan pada beberapa aspek entrepreneurial mindset, sedangkan usia, jenis kelamin, status kewirausahaan orang tua, dan pekerjaan ibu/wali perempuan tidak menunjukkan hubungan yang signifikan. Pengalaman mengikuti pelatihan kewirausahaan berkorelasi positif dengan entrepreneurial mindset dan kedua dimensinya, sedangkan pengalaman menjalankan usaha menunjukkan hubungan yang lebih kuat serta berkontribusi positif dan signifikan terhadap entrepreneurial mindset, elaborating mindset, dan implementing mindset. Orientasi karier juga menunjukkan hubungan yang berbeda berdasarkan pilihan karier, dengan hubungan positif pada orientasi kuliah sambil berwirausaha dan berwirausaha. Temuan ini menunjukkan bahwa entrepreneurial mindset siswa lebih berkaitan dengan pengalaman kewirausahaan dan orientasi karier dibandingkan karakteristik demografis.