Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search
Journal : Biotropika

PERTUMBUHAN PADI HITAM DAN SERANGAN BEBERAPA HERBIVOR DI SAWAH PADI ORGANIK KECAMATAN KEPANJEN linda deviana cristanti; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 5 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini bertujuan untuk menentukan diversitas herbivor pengunjung padi hitam varietas Toraja di sawah padi organik di Kecamatan Kepanjen, Malang, menentukan gejala gangguan pertumbuhan padi hitam akibat serangan ringan herbivor, serta membandingkan pertumbuhan padi hitam akibat serangan tikus dengan tanaman tidak terserang. Pengamatan dilakukan di tiga petak sawah padi hitam organik pada empat umur yaitu 28, 48, 88, dan 112 hari setelah tanam (hst). Pertumbuhan padi hitam diamati tinggi rumpun, jumlah anakan, malai, spikelet dan biomassa. Pengamatan diversitas hewan pengunjung dengan  metode jelajah dan visual encounter di sisi tiap petak sawah padi hitam organik  menggunakan skor kelimpahan 0-4 pada jam 06.00-10.00 WIB. Diversitas hewan pengunjung ditentukan dengan kekayaan spesies, famili, dan ordo. Data pertumbuhan padi hitam yang terserang tikus dianalisis menggunakan software PAST dan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan telah diamati enam famili herbivor pada fase vegetatif dan generatif yang mengunjungi sawah padi hitam di antaranya tikus (Muridae), burung pipit (Estrildidae), ulat penggerek batang (Pyralidae), lalat (Muscidae), lalat pucuk padi (Ephydridae) dan ngengat (Arctiidae). Serangan herbivor pengunjung terbesar pada umur 26 hst diakibatkan oleh Muride, dan fase generatif oleh Estrildidae. Walaupun pasca serangan tikus terjadi recovery pada pertumbuhan tinggi padi, namun jumlah malai dan spikelet padi menurun  10 %-55 % pada saat panen. Kata kunci: Padi hitam, herbivor, pertumbuhan, dan tikus.
Diversitas Aves Diurnal di Agroforestry, Hutan Sekunder, dan Pemukiman Masyarakat sekitar Rowo Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi Aulia Rahman El-Arif; Ngakan Made Suastika; Rakhmad Abinurizzaman; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wana Wisata Rowo Bayu merupakan objek wisata alam, sejarah, maupun religi yang terletak di kaki Gunung Ijen Kawasan hutan songgon, Dusun Sambung Rejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Selain sebagai objek wisata Wana Wisata Rawa Bayu juga menjadi lokasi Konservasi flora dan fauna. Salah satunya adalah burung. Burung memiliki kekhususan, karena kemampuannya untuk terbang jauh. Kemampuan ini mempengaruhi distribusi burung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi struktur komunitas burung yang terdapat pada daerah agroforestry, hutan sekunder, dan pemukiman masyarakat; mengidentifikasi pengaruh alih guna lahan terhadap struktur komunitas burung; dan jenis eksploitasi di daerah Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan yaitu pengamatan secara langsung (visual encounter), pengamatan secara tidak langsung, dan survei sosial. Metode sampling menggunakan transect. Parameter yang diamati jumlah, jenis, waktu, panjang jalur pengamatan, luas sisi yang bisa dicover dan koordinat. Terdapat 24 jenis burung yang ditemukan. Spesies yang ditemukan di Pemukiman warga ialah 13 spesies, Agroforestry 11 spesies, Rowo Bayu sebanyak 9 spesies, dan Hutan Sekunder 12 spesies. Pada keempat area tersebut diketahui bahwa terjadi kodominansi antar spesies burung. Keempat area pengamatan terdapat hubungan kodominansi antar spesies. Burung banyak ditemui pada pagi(pukul 05.00-08.00) dan sore hari(pukul 16.00-17.00). Pada pagi hari, jenis yang banyak ditemukan ialah burung insectivora (pemakan serangga), frugivora (pemakan buah), dan granivora(pemakan biji). Pada sore hari banyak ditemukan burung karnivora dan granivora(pemakan biji). Rawa Bayu berpotensi jadi tempat wisata birdwatching karena di tempat itu ditemukan Anis Hutan dan di hutan sekunder terdapat jalur migrasi raptor.Wana Wisata Rowo Bayu merupakan objek wisata alam, sejarah, maupun religi yang terletak di kaki Gunung Ijen Kawasan hutan songgon, Dusun Sambung Rejo, Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Selain sebagai objek wisata Wana Wisata Rawa Bayu juga menjadi lokasi Konservasi flora dan fauna. Salah satunya adalah burung. Burung memiliki kekhususan, karena kemampuannya untuk terbang jauh. Kemampuan ini mempengaruhi distribusi burung. Tujuan dari penelitian ini adalah mengidentifikasi struktur komunitas burung yang terdapat pada daerah agroforestry, hutan sekunder, dan pemukiman masyarakat; mengidentifikasi pengaruh alih guna lahan terhadap struktur komunitas burung; dan jenis eksploitasi di daerah Wana Wisata Rowo Bayu. Metode yang digunakan yaitu pengamatan secara langsung (visual encounter), pengamatan secara tidak langsung, dan survei sosial. Metode sampling menggunakan transect. Parameter yang diamati jumlah, jenis, waktu, panjang jalur pengamatan, luas sisi yang bisa dicover dan koordinat. Terdapat 24 jenis burung yang ditemukan. Spesies yang ditemukan di Pemukiman warga ialah 13 spesies, Agroforestry 11 spesies, Rowo Bayu sebanyak 9 spesies, dan Hutan Sekunder 12 spesies. Pada keempat area tersebut diketahui bahwa terjadi kodominansi antar spesies burung. Keempat area pengamatan terdapat hubungan kodominansi antar spesies. Burung banyak ditemui pada pagi(pukul 05.00-08.00) dan sore hari(pukul 16.00-17.00). Pada pagi hari, jenis yang banyak ditemukan ialah burung insectivora (pemakan serangga), frugivora (pemakan buah), dan granivora(pemakan biji). Pada sore hari banyak ditemukan burung karnivora dan granivora(pemakan biji). Rawa Bayu berpotensi jadi tempat wisata birdwatching karena di tempat itu ditemukan Anis Hutan dan di hutan sekunder terdapat jalur migrasi raptor.
Growth of Pioneer Grasses in Monoculture and Polyculture Systems of Hydroseeding Applied in a Coal Mining Tailing from the South Kalimantan Amalia Fadhila Rahma; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 2 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT   The aims of this research were to compare germination of local and pioneer grasses seeds sown in garden soil and hydroseeding mulch. Furthermore, we also observed growth, density and coverage of the grasses planted in monoculture or polyculture systems applied in a post coal mining tailing from the South Kalimantan. Species used were Eleusine indica (L.), Paspalum conjugatum P.J.Bergius, Sporobolus indicus (L.) R.Br. and Eulalia amaura (Buese) Ohwi. Thirty two seeds of each grass were sown on a garden soil and mulch of hydroseeding to observe rate and time of germination. The seds of each species (in monoculture treatment) and composited species (in polyculture treeatment) were then mixed with mulch and spreaded above the coal mining tailing put in plastic pot. Each treatment were replicated 3 to 5 times. The observed variables were the time and rate of germination, density, maximum length of leave blade, plant height and coverage, root/shoot length ratio. Data were analyzed descriptively and statistically using one way Anova, Brown Forsythe or t tests, cluster and biplot analysis. Results of research showed that seeds of all pioneer grasses sown in monoculture germinated in both media, garden soil and hydroseeding mulch. Otherwise, E. indica and E. amaura seeds were less germinated in polyculture system. In monoculture system, germination rate of seeds sown on the  soil was higher, moreover seeds rapidly germinated rather than those of hydroseeding mulch. Density, growth and coverage of monoculture grass tent higher than polyculture ones. Root system of all species developed well in the mining tailing, therefore its grew longer than their shoot. Key word : Coal mining tailing, germination, hydroseeding, pioneer grasses
Variasi Spasial Pertumbuhan dan Produktivitas Padi Merah Akibat Pengairan Berbeda di Sawah Organik Desa Sengguruh, Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang Tiara Ayu Pratiwi; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to observe spatial variation of the Aek Sibundong red rice growth and productivity in three different areas of an organic rice field under different water logging levels, as well as to determine the interaction among rice growth with weeds and rice field’s abiotic factors on two planting seasons in the Sengguruh Village, Kepanjen District Malang Regency. Observations were conducted with a purposive sampling based on water logging in three areas. Red rice growths were observed in four growth phases: 20, 48, 82, 102 dap (days after planting) includes plant height, biomass, number of tillers and panicles, grain number and biomass. Weeds (taxa richness, % coverage and biomass) were observed using sampling plots of 0.25 m2. Abiotic factors include soil (pH, soil organic matter and soil bulk density) and rice field water (presence or absence of logging, pH, and conductivity). Data were analyzed using SPSS and PAST software. The result showed there were spatial variations of rice growth in three areas. Rice planted close by irrigation channel has taller plant height and more number of tillers and panicles but not significantly different from those planted in another two areas. However, rice planted close by irrigation channel tends to produces vegetative biomass and grain ten times more than those planted far by irrigation channel. Water logging decreased coverage and taxa richness of weeds. Some weeds after manual weeding had no effect on productivity of panicles and grains. High content of soils organic matter occurred at early vegetative phase and decreased at late reproductive phase, so the lower soils bulk density. Keywords: Growth, productivity, red rice, spatial variation
Dinamika Struktur Komunitas Vegetasi Liar dan Pertumbuhan Padi Hitam Di Sawah Organik Kecamatan Kepanjen Malang Dinda Azalia; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 1, No 1 (2013)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dinamika struktur vegetasi liar selama  pertumbuhan padi hitam di persawahan organik di Kecamatan Kepanjen Kabupaten Malang dan menentukan interaksi keberadaan vegetasi liar pada pertumbuhan padi hitam. Metode yang digunakan adalah selected sampling, yaitu pemilihan petak contoh didasarkan pada pertumbuhan tanaman padi dan kelimpahan vegetasi liar. Pertumbuhan padi hitam diamati berdasarkan tinggi tanaman, biomassa, jumlah anakan, jumlah spikelet dan jumlah serta berat biji. Vegetasi liar diamati secara langsung dengan luasan 50 x 50 pada lokasi penentuan pengamatan pertumbuhan padi hitam. Faktor abiotik yang menjadi variabel bebas dalam penelitian ini meliputi tanah (berat jenis, bahan organik, pH dan konduktivitas) dan air sawah (pH dan konduktivitas). Genangan air sawah diamati dengan menggunakan score. Pengamatan dilakukan dalam empat fase (adaptasi tanaman 28 hst, pembentukan anakan 48 hst, pengisian malai 88 hst dan menjelang panen112 hst). Hasil pengamatan menunjukkan adanya dinamika vegetasi liar selama pertumbuhan padi hitam yang digambarkan dari biomassa vegetasi liar. Kelimpahan vegetasi liar yang tinggi menyebabkan penurunan terhadap pertumbuhan padi hitam, hal ini ditunjukkan dari tinggi pertumbuhan padi, jumlah anakan, malai dan spiklet pada masing-masing umur padi tumbuh minimal, rata-rata dan maksimal. Penutupan vegetasi liar berkorelasi negatif dengan genangan air sawah, yaitu tingginya genangan air sawah memberikan pengaruh terhadap vegetasi liar yang tumbuh.Kata kunci : Dinamika, padi hitam, pertumbuhan, vegetasi liar.
Keberhasilan Hidup Beberapa Tumbuhan Riparian Lokal yang Ditanam di antara Biomassa Kangkung yang Tumbuh Terapung di Kolam Fitoremediasi Lailatul Mufarida; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 3 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui keberhasilan hidup dan pertumbuhan beberapa tumbuhan riparian lokal yang ditanam terapung di antara biomassa Ipomoea aquatica Forsk. (kangkung). Eksperimen semu ini menggunakan tumbuhan riparian lokal Acorus calamus L. (dlingo), Coix lacryma-jobi L. (Jagung jali), Colocasia esculenta (L.) Schott (Talas), Cyperus alternifolius L. (Bintang air), Fimbristylis globulosa (Retz.) Kunth. (Mendong), Hedychium coronarium J. Koenig. (Gandasuli), Ipomoea crassicaulis (Benth.) B. L. Rob. (Kangkungan), Limnocharis flava L. (Genjer), Monochoria vaginalis (Burm. f.) C. Presl ex Kunth. (Eceng padi). Sembilan spesies ditanam di antara biomassa I. aquatica, masing-masing sebanyak sepuluh individu secara monokultur di kolam fitoremediasi air irigasi. Keberhasilan hidup ditunjukkan oleh pertumbuhan tunas dan anakan. Pertumbuhan tunas dan anakan diamati satu bulan sekali. Analisis data menggunakan Ms. Excel, PAST dan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa semua tanaman riparian berhasil hidup sebagai tanaman terapung di antara biomassa I. aquatica, namun F. globulosa, A. calamus dan L. flava merupakan spesies yang mampu membentuk tunas dan anakan. Sebaliknya keterbatasan pertumbuhan tunas dan anakan diamati pada H. coronarium dan C. alternatifolius. Sedangkan keberhasilan hidup C. lacryma-jobi, I. crassicaulis, M. vaginalis dan C. esculenta termasuk kelompok sedang. Kata Kunci: Biomassa kangkung,  keberhasilan hidup, terapung, tumbuhan riparian lokal
Reclamation of Post Coal Mining Using Hydroseeding Involving Seeds of Some Local Papilionaceae Rufaidah Nur Baiti; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aimed to determine germination rate, growth and morphological adaptation of root, shoot and leaves of some local Papilionaceae seeds sown in a post coal mining from the South Kalimantan using hydroseeding technique. Species used in this study were Desmodium triflorum (L.) DC, Indigofera spicata Forssk, Alysicarpus ovalifolius (Schumach.) J. Léonard, Crotalaria pallida Aiton, Cajanus cajan (L.) Millsp. dan Sesbania grandiflora (L.) Pers. Twenty seeds of each species were mixed with mulches became hydroseeding, sown in the surface of the tailings from South Kalimantan and each treatment was repeated four times. The media were watered periodically to maintain soil field capacity. Seeds germination rate, plant length, leaves number and coverage were observed twice per week. Plants were harvested 37 days after sown (das) to determine root length and nodules number. The results showed that the beans of D. triflorum, I. spicata, C. pallida and S. grandiflora succesfully germinated and grew in the media. Otherwise the beans of A. ovalifolius and C. cajan failed to germinate. Four germinated species grew variably depend on their specific life form. These Papilionaceae adapted well to the selected medium and showed an intensive root penetration to the tailing layer. Besides D. triflorum, I. spicata and C. pallida were capable to produce some nodules.   Keyword : Adaptation, post coal mining, Papilionaceae, revegetation
Kualitas Diversitas, Struktur Vegetasi di Area Hutan Sekunder dan Beberapa Agroforestri di Kawasan Wana Wisata Rawa Bayu, Kecamatan Songgon, Banyuwangi Aris Candra Gunanjar; Muhammad Khalid Faruq; Yandha Carbela Putra; Muhammad Yusuf; Endang Arisoesilaningsih
Biotropika: Journal of Tropical Biology Vol 4, No 2 (2016)
Publisher : University of Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wana Wisata Rawa Bayu Banyuwangi merupakan bagian dari Kesatuan Pemangku Hutan (KPH) Rogojampi petak 8 Hutan Songgon, KPH Banyuwangi Barat. Masyarakat terlibat dalam pengelolaan hutan di sekitar wana wisata menggunakan sistem Hutan Kemasyarakatan (HKM) yang bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat tanpa melupakan upaya konservasi lahan. Di kawasan wana wisata ini terdapat dua jenis HKM yaitu agroforestri sederhana (AFS) dan kompleks (AFK). Namun, hingga saat ini belum pernah ada publikasi tentang perbedaan kualitas diversitas dan struktur vegetasi di dua agroforestri asal hutan. Oleh karena itu, perlu dilakukan analisis vegetasi untuk membandingkan kualitas diversitas dan struktur vegetasi antara dua agroforestri tersebut dengan hutan sekunder (HS), karakter tiap lokasi dan morfologi spesies dominan, serta survey sosial untuk memperoleh informasi tentang pengetahuan masyarakat terhadap berbagai jenis dan manfaat tumbuhan. Hasil menunjukkan bahwa terdapat variasi spasial pada struktur dan kualitas diversitas di masing-masing lokasi. Taxa richness dan H’ pancang, tiang, dan pohon pada HS lebih tinggi dibandingkan AFK maupun AFS, kecuali pada semai. Masing-masing lokasi memiliki keunikan dan karakter morfologi yang berbeda-beda. Masyarakat  mengenal  jenis-jenis tumbuhan di agroforestri dan hutan sekunder, serta ada beberapa masyarakat yang mengetahui jenis-jenis tumbuhan lokal, serta mengetahui manfaatnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Co-Authors Abban Putri Fiqa Abinurizzaman, Rakhmad Achmad Rinaldo Fernandes , Adji Achmad Riyanto Adji Achmad Rinaldo Fernandes Adji Ahmad Rinaldo Fernandes Agung Sri Darmayanti Aksita Ayunareswara Amalia Fadhila Rahma Amalia Fadhila Rahma Amalia Fadhila Rahma, Amalia Fadhila Amin Setyo Leksono Amin Setyo Leksono Anak Agung Ayu Putri Indra Pratiwi Ariffin Aris Candra Gunanjar Aulia Rahman El-Arif Ayu Putri Ariska Ayu Raisa Khairun Nisa' Ayu Raisa Khairun Nisa' Ayu Raisa Khairun Nisa’ Ayu Raisa Khairun Nisa’ Ayunareswara, Aksita Azizah, Intan N. Bagyo Yanuwiadi Bagyo Yanuwiadi Bagyo Yanuwiadi Bagyo Yanuwiadi Bagyo Yanuwiadi Beauty Laras Setia Pertiwi Budi Waluyo Budiman Burhanuddin, Achmad Dadang Candra Dewi Catur Retnaningdyah Chatarina Gradict Semiun Daru Setyo Rini Daru Setyo Rini Didik Suprayogo Dinda Azalia Dinda Azalia Donny Harisuseno Donny Harisuseno Dwi Yulianingsih Dyah Ayu Fajarianingtyas Eko Widodo El-Arif, Aulia Rahman Eufrasia Reneilda Arianti Lengur Fadhil Anshari, Muhammad Faruq, Muhammad Khalid G I Wahyudi Gunanjar, Aris Candra Hanin Niswatul Fauziah Hanin Niswatul Fauziah Hanin Niswatul Fauziah Haryati, Jehan Ramdani Herawati Herawati Hidayatullah, M H I Gusti Bagus Wiksuana Inayah, Durrotul Intan N. Azizah Irfan Mustafa Jehan Ramdani Haryati KARTIKA DEWI, YUNI Khinanty, Retno Dewi Kurniatun Hairiah Kurniawan , Nia Kurniawan Sigit Wicaksono Lailatul Mufarida Lailatul Mufarida, Lailatul Laksono Trisnantoro Leni Agustina Leni Agustina Lina Mariantika linda deviana cristanti Luchman Hakim M H Hidayatullah Muhammad Fadhil Anshari Muhammad Khalid Faruq Muhammad Yusuf Muhammad Yusuf MUHAMMAD YUSUF N.N R. Putra Natalia, Depi Ngakan Made Suastika Nisa', Ayu Raisa Khairun Nudia Mella Pratikasari Nurhidayati Nurhidayati Pradana, Silvy Armydiyanti Purfita Asmaranti Purfita Asmaranti Putra, N.N R. Putra, Yandha Carbela Raden Mohamad Herdian Bhakti Rakhmad Abinurizzaman Reni Indarwati Reni Ustiatik Retno Dewi Khinanty Risaundi, Dodi Rosa Liliani Rufaidah Nur Baiti S Soemarno Sany, Zainul Muttaqin Saputra, Syifa Sativandi Riza Serafinah Indriyani Serafinah Indriyani Serafinah Indriyani Seran, Yoseph Nahak Setijono Samino Setijono Samino Setijono Samino Setyo Leksono, Amin Shinta Shinta Shinta Shinta Sholifatul Liliana Azmi Sianturi, Riswan Silvy Armydiyanti Pradana Sinuraya, Sabarita Siska Nurfitriani Soemarno Soemarno Solimun, Solimun Sri Rahayu Utami Suastika, Ngakan Made Suharjono Suharjono Suwondo Suwondo Syahrul Kurniawan Syamsu Ridzal Indra Hadi Tiara Ayu Pratiwi Tiara Ayu Pratiwi Titut Yulistyarini Wahyu Anggarwanto Wahyudi, G I Wayan Firdaus Mahmudy Wimbaningrum, Retno Yandha Carbela Putra Yoga Dwi Jatmiko Yulia Nuraini