Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

Political Narrative About The Fake Diploma Controversy on an Online News Portal Farida Yufarlina Rosita; Ani Rakhmawati; Kundharu Saddhono
Aksara Vol 37, No 2 (2025): AKSARA, EDISI DESEMBER 2025
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v37i2.4861.490-503

Abstract

This study aims to investigate how political realities are discursively constructed in media texts and to uncover the underlying power relations and ideological frameworks embedded in the narratives of CNN Indonesia’s news portal. This research employs a qualitative descriptive approach using observation and note-taking techniques applied to six news articles concerning Jokowi’s alleged fake diploma. Data analysis adopts Norman Fairclough’s three-dimensional CDA framework: (a) text analysis, (b) discourse practice, and (c) sociocultural practice. The findings suggest that CNN Indonesia, while maintaining a formal and ostensibly objective tone, employs strategic lexical choices, grammatical structures, and rhetorical strategies to legitimize state authority and shift public focus away from the substance of the allegations toward the legal proceedings against the accusers. The news employs a legalistic and institutional tone that appears neutral but implicitly fosters public trust in state institutions and skepticism toward civil criticism. This study highlights that media discourse is never entirely neutral and plays a critical role in reproducing power structures through carefully constructed narratives. AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk menyelidiki realitas politik yang dibangun secara diskursif dalam teks-teks media dan mengungkap hubungan kuasa serta kerangka ideologis yang tertanam dalam narasi-narasi portal berita CNN Indonesia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan teknik observasi dan pencatatan pada enam artikel berita tentang ijazah palsu Jokowi yang diterbitkan pada Mei 2025. Analisis data penelitian menerapkan tiga kerangka kerja Analisis Wacana Kritis menurut Norman Fairclough: (a) analisis teks, (b) praktik wacana, dan (c) praktik sosiobudaya. Hasil menunjukkan bahwa, meskipun CNN Indonesia mempertahankan nada formal dan tampak objektif, terdapat penggunaan strategi leksikal, struktur gramatikal, dan retorika untuk melegitimasi pemerintah negara dan mengalihkan perhatian publik dari tuduhan yang dibuat ke proses hukum terhadap mereka yang dituduh. Berita tersebut menggunakan nada hukum dan institusional yang tampak netral, tetapi secara tidak langsung meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi negara. Penelitian ini menekankan bahwa diskursus media tidak pernah sepenuhnya netral, dan bahwa itu sangat penting untuk menggambarkan struktur kekuasaan melalui cerita yang direncanakan dengan baik.
Comparative Psycholinguistic Analysis: Phonological Acquisition of Two Celebrity Children in Digital Media Annisa Salsabilla Yudhista; Ani Rakhmawati
Bahtera: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Vol. 25 No. 2 (2026): BAHTERA: Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra, Volume 25 Nomor 2 Juli 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa Program Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/bahtera.252.05

Abstract

 ABSTRACT   This study aims to analyze and compare the phonological acquisition of two three-year-old celebrity children as presented in digital media content. The research employs a descriptive qualitative approach. The data were obtained from the children’s utterances in YouTube videos uploaded by their celebrity parents through observation and note-taking techniques. The utterances were transcribed and analyzed based on the accuracy, stability, and variation of vowel and consonant production, including phoneme substitution and deletion. The findings indicate that both children have acquired basic Indonesia phonemes, although with different levels of articulatory stability. Issa demonstrates more consistent phoneme production, while Naka exhibits greater variability in pronunciation. Such variations are considered a natural part of early childhood phonological development. Furthermore, digital media exposure and the intensity of verbal interaction from parents as public figures provide rich linguistic input and encourage verbal expression, although they do not always result in stable phoneme articulation. This study emphasizes that children’s phonological acquisition is dynamic and influenced by individual developmental factors as well as the digital communication environment. Keywords: Phonological Acquisition; Early Childhood; Psycholinguistics
Falsafah Bugis "Mali Siparappe, Rebba Sipatokkong” Sebagai Landasan Etika dan Humanisme dalam Peran Guru pada Pembelajaran Bahasa Indonesia Rudi Karma; Ani Rakhmawati
Sulawesi Tenggara Educational Journal Vol 6 No 1: April (2026)
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54297/seduj.v6i1.1370

Abstract

Sistem pengajaran di Indonesia sekarang ini lebih cenderung menekankan pada kemampuan berpikir dan target prestasi, sambil sering mengesampingkan peran pembentukan watak serta prinsip sosial dalam kegiatan belajar. Karena alasan itu, penyertaan elemen budaya daerah, khususnya dari prinsip Bugis seperti mali siparappe dan rebba sipatokkong, menjadi sangat vital untuk membentuk kerangka pendidikan yang lebih utuh dan berpusat pada sisi manusiawi. Tulisan ini dimaksudkan untuk menyajikan serta merekomendasikan penggunaan kedua prinsip tersebut sebagai strategi humanis dalam mengajar Bahasa Indonesia. Langkah ini diharapkan mampu memperdalam wawasan bahasa sekaligus membangun kepribadian murid. Berdasarkan gagasan pengajaran humanis yang dikembangkan oleh Carl Rogers dan Abraham Maslow, ditambah dengan metode pedagogi yang terkait konteks, tulisan ini menyarankan agar nilai budaya Bugis dimasukkan ke dalam penyusunan program sekolah serta Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Pendekatan semacam ini bertujuan menghadirkan suasana belajar yang ramah dan saling dukung, sehingga murid tidak hanya memperoleh kemampuan berpikir tapi juga mengembangkan rasa memahami, ketegasan, serta keterampilan bergaul yang krusial untuk menghadapi beragam isu di kemudian hari. Dengan demikian, menjadi sangat esensial untuk merancang program dan RPP yang berakar pada nilai budaya setempat demi mencetak generasi yang lebih mudah beradaptasi dan beretika mulia.
The Slametan Tradition as Local Wisdom in Contextual Learning in Schools: A Literature Review Addy Septyawan; Ani Rakhmawati
Journal of Science and Education (JSE) Vol. 6 No. 2 (2026): Journal of Science and Education (JSE)
Publisher : CV. Media Digital Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58905/jse.v6i2.750

Abstract

This study aims to analyze the integration of the slametan tradition as local wisdom in contextual learning through a literature review of 20 relevant articles. The study was conducted using the systematic literature review method which involves the process of identification, selection, and thematic analysis of articles that contain the development of teaching materials, local cultural integration, and innovative learning approaches. The results of the synthesis show that most of the studies apply ADDIE development and research and development models, as well as utilize the local cultural context as a reinforcement of learning meaning. The integration of cultural values, including the slametan tradition, has been proven to be able to improve concept understanding, cultural literacy, and student learning engagement through learning experiences that are closer to social reality. Previous research also confirms that local wisdom makes a significant contribution to character building, appreciation for diversity, and strengthening cultural identity. However, there is still a research gap related to the systematic use of local traditions in contextual learning in schools. These findings show that the integration of local wisdom needs to be formulated in the form of teaching materials or a more structured learning model. Overall, this study emphasizes the importance of using local culture, especially the slamutan tradition, to enrich the learning context and increase the relevance of the material for students.
Citizens' Perceptions of Domestic Violence News on Social Media Platforms: A Critical Discourse Analysis Taufik Rakhmadi; Ani Rakhmawati; Arjay Julio
Journal of Gender and Millennium Development Studies Vol. 2 No. 2 (2025): Journal of Gender and Millennium Development Studies, 2(2), 2025
Publisher : Academia Edu Cendekia Indonesia (AEDUCIA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64420/jgmds.v2i2.347

Abstract

Background: Netizens increasingly encounter and interpret news about domestic violence against women on social media, shaping public discourse and potentially influencing responses in law, policy, and everyday life. Objective: To determine netizens’ perceptions of news about domestic violence against women on social media platforms through a critical discourse analysis. Method: This study employed a critical approach. Data sources comprised primary data (interviews) and secondary data (documentation). Data were processed and analyzed using descriptive qualitative methods within a critical discourse analysis framework. Results: Findings indicate that domestic violence against women is perceived as a violation not only of legal principles and human rights but also of social norms. Across the analyzed discourse, domestic violence is consistently framed as a human rights violation that must be eliminated. Conclusion: Social media discourse reflects a strong normative stance against domestic violence, reinforcing its status as a human rights violation and highlighting the need for collective action and zero tolerance toward perpetrators. Originality/Value: This study provides novel empirical and discursive insights in the fields of gender sociology, family sociology, digital communication, and criminology by uncovering public interpretations that consistently frame domestic violence against women as a severe breach of legal standards, social norms, and fundamental human rights that demands zero tolerance and collective accountability regarding news coverage on digital platforms in the context of netizen discourse on social media platforms, an area that remains insufficiently investigated through critical discourse analysis. These findings enrich existing literature and serve as a strategic reference for social policymakers, law enforcement agencies, human rights advocates, and media practitioners in designing impactful public awareness campaigns, refining digital intervention and prevention frameworks, and strengthening community level support mechanisms for domestic violence survivors.
Prinsip Kesantunan Pada Teks Pidato Peringatan Hari Sumpah Pemuda Menteri Pemuda dan Olahraga Nuzulia Haidar Hanun; Ani Rakhmawati
Jurnal Ilmiah Profesi Pendidikan Vol. 11 No. 3 (2026): Agustus
Publisher : Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jipp.v11i3.5266

Abstract

Kesantunan berbahasa merupakan aspek penting dalam komunikasi publik, terutama dalam teks pidato kenegaraan yang bertujuan membangun kedekatan emosional dan penghormatan terhadap khalayak. Salah satu bentuk teks pidato yang memiliki banyak penerapan prinsip kesantunan adalah naskah pidato peringatan Hari Sumpah Pemuda yang disusun dan disampaikan oleh Menteri Pemuda dan Olahraga. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis penerapan prinsip kesantunan berbahasa berdasarkan teori Leech dalam teks pidato Menteri Pemuda dan Olahraga pada peringatan Hari Sumpah Pemuda antara tahun 2021 dan 2025. Objek penelitian ini adalah naskah tertulis pidato, bukan tuturan lisan, sehingga data dianalisis berdasarkan bentuk kebahasaan yang digunakan dalam teks. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan pragmatik. Sumber data diperoleh dari naskah resmi yang dipublikasikan pada laman Kementerian Pemuda dan Olahraga serta media daring yang memuat teks pidato resmi berdasarkan pedoman Kementerian Pemuda dan Olahraga. Pengumpulan data dilakukan dengan metode dokumentasi dengan teknik simak dan catat, yaitu menelaah isi teks pidato dan mencatat tuturan yang relevan dengan fokus penelitian. Data dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diperkuat dengan triangulasi teori untuk menjaga validitas hasil analisis. Hasil penelitian menunjukkan terdapat 25 tuturan dalam teks pidato yang memuat lima dari enam maksim dalam prinsip kesantunan Leech. Maksim yang paling dominan ditemukan adalah maksim pujian dan maksim kesepakatan, yang menunjukkan bahwa tuturan dalam teks pidato lebih banyak berfokus pada penghargaan dan apresiasi terhadap pemuda Indonesia serta upaya membangun kesepakatan bersama. Dapat disimpulkan bahwa penerapan prinsip kesantunan dalam teks pidato tersebut sejalan dengan konteks peringatan Hari Sumpah Pemuda, yaitu untuk membangkitkan semangat persatuan, penghargaan, dan nasionalisme di kalangan generasi muda Indonesia melalui bahasa tertulis yang disusun secara resmi.
PEMEROLEHAN SINTAKSIS BAHASA INDONESIA SEBAGAI BAHASA KEDUA PADA ANAK SEKOLAH DASAR BERLATAR BAHASA JAWA Rif'at Artiana; Ani Rakhmawati
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 2 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JULI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i2.22779

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bagaimana anak-anak sekolah dasar yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pertama mempelajari tata bahasa bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua. Selain itu, penelitian juga mengeksplorasi faktor-faktor yang memengaruhi proses ini serta dampaknya terhadap pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SD. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek paling banyak adalah siswa kelas II dan III SD yang menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pertama. Data dikumpulkan melalui pengamatan, wawancara, dan pengumpulan dokumen, kemudian dianalisis dengan metode analisis tematik menggunakan teknik triangulasi untuk memastikan keandalan data. Hasil menunjukkan bahwa cara anak-anak mempelajari tata bahasa bahasa Indonesia terjadi secara alami melalui interaksi sehari-hari di lingkungan sekolah. Pengetahuan tentang struktur kalimat diperoleh dari paparan input bahasa yang bermakna serta penggunaan bahasa dalam situasi komunikasi nyata, bukan dari pemahaman aturan secara eksplisit. Bahasa pertama, yaitu bahasa Jawa, masih memengaruhi tata bahasa bahasa Indonesia yang digunakan anak-anak, terutama dalam penataan kata dan pola kalimat. Berbagai faktor seperti usia, lingkungan penggunaan bahasa, kualitas input, serta frekuensi interaksi sosial ternyata sangat berpengaruh terhadap proses mempelajari tata bahasa bahasa kedua. Penelitian menyimpulkan bahwa kesalahan dalam penggunaan tata bahasa merupakan bagian dari proses perkembangan bahasa. Oleh karena itu, pembelajaran Bahasa Indonesia di tingkat SD perlu dirancang secara komunikatif, kontekstual, dan berpusat pada siswa agar peningkatan kemampuan tata bahasa dapat berjalan optimal.Kata Kunci: pemerolehan bahasa; sintaksis; bahasa Indonesia sebagai bahasa kedua; siswa sekolah dasar; bahasa JawaAbstractThis study aims to describe how elementary school children who speak Javanese as their first language learn Indonesian grammar as a second language. Furthermore, the study explores the factors that influence this process and its impact on Indonesian language learning at the elementary school level. The study used a descriptive qualitative approach, with the majority of subjects being second and third grade elementary school students who speak Javanese as their first language. Data were collected through observation, interviews, and document collection, then analyzed using thematic analysis using triangulation techniques to ensure data reliability. The results indicate that children learn Indonesian grammar naturally through daily interactions in the school environment. Knowledge of sentence structure is acquired from exposure to meaningful language input and language use in real communication situations, rather than from explicit understanding of rules. Their first language, Javanese, still influences the Indonesian grammar used by children, particularly in word order and sentence patterns. Various factors such as age, language environment, input quality, and frequency of social interaction significantly influence the process of learning second language grammar. The study concludes that errors in grammatical use are part of the language development process. Therefore, Indonesian language learning at the elementary school level needs to be designed in a communicative, contextual, and student-centered manner to optimally improve grammar skills.Keywords: language acquisition; syntax; Indonesian as a second language; elementary school students; Javanese language
PEMEROLEHAN BAHASA ISYARAT SEBAGAI BAHASA PERTAMA PADA ANAK TUNARUNGU DALAM KAJIAN PSIKOLINGUISTIK Amanda Nur Laili Putri; Ani Rakhmawati
Diksatrasia : Jurnal Ilmiah Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Vol 10, No 2 (2026): JURNAL DIKSATRASIA JULI 2026
Publisher : Universitas Galuh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25157/diksatrasia.v10i2.22777

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan pemerolehan bahasa isyarat sebagai bahasa pertama pada anak tunarungu serta implikasinya dalam pembelajaran bahasa ditinjau dari perspektif psikolinguistik. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan subjek anak tunarungu yang menggunakan bahasa isyarat sebagai sarana komunikasi utama. Data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi, kemudian dianalisis melalui tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa anak tunarungu mampu memperoleh bahasa isyarat secara alami dan bertahap, mulai dari penguasaan kosakata dasar hingga pembentukan struktur bahasa yang lebih kompleks. Proses pemerolehan tersebut dipengaruhi oleh faktor internal berupa kesiapan kognitif serta faktor eksternal berupa lingkungan keluarga dan pendidikan yang mendukung penggunaan bahasa isyarat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa bahasa isyarat berperan penting sebagai bahasa pertama anak tunarungu dan perlu diakomodasi secara optimal dalam pembelajaran bahasa di kelas.Kata Kunci: pemerolehan bahasa; bahasa isyarat; anak tunarungu; psikolinguistik AbstractThis study aims to describe the acquisition of sign language as a first language among deaf children and its implications for language learning from a psycholinguistic perspective. This research employed a qualitative descriptive approach involving deaf children who use sign language as their primary means of communication. Data were collected through observation, interviews, and documentation, and analyzed using data reduction, data display, and conclusion drawing techniques. The findings indicate that deaf children acquire sign language naturally and gradually, beginning with basic vocabulary and developing toward more complex linguistic structures. This acquisition process is influenced by internal factors such as cognitive readiness and external factors including family environment and educational support. The study concludes that sign language plays a fundamental role as the first language of deaf children and should be optimally accommodated in classroom language learning practices.Keywords: language acquisition; sign language; deaf children; psycholinguistics