Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Amerta Nutrition

Hubungan Peran Teman, Peran Orang Tua,Besaran Uang Saku dan Persepsi Terhadap Jajanan Dengan Kejadian Gizi Lebih Pada Anak Sekolah (Studi di SD Negeri Ploso 1/172 Kecamatan Tambaksari Surabaya Tahun 2017) Herlina Arisdanni; Annas Buanasita
Amerta Nutrition Vol. 2 No. 2 (2018): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (864.582 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v2i2.2018.189-196

Abstract

Background: Overweight and obesity becomes a problem that not only occurs in adulthood but also started from childhood. The direct cause overweight is food consumption pattern, while the factors that can affect of it such as :the role of friends, the role of parents, pocket money and perceptions of snacks.Objectives: This study aimed to analyze the relationship between the role of friends,the role of parents, pocket money and perceptions of snacks with overweight incidents in school children.Methods: This research with a case control design study involved 110 respondents with 55 case samples, and 55 control samples. Data were analyzed using chi-square test and linear regression.Results: The results showed that was a significant correlation between the role of parents (p= 0.006)), the role of friends (p= 0.000), perceptions of snack (p= 0.045), pocket money (p= 0.023) with overweight incidence.Conclusion: The role of friends and perceptions of snacks show positive correlation that could be at risk for overweight incidents, meanwhile the role of parents show a protective factors for overweight incidents. It is suggested to give nutrition education to school children, so that they have the correct perception about snacks and the parents to pay attention about healthy snacks to prevent overweight incidents in school children.ABSTRAKLatar Belakang : Gizi lebih (obesitas dan overweight) menjadi permasalahan yang tidak hanya terjadi pada saat dewasa tetapi mulai dari anak-anak, tak terkecuali anak sekolah. Faktor penyebab langsung gizi lebih adalah pola makan, sedangkan faktor yang dapat mempengaruhi pola makan antara lain peran teman, peran orang tua, besaran uang saku dan persepsi terhadap jajanan.Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan peran teman, peran orang tua, besaran uang saku dan persepsi terhadap jajanan dengan kejadian gizi lebih pada anak sekolah.Metode : Penelitian ini menggunakan desain studi case control yang melibatkan 110 anak sekolah, dengan sampel kasus sebanyak 55 dan sampel kontrol sebanyak 55 dengan analisis data menggunakan uji chi square dan uji regresi linear.Hasil : Hasil uji regresi linear menunjukkan bahwa ada hubungan yang signifikan antara peran orang tua (p= 0.006), peran teman (p= 0.000), persepsi terhadap jajanan (p= 0.045), dan besaran uang saku (p= 0.023) dengan kejadian gizi lebih pada anak sekolah.Kesimpulan: Peran teman dan persepsi terhadap jajanan menunjukkan hubungan positif yang dapat beresiko terhadap kejadian gizi lebih,sedangkan peran orang tua dapat menjadi faktor yang protektif terhadap gizi lebih. Saran penelitian, perlu pendidikan gizi untuk anak sekolah agar memiliki persepsi yang benar terhadap jajanan dan orang tua perlu memperhatikan pemilihan jajanan sehat untuk mencegah kejadian gizi lebih pada anak sekolah.
Perbedaan Praktik Pemberian Makan dan Status Ketahanan Pangan Rumah Tangga pada Balita Status Gizi Kurang dan Normal Rizqiyah Fitri Nafadza; Annas Buanasita; Triska Susila Nindya
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 1 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (825.477 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i1.2019.63-70

Abstract

Background: Underweight is a problem caused by many factors, factors that directly affect nutritional status are nutritional intake and infectious disease. Meanwhile, indirect factors that affecting nutritional status is feeding practices, household food security and environmental health.Objectives: The objective of this study was to analyze the differences of feeding practice and household food security between toddlers with underweigt and normal nutritional status.Methods: The research was an observational analytic with cross sectional design. The sample was 80 toddlers from 6-24 months in Tanah Kali Kedinding Sub-District, Surabaya. They are consist of 40 normal and 40 underweight toddlers. Data was collected by interview using questionnaire, FFQ, recall 24 hours and US-HSFFM for household food security. Data were analyzed by using Mann-Whitney Test.Results: Good feeding practice for normal toddlers was 15% while for underweight toddlers was 7.5%. Toddlers with normal nutritional status come from secure household was 65.5% while underweight toddlers was 32.5%. The result found there was a difference of feeding practice (0.032) and household food security (0.012) between toddlers with underweight and normal nutritional status.Conclusion: There was difference in feeding practices, toddlers with normal nutritional status get better feeding practice than toddlers with underweight. There was difference in the household food security, toddlers with normal nutritional status mostly come from secure households.ABSTRAKLatar belakang: Gizi kurang adalah masalah gizi pada balita yang disebabkan oleh beberapa faktor. Faktor yang secara langsung berhubungan dengan status gizi adalah asupan zat gizi dan riwayat penyakit infeksi. Sementara itu, faktor tidak langsung yang mempengaruhi diantaranya praktik pemberian makan, status ketahanan pangan rumah tangga dan kesehatan lingkungan.Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis perbedaan praktik pemberian makan dan status ketahanan pangan rumah tangga pada balita status gizi kurang dan normal.Metode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan desain cross sectional. Sampel penelitian terdiri dari 80 balita usia 6-24 bulan di Kelurahan Tanah Kali Kedinding Kota Surabaya dengan masing-masing balita gizi kurang dan normal berjumlah 40 balita. Pengumpulan data dilakukan menggunakan metode wawancara dengan kuesioner, FFQ dan recall 24 jam untuk praktik pemberian makan serta US-HSFFM (United State of Household Food Security Survey Module) untuk ketahanan pangan rumah tangga. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney.Hasil: Praktik pemberian makan yang baik pada balita gizi normal sebesar 15% sedangkan pada balita gizi kurang sebesar 7,5%. Balita gizi normal yang berasal dari keluarga tahan pangan yaitu 62,5% sedangkan gizi kurang yaitu 32,5%. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan praktik pemberian makan (p=0,032) dan status ketahanan pangan rumah tangga (p=0,012) pada balita status gizi kurang dan normal.Kesimpulan: Terdapat perbedaan praktik pemberian makan dimana balita dengan status gizi normal mendapatkan pemberian makan yang lebih baik apabila dibandingkan dengan balita gizi kurang. Terdapat perbedaan status ketahanan pangan rumah tangga, balita dengan status gizi normal lebih banyak berasal dari rumah tangga tahan pangan.
Peer Influence dan Konsumsi Makanan Cepat Saji Remaja di SMAN 6 Surabaya Khairina Fadiah Hidayati; Trias Mahmudiono; Annas Buanasita; Fransiska Sabatini Setiawati; Nadia Ramadhani
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 4 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (475.336 KB) | DOI: 10.20473/amnt.v3i4.2019.218-224

Abstract

 Background: Adolescent have the characteristics of wanting to be accepted by their peers. Peer influence can also affect consumption, one of which is consumption of fast food, either foreign or domestic. High peer influence has the possibility to make fast food consumption high.Objectives: This research was conducted to analyze the correlation between peer influence and consumption of fast food, foreign and domestic.Methods: This study was an observational analytic study with a cross sectional design on 136 adolescents in SMAN 6 Surabaya who were selected by clustered random sampling. Data collected were the respondent's background: gender, age, and daily pocket money. Respondents also filled a peer influence scale questionnaire and a food frequency questionnaire about fast food.Results: Most respondents had low peer influence (52.21%). The chi square correlation test revealed that there was a significant correlation between peer influence and consumption of French fries (p=0.016), beef burger (p=0.029), chicken burger (p=0.025), and waffle (p=0.014). There was no significant correlation between peer influence and any food from domestic fast food group.Conclusions: There was a correlation between several types of foreign fast food consumption and peer influence. Types of fast food that had a correlation with peer influence were French fries, beef burger, chicken burger, and waffle. Whereas no food from domestic fast food groups had a significant correlation with peer influence. This revealed that peer influence only affects certain fast food that has prestige value.ABSTRAKLatar Belakang: Remaja memiliki ciri-ciri ingin diterima oleh kelompok sosialnya (peer). Peer influence juga bisa memengaruhi konsumsi, salah satunya konsumsi makanan cepat saji, modern maupun tradisional. Peer influence yang tinggi memiliki kemungkinan untuk membuat konsumsi makanan cepat saji remaja menjadi tinggi.Tujuan: Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara peer influence dan konsumsi makanan cepat saji, modern maupun tradisionalMetode: Penelitian ini merupakan penelitian observasional analitik dengan studi cross sectional pada 136 remaja di SMAN 6 Surabaya yang dipilih secara clustered random sampling. Data yang dikumpulkan adalah latar belakang responden berupa tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, usia, serta uang saku harian. Selain itu, responden diminta mengisi peer influence scale questionnaire dan food frequency questionnaire.Hasil: Sebagain besar responden berstatus gizi gemuk (14%) dan memiliki peer influence sedang (50%). Uji korelasi chi square mengungkapkan adanya hubungan yang signifikan antara peer influence dan konsumsi spaghetti (p=0,007), fried chicken (p=0,009), french fries (p=0,008), beef burger (p=0,018), chicken burger (p=0,009), dan dimsum (p=0,046). Tidak ada makanan dari kelompok makanan cepat saji tradisional yang memiliki hubungan yang signifikan dengan peer influence.Kesimpulan: Terdapat hubungan antara konsumsi beberapa jenis makanan cepat saji modern dan peer influence. Jenis makanan cepat saji yang memiliki korelasi dengan peer influence yaitu spaghetti, fried chicken, french fries, beef burger, chicken burger, dan dimsum. Sedangkan tidak ada makanan dari kelompok makanan cepat saji tradisional yang memiliki hubungan yang signifikan dengan peer influence. Hal ini mengungkapkan bahwa peer influence hanya memengaruhi makanan cepat saji tertentu yang memiliki nilai prestige.
Hubungan Tingkat Kecukupan Zat Gizi dan Siklus Menstruasi dengan Anemia pada Remaja Putri Arnoveminisa Farinendya; Lailatul Muniroh; Annas Buanasita
Amerta Nutrition Vol. 3 No. 4 (2019): AMERTA NUTRITION
Publisher : Universitas Airlangga, Kampus C, Mulyorejo, Surabaya-60115, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v3i4.2019.298-304

Abstract

Background: Anemia is nutrition problem that risk in adolescent girls. Anemia can be caused by lack of nutrition and blood loss when menstruation.Objective: Analyze the correlation nutrition adequacy level (iron, protein, vitamin C, zinc) and menstrual cycle with anemia in adolescent girls.Methods: Cross sectional design was the design used in this research. The population was 397 subjects’ female students in Senior High School 3 Surabaya, 206 subjects’ grade X and 191 subjects grade XI. The sample studied was 78 subjects selected by proportional random sampling of grade X 40 subjects and grade XI 38 subjects. The nutrition adequacy level data was obtained by Semi Quantitative Food Frequency Questionnaires (SQ-FFQ) and compared to Recommended Dietary Allowances (RDA). The data menstrual cycle was gained by structured questionnaires. Data of anemia was gained by hemoglobin concentration which measured by digital hemoglobinometer (easy touch). The statistical test used chi square test.Result: Protein adequacy level (p=0.031) and vitamin C (p=0.020) were relationship with anemia. Iron adequacy level (p=0.416), zinc (p=0.392), and menstrual cycle (p=0.731) were no relationship with anemia.Conclusion: Adolescent girls who had adequate intake of protein and vitamin C will reduce the risk of anemia. Therefore, adolescense girls are encouraged to maintain intake of protein and vitamin C to prevent anemia.ABSTRAKLatar Belakang: Anemia merupakan masalah gizi yang dapat diketahui dengan kadar hemoglobin lebih rendah dari normal dalam darah. Kelompok yang berisiko menderita anemia adalah remaja putri. Kurangnya asupan zat gizi dan kehilangan darah pada saat menstruasi dapat menjadi penyebab anemia pada remaja putri.Tujuan: Melakukan analisis korelasi tingkat kecukupan zat gizi (zat besi, protein, vitamin C, seng) dan siklus menstruasi dengan anemia pada remaja putri.Metode: Cross sectional adalah desain penelitian yang digunakan pada penelitian ini. Populasi yang digunakan sebanyak 397 siswi siswi SMAN 3 Surabaya, 206 siswi kelas X dan 191 siswi kelas XI. Besar sampel sebanyak 78 orang dipilih secara proportional random sampling dari kelas X sebanyak 40 siswi dan kelas XI sebanyak 38 siswi. Data tingkat kecukupan zat gizi didapatkan melalui kuesioner SQ-FFQ dan dibandingkan dengan Angka Kecukupan Gizi (AKG). Data siklus menstruasi didapatkan melalui kuesioner terstruktur. Data anemia didapatkan dari pemeriksaan kadar hemoglobin dengan menggunakan alat hemoglobinometer digital (easy touch). Analisis statistik menggunakan uji korelasi chi-square.Hasil: Tingkat kecukupan protein (p=0,031) dan vitamin C (p=0,020) dengan anemia berhubungan. Tingkat kecukupan zat besi (p=0,416), seng (p=0,392), dan siklus menstruasi (p=0,731) dengan anemia tidak berhubungan.Kesimpulan: Remaja putri yang memiliki tingkat kecukupan protein dan vitamin C cukup akan menurunkan risiko terkena anemia. Oleh karena itu, remaja putri dianjurkan untuk mempertahankan asupan protein dan vitamin C untuk mencegah kejadian anemia.
HUBUNGAN POLA MAKAN, AKTIFITAS FISIK, KECANDUAN INTERNET DENGAN STATUS GIZI ANAK SMA SELAMA MASA PANDEMI COVID-19 DI KOTA SURABAYA : Hubungan Pola Makan, Aktivitas Fisik, Kecanduan Internet dengan Status Gizi Anak SMA selama Masa Pandemi Covid-19 di Kota Surabaya Annas Buanasita; Nur Hatijah
Amerta Nutrition Vol. 6 No. 1SP (2022): AMERTA NUTRITION SUPPLEMENTARY EDITION Special 2nd Amerta Nutrition Conferenc
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v6i1SP.2022.107-116

Abstract

Background: The covid-19 pandemic period forced all school students to carry out school activities at their respective homes so that they changed their activity patterns, food patterns and exposure to the internet. These three things can indirectly affect the nutritional status of adolescents. Unicef ​​stated that 1 in 5 school teenagers in Indonesia is obese. The prevalence of adolescent obesity in East Java is 16.4%, which is greater than the prevalence in Indonesia of 13.5%. Objective: To identify the relationship of food pattern, physical activity, internet addiction and nutritional status in high school teenagers in Surabaya. Methods: This research is an analytic observational study with a cross sectional design. The sample size is 72 samples taken by simple random sampling from 2 high schools representing the city of Surabaya. Food pattern was measured by interviewing the Qualitative Food Frequency Questionnaire, physical activity was measured by interviewing the IPAQ (International Physical Activity Questionnaire) questionnaire and internet addiction using the young's internet addiction test questionnaire. Nutritional status was measured independently with Body Mass Index. Relationship analysis was carried out by Spearmen correlation test. Results: There are 62.5% of respondents have an inappropriate food pattern, with 48.6% of respondents have moderate activity. The level of internet addiction with the highest proportion is in the mild category as much as 66.7%, meanwhile 9.7% and 25.0% of respondents are overweight and obese respectively. There was no relationship between internet addiction and nutritional status (p=0.192), but there was a relationship between physical activity and diet and nutritional status (p<0.05). Conclusion: In connection with the relationship between physical activity and diet with excessive nutritional status, KIE for adolescent students regarding adequate physical activity, proper eating patterns with balanced nutrition principles and monitoring student body weight need to be re-enforced.
Peran Ayah terhadap Kejadian Stunting pada Balita di Perdesaan: Peran Ayah terhadap Kejadian Stunting pada Balita di Pedesaan Sugianti, Elya; Putri, Berliana Devianti; Buanasita, Annas
Amerta Nutrition Vol. 8 No. 2 (2024): AMERTA NUTRITION (Bilingual Edition)
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/amnt.v8i2.2024.214-221

Abstract

Background: Stunting is an unresolved health problem in the world. There were 21.6% of stunted toddlers in Indonesia in 2022, with a higher proportion in rural areas than in urban areas. The mother's role mainly caused stunting. On the other hand, the role of fathers had not been reviewed much in previous research. Objectives: This study aims to analyze the role of fathers towards stunting among toddlers in rural areas. Methods: The study had a case-control design conducted from April to October 2019. This research involved two populations, namely the control population and the cases. The control population was all non-stunted toddlers aged 24-59 months who lived in Jombang Regency, while the case population was all stunted toddlers aged 24-59 months who lived in Jombang Regency. The authors applied a multistage random sampling. The sample consisted of 79 controls and 79 cases calculated based on the two-population proportion formula. Data were analyzed using the chi-square test, fisher exact test, and logistic regression with α = 5%. Results: Fathers with low education increased the risk of toddlers becoming stunted 2.407 times higher than fathers with high education (p = 0.010; OR = 2.407; 95% CI = 1.231-4.705). Fathers from large families were 1.971 times more likely to have stunted toddlers than fathers from small families (p = 0.042; OR = 1.971; 95% CI = 1.026-3.785). Conclusions: Stunting in toddlers was significantly influenced by father's education. The size of the family also affected a toddler's risk of stunting. Increasing school age should be a priority program for preventing stunting in rural areas. In addition, health campaigns regarding pregnancy planning and birth control need to be carried out on an ongoing basis to reduce the incidence of stunting.