Iwan Ariawan
Department Of Biostatistics And Population Studies, Faculty Of Public Health, Universitas Indonesia, Depok, Indonesia; Reconstra Utama Integra, Jakarta, Indonesia

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

SARS-CoV-2 Antibody Seroprevalence in Jakarta, Indonesia Ariawan, Iwan; Jusril, Hafizah; N Farid, Muhammad; Riono, Pandu; Wahyuningsih, Wiji; Widyastuti, Widyastuti; Handayani, Dwi Oktavia T L; Wahyuningsih, Endang Sri; Daulay, Rebekka; Henderiawati, Retno; Malik, Safarina G; Noviyanti, Rintis; Trianty, Leily; Fadila, Nadia; Myint, Khin Saw Aye; Yudhaputri, Frilasita A.; Venkateswaran, Neeraja; Venkateswaran, Kodumudi; Udhayakumar, Venkatachalam; Hawley, William A.; Morgan, Juliette; Pronyk, Paul M
Kesmas Vol. 17, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The SARS-CoV-2 transmission dynamics in low- and middle-income countries remain poorly understood. This study aimed to estimate the SARS-CoV-2 antibodies seroprevalence in Jakarta, Indonesia, and to increase knowledge of SARS-CoV-2 transmission in urban settings. A population-based serosurvey among individuals aged one year or older was conducted in Jakarta. Employing a multistage sampling design, samples were stratified by district, slum, and non-slum residency, sex, and age group. Blood samples were tested for IgG against three different SARS-CoV-2 antigens. Seroprevalence was estimated after applying sample weights and adjusting for cluster characteristics. In March 2021, this study collected 4,919 respondents. The weighted estimate of seroprevalence was 44.5% (95% CI = 42.5-46.5). Seroprevalence was highest among adults aged 30-49 years, with higher seroprevalence in women and the overweight/obese group. Respondents residing in slum areas were 1.3-fold more likely to be seropositive than non-slum residents. It was estimated that4,717,000 of Jakarta's 10.6 million residents had prior SARS-CoV-2 infection. This suggests that approximately 10 infections were undiagnosed/underreported for every reported case. About one year after the first COVID-19 case was confirmed, close to half of Jakarta's residents have been infected by SARS-CoV-2.
Hubungan Usia Pertama Menikah dengan Keluaran Kesehatan Reproduksi pada Wanita Usia Subur di Provinsi Nusa Tenggara Barat (Analisis Data ICMM Tahun 2016): Relationships of Age at First Marriage with Reproductive Health Outcomes in Women of Childbearing Age in West Nusa Tenggara (Analysis of 2016 ICMM Data) Fianti, Rika; Sugiarto, Danang Wahansa; Damayanti, Rita; Ariawan, Iwan
Media Publikasi Promosi Kesehatan Indonesia (MPPKI) Vol. 5 No. 10 (2022): October 2022
Publisher : Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/mppki.v5i10.2655

Abstract

Latar Belakang: Perempuan yang kawin pertama kali pada usia muda mempunyai risiko terhadap kehamilan yang lebih tinggi daripada perempuan yang kawin pertamanya di usia yang lebih tua. Pernikahan usia dini secara umum memberikan dampak yang kurang baik terhadap keluaran kesehatan reproduksi wanita. Tujuan: Untuk mengetahui hubungan usia pertama kali menikah dengan keluaran kesehatan reproduksi (jumlah anak yang dilahirkan, anak lahir mati dan meninggal, jumlah anak yang dimiliki saat ini, kejadian keguguran/digugurkan, serta penggunaan KB di tahun pertama pernikahan) pada wanita usia subur (WUS) di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Metode: Penelitian ini menggunakan metode cross-sectional dengan menggunakan data sekunder dari Improving Contraceptive Method Mix (ICMM) di Nusa Tenggara Barat tahun 2016. Jumlah sampel sebanyak 14.498 responden. Pemilihan sampel menggunakan cluster sampling. Data dianalisis secara univariat, bivariat dengan chi-square dan uji T independen, serta multivariat dengan regresi logistik dengan model faktor risiko. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebanyak 50,9% WUS menikah di usia muda atau usia dini. Berdasarkan hasil analisis multivariat, didapatkan bahwa usia pertama menikah (terutama usia muda) berhubungan dengan keluaran kesehatan reproduksi yang buruk, yaitu jumlah anak yang dilahirkan, anak lahir mati dan meninggal, jumlah anak yang dimiliki saat ini, dan penggunaan KB di tahun pertama pernikahan, setelah dikontrol oleh variabel usia saat ini, pendidikan, pekerjaan, wilayah tinggal, dan status sosial ekonomi. Kesimpulan: Proporsi WUS di NTB yang menikah di usia muda masih sangat tinggi dan keluaran kesehatan reproduksi WUS masih tergolong kurang baik.