p-Index From 2021 - 2026
5.715
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search
Journal : JURNAL DIVERSITA

PERSEPSI DUKUNGAN ORGANISASI SEBAGAI MEDIATOR ANTARA KEADILAN ORGANISASI DAN KEPUASAN KERJA KARYAWAN DI PT ABC Simatupang, Meity Fransiska; Salendu, Alice
JURNAL DIVERSITA Vol 5, No 2 (2019): JURNAL DIVERSITA DESEMBER
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (929.472 KB) | DOI: 10.31289/diversita.v5i2.2696

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peran persepsi dukungan organisasi sebagai mediator pada hubungan antara keadilan organisasi dan kepuasan kerja pada karyawan di PT ABC sebagai salah satu perusahaan penyedia jasa pelayanan solusi telekomunikasi khususnya bagi vendor operator seluler. Penelitian ini dilakukan kepada 95 karyawan PT ABC sebagai partisipan penelitian melalui pemberian kuesioner. Keadilan organisasi diukur menggunakan alat ukur yang diadaptasi dari alat ukur organizational justice questionnaire Colquitt (2001) dengan jumlah 20 item (?=0,891). Persepsi dukungan organisasi diukur menggunakan alat ukur yang diadaptasi dari survey perceived organizational support Eisenberger dkk (1986) dengan jumlah 36 item (?=0,893). Kepuasan kerja diukur menggunakan alat ukur yang diadaptasi dari job satisfaction survey dari Spector (1997) dengan jumlah 36 item (?=0,858). Penelitian ini menggunakan disain penelitian kuantitatif dengan menggunakan analisis teknik regresi Hayes pada program PROCESS SPSS versi 24. Hasil analisis menunjukkan bahwa persepsi dukungan organisasi berperan sebagai mediator antara keadilan organisasi dan kepuasan kerja dengan efek mediasi parsial dengan efek mediasi parsial dengan nilai BootLLCI 0,194 dan BootULCI 0,4406. Organisasi perlu memberikan perlakuan adil bagi karyawannya dan diharapkan muncul persepsi dukungan organisasi pada karyawan secara optimal sehingga meningkatkan kepuasan kerja karyawan yang dapat mempengaruhi kinerja organisasi meningkat.
Hubungan antara Ethical Organizational Culture dengan Burnout: Peran Mediasi Managerial openness Puji Gufron Rhodes; Alice Salendu
Jurnal Diversita Vol 6, No 1 (2020): JURNAL DIVERSITA JUNI
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1071.621 KB) | DOI: 10.31289/diversita.v6i1.3234

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa peran managerial openness sebagai mediator pada hubungan antara ethical organizational culture dan burnout pada karyawan di Organisasi XYZ sebagai salah satu institusi pemerintah Indonesia yang bergerak di bidang keuangan. Penelitian dilakukan pada 113 karyawan di Organisasi XYZ dengan menggunakan metode self-report survey. Penelitian dilakukan dengan melakukan proses adaptasi kepada 3 instrumen yang digunakan, yaitu: ethical organizational culture diukur dengan mengadaptasi skala CEVMS – Short Form (CEVMS-SF) milik DeBode dkk (2013), dengan jumlah 32 item dan memiliki nilai reliabilitas 0,89; burnout diukur dengan mengadaptasi 9 item Bergen inventory (BBI-9) dari Feldt dkk (2014), dengan nilai reliabilitas 0,91; dan managerial openness diukur dengan mengadaptasi skala dari Ashford dkk (1998), dengan jumlah 6 item dan reliabilitas 0,75. Pada penelitian ini didapatkan bahwa managerial openness berhasil memediasi secara parsial hubungan antara ethical organizational culture dengan burnout dengan nilai BootLLCI= 0,02 dan BootULCI= 0,12. Artinya, ethical organizational culture melalui managerial openness memiliki peran yang besar dalam menghambat pembentukan burnout pada karyawan di organisasi.
Persepsi Dukungan Organisasi dan Work Engagement pada Aparatur Sipil Negara di Instansi PQR Septi Melinda; Alice Salendu
Jurnal Diversita Vol 7, No 2 (2021): JURNAL DIVERSITA DESEMBER
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v7i2.4809

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk melihat korelasi persepsi dukungan organisasi (PDO) dan work engagement pada Aparatur Sipil Negara (ASN) Instansi PQR yang sedang menjalankan reformasi birokrasi. Penelitian ini merupakan penelitian terapan dengan menggunakan metode korelasional dengan jumlah partisipan sebanyak 145 partisipan. PDO diukur menggunakan alat ukur yang diadaptasi dari Survey of Perceived Organizational Support (SPOS) 8 dari Hutchison (1997) yang terdiri dari 8 item (α = 0,91). Sementara work engagement diukur menggunakan Utrecht Work Engagement Scale-9 (UWES-9) versi Bahasa Indonesia yang dikembangkan dan divalidasi oleh Kristiana et al. (2018) yang terdiri dari 9 item (α = 0,96). Temuan penelitian menunjukkan bahwa PDO berhubungan signifikan positif dengan work engagement (r = 0,40, p < 0,01). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa semakin tinggi PDO pegawai, maka work engagement pegawai akan semakin meningkat. Lebih lanjut, berdasarkan hasil analisis deskriptif ditemukan bahwa 57% pegawai memiliki work engagement yang rendah dan 51% memiliki persepsi dukungan organisasi yang rendah. Hal tersebut penting untuk dibenahi mengingat PQR sedang menerapkan reformasi birokrasi. Berdasarkan penelitian ini, pihak manajemen PQR dapat menentukan langkah lanjutan yang sesuai untuk meningkatkan PDO pegawainya.
Budaya Organisasi dan Voice Behavior: Peran Mediasi Kepribadian Proaktif pada Karyawan Lembaga Pemerintah Muhammad Ibrahim; Alice Salendu
Jurnal Diversita Vol 6, No 2 (2020): JURNAL DIVERSITA DESEMBER
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v6i2.3676

Abstract

Organisasi memiliki kondisi tantangan dan tuntutan agar dapat unggul dalam persaingan melalui perubahan dan pengembangan. Penelitian ini bertujuan untuk meneliti bagaimana kondisi organisasi di lembaga pemerintah dengan melibatkan tiga variabel penelitian, yaitu budaya organisasi, kepribadian proaktif dan voice behavior. Data diperoleh melalui 3 alat ukur, yaitu organizational culture scale (1996), proactive personality scale (1999), dan voice behavior scale (1998). Responden penelitian ini adalah 113 orang karyawan yang diperoleh melalui convenience sampling denga kriteria sebagai karyawan tetap dan telah bekerja selama 1 tahun. Teknik statistik PROCESS yang dikembangkan oleh Hayes digunakan untuk menguji analisis peran mediasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa budaya organisasi mempengaruhi voice behavior secara langsung dengan nilai efek sebesar 0,10. Nilai pengaruh antara budaya organisasi terhadap voice behavior melalui mediasi kepribadian proaktif adalah sebesar 0,07. Penelitian ini juga menunjukkan semua variabel memiliki hubungan yang positif dan kepribadian proaktif memedisasi secara parsial hubungan antara budaya organisasi dan voice behavior.
Hubungan antara Iklim Safety dan Ambiguitas Peran terhadap Kinerja Safety Ridwan Ardiansyah; Alice Salendu
Jurnal Diversita Vol 8, No 1 (2022): JURNAL DIVERSITA JUNI
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v8i1.4794

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Iklim safety dan ambiguitas peran terhadap kinerja safety pada karyawan PT KLM, sebuah perusahaan manufaktur alat berat yang memercayai safety (kemanan kerja) sebagai priortias utama dalam mencapai kualitas kerja. Berdasarkan diagnosa masalah diketahui terdapat permasalahan pada kinerja safety karyawan di area pabrik yang menyebabkan terjadinya berbagai kecelakaan kerja di PT KLM. Faktor-faktor yang menyebabkan munculnya masalah rendahnya kinerja safety di PT KLM dari faktor ditengarai karena kurangnya pemahaman para pimpinan akan tugas dan tanggung jawabnya untuk mengingatkan bawahan terikait iklim safety serta persepsi terhadap iklim safety di PT KLM. Pengambilan data dilakukan terhadap 34 Supervisor PT KLM. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hanya ambiguitas peran yang ditemukan memiliki hubungan negatif yang signifikan dengan kinerja safety pada operator di PT KLM r (32) = -0,349, p<0,05.  Sedangkan hubungan antara Iklim safety dan kinerja safety tidak signifikan r (32) = 0,059, p=0,740.  Berdasarkan hasil analisa data tersebut, dibuat suatu rancangan intervensi technostructural intervention berupa desain pekerjaan serta human resources management intervention berupa Leadership Development Program (LDP) untuk menurunkan ambiguitas peran para pimpinan. Dengan adanya intervensi terhadap para pimpinan ini diharapkan dapat meningkatkan kinerja safety dari para operator.  
Pengaruh Psychological Capital terhadap Individual Readiness for Change pada Karyawan Sales Oktaviani Aditia Ningrum; Alice Salendu
Jurnal Diversita Vol 7, No 1 (2021): JURNAL DIVERSITA JUNI
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v7i1.4644

Abstract

Faktor penting keberhasilan inisiatif perubahan adalah kesiapan individu menghadapi perubahan. Perubahan organisasi yang dilakukan PT STI melalui inisiatif Optimus menuntut karyawan untuk siap dalam menghadapi perubahan yang terjadi. Kesiapan individu dalam menghadapi perubahan dapat ditingkatkan melalui peningkatan psychological capital yang dimiliki individu. Penelitian ini bertujuan untuk pengetahui pengaruh modal psikologis terhadap kesiapan individu menghadapi perubahan. Penelitian ini merupakan studi kuantitatif. Partisipan pada penelitian ini adalah 123 orang karyawan sales di divisi area operation PT. STI. Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah skala individual readiness for change (α=0,939) yang dikembangkan oleh Holt, Armenakis, Field dan Harris (2007) dan skala psychological capital questionnaire (α= 0,922) yang dikembangkan oleh Luthans dkk (2007).  Hasil analisis korelasi menunjukkan secara simultan, keempat dimensi psychological capital berkorelasi positif dengan individual readiness for change dengan nilai r= 0,520. Hasil pengujian hipotesis dengan menggunakan simple linear regression menunjukkan nilai r2 = 0,270 maka 27% variasi dari readiness for change dapat dijelaskan oleh psychological capital dan 73% dijelaskan oleh sebab lain yang tidak diteliti dalam penelitian ini. Penelitian ini menujukkan Psychological capital secara signifikan dapat memprediksi readiness for change dengan F=10,923, sig=0.000.
Peranan Pengalaman Kesesakan terhadap Stres Perjalanan pada Pekerja Pengguna KRL Commuter Line Faisal, Fathiyah Faiha; Salendu, Alice
Jurnal Diversita Vol. 10 No. 2 (2024): JURNAL DIVERSITA DESEMBER
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v10i2.12387

Abstract

Kereta rel listrik (KRL) commuter line adalah salah satu alat transportasi umum yang paling banyak digunakan di perkotaan. Banyaknya pekerja di perkotaan menjadi salah satu alasan mengapa KRL commuter line diminati karena memiliki jam keberangkatan dan kedatangan yang pasti. Pengguna KRL commuter line kini semakin meningkat, sehingga terdapat peningkatan kesesakan. Dampak yang dapat dirasakan dari kesesakan adalah stres perjalanan (commuting stress). Stres perjalanan yang terjadi pada pekerja mempengaruhi kinerja mereka. Oleh karena itu, tujuan penelitian ini adalah untuk melihat apakah terdapat peranan persepsi kesesakan dan kepadatan terhadap stres perjalanan. Partisipan penelitian ini pekerja yang menggunakan KRL commuter line sehari-hari sebagai alat transportasi untuk pergi dan pulang kerja. Hasil penelitian menemukan bahwa terdapat peran antara persepsi kesesakan yang dialami pekerja penumpang KRL commuter line dengan stres perjalanan yang dirasakan. Namun, ketika dilihat dari sisi kepadatan tidak terdapat peranan yang signifikan terhadap stres perjalanan. Penelitian diharapkan dapat menjadi acuan bagi penelitian berikutnya. Kata Kunci: Kepadatan, Kesesakan, KRL Commuter Line, Stres Perjalanan
Analisis Moderasi-Mediasi dalam Hubungan antara Symmetrical Internal Communication dan Voice Behavior pada Karyawan Hanifah, Ghina; Salendu, Alice
Jurnal Diversita Vol. 10 No. 1 (2024): JURNAL DIVERSITA JUNI
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Medan Area

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31289/diversita.v10i1.11820

Abstract

Menunjang produktivitas karyawan senantiasa menjadi agenda penting yang perlu menjadi perhatian HR, salah satunya adalah mendorong munculnya voice behavior. Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan peran positive emotional culture sebagai mediator dan procedural justice climate sebagai moderator dalam hubungan antara symmetrical internal communication dan voice behavior. Sampel penelitian adalah karyawan aktif dengan masa kerja minimal satu tahun dan memiliki atasan. Analisis data menggunakan Hayes’ PROCESS model 4 dan 14 dengan perangkat lunak SPSS versi 29. Hasil penelitian menunjukkan bahwa symmetrical internal communication berhubungan secara positif signifikan dengan voice behavior, namun peran mediasi positive emotional culture dalam hubungan antar keduanya tidak terbukti. Akan tetapi, terdapat peran moderasi yang signifikan, di mana symmetrical internal communication dan employee voice behavior melalui positive emotional culture bergantung kepada tingkat procedural justice climate yang tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan langsung antara symmetrical internal communication dan voice behavior tanpa adanya efek mediasi, serta terdapat hubungan tidak langsung antara symmetrical internal communication dan employee voice behavior melalui positive emotional culture di organisasi yang bergantung kepada persepsi karyawan terhadap tingkat procedural justice climate. Penelitian ini memberikan landasan bagi organisasi agar dapat membangun membangun komunikasi internal dan iklim keadilan prosedural, yang pada akhirnya dapat berdampak pada voice behavior karyawan.