Claim Missing Document
Check
Articles

Found 32 Documents
Search

Jenis dan kepadatan tungau debu rumah di Kelurahan Kleak Kecamatan Malalayang Kota Manado Hohakay, Yohanes A.; Wahongan, Greta J. P.; Bernadus, Janno B. B.
e-Biomedik Vol 5, No 2 (2017): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v5i2.16352

Abstract

Abstract: House dust mites in house dust have cosmopolitan distribution. House mites live from eating the remaining cask of human skin scale and grow in a humid environment. Mites are commonly found in beds, carpets, and clothes. This study was aimed to obtain the types and density of dust mites in Kelurahan Kleak Kecamatan Malalayang Manado. This was a descriptive study with a cross sectional study conducted from October to January 2015. Samples of dust were collected from bed, bedroom floor, and sofa in residential houses by using technique simple random sampling. The results showed that there were 5 dust mite samples from Pyroglyphidae, Glycyphagidae, Acaridae, Cheyletidae, and Chortoglyphidae families. Density of house dust mites was 199 mites/13.46 g of dust. The most dominant type of dust mites was the Glycyphagidae family and the highest percentage of its population was in the bedroom floor meanwhile the most dominant population in bed was the Pyroglyphidae family. Conclusion: There were 5 dust mite families- Pyroglyphidae, Glycyphagidae, Acaridae, Cheyletidae, and Chortoglyphidae with the density of 199 mites/13.46 g of dust. The most frequently found mites was the Glycyphagidae family.Keywords: dust mites, types, densityAbstrak: Tungau debu rumah (TDR) terdapat dalam debu rumah dan berdistribusi kosmopolit. Tungau debu hidup dengan memakan sisa skuama kulit manusia dan bertumbuh dalam lingkungan yang lembab. Tungau biasanya ditemukan di tempat tidur, karpet, dan pakaian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan kepadatan TDR yang ditemukan di Kelurahan Kleak Kecamatan Malalayang Kota Manado. Jenis penelitian ialah deskriptif dengan desain potong lintang yang dilakukan selama bulan Oktober sampai Januari 2015. Sampel penelitian yaitu sampel debu yang dikumpulkan dari tempat tidur, lantai kamar tidur, dan sofa yang ada di perumahan penduduk dengan menggunakan teknik simple random sampling. Hasil penelitian mendapatkan 5 jenis TDR dari famili Pyroglyphidae, Glycyphagidae, Acaridae, Cheyletidae, dan Chortoglyphidae. Kepadatan TDR yaitu 199 tungau/13,46 gr debu. Jenis tungau debu yang paling dominan yaitu dari famili Glycyphagidae dengan populasi tertinggi pada lantai kamar tidur sedangkan populasi paling dominan pada tempat tidur yaitu famili Pyroglyphidae. Simpulan: Di Kelurahan Kleak Kecamatan Malalayang Kota Manado terdapat 5 jenis TDR dari famili Pyroglyphidae, Glycyphagidae, Acaridae, Cheyletidae, dan Chortoglyphidae dengan kepadatan TDR yaitu 199 tungau/13,46 gr debu. Jenis TDR yang paling sering ditemukan ialah famili GlycyphagidaeKata kunci: tungau debu rumah, jenis, kepadatan
Survei Penyakit Kecacingan Pada Pekerja Tambang Tradisional di Desa Soyoan Kecamatan Ratatotok Kabupaten Minahasa Tenggara Tuuk, Herlisa A.V.; Pijoh, Victor D.; Bernadus, Janno B.B.
e-Biomedik Vol 8, No 1 (2020): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v8i1.28693

Abstract

Abstract: Helminthiasis is an infection that generally occurs in humans and is often caused by worm parasites, specifically intestinal nematodes, that are transmitted into the body through soil or so-called Soil Transmitted Helminths (STH). Traditional miners are at high risk to suffer from helminthiasis caused by STH due to frequent contact with soil. Soyoan Village was chosen based on an initial survey. It was found that the majority of its population are traditional gold miners.  Most mining activities still use simple safety equipment, along with poor sanitation in the area and miners having frequent contact with the ground.  If the helminthiasis is left alone, in addition to causing anemia and malnutrition, it can also cause workloads that inhibit concentration, a decrease in work ability and eventually death. This study to identify helminthiasis in traditional mining workers. A total of 16 miners (18%) out of 86 miners suffered from helminthiasis. All positive samples were infected by STH, specifically hookworm.  The highest number of respondents were male with a number of 85 people (99%), and there was only 1 female (1%). Most respondents were in the age group of 26-35 with a total of 27 people (31%). A total of 16 respondents (18%) had helminthiasis infection caused by STH, specifically hookworm. In conclusion, helminthiasis prevalence is still relatively low, so disease control can still be done easily.Keywords: Helminthiasis, traditional miners  Abstrak: Kecacingan merupakan infeksi yang umumnya terjadi pada manusia dan paling sering disebabkan oleh parasit cacing jenis nematoda usus yang ditularkan  ke dalam tubuh melalui tanah atau disebut Soil Transmitted Helminths (STH). Profesi penambang tradisional termasuk kelompok beresiko tinggi mengalami infeksi kecacingan yang disebabkan oleh STH karena sering berkontak dengan tanah. Desa Soyoan dipilih berdasarkan survei awal, didapatkan bahwa mayoritas penduduknya adalah penambang emas  tradisional. Aktifitas pertambangan kebanyakan masih menggunakan alat pengaman diri seadanya, sanitasi yang buruk dan sering berkontak dengan tanah. Apabila infeksi kecacingan dibiarkan maka selain menyebabkan anemia, dan malnutrisi juga dapat menimbulkan beban kerja yang membuat konsentrasi terhambat, terjadinya penurunan kemampuan kerja sampai kematian. Penambang yang mengalami infeksi kecacingan sebanyak 16 orang (18%) dari 86 sampel subyek penelitian. Semua sampel yang positif terinfeksi oleh cacing STH jenis cacing tambang. Jumlah responden  terbanyak berjenis kelamin laki-laki sebanyak 85 orang (99%) dan jenis kelamin perempuan 1 orang (1%), responden terbanyak berada di kelompok usia 26-35 tahun sebanyak 27 orang (31%).  Sebanyak 16 orang responden (18%) yang mengalami infeksi  kecacingan oleh cacing STH jenis cacing tambang. Simpulannya ialah prevalensi kecacingan masih tergolong rendah sehingga pengontrolan penyakit masih dapat dilakukan dengan mudah.Kata kunci : Kecacingan, pekerja tambang tradisional
Perbandingan deteksi Plasmodium falciparum dengan metode pemeriksaan mikroskopik dan teknik real-time polymerase chain reaction Langi, Elril T.; Bernadus, Janno B. B.; Wahongan, Greta J. P.
eBiomedik Vol 4, No 1 (2016): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.4.1.2016.11058

Abstract

Abstract: Plasmodium falciparum is one of the species of parasites causing tropical malaria disease. Plasmodium falciparum was reported as often being the major source of pain and even death in most cases. The data released by WHO shows that, globally, 198 millions of malaria cases occurred in 2013 with 548 thousands as cause of death. Microscopic examination is a gold standard for detecting Plasmodium falciparum. Although this method has certain limitations in diagnosing complication infection, phases of parasitemia, and also the capability of laboratory's medical staff factor. Nowadays, there has been innovation in biomolecular department, that is examination using PCR which can accurately detect the plasmodium, due to the DNA amplification. This method however, has not often used by doctors in diagnose malaria disease. The aim of this research is to determine the comparison of malaria detection using microscopic verification of plasmodium falciparum with real-time PCR verification. The method used in this research is diagnostic with 35 blood samples of patient suffering malaria disease. The blood samples from patient's vena were then divided into thick and thin microscopic sample, and some were putted into EDTA tube for DNA extraction in the laboratory using real-time PCR verification. The result of this research shown that sensitivity and specificity rate of PCR is 100% accurate. Conclusion: detection result of plasmodium falciparum using real-time PCR verification produced equal result as microscopic verification.Keywords: Plasmodium falciparum, Microscopic method, Real-time Polymerase Chain Reaction (PCR)Abstrak: Plasmodium falciparum adalah salah satu spesies parasit penyebab penyakit malaria, yaitu malaria tropika. Plasmodium falciparum dilaporkan sebagai spesies yang paling banyak menyebabkan angka kesakitan dan kematian pada manusia akibat penyakit malaria. World Health Organization (WHO) melaporkan secara global, diperkirakan 198 juta kasus malaria terjadi secara keseluruhan pada tahun 2013 dan menyebabkan 584 ribu kematian. Pemeriksaan mikroskopik adalah pemeriksaan gold standard untuk mendeteksi Plasmodium falciparum. Namun pemeriksaan ini memiliki keterbatasan dalam hal mendiagnosis infeksi campuran, infeksi dengan keadaan parasitemia, dan tidak terlatihnya tenaga kesehatan laboratorium. Saat ini dalam bidang biomolekuler telah dikembangkan pemeriksaan real-time polymerase chain reaction (PCR) yang akurat untuk mendeteksi plasmodium, karena didasarkan pada amplifikasi DNA plasmodium, namun pemeriksaan ini belum rutin digunakan untuk mendiagnosis malaria. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan deteksi Plasmodium falciparum dengan pemeriksaan mikroskopik dan pemeriksaan real-time PCR. Metode penelitian ini ialah uji diagnostik. Sampel pada penelitian ini yaitu 35 sampel darah pasien suspek malaria. Sampel darah vena yang diambil langsung dibuat sedian darah tipis dan sediaan darah tebal untuk diperiksa di mikroskop, sedangkan darah yang tersisa dimasukkan dalam tabung EDTA, dan dibawa ke Laboratorium untuk dibuat ekstraksi DNA dan dilanjutkan dengan pemeriksaan real-time PCR. Hasil penelitian menunjukkan tingkatsensitivitas dan spesifisitas real-time PCR sebesar 100%. Simpulan: Hasil deteksi Plasmodium falciparum dengan pemeriksaan real-time PCR memiliki efektivitas yang setara dengan metode pemeriksaan mikroskopik sebagai gold standart.Kata kunci: Plasmodium falciparum, Pemeriksaan Mikroskopik, Real-time Polymerase Chain Reaction (PCR)
Uji Potensi Ekstrak Daun Pepaya (Carica papaya linn) sebagai Larvasida terhadap Larva Aedes sp. Di Manado Ammari, Nazzirah A.; Wahongan, Greta J. P.; Bernadus, Janno B. B.
e-Biomedik Vol 9, No 1 (2021): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v9i1.31733

Abstract

Abstract: Papaya leaf extract as a natural larvicide can be used as an alternative to control resistant Aedes aegypti populations. The benefits of controlling the dengue hemorrhagic fever (DHF) vektor are reducing the level of morbidity, mortality and suffering of individuals and their families. This research was conducted with a simple laboratory experimental method. Used papaya leaves extract and larvae of Aedes sp. instar III and IV taken in water float. This study used 100 larvae divided into 2 groups with positive groups, namely the concentration of 5gr, 10 gr, 15 gr and 20 gr and a control group that only used aquadesh which was repeated twice. This study aimed to determine the potential of papaya leaf extract (Carica Papaya Linn) as a larvicide against larvae of Aedes sp. in Manado. In conclusion, papaya leaf extract (Carica Papaya Linn) has potential as a larvicide against Aedes sp. Larvae. where the higher the extract concentration given, so the mortality rate of Aedes sp. larvae higher.Keyword :  Papaya Leaves (Carica Papaya Linn), Larvacides, Larvae Aedes sp.  Abstrak: Ekstrak daun pepaya sebagai larvasida alami dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk mengendalikan populasi Aedes aegypti yang telah resisten. Manfaat dari pengendalian vektor penyakit demam berdarah dengue (DBD) adalah mengurangi tingkat kesakitan, kematian, dan penderitaan individu beserta keluarganya. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui potensi ekstrak daun papaya (Carica Papaya Linn) sebagai larvasida terhadap larva Aedes sp. di Manado. Penelitian ini dilakukan dengan  metode eksperimental laboratoris sederhana.  Menggunakan ekstrak daun pepaya dan larva Aedes sp. instar III dan IV yang di ambil di penampungan air. Penelitian ini menggunakan 100 ekor larva yang terbagi atas 2 kelompok dengan kelompok uji yaitu konsentrasi 5gr, 10 gr, 15 gr dan 20 gr serta kelompok control yang hanya menggunakan aquadesh  yang diulangi sebanyak dua kali percobaan. Hasil nilai p yang didapat dari uji Kruskall Wallis memiliki nilai p < 0.05, hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan tingkat kematian larva Aedes sp. setelah 6 jam, 12 jam, 18 jam dan 24 jam pada berbagai konsentrasi perlakuan. Sebagai simpulan, ekstrak daun papaya (Carica Papaya Linn) memiliki potensi sebagai  larvasida terhadap larva Aedes sp. dimana semakin tinggi konsentrasi ekstrak yang diberikan maka semakin tinggi pula tingkat kematian larva Aedes sp. Kata Kunci : Daun Pepaya (Carica Papaya Linn), Larvasida, Larva Aedes sp.
Uji Efikasi Ekstrak Tanaman Serai (Cymbopogon citratus) terhadap Tingkat Mortalitas Larva Nyamuk Aedes sp. Giroth, Sonnia J.; Bernadus, Janno B. B.; Sorisi, Angle M. H.
e-Biomedik Vol 9, No 1 (2021): eBiomedik
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/ebm.v9i1.31716

Abstract

Abstract: Aedes aegypti and Aedes albopictus are known as the two main vectors of DHF disease. One way to control DHF is by breaking the chain of spread in the larval phase with larvicides. The use of organic larvicides derived from plants is in great demand, one of which is extracts of lemongrass (Cymbopogon citratus). This study aims to determine the level of efficacy or the effect of concentration of lemongrass extract solution on mortality rates of Aedes sp. larvae. This is an experimental study using 40 instar larvae III / IV of Aedes sp. which were given the intervention of lemongrass plant extracts with a concentration of 5%, 10%, 15%, and 20%. This experiment was carried out twice. Four observations were made every 6 hours. Probit analysis was performed to determine Lethal Concentration (LC50 and LC90) and Lethal Time (LT50 and LT90). The analysis showed that the lemongrass plant extract at a concentration of 20% had a significant difference with the concentration of 5%, 10%, 15%, and the control group (p <0.05). In conclusion, extract of lemongrass (Cymbopogon citratus) with a concentration of 20% is effective for killing larvae of Aedes sp.Keywords: Aedes sp., Cymbopogon citratus, larval mortality  Abstrak: Nyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus diketahui sebagai dua vektor utama dari penyakit DBD. Salah satu cara pengendalian DBD adalah dengan memutus rantai penyebaran pada fase larva dengan larvasida. Pemanfaatan larvasida organik atau alami yang berasal dari tumbuh-tumbuhan banyak diminati, salah satunya adalah ekstrak tanaman serai (Cymbopogon citratus). Penelitian ini bertujuan mengetahui tingkat keampuhan atau pengaruh konsentrasi larutan ekstrak tanaman serai terhadap tingkat mortalitas larva nyamuk Aedessp. Penelitian ini bersifat eksperimental sederhana menggunakan 40 ekor larva instar III/IV nyamuk Aedes sp. yang diberikan intervensi ekstrak tanaman serai dengan konsentrasi 5%, 10%, 15%, dan 20%. Pengamatan dilakukan setiap 6 jam sebanyak 4 kali, dengan 2 kali percobaan. Analisis probit dilakukan untuk mengetahui Lethal Concentration (LC50 dan LC90) dan Lethal Time (LT50dan LT90). Hasil analisis menunjukkan bahwa ekstrak tanaman serai pada konsentrasi 20% memiliki perbedaan signifikan dengan konsentrasi 5%, 10%, 15%, dan kelompok kontrol (p < 0,05). Simpulan penelitian ialah ekstrak tanaman serai dengan konsentrasi 20% efektif untuk mematikan larva Aedes sp.Kata Kunci: Aedes sp., Cymbopogon citratus, mortalitas larva
Penyakit Periodontal pada Masa Kehamilan dan Perawatannya Slat, Gabriela C.; Khoman, Johanna A.; Bernadus, Janno B. B.
e-GiGi Vol 9, No 2 (2021): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v9i2.34900

Abstract

Abstract: Hormonal changes occur during pregnancy and affect the response of periodontal tissue to local factors, therefore, the risk of periodontal disease increases. Dentists have to know the treatment options that can be given to pregnant patients with periodontal disease especially the current treatments. This study was aimed to summarize the triggering factors that could worsen and the current treatment of periodontal disease during pregnancy. This was a literature review study using databases of Google scholar, Pubmed, and Science direct. After selection, there were 10 literatures; seven literatures discussed about the worsening factors of periodontal disease during pregnancy and three literatures discussed about the current treatment. The results showed several factors that could worsen periodontal disease during pregnancy, as follows: plaque, gestational age, caries, maternal age, education level, knowledge, oral hygiene behavior, treatment costs, frequency and time of tooth brushing, socio-economic status, occupation, irregular arrangement of teeth, and tobacco use. Current treatments of periodontal disease during pregnancy included the consumption of Lactobacillus reuteri-containing lozenges for preg-nancy gingivitis, a water-cooled Nd: YAG (neodymium-doped yttrium aluminum garnet) pulsed laser, and transarterial embolisation for pregnancy pyogenic granuloma. In conclusion, periodontal treatment can improve periodontal status, therefore, pregnant woman with periodontal disease need to be treated.Keywords: pregnancy; periodontal disease; worsening factors; recent treatment  Abstrak: Selama kehamilan terjadi perubahan hormonal yang memengaruhi respons jaringan periodontal terhadap faktor lokal sehingga risiko terjadinya penyakit periodontal semakin besar. Dokter gigi perlu mengetahui pilihan perawatan yang dapat diberikan kepada pasien hamil dengan penyakit periodontal khususnya perawatan terkini. Penelitian ini bertujuan untuk merangkum faktor-faktor yang dapat memperburuk dan perawatan terkini penyakit periodontal pada masa kehamilan. Jenis penelitian ini ialah suatu literature review menggunakan tiga database yaitu Google cendekia, Pubmed dan Science direct. Setelah melalui tahapan seleksi studi, didapatkan 10 literatur; tujuh literatur mengenai faktor-faktor yang dapat memperburuk penyakit periodontal pada masa kehamilan dan tiga literatur lainnya membahas perawatan terkini. Hasil penelitian mendapatkan bahwa terdapat beberapa faktor yang dapat memperburuk penyakit periodontal pada masa kehamilan yakni: plak, usia kehamilan, karies, usia ibu hamil, tingkat pendidikan, pengetahuan, perilaku kebersihan gigi dan mulut, biaya perawatan, frekuensi dan waktu menyikat gigi, status sosial-ekonomi, pekerjaan, susunan gigi yang tidak beraturan, dan penggunaan tembakau. Perawatan terkini penyakit periodontal pada masa kehamilan dapat berupa konsumsi tablet hisap yang mengandung Lactobacillus reuteri untuk gingivitis kehamilan, laser berdenyut Nd: YAG (neodymium-doped yttrium aluminium garnet) berpendingin air, dan embolisasi transarterial untuk granuloma piogenik kehamilan. Simpulan penelitian ini ialah perawatan periodontal dapat memperbaiki status periodontal sehingga wanita hamil dengan penyakit periodontal perlu menerima perawatan.Kata kunci: penyakit periodontal; kehamilan; faktor yang memperburuk; perawatan terkini
Application For Data Sample Management In Biomolekuler Laboratory With QRCODE Sartika, Putri Dewi; Bernadus, Janno B.B.; Sambul, Alwin M.
Jurnal Teknik Informatika Vol 16, No 4 (2021): JURNAL TEKNIK INFORMATIKA
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/jti.16.4.2021.34224

Abstract

Sistem Quick Respon Code (QR Code) merupakan suatu kode matriks dua dimensi yang mempu menyimpan informasi hingga ribuan karakter alfanumerik. Namun berbeda dengan Barcode dengan memiliki matriks satu dimensi yang hanya mempu menyimpan 20 angka saja. Qr code sebagai bentuk teknologi yang dapat diterapkan dalam bermacam bidang untuk memaksimalkan pekerjaan, bahkan sekarang ini qr code tidak hanya digunakan dalam bidang industry tapi juga pada media cetak dan juga media elektronik. Penggunaan system qr code memudahkan suatu kegiatan yang dilakukan agar tidak mudah untuk terjadinya penukaran data secara acak.               Penelitian dengan judul “Rancang Bangun Aplikasi Pengelolaan Data Sampel Di Lab Biomolekuler Poliklinik Unsrat Manado Berbasis Qr Code” bertujuan untuk menghilangkan beberapa kekurangan dari barcode. Penelitian ini menggunakan Metode Kerangka Berpikir untuk menjalankan system qr code di Lab Biomolekuler Unsrat Manado. Aplikasi ini akan mengelola data sampel covid-19 di Lab Biomolekuler Unsrat Manado yang nantinya akan melalui proses penginputan data sampel, labelling atau analis di ruangan lab serta akan di verifikasi. Nantinya pada saat menjalankan aplikasi, qr code yang tercantum dalam label sampel data akan membuat data menjadi lebih akurat sehingga tidak mudahkan untuk terjadi kesalahan dalam penukaran label sampel, sehingga sistem tracking yang digunakan akan sangat mempermudah dalam melacak sampel data melalui label qr code yang di berikan pada setiap kode data sampel. Data sampel yang telah tercatat akan tersimpan kedalam format data PDF. Diharapkan dengan adanya aplikasi ini, berbagai pemasalahan terkait adanya bertukarnya data sampel secara tidak disengajai dapat diminimalisir dan dibuat menjadi lebih efektif dan efisien.
Association between interleukin-8 and severity of dengue shock syndrome in children Suryadi N. N. Tatura; Dasril Daud; Irawan Yusuf; Sitti Wahyuni; Janno B. Bernadus
Paediatrica Indonesiana Vol 56 No 2 (2016): March 2016
Publisher : Indonesian Pediatric Society

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (531.028 KB) | DOI: 10.14238/pi56.2.2016.79-83

Abstract

Background Dengue hemorrhagic fever (DHF) remains a major health problem in tropical countries. The case fatality rate (CFR) can be reduced from 45% to <1%, if dengue shock syndrome (DSS) is treated early and adequately. Early biomarkers for DSS outcomes in children are needed. Interleukin-8 (IL-8) might be one of the molecule, as it plays a role in the pathophysiology of DHF in children.Objective To assess IL-8 levels in pediatric DHF patients at various stages of illness severity and to determine the correlation between serum IL-8 concentration on admission and DSS outcomes in children.Methods A prospective cohort study was done in children with DSS who were admitted to the Pediatrics Department of Kandou Hospital, Manado. We measured subjects’ serum IL-8 levels at the time of DSS diagnosis and followed-up subjects until there was improvement or deterioration. An association between IL-8 and DSS outcome was analyzed using univariable logistic regression test. An ROC curve and Chi-square test were used to analyze the prognostic value of serum IL-8 levels. Statistical significance was considered to be a P value of <0.05 (power 80, β=0.20)..Results Fifty-eight children with DSS were included in this study. Twenty-seven subjects had clinical deterioration (to recurrent shock, prolonged shock or died). There was a significant association between elevated IL-8 levels and clinical deterioration in DSS (OR 116.7; 95%CI 18.0 to 756.0; P=0.0001). The ROC curve revealed an IL-8 cut-off level of 194.9 pg/mL, AUC 0.982, with sensitivity 89.3%, specificity 93.3%, positive predictive value (PPV) 92.6%, negative predictive value (NPV) 90.3%.Conclusion There is an association between elevated early serum IL-8 level and a DSS deterioration. Further prognostic studies are needed to confirm the predictive ability of serum IL-8 level on DSS deterioration in children.
Hubungan Perilaku Menyikat Gigi dan Kejadian Karies Gigi pada Anak Usia Sekolah di Desa Wori Wowor, Vonny N. S.; Bernadus, Janno B. B.; Lumbangaol, Grace M. P.
e-GiGi Vol. 13 No. 1 (2025): e-GiGi
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35790/eg.v13i1.55681

Abstract

Abstract: Dental caries is still a significant health problem among school-age children 6 – 12 years in Southeast Asian countries. Tooth brushing behavior plays an important role in oral and dental health status. This study aimed to evaluate the relationship between tooth brushing behavior and the incidence of dental caries among school-age children at Desa Wori. This was an analytical and observational study with a cross-sectional design. Samples of 153 students were selected using the stratified proportionate random sampling technique. We used questionnaire to evaluate the tooth brushing behavior which had been tested for validity and reliability, meanwhile the examination of dental caries was performed using the International Caries Detection and Assessment System (ICDAS). The results showed that 24 students brushed their teeth correctly and did not have dental caries, while 52 students brushed their teeth correctly but had dental caries. Moreover, 10 students had poor brushing behavior but had no dental caries, meanwhile 67 students had poor behavior and had dental caries. The chi-square test obtained a p-value of 0.006 (p≤0.05). In conclusion there is a significant relationship between tooth brushing behavior and the incidence of dental caries among school-age children at Desa Wori. Keywords: tooth brushing behavior; dental caries; school-age children   Abstrak: Karies gigi masih merupakan masalah kesehatan yang signifikan pada anak usia sekolah 6–12 tahun di negara-negara Asia Tenggara. Perilaku menyikat gigi memegang peranan penting dalam status kesehatan gigi dan mulut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan perilaku menyikat gigi dengan kejadian karies gigi pada anak usia sekolah di Desa Wori. Penelitian ini menggunakan metode observasional analitik dengan desain potong lintang. Partisipan sebanyak 153 siswa dipilih dengan menggunakan teknik stratified proportionate random sampling. Instrumen yang digunakan untuk perilaku menyikat gigi ialah kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitas serta pemeriksaan karies gigi menggunakan International Caries Detection and Assessment System (ICDAS). Hasil penelitian memperlihatkan bahwa 24 siswa memiliki perilaku menyikat gigi yang baik dan tidak ada karies gigi, sedangkan 52 siswa memiliki perilaku menyikat gigi dengan baik tetapi ada karies gigi. Kemudian ditemukan 10 siswa memiliki perilaku menyikat gigi yang kurang baik dan tidak ada karies gigi, sedangkan 67 siswa memiliki perilaku kurang baik dan ada karies gigi. Uji chi-square mendapatkan nilai p=0,006 (p≤ 0,05). Simpulan penelitian ini ialah terdapat hubungan bermakna antara perilaku menyikat gigi dengan kejadian karies gigi pada anak usia sekolah di Desa Wori. Kata kunci: perilaku menyikat gigi; kejadian karies gigi; anak usia sekolah
Prevalensi skabies pada santri laki-laki Pondok Pesantren Darul Istiqamah Manado tahun 2023 Fikri, Muhammad; Wahongan, Greta Jane Pauline; Bernadus, Janno Berty Bradly; Tuda, Josef Sem Berth
Jurnal Kedokteran Komunitas dan Tropik Vol 12 No 1 (2024): JKKT Volume 12 Nomor 1 (2024)
Publisher : UNIVERSITAS SAM RATULANGI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Scabies is a dermatological issue caused by the parasitic mite Sarcoptes scabiei var. hominis. The occurrence of scabies tends to easily spread, both directly through skin-to-skin contact and indirectly through shared objects. Scabies infections commonly occur in individuals residing in communal settings, such as dormitories and boarding schools. Aim: The aim of this research is to depict the magnitude and prevalence rate among male students at Pondok Pesantren Darul Istiqamah. Methods: Conducted as a descriptive survey employing the cross-sectional method, this research quantifies the prevalence of scabies among male students at Pondok Pesantren Darul Istiqamah during the period from October to November 2023. The diagnostic process is based on four cardinal signs, with confirmation through laboratory tests. Results: All male students (75 students) were selected as research subjects based on inclusion criteria. The research findings indicate that 56% or 42 out of 75 sampled students had scabies infections. Conclusion: The conclusion drawn from this study is that the prevalence of scabies among students at Pondok Pesantren Darul Istiqamah is notably high. Keywords: prevalence of scabies, scabies, Sarcoptes scabiei, Islamic boarding school