Iskandar Arnel
Fakultas Ushuluddin Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Published : 18 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search
Journal : Jurnal Ushuluddin

THE SYMBIOSES BETWEEN WUJŪD AND WAL YAH IN IBN ‘ARABĪ’S THOUGHT Arnel, Iskandar
Jurnal Ushuluddin Vol 19, No 1 (2013): Januari - Juni 2013
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

perspektif Ibn ‘Arabī, yaitu simbiosis antara wujud dan walayah. Berangkat dari asumsi bahwa kedua konsep ini berdiri di atas pandangannya tentang Tuhan sebagai Wujud Mutlak dan Wali Sejati dalam artian yang sebenarnya, simbiosis di antara keduanya dilacak melalui pemikiran Ibn ‘Arabī tentang pertolongan Tuhan, kemunculan yang banyak dari yang Satu, dan cara Tuhan dalam mengatur semua wujud yang mungkin (mumkin al-wujūd). Di akhir pembahasan didapati, bahwa simbiosis tersebut memang ada, dan bahkan tanpa campur tangan walayah-Nya semua wujud yang mungkin tidak akan pernah mengalami manifestasi luaran (outward manifestation).
URGENSI AL-NÂR DALAM PERSPEKTIF TASHAWUF IBN ‘ARABÎ DALAM KEHIDUPAN INSAN Arnel, Iskandar; Yasir, Muhammad
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 1 (2015): Januari - Juni
Publisher : Jurnal Ushuluddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Keberadaan neraka dan azab yang bakal dialami penghuninya merupakan salah satu doktrin yang membentuk keutuhan ajaran agama Islam. Didasarkan pada berbagai ayat Qur’an dan hadis Rasulullah s.a.w, bisa dipastikan bahwa tidak seorang pun dari kalangan umat Islam yang menolak keberadaan doktrin neraka. Akan tetapi apakah kenyataan ini juga bermakna bahwa seluruh kaum muslimin memiliki perspektif yang sama tentang ajaran yang satu ini? Ada dua pandangan yang mengemuka tentang topik ini. Secara sederhana bisa digambarkan bahwa pandangan yang pertama berprinsip bahwa neraka beserta azab yang dimilikinya bersifat abadi, kekal selama-lamanya. Namun demikian, sesuai dengan dalil-dalil naqli, pandangan ini memberikan dua prinsip utama tentang nasib para penghuni neraka. Bagi orang-orang mukmin yang berdosa, mereka akan dipindahkan ke surga setelah masa azab berakhir. Sebaliknya, bagi orangorang kafir, musyrik dan munafik, mereka akan kekal di neraka dan akan diazab buat selama-lamanya (al. QS.Al-Bayyinah: 6). Pandangan yang kedua datang dari perspektif yang dibentangkan oleh advokat mazhab Hanafi, yaitu Ibn Taymiyyah (661-728 H/1263- 1328 M) dan muridnya, Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Berbeda dari yang pertama, mereka berpendapat bahwa neraka beserta azab yang terdapat di dalamnya bersifat fana, tidak kekal
The Holders of the Supreme Hierarchy of Awliya in Light of Prophetic Ahadits Iskandar Arnel
Jurnal Ushuluddin Vol 18, No 1 (2012): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v18i1.698

Abstract

Salah satu doktrin tasawuf yang terkenal adalah ajarannya tentang hirarki para wali yang dipercayakan Allah SWT kepada sejumlah awliyâ’ seperti Qutb, Imâm, Abdâl, Nujabâ’ dan Nuqabâ’. Dalam sejarahnya diketahui, bahwa doktrin ini telah disanggah berulang kali oleh para muhadditsûn dan fuqahâ’ dari satu generasi ke generasi berikutnya karena pertimbangan bahwa doktrin ini tidak memiliki dasar yang kuat dalam Islam, salah satunya dalam hadits. Kalaupun ada, maka kebanyakan dari hadits-hadits tersebut bersifat lemah dan bahkan palsu. Tulisan ini bertujuan melacak kebenaran pertimbangan ini. Dari kajian yang telah dilakukan didapati, bahwa selain dari banyaknya hadits-hadits Nabi s.a.w. yang bisa dipakai sebagai sandaran doktrin ini, para ulama hadits yang mu‘tabar pun banyak yang menerima doktrin ini sebagai suatu kepastian yang tidak bisa diabaikan.
URGENSI AL-NÂR DALAM PERSPEKTIF TASHAWUF IBN ‘ARABÎ DALAM KEHIDUPAN INSAN M Yasir; Iskandar Arnel
Jurnal Ushuluddin Vol 23, No 1 (2015): January - June
Publisher : Universitas Islam Negeri Sultan Syarif Kasim Riau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24014/jush.v23i1.1087

Abstract

Keberadaan neraka dan azab yang bakal dialami penghuninya merupakan salah satu doktrin yang membentuk keutuhan ajaran agama Islam. Didasarkan pada berbagai ayat Qur’an dan hadis Rasulullah s.a.w, bisa dipastikan bahwa tidak seorang pun dari kalangan umat Islam yang menolak keberadaan doktrin neraka. Akan tetapi apakah kenyataan ini juga bermakna bahwa seluruh kaum muslimin memiliki perspektif yang sama tentang ajaran yang satu ini? Ada dua pandangan yang mengemuka tentang topik ini. Secara sederhana bisa digambarkan bahwa pandangan yang pertama berprinsip bahwa neraka beserta azab yang dimilikinya bersifat abadi, kekal selama-lamanya. Namun demikian, sesuai dengan dalil-dalil naqli, pandangan ini memberikan dua prinsip utama tentang nasib para penghuni neraka. Bagi orang-orang mukmin yang berdosa, mereka akan dipindahkan ke surga setelah masa azab berakhir. Sebaliknya, bagi orangorang kafir, musyrik dan munafik, mereka akan kekal di neraka dan akan diazab buat selama-lamanya (al. QS.Al-Bayyinah: 6). Pandangan yang kedua datang dari perspektif yang dibentangkan oleh advokat mazhab Hanafi, yaitu Ibn Taymiyyah (661-728 H/1263- 1328 M) dan muridnya, Ibn al-Qayyim al-Jawziyyah. Berbeda dari yang pertama, mereka berpendapat bahwa neraka beserta azab yang terdapat di dalamnya bersifat fana, tidak kekal