Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Konstruksi Makna Penyelenggaraan Petik Laut bagi Masyarakat Islam di Dusun Grajagan Pantai, Kecamatan Purwoharjo, Banyuwangi Via Assalma Setiya Ramadhani; Arief Sudrajat
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 27 No. 2 (2025): Desember (2025)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jdsb.v27i2.11377

Abstract

Petik laut adalah adat istiadat masyarakat grajagan pantai yang dilakukan setiap tahun pada bulan Muharram/Suro sebagai ungkapan syukur pada Tuhan Yang Maha Esa. Pada prosesinya terdapat perpaduan antar budaya suku jawa, suku osing, agama islam, dan agama hindu. Namun, terdapat perbedaan pada masyarakat dalam memahami dan memaknai tradisi ini. Tujuan penelitian ini untuk melihat bagaimana masyarakat islam di Grajagan Pantai membentuk konstruksi makna penyelenggaraan petik laut di Grajagan Pantai, dan bagaimana perbedaan pandangan yang didasari nilai-nilai agama yang dianut. Menggunakan metode kualitatif pendekatan studi kasus, data dikumpulkan dengan observasi dan wawancara dan dianalisis dengan teori Peter L Berger konstruksi sosial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa masyarakat Islam di Grajagan Pantai memiliki berbagai pandangan dalam memahami tradisi petik laut, warga dengan tingkat religiusitas yang tinggi dan tokoh agama islam menganggap bahwa tradisi dan budaya tidak dapat disatukan. Sedangkan mayoritas masyarakat islam lainnya menganggap bahwa petik laut adalah bentuk syukur kepada Tuhan dan bukan tindakan menyekutukan-Nya. Meskipun terdapat perbedaan pandangan petik laut tetap berjalan sesuai pada waktu yang telah ditentukan karena mayoritas masyarakat Grajagan Pantai berpegang teguh pada tradisi nenek moyang, dan adanya kepercayaan jika tidak melaksanakan petik laut setiap tahun akan mendatangkan peristiwa buruk bagi mereka.
Tradisi Ruwah Desa sebagai Praktik Pelestarian Budaya di Desa Kedunggede, Mojokerto Ken Ifa; Arief Sudrajat
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 27 No. 2 (2025): Desember (2025)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jdsb.v27i2.11383

Abstract

Tradisi Ruwah Desa di Desa Kedunggede merupakan salah satu bentuk upacara adat yang memiliki peran penting dalam memperkuat kohesi sosial dan melestarikan nilai-nilai budaya serta spiritual masyarakat setempat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis makna dan praktik Ruwah Desa dengan menggunakan teori tindakan sosial Max Weber yang mencakup empat tipe tindakan: rasional instrumental, rasional nilai, tradisional, dan afektif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tradisi ini tidak hanya memiliki nilai budaya yang mendalam, tetapi juga berfungsi sebagai sarana untuk mempererat hubungan antarwarga, memperkuat rasa kebersamaan, dan menjaga hubungan harmonis dengan leluhur. Meskipun tradisi ini menghadapi tantangan seperti modernisasi dan perbedaan budaya, sebagian besar masyarakat tetap meyakini pentingnya Ruwah Desa sebagai simbol ketahanan budaya. Penelitian ini juga menemukan bahwa untuk menjaga keberlanjutan tradisi, penting untuk melibatkan generasi muda, salah satunya melalui organisasi karang taruna, serta menggunakan pendekatan inovatif yang mengadaptasi teknologi dalam penyampaian nilai-nilai budaya. Dengan demikian, Ruwah Desa tetap relevan dan dapat terus dilestarikan di tengah perubahan zaman.
Representasi Budaya R&B Dalam Gaya Berpakaian Pendengar: Analisis Teori Representasi Stuart Hall Alya Zahra Safira; Agus Machfud Fauzi; Arief Sudrajat; Nur'aini Inayah
Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya Vol. 8 No. 3 (2026): Visual Heritage: Jurnal Kreasi Seni dan Budaya
Publisher : Universitas Indraprasta PGRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30998/vh.v8i3.833

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis representasi budaya R&B melalui gaya berpakaian pendengarnya dengan menggunakan teori representasi Stuart Hall sebagai kerangka utama. Penelitian ini juga berupaya menambah kajian budaya dan penelitian akademik mengenai fenomena gaya berpakaian pendengar musik R&B di media sosial yang masih terbatas. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif, didasarkan pada tinjauan pustaka yang mengkaji artikel ilmiah tentang musik R&B, mode sebagai identitas, budaya populer, dan praktik representasi digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa estetika R&B ditandai oleh warna gelap, siluet longgar, minimalisme perkotaan, dan simbol streetwear yang telah lama diasosiasikan dengan genre tersebut. Bukti visual menunjukkan bahwa pendengar menyampaikan keadaan emosional dan identitas musik mereka melalui gaya pakaian yang selaras dengan karakter R&B. Penelitian ini menemukan bahwa pembuat konten membentuk representasi budaya R&B melalui proses pengkodean visual, sedangkan audiens menafsirkan makna tersebut secara kolektif. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa representasi budaya R&B tidak hanya hadir melalui musik, tetapi juga melalui gaya berpakaian sebagai bahasa visual yang mencerminkan identitas, emosi, dan afiliasi genre. Temuan ini memperkuat pemahaman bahwa musik dan mode saling berkaitan dalam membentuk identitas kaum muda di era digital.