Claim Missing Document
Check
Articles

Found 19 Documents
Search

INTEGRATED AUTISM CHILD CARE DI KOTA SURABAYA TEMA: ARSITEKTUR PERILAKU Aurellia Nabila Putri; Bayu Teguh Ujianto; Komang Ayu Laksmi Harshinta Sari
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan autisme dapat diderita oleh kalangan bawah, menengah, maupun atas dengan jumlah kasus yang meningkat setiap tahun. Pendidikan sekolah luar biasa di Surabaya belum memperhatikan kemampuan sensorik individu autistik dan hanya berupa rumah tinggal atau ruko dengan fasilitas seadanya. Keterbatasan arsitektural di lingkungan dapat memengaruhi kondisi psikologis anak autis. Perlu disediakan rancangan menggunakan pendekatan arsitektur perilaku sensory design yang fokus pada kemampuan sensoriknya. Digunakan metode force-based frame work sebagai respon desain perilaku anak autis. Perancangan ini terintegrasi dengan fasilitas pendidikan, daycare, terapi, taman sensoris, parental education dan integrated communities. Integrated Autism Child Care membentuk lingkungan yang aman dan dapat mengasah kemampuan sensoris individu autistik sehingga mereka mampu mengembangkan bakat dan meningkatkan kualitas hidupnya.
PUSAT PENCEGAHAN DEMENSIA PADA LANSIA TEMA: ARSITEKTUR SALUTOGENESIS Maulana Argya Hari Pratama; Debby Budi Susanti; Komang Ayu Laksmi Harshinta Sari
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pusat pencegahan demensia bagi lansia merupakan sentra pencegahan kepikunan bagi para lansia, demensia artinya gangguan fungsi memori yang terjadi secara perlahan, serta mampu merusak kinerja serta kegiatan kehidupan sehari-hari pengidapnya. Tujuan dari pendekatan konsep salutogenesis ialah mencapai rasa koherensi, yaitu persepsi sehat seorang yang bekerjasama memakai keahlian seseorang dalam menghadapi stres dan menjaga syarat sehat di hayati. Konsep salutogenesis diterapkan di bentuk pada fasad bangunan, pola hubungan ruang yang menyatu dengan ruang luar, detail arsitektur serta pada interior yang mempunyai beberapa aspek diantaranya merupakan lingkungan yang bisa memberikan rasa koherensi pada lansia, pencayahaan alami, serta ruang–ruang buat yang “safety” untuk lansia. Metodologi yang di gunakan “Force-Based Design” karena metodologi ini dimulai dengan mengidentifikasi isu dan masalah, lalu menentukan kendala dan potensi. Selanjutnya, forces dihubungkan dengan pendekatan yang menghasilkan constrains, asset, dan pressure. Pada tahap refine, elemen kriteria arsitektur yang terintegrasi. Dapat disimpulkan perancangan pusat pencegahan demensia pada lansia adalah dengan sesuai fungsi ruang sesuai kebutuhan lansia serta penambahan fasilitas penunjang lain, sehingga lansia dapat dengan mudah melakukan aktivitas di dalam ruang maupun di luar ruang.
PUSAT KEBUDAYAAN DI BANYUWANGI Tema: EXTENDING TRADITION Bagas Reyvaldy Nurwahid; Gaguk Sukowiyono; Komang Ayu Laksmi Harshinta Sari
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyuwangi adalah daerah yang mempunyai ragam seni dan budaya, hal ini menjadikan minat wisatawan mancanegara terhadap budaya Banyuwangi sangat tinggi, maka dari itu pentingnya untuk melestarikan dan memanfaatkan budaya Banyuwangi. Namun, saat ini minat generasi muda terhadap budaya menurun, hal ini dikarenakan dampak krisis budaya yang semakin membahayakan kelestarian budaya. Dengan kondisi seperti saat ini, diperlukan langkah proaktif untuk menjaga warisan budaya Banyuwangi. Salah satu langkah penting untuk mengatasi krisis budaya serta memberi ruang bagi pelestarian warisan budaya ini untuk tetap lestari adalah dengan merancang pusat budaya dengan pendekatan "Extending Tradition". Perancangan pusat budaya ini didasarkan pada konsep rumah Osing dan unsur dari seni tari Gandrung. Konsep ini mengimplementasikan ciri khas rumah adat Osing seperti tata ruang dan bentuk atap rumah Osing. Oleh karena itu, perancangan ini menggunakan metode Concept Based dari Plowright. Metode ini melibatkan proses source domain sumber terhadap kualitas elemen arsitektur tangible rumah Osing dan elemen intangible seni tari Gandrung. Pusat budaya ini akan menjadi tempat bagi pengunjung untuk menikmati seni terpadu yang setiap elemennya saling melengkapi dan memperkuat pesan budaya yang disampaikan.
PERANCANGAN WELLNESS RESORT DI UBUD BALI TEMA: ARSITEKTUR SALUTOGENESIS I Wayan Nicola Kurnia Sartika; Bayu Teguh Ujianto; Komang Ayu Laksmi Harshinta Sari
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wellness resort merupakan tempat menginap bersifat sementara yang didasari oleh aspek pariwisata ataupun potensi kawasan yang memiliki tujuan khusus untuk mencari fasilitas maupun aktivitas yang dapat menunjang kesehatan yang bukan sekedar kondisi bebas dari penyakit, tetapi sebagai keadaan diri yang sejahtera dari sisi fisik, mental dan sosial. Dalam perancangan wellness resort, pendekatan salutogenesis digunakan dalam memberikan kondisi yang dapat membantu dalam mencapai keseimbangan secara holistik, baik dalam faktor kesehatan fisik maupun kesehatan psikologis. Perancangan dilakukan di Kecamatan Ubud, Kabupaten Gianyar, Bali. Metode perancangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah concept-based framework. Wellness Resort berfokus pada pencapaian kesejahteraan penggunanya, sehingga kebutuhan fasilitas dan fungsi ruang sangat diperhatikan, seperti fungsi akomodasi, fungsi wellness area, fungsi penunjang, fungsi pengelola dan service. Perancangan bertujuan untuk mendesain resort melalui penerapan pilar wellness theory yang ditunjang dengan pendekatan arsitektur salutogenesis dan penerapan budaya lokal untuk menghasilkan rancangan yang disesuaikan dengan kriteria desain yang berfokus untuk memberikan fasilitas dan aktivitas yang memberikan kenyamanan terhadap respon ruang secara positif terhadap psikologis pengguna.
Tempat Pelatihan dan Kreasi Tunarungu Tema: Deaf Space Trisnaldi; Debby Budi Susanti; Komang Ayu Laksmi Harshinta Sari
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penduduk di Desa Bengkala, Bali, terdiri dari 1,4 persen yang mengalami gangguan pendengaran dimana mereka menghadapi tantangan unik dalam kehidupan sosial dan finansial. Perancangan tempat pelatihan dan Kreasi Tunarungu ini bertujuan menciptakan ruang yang responsive terhadap penyandang tunarungu melalui pendekatan DeafSpace yang berfokus pada ruang. Pada proses perancangan sangat penting untuk merencanakan persiapan yang mendukung perilaku serta implementasi dari pendekatan DeafSpace untuk memenuhi kebutuhan khusus mereka. Penelusuran dimulai dengan menggali perilaku secara umum pengguna tuna rungu hingga spesifik pada tuna rungu yang berada di Desa Bengkala. Metode perancangan yang digunakan adala force based framework dimana mengeksplorasi context, cultere dan needs dari perilaku tunarungu yang berkaitan dengan arsitektur serta budaya dari desa setempat. Hasil pada perancangan ini berupa kriteria desain yang merespon perilaku pengguna kolok serta memberikan wadah untuk beraktivitas sehingga warga kolok Desa Bengkala dapat lebih produktif dan berkreasi. Kriteria desain menghasilkan konsep desain pada penataan masa bangunan, kualitas ruang yang merespon visual pengguna serta bentuk dan fasad bangunan yang masih memiliki harmonisasi budaya setempat.
WOMEN’S SPACE DI KOTA MALANG TEMA: ARSITEKTUR BIOFILIK Riffilia Asokawati Susanto; Debby Budi Susanti; Komang Ayu Laksmi Harshinta Sari
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Wanita 23% lebih tinggi mudah terkena stres daripada pria. Pekerjaan yang tidak sesuai dengan kapasitas menjadi salah satu pemicu terjadinya stress dan lingkungan keluarga yang tidak suportif. Stres dapat menyebabkan gangguan kejiwaan dan berdampak pada kesehatan fisik jika tidak ditanggapi dengan serius. Permasalahan tersebut yang menjadi dasar dari perancangan Women’s Space di Kota Malang. Tempat ini bertujuan untuk menciptakan lingkungan yang mendukung wanita agar dapat dengan bebas mengekspresikan diri, berbagi pengalaman, serta melakukan kegiatan yang mereka inginkan agar bisa melepaskan rasa stres akibat kejenuhan terhadap aktivitas sehari-hari. Women’s Space dapat memberikan fasilitas kegiatan yang berhubungan dengan wanita dengan mempertimbangkan kenyamanan dan kebutuhan wanita agar dapat menciptakan lingkungan yang aman dan nyaman. Agar dapat tercipta suasana yang nyaman, perancangan Women’s Space menggunakan pendekatan Arsitektur Biofilik.
DEMENTIA FOR ELDERLY CARE CENTER DI KOTA BATU TEMA: THERAPEUTIC ARCHITECTURE Asa Hening Arista Putri; Debby Budi Susanti; Komang Ayu Laksmi Harshinta Sari
Pengilon: Jurnal Arsitektur Vol 8 No 02 (2024): Pengilon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dementia for Elderly Care Center merupakan sebuah fasilitas pusat rehabilitasi yang dikhususkan pada penyandang demensia lansia. Badan Pusat Statistik Jawa Timur/ BPS 2021 menyatakan bahwa Jawa Timur telah mencapai 13,57% yang menandakan bahwa struktur penduduk Jawa Timur termasuk dalam golongan penduduk tua, hal ini menandakan bahwa demensia pada lansia semain meningkat. Dari beberapa pusat rehabilitasi yang telah berdiri, belum ditemukannya pusat rehabilitasi dengan berbagai fasilitas didalamnya yang menangani penderita demensia pada lansia khususnya di Jawa Timur. Pada perancangan fasilitas ini dilakukan dengan pendekatan therapeutic architecture bertujuan untuk menunjang proses penyembuhan karena memberikan pengaruh terhadap aspek psikologis dan fisik penghuni sehingga dapat membangkitkan suasana nyaman, tenang, dan dapat meningkatkan semangat hidup para penghuni. Metode yang digunakan dalam perancangan ini adalah metode force-based framework dalam menentukan prioritas utama dalam merancang dengan melalui proses analisa yang selanjutkan akan menghasilkan luaran beru pa konsep yang akan diterapkan. Dengan demikian diharapkan fasilitas ini mampu memberikan ruang bagi penyandang demensia pada lansia serta dapat menunjang aspek psikologis dan fisik penghuni sehingga dapat membangkitkan suasana nyaman, tenang, dan dapat meningkatkan semangat hidup para penyandang.
PENAFSIRAN TRAGEDI PADA RANCANGAN MUSEUM TRAGEDI KANJURUHAN MELALUI ARSITEKTUR DEKONSTRUKSI PARADIGMA DANIEL LIBERSKIND Komang Ayu Laksmi Harshinta Sari; Renaldy Putera Liano; Gaguk Sukowiyono
Pawon: Jurnal Arsitektur Vol 9 No 01 (2025): Pawon: Jurnal Arsitektur
Publisher : Program Studi Arsitektur Institut Teknologi Nasional (ITN) Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36040/pawon.v9i01.11316

Abstract

Manusia yang menciptakan sebuah tempat tinggal tanpa ada citra atau esensi, apakah sama seperti Binatang yang dapat membuat sarang untuk tempat berlindung. Arsitektur merupakan seni dalam merancang dan membangun struktur bangunan. Kata arsitektur sendiri berasal dari bahasa Yunani, yaitu "archee" dan "tectoon." "archee" berarti yang utama, asli, sementara "tectoon" berarti stabil, tidak roboh, atau kokoh. Arsitektur bukan hanya membangun tetapi menciptakan serta menjawab suatu permasalahan. Tragedi merupakan kata dengan konotasi yang negatif, apakah seorang arsitek dapat mentermahkan sebuah tragedi menjadi ide yang orisinil dan hasil yang kokoh sebagai rancangan bangunan. Paradigma Daniel Liberskind akan menjadi acuan untuk mendapatkan kriteria rancangan dari Museum Tragedi Kanjuruhan, menterjemahkan sebuah tragedi menampung memori dari korban tragedi serta bagaimana arsitektur berempati pada Tragedi Kanjuruhan, dengan metode berbasis konsep dari Philip D. Plowright yang akan mereduksi sumber menuju lingkup arsitektur. Pada rancangan berbasis penelitian ini semoga memberikan warna, watak dan paradigma baru pada pengembangan arsitektur yang ada di Indonesia serta menjadi pandangan baru dalam merespon sebuah tragedi.
PENYELESAIAN ARSITEKTUR KONTEMPORER PADA FASILITAS KESEHATAN MENTAL DI NEGARA-NEGARA DUNIA BARAT Harshinta Sari, Komang Ayu Laksmi; Ujianto, Bayu Teguh; Sholeh, Moh. Syahru Romadhon
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 7 No 4 (2023): Jurnal Arsitektur ARCADE Desember 2023
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: In recent years, WHO says there has been increasing recognition of the important role mental health plays in achieving sustainable development goals. Mental health facilities are one of the efforts offered for the healing process of patients where there needs to be an architectural role in them. This study examines literature reviews regarding problem solving efforts in the design of today's mental health facilities. From some of the literature obtained, it was concluded that several aspects were considered, namely aspects of security and privacy, aspects of comfort, natural aspects which aim to shift the negative stigma towards mental health facilities. These aspects were then used as material for analysis to examine six mental health facility buildings located in western countries with the consideration that the best country was dealing with mental health and won international awards. The results can be concluded that health facility buildings now fulfill these three aspects and are more transparent and prioritize the welfare of both parties, namely patients and staff. Keyword: Mental health facility, contemporary architectureAbstrak: Dalam beberapa tahun terakhir, WHO mengatakan telah terjadi peningkatan pengakuan akan peran penting yang dimainkan kesehatan mental dalam mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan. Fasilitas kesehatan mental merupakan salah satu upaya yang ditawarkan untuk proses penyembuhan pasien dimana perlu adanya peran arsitektur didalamnnya. Penelitian ini mengkaji literature review mengenai upaya-upaya permasalahan pada desain fasilitas kesehatan mental masa kini. Dari beberapa literature yang didapat, disimpulkan beberapa aspek yang dipertimbangkan yaitu aspek keamanan dan privasi, aspek kenyamanan, aspek alami yang dimana bertujuan menggeser stigma negative terhadap fasilitas kesehatan mental. Aspek-aspek tersebut selanjutnya digunakan sebagai bahan analisa untuk mengkaji enam bangunan fasilitas kesehatan mental yang berada di negara-negara dunia bagian barat dengan pertimbangan negara terbaik mengatasi kesehatan mental serta meperoleh penghargaan internasional. Hasil yang dapat disimpulkan bahwa bangunan fasilitas kesehatan kini memenuhi ketiga aspek tersebut serta bersifat lebih transparan dan mengedepankan kesejahteraan kedua pihak yaitu pasien maupun staf.Kata Kunci: Fasilitas kesehatan mental, arsitektur kontemporer