Claim Missing Document
Check
Articles

Found 38 Documents
Search

PENGALAMAN TENAGA KERJA INDONESIA ILEGAL DI MALAYSIA: Sebuah Penelitian Fenomenologis Simanullang, Gonti; Bangun, Anselmus Chartino Ade; Utama, Ignatius L.Madya
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.2995

Abstract

The limited domestic job vacancies have caused many Indonesian citizens or Indonesian Migrant Workers (TKI) to seek work abroad. This certainly makes someone who is being squeezed by life's problems, especially economic problems, will eventually take all kinds of ways that are believed to be able to overcome their life problems. This is where illegal migration practices emerge, there are people who do not have complete documents, but want to work in Malaysia to make ends meet. This is further supported by the difficulty of obtaining work permits at the immigration office. However, being an illegal migrant worker does not make things easier. It turns out that there are many difficulties and risks that must be faced, even to the point of being life threatening. Using Moustakas' phenomenological research method, researchers try to explore the meaning of the experience of illegal migrant workers. Illegal status, which is very vulnerable to various risks, is felt to describe the whole experience more. Various difficulties while working as illegal migrant workers even with a large salary do not make them enjoy life. Finally they realize that a quiet, comfortable and safe life is much more valuable than just a big salary. The results of the phenomenological analysis at the synthesis stage in intuitive integration reveal the true meaning of this experience, namely a sense of peace is more valuable than a large salary. ini dibagi dua, yaitu usia perkawinan 0-5 tahun sebanyak 2 keluarga dan usia perkawinan 6-10 tahun sebanyak 2 keluarga.
MEMAKNAI PENGALAMAN JANDA KATOLIK: Sebuah Penelitian Fenomenologis Simanullang, Gonti; Utama, Ignatius L.Madya; Purba, Boni Pandapotan
LOGOS Vol. 20 No. 2 (2023): Juli 2023
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v20i2.3001

Abstract

Seseorang dikatakan berstatus janda apabila ia ditinggal pasangan hidupnya karena perceraian atau ditinggal mati. Hal ini berdampak pada status sosial dan situasi hidup yang baru salah satunya berkaitan dengan aspek perekonomian. Ada fenomena di mana para ibu yang mengemban status janda mampu menafkahi, bahkan menyekolahkan anak-anak. Fenomena ini menjadi titik fokus untuk menemukan makna pengalaman janda Katolik dengan menggunakan penelitian kualitatif dengan pendekatan fenomenologis Moustakas, yang didukung dengan teknik pengumpulan data yakni wawancara mendalam dan studi kepustakaan. Pertanyaan penelitian utama yang dibahas dalam tulisan ini adalah: Apa arti fenomenologis dari pengalaman ibu yang berstatus janda? Partisipan dari penelitian ini adalah lima orang umat Katolik yang sudah berstatus janda selama lima tahun atau lebih dan memiliki anak yang harus ditanggung. Temuan dari penelitian ini, yaitu: para partisipan mampu memperjuangkan anak-anaknya, memperjuangkan dirinya, mampu menghadapi berbagai persoalan hidup dan semakin beriman. Semua ini sungguh menunjukkan jati diri mereka sebagai seorang ibu yang sungguh memiliki keibuan.
KESADARAN AKAN IDENTITAS MAKHLUK SOSIAL DALAM DIRI MANUSIA UNTUK MEMBANGUN PERSAUDARAAN DAN DIALOG “TANPA BATAS”: Refleksi Kritis tentang Persaudaraan dan Persahabatan Sosial dalam Ensiklik Fratelli Tutti Viyo , Kornelius I.; Simanullang, Gonti; Septiandry, Robertus
LOGOS Vol. 21 No. 1 (2024): Januari 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i1.3415

Abstract

Kenyataan pada diri manusia sebagai makhluk sosial harus disadari sebagai sebuah identitas yang melekat dalam diri manusia. Melalui kenyataan dan kesadaran ini, manusia dituntut untuk membangun persaudaraan “tanpa batas”. Bukan lagi melihat siapa manusia dalam batas kelompok tertentu, tetapi menyadari bahwa ia manusia yang memiliki hakekat yang sama di hadapan Pencipta. Persaudaran yang terbuka akan sekat-sekat dalam kehidupan manusia, memberi peluang berharga untuk terciptanya perdamaian. Karena persaudaraan tersebut, manusia diberi tanggungjawab untuk berjalan bersama dalam menciptakan perdamaian. Sinodalitas menjadi hal penting dalam diri manusia terlepas dari kesadaran akan identitas diri sebagai makhluk sosial. Inilah sebuah perubahan dari karakter diri manusia yang mementingkan diri sendiri menjadi manusia dalam hakikatnya sebagai makhluk sosial.
ALLAH ADALAH CINTA, CINTA YANG RELA MENGABDI DAN MEMBERIKAN DIRI DEMI KESELAMATAN DAN KEHIDUPAN MANUSIA: Uraian Teologis atas Pandangan Paus Benediktus XVI dalam Ensiklik Deus Caritas Est Ara, Alfonsus; Nadeak, Largus; Simanullang, Gonti
LOGOS Vol. 21 No. 2 (2024): Juli 2024
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v21i2.3947

Abstract

Cinta selalu didambakan, dipuja dan diperbincangkan, baik dalam ruang keluarga maupun dalam ruang publik. Kekuatan cinta dilukiskan dalam aneka rupa dan nuansa, baik dalam buku, lagu, puisi, film, sastra maupun Kitab Suci. Inti yang diperbincangkan berpusat pada tiga hal utama, yaitu: “Apa, Mengapa dan Dari Manakah Datangnya Cinta?. Dalam filsafat Yunani, cinta dimengerti sebagai hasrat asali yang melekat pada manusia, yaitu hasrat untuk memuaskan keinginan sendiri (eros). Namun cinta manusiawi tersebut bersumber dari cinta Ilahi (agape). Dalam Kitab Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru diwahyukan bahwa cinta adalah hakekat/kodrat Allah: Allah adalah Cinta. Allah menciptakan alam semesta dan manusia (ciptaan-Nya yang termulia) dari isi cinta-Nya sendiri. Allah menanamkan isi cinta-Nya dalam diri manusia; Allah menghendaki agar manusia menjadi insan pencinta dan penyalur cinta-Nya kepada dunia supaya kehidupan semua ciptaan-Nya di dunia, terutama kehidupan manusia dilandaskan dan dijiwai oleh cinta. Cinta Allah adalah cinta yang rela mengabdi dan memberikan diri demi keselamatan dan kehidupan semua ciptaan-Nya, terutama manusia. Jika Allah adalah Cinta dan manusia diciptakan dari isi cinta Allah, maka cinta seharusnya menjadi tindakan khas yang melekat pada kodrat Allah dan manusia sendiri. Jika kodrat Allah dan manusia adalah cinta, maka patut dipertanyakan: “Bukankah aneka bentuk kebencian, kekerasan dan balas dendam adalah tindakan yang bertentangan dengan kodrat Allah dan manusia sendiri?
LATAR BELAKANG, ASAL-USUL, PELOPOR DAN SPRITUALITAS MONAKISME KRISTEN Situmorang, Sihol; Ara, Alfonsus; Simanullang, Gonti
LOGOS Vol. 22 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54367/logos.v22i1.4472

Abstract

Munculnya sebuah gerakan baru pasti melalui sejarah dan proses yang panjang dan terkait erat dengan konteks saat itu. Para pertapa pertama ingin menanggapi panggilan Tuhan untuk hidup seturut Injil. Monakisme Kristen turut dipengaruhi oleh dualisme Timur Tengah. Penarikan diri dari dunia yang ditandai dengan pakaian yang tampak aneh bahkan telanjang, tidak mandi, rambut acak-acakan dan memakai rantai besi di leher seperti terdapat di kalangan pertapa Syria merupakan pengaruh manikeisme. Spiritualitas monastik mencerminkan konsep atau teologi hidup kristiani. Satu-satunya tujuan hidup seorang pertapa adalah Allah yang kesatuan dengan-Nya dicari di padang gurun dengan doa dan praktik-praktik asketik. Hidup kristiani dipahami sebagai suatu pertumbuhan untuk sampai pada kesempurnaan. Seperti orang-orang pada masa itu, para pertapa yakin bahwa setan ada di mana-mana yang mengakibatkan malapetaka moral dan fisik. Menurut para pertapa itu, hidup kristiani bertumbuh dalam perang melawan sijahat.
PARTISIPASI ORANG MUDA KATOLIK PAROKI SANTA BARBARA SAWAH LUNTO PADANG DALAM HIDUP MENGGEREJA Donobakti, Yohanes Anjar; Bani, Alfonsus Garpar; Simanullang, Gonti
LOGOS Vol. 22 No. 2 (2025): Juli 2025
Publisher : UNIKA Santo Thomas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Orang muda Katolik adalah masa kini dan masa depan Gereja. Orang Muda Katolik adalah putra dan putri Gereja yang harus disapa dan dilibatkan dalam hidup meng-Gereja. Dewasa ini ada banyak orang muda Katolik menghadapi banyak tantangan duniawi yang tidak ringan misalnya individualistik dan hedonistik akibat dari kemajuan teknologi dsan lingkungan yang yang tidak mendukung. Hal tersebut bisa mengakibatkan mereka mengalami krisis iman dan bahkan menjauh diri dari Gereja, Situasi tersebut jelas sangat mempengaruhi kehidupan orang muda Katolik yang merupakan andalan dan harapan bagi penerus Gereja yang sendang berziarah di dunia ini. Gereja telah dan terus menyapa serta merangkul orang muda Katolik melalui dokumen-dokumen Gereja dan kegiatan-kegiatan nyata baik secara international, nasional, dan lokal di keuskupan dan parokinya masing-masing. Orang muda Katolik harus dipersiapkan dan dimampukan untuk ikut berpatisipasi aktif dalam menghidupkan dan mengembangkan Gereja
Classification of Batak Toba Ulos Motifs Based on Transfer Learning with MobileNetV2 Limbong, Tonni; Simanullang, Gonti; Silitonga, Parasian DP.; Silalahi, Donalson
Journal of Applied Data Sciences Vol 6, No 4: December 2025
Publisher : Bright Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47738/jads.v6i4.1036

Abstract

Indonesia possesses a rich cultural heritage, including the traditional Batak Toba Ulos textile, which is known for its diverse motifs and deep philosophical meanings. However, the preservation and visual recognition of Ulos remain challenging, particularly in terms of systematic documentation and automated classification. This study presents a visual recognition system for Batak Toba Ulos motifs using a transfer learning approach based on the MobileNetV2 architecture. The methodology involves the construction of a curated dataset of Ulos images, the application of data augmentation and preprocessing techniques, and model training utilizing ImageNet pre-trained weights. The system’s performance was evaluated using accuracy, precision, recall, and F1-score metrics. Results show that the model is capable of accurately classifying all 12 Ulos classes, achieving F1-scores ranging from 0.93 to 0.97. These findings demonstrate that transfer learning is effective in overcoming the limitations of culturally specific, small-scale datasets. This research contributes to the development of artificial intelligence tools for cultural preservation and supports the digital documentation and promotion of Batak Toba Ulos to younger generations and broader audiences in an efficient and scalable manner.
Optimizing Gait-Based Biometric Authentication in the Metaverse Using Random Forest and Support Vector Machine Algorithms Limbong, Tonni; Simanullang, Gonti; Silitonga, Parasian D.P.
International Journal Research on Metaverse Vol. 2 No. 4 (2025): Regular Issue December 2025
Publisher : Bright Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47738/ijrm.v2i4.37

Abstract

This paper investigates the potential of gait-based authentication for securing virtual environments, specifically within the Metaverse. With the growing need for reliable and secure identity verification in virtual spaces, traditional authentication methods, such as passwords or PINs, have proven insufficient. In contrast, biometric authentication systems, including gait analysis, provide a more secure and user-friendly alternative by leveraging unique physiological and behavioral traits for identity verification. This research applies machine learning algorithms—Random Forest and Support Vector Machine (SVM)—to gait data for distinguishing between authentic users and imposters. The dataset consists of 1,000 simulated gait samples with 16 features, such as stride length, step frequency, joint angles, and ground reaction forces (GRF). After performing exploratory data analysis (EDA), including feature distribution visualization and correlation analysis, two models were trained on the data. The Random Forest model outperformed the SVM model, achieving an accuracy of 56% and a recall of 76%, indicating its effectiveness in identifying authentic users. Despite the promising results, both models showed only marginal improvement over random guessing, highlighting the need for further optimization. This study contributes to the growing body of research on gait-based biometric systems by demonstrating their potential as a viable method for identity verification in virtual environments. It also identifies the most important gait features, such as step frequency, cadence variability, and knee joint angle, that significantly contribute to the classification process. Future research should explore advanced deep learning techniques and the integration of multimodal biometric systems to enhance the performance and reliability of gait-based authentication.