Articles
Swasembada Gula : Prospek dan Strategi Pencapaiannya
Tajuddin Bantacut
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33964/jp.v19i3.142
Pemerintah Indonesia menargetkan swasembada gula pada tahun 2014. Kurun waktu empat tahun adalah periode yang sangat pendek untuk mengubah kedudukan dari pengimpor menjadi produsen mandiri. Produksi gula Indonesia tahun 2009 adalah 2,52 juta ton, sedangkan total konsumsi mencapai 4,55 juta ton terdiri dari konsumsi langsung 2,70 juta ton dan konsumsi industri 1,85 juta ton. Kecukupan gula dipenuhi melalui impor sebanyak 2,03 juta ton. Proyeksi pertumbuhan tahun 2014 berdasarkan pada pertambahan penduduk serta perkembangan industri (terutama makanan dan minuman) meningkatkan konsumsi menjadi 5,32 juta ton yakni 2,96 juta ton konsumsi langsung dan 2,36 juta ton konsumsi industri. Upaya peningkatan produksi yang rasional tanpa membangun pabrik baru hanya mampu meningkatkan produksi menjadi 3,60 juta ton sehingga pemenuhan kebutuhan melalui impor masih sebesar 1,72 juta ton. Dari gambaran ini maka target swasembada gula tidak mungkin dicapai melalui pertumbuhan produksi normal. Paper ini membahas berbagai kendala dan upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai target tersebut. Pada bagian akhir akan diutarakan faktor keberhasilan Thailand sebagai acuan dalam melakukan upaya mencapai swasembada gula nasional.The government of Indonesia has planned to achieve self-sufficiency of white sugar in the year of 2014; it is about four years ahead. This available time is considered to be very short to change the status of the country from net importer to self-producer. The national sugar production in 2009 was 2.52 million ton while the consumption was 4.55 million ton consisted of 2.70 million ton direct (household) consumption and 1.85 million ton industrial consumption. The balance (2.03 million ton) was imported from several countries. It has been projected that the sugar demand will increase to 5.32 million ton in 2014 due to population and industrial (mainly food and beverage) growth which will consist of 2.96 million ton direct consumption and 2.36 million ton industrial uses. Normal effort to add production without addition of new factory would increase production up to 3.60 million ton at which the need for import will be 1.72 million ton. Therefore, self-sufficiency of sugar would not be possible through normal practices as usual. This paper discusses constraints and possible efforts to achieve the targeted selfsufficiency. At the end, it presents the success factors of Thailand sugar industry that should be considered as benchmarks of efforts. This paper concludes with a set of recommendations of programs to meet national white sugar self-sufficiency.
Kebijakan Pendorong Agroindustri Tepung dalam Prespektif Ketahanan Pangan
Tajuddin Bantacut
JURNAL PANGAN Vol. 18 No. 1 (2009): PANGAN
Publisher : Perum BULOG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33964/jp.v18i1.192
Peringatan Malthus bahwa kebutuhan pangan bertambah secara berlipat, sementara produksi naik bertahap masih relevan dengan situasi sekarang. Relevansi ini terutama tampak pada bahan pangan pokok, khususnya Indonesia yang hampir sepenuhnya bergantung pada satu komoditi beras. Kesalahan filosofis dan praktis terjadi karena bahan pokok diartikan sebagai beras, bahkan banyak masyarakat yang sebelumnya tidak mongkonsumsinya dokonversi menjadi konsumen tetap. Dalam dunia pangan, bahan pokok diartikan sebagai sumber kalori yang kandungan utamanya karbohidrat. Indonesia yang memiliki lahan, iklim dan keragaman hayati yang tinggi mempunyai tanaman penghasil karbohidrat yang banyak seperti singkong, ubi jalar, kentang, uwi, gadung, tales dan sukun. Persoalannya adalah bahan pangan ini selain sulit ditangani dalam jumlah besar juga belum dikonsumsi sebagai pangan pokok secara luas. Pengolahan bahan tersebut menjadi tepung dapat memudahkan penanganan dan penyiapan. Oleh karena itu, upaya untuk mengembangkan industri tepung sebagai langkah awal mengurangi ketergantungan pada beras perlu didukung dengan kebijakan yang memadai. Agroindustri tepung perdesaan dapat menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan pangan. Diversifikasi bahan pangan pokok menjadikan sektor pertanian sangat dinamis mengikuti perkembangan pasar.
MENJADIKAN BULOG LEMBAGA PANGAN YANG HANDAL
Tajuddin Bantacut Bantacut
JURNAL PANGAN Vol. 17 No. 1 (2008): PANGAN
Publisher : Perum BULOG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33964/jp.v17i1.229
Indonesia mempunyai masalah yang kompleks di bidang pangan khususnya beras, mulai dari ketidakseimbangan pasokan-permintaan, ketidakstabilan perdagangan, irasionalitas pasar, kerentanan logistik, kesulitan distribusi sampai pada daya beli konsumen yang rendah. Banyak faktor penyebab yang menjadikan beras komoditas yang melampaui ranah perdagangan, menyeruak ke daiam wilayah politik, sosial dan ekonomi. Faktor tersebut sangat beragam seperti produktivitas dan produksi dalam negeri yang tidak handal, penyelenggara pemerintahan yang belum bebas dari belenggu KKN sampai pada ketiadaan lembaga pangan yang dipercaya oleh masyarakat luas. Tulisan ini membahas perlunya lembagapangan yang kuat sebagai satu prasyarat pemecahan masalah pangan nasional dan diakhiri dengan usulan menjadikan Bulog sebagai lembaga yang dimaksud.
TEKNOLOGI PENGOLAHAN BERAS KE BERAS (Rice to Rice Processing Technology)
Rokhani Hasbullah;
Tajuddin Bantacut
JURNAL PANGAN Vol. 16 No. 1 (2007): PANGAN
Publisher : Perum BULOG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33964/jp.v16i1.273
Banyakpermasalahan yangdihadapidalam proses pengolahan gabah ke beras, namun demikian berbagai teknologi terus dikembangkan untuk meminimalkan kehilangan dan meningkatkan kualitas produk beras. Seiiring dengan bertambahnya jumlah penduduk, meningkatnya tingkat pendidikan dan pendapatanmaka polakonsumsi masyarakatberobah dan menuntut pangan (beras) yang bermutu baik. Tulisan ini membahas tentang teknologi pengolahan beras ke beras yang meliputi kebutuhan mesin, level teknologi, kapasitas dan konfigurasi mesin yang dapat dijadikan pertimbangan bagi para investor yang tertarik untuk mendirikan usaha pengolahan Beras ke Beras (BKB). Hasil yang dapat disimpulkan adalah bahwa masalah kualitas merupakan hal penting yang harus segera diperbaiki. Industri pengolahan BKB diharapkan dapat menjadi solusi dalam memperbaiki kualitas perberasan nasional sekaligus meningkatkan nilai tambah perberasan di Indonesia.
TEKNOLOGI PENGOLAHAN PADI TERINTEGRASI BERWAWASAN LINGKUNGAN
Tajuddin Bantacut
JURNAL PANGAN Vol. 15 No. 2 (2006): PANGAN
Publisher : Perum BULOG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33964/jp.v15i2.297
Industri pengolahan padi (sederhana, kecil, menengah dan besar) menghadapipermasalahan penanganan limbah. Hampir semua penggilingan padi menumpuk sekam di sekitar bangunan. Semakin hari jumlahnya bertambah. Pembuangan sulit dilakukan karena keterbatasan tempat dan biaya yang besar. Penggunaan untuk bahan bakar (bata, pengering) masih sangat terbatas. Akibatnya, muncul berbagai persoalan lingkungan seperti estetika, bau dan sumber penyakit, Pendekatan terpadu dalam pengolahan padi, yakni menggunakan semua bagian bahan baku untuk menghasilkan berbagai produk dalam satu lini, dapat mengurangi persoalan lingkungan sekaligus meningkatkan manfaat ekonomi. Makalah ini membahas berbagai konsepsi dan dampak lingkungan, teknologi pengolahan padi, dan pemanfaatan hasil samping sebagai satu industri terpadu.
Produksi Padi Optimum Rasional: Peluang dan Tantangan (Rationally Optimum Paddy Production : Chance and Challenge)
Tajuddin Bantacut
JURNAL PANGAN Vol. 21 No. 3 (2012): PANGAN
Publisher : Perum BULOG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33964/jp.v21i3.312
Pemerintah Indonesia berkeinginan meningkatkan produksi padi hingga surplus 10 juta ton pada tahun 2014. Secara akademik, target diatas harus dikaji dari perspektif yang lebih luas yaitu apakah Indonesia mampu memenuhi kebutuhan beras untuk pangan pokok penduduknya atau berapakah sesungguhnya produksi beras yang rasional yang dapat dihasilkan? Mengacu pada pola pikir sederhana mengikuti kaidah produksi adalah produktivitas digandakan dengan luas panen maka sebuah analisis dapat dibuat untuk menjawab pertanyaan tersebut. Tingkat produksi harus dinaikkan karena kebutuhan konsumsi masih meningkat sejalan dengan pertambahan penduduk dan perbaikan kesejahteraan. Banyak pilihan tersedia untuk meningkatkan produksi pertanian yaitu memperluas penanaman, memperbaiki produktivitas dan mengurangi susut pasca panen. Masing-masing pilihan dihadapkan pada masalah dan tantangan. Paper ini membahas masing-masing pilihan yang diakhiri dengan pilihan rasional. Pada bagian akhir dikemukan rekomendasi untuk mencapai produksi rasional dan penguatan ketahanan pangan nasional.Government of Indonesia has targetted to increase rice production to 10 million ton surplus above the necessity to feed its population. According to this target, a wideranalysis wouldbe necessary to estimate a rationalpotency and optimum rice production. A simple way of thinking as the analysis framework is using the following formula: production equals to harvesting area times productivity. The targeted production that population rice consumption plus 10 million ton is used as the analysis base. Therefore, the variables are harvesting area and productivity In the long run, that surplus should be increased further to maintain self sufficiency given that consumption trend is still continuing. There are several scenarios that can be adopted to increase harvesting area, productivity and secure post harvest losses. This paper discusses the possibilityof each scenario and its opportunity and constraint. At the end, it presents a conclusion that is composed from available alternatives followed by a set of recommendation on how to strengthen the future food security.
Pengembangan Kedelai untuk Kemandirian Pangan, Energi, Industri, dan Ekonomi
Tajuddin Bantacut
JURNAL PANGAN Vol. 26 No. 1 (2017): PANGAN
Publisher : Perum BULOG
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.33964/jp.v26i1.346
Kedelai adalah komoditas strategis yang permintaannya tinggi, produk hilirnya sangat beragam dan bernilai tinggi, meliputi pakan, pangan, energi dan bahan baku industri. Kenaikan konsumsi yang terus meningkat, namun belum dapat diimbangi oleh kenaikan produksi dalam negeri. Impor masih menjadi andalan sehingga seringkali terjadi gejolak harga dan pasokan akibat perubahan situasi ekonomi makro dan pasokan di pasar internasional. Berbagai upaya terus dilakukan untuk meningkatkan produksi dalam negeri, tetapi belum mampu meningkatkan pasokan yang berarti. Orientasi pembangunan yang dipatok pada swasembada menjadikan pengembangan kedelai tersandera oleh tujuan jangka pendek dan tidak bergerak menuju industri hilir yang kuat yang menguntungkan secara ekonomi. Produktivitas kedelai yang masih sangat rendah menjadi kendala peningkatan produksi karena keterbatasan bibit unggul, ketersediaan pupuk dan sarana produksi lainnya. Potensi lahan dan kesesuaian iklim untuk penanaman menjadi faktor penghambat perluasan dan peningkatan produksi. Ketergantungan masyarakat terhadap produk turunan kedelai, terutama tahu dan tempe, menjadikan kedelai sebagai bagian dari bahan pangan pokok. Oleh karena itu, orientasi pertambahan produksi kedelai seharusnya tidak dibatasi pada swasembada untuk memenuhi permintaan saat ini, terutama bahan baku tahu dan tempe, tetapi lebih dari itu untuk penguatan ekonomi, industri dan kemandirian pangan. Paper ini membahas berbagai permasalahan dan strategi pembangunan kedelai berbasis industri menuju kemandirian pangan dan ketahanan ekonomi.
Perancangan Grafis sebagai Penciptaan Nilai untuk Kemasan Ayam Goreng Basah
Zulkarnain Zulkarnain;
Helpy Agriffina Syom;
Tajuddin Bantacut
JIEMS (Journal of Industrial Engineering and Management Systems) Vol 9, No 1 (2016): Journal of Industrial Engineering and Management Systems (JIEMS)
Publisher : Universitas Bunda Mulia
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.30813/jiems.v9i1.127
The packaging function has evolved into a brand value creation tools to customers. "Ayam Goreng Basah" is a food product from catering service by Ibu Siti Sugiyanti that uses packing box and styrofoam without any graphic design on the packaging, which can be a communication tool to the customers. The purpose of this study is to apply the graphics design process of “Ayam Goreng Basah” package. This research was conducted by collecting information from customers through brainstorming. The brainstorming activities have made a creative idea concept "Inovasi Ayam Goreng Nusantara", which became a base in visualizing the packaging graphic of Ayam Goreng Basah. Graphic design that received the highest score at the RIII (Bumbu Rempah-Rempah Khas Nusantara) with a total score (8:35).Keywords: Graphic Process, Brainstorming, Graphic Design Packaging.
SUSTAINABLE VALUE OF RICE SUPPLY CHAIN: A SYSTEMATIC LITERATURE REVIEW AND RESEARCH AGENDA
Nurul Maghfiroh;
Marimin;
Tajuddin Bantacut;
Elisa Anggraeni
Jurnal Teknologi Industri Pertanian Vol. 33 No. 1 (2023): Jurnal Teknologi Industri Pertanian
Publisher : Department of Agroindustrial Technology, Bogor Agricultural University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
The rice supply chain is important to achieve food security. It has various perspectives, challenges or issues that causes a complex problem in supply chain system. The existing problem are related to food availability, inventory level, fragmented distribution, affordability of prices, accessibility, variation of business processes and the environmental impact from production and logistics system. Moreover integration framework in the dimension of sustainability is limited. The objective of this article is to identify current problems to construct the idea of supply chain integration and to build the formulation for improvement the value of rice supply chain. Fifty articles discuss rice supply chain. The remaining discuss on increasing rice productivity, inventory optimization, performance improvement, and traceability. The VOS viewer result showed that sustainability is connected to the supply chain at a distant position which indicates that sustainability has the opportunity to be studied wider range in future research. The gap analysis showed that the production increase is limited to agronomy innovation and didn’t consider sustainable characteristics input. The indirect innovations that use information technology for precision farming also had not been comprehensively collaborated. The production absorption had not been considered in inventory optimization and traceability system had not been developed for supply availability. The improvement activities to fill the gap will transform supply chain performance more efficient, responsive and minimum environmental impacts for the enhancement of the sustainability value of the rice supply chain. Keywords: gap analysis, integration, rice supply chain, sustainability, production and logistics system
Limbah Padat Kelapa Sawit sebagai Alternatif Energi Pembangkit Listrik di Barat Selatan Aceh (Barsela)
Agustiar;
Tajuddin Bantacut;
Muhammad Romli;
Bambang Pramudya
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 10 No. 1 (2022): April 2022
Publisher : PERTETA
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.19028/jtep.010.1.1-10
Sumber energi listrik berasal dari limbah kelapa sawit telah berhasil dikembangkan sebagai energi terbarukan pengganti energi fosil. Besarnya potensi energi limbah cukup baik dan berpotensi mengurangi jumlah biodiesel pada proses pengolahan kelapa sawit, ketersediaan energi, dan limbah kelapa sawit tersedia. Potensi energi dihasilkan cukup baik dari segi kuantitas, mengurangi penggunaan biodiesel untuk pengolahan kelapa sawit. Limbah padat kelapa sawit memiliki kapasitas, kuantitas pengganti energi solar (minyak bumi) dalam proses pengolahan di pabrik kelapa sawit. Penelitian ini bertujuan mengetahui ketersediaan energi listrik biomassa limbah kelapa sawit. Potensi energi listrik limbah padat di wilayah Aceh Jaya, Aceh Barat dan Nagan Raya menunjukkan surplus energi berturut turut 32,479.139 GW, 559,506.094 GW dan 4,470,241.985 GW. Untuk kebutuhan PKS di tiap perusahaan sebesar 0.75%, 67% dan 85.19%. Potensi ini dapat menyerap kebutuhan energi listrik di wilayah Barsela terhadap nilai potensi energi listrik limbah padat yang dihasilkan untuk kawasan dan peruntukkan Aceh keseluruhan mensuplai energi listrik melalui Sumbagut. Hal ini didukung adanya terkait pengelolaan limbah sawit secara terpadu dan terorganisasi secara baik terutama di kawasan pabrik sawit di Barat Selatan Aceh (Barsela), menunjukkan bahwa potensi energi listrik yang akan dihasilkan sangat bergantung pada kapasitas dan waktu produksi serta limbah biomasa.