Claim Missing Document
Check
Articles

Found 15 Documents
Search

Optimalisasi Grup Whatsapp Pasar Virtual untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Terdampak Pandemi COVID-19 Danang Tandyonomanu; Gilang Gusti Aji; Puspita Sari Sukardani; Tsuroyya Tsuroyya; Mutiah Mutiah
Dedication : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 1 Maret 2021
Publisher : LPPM IKIP Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/dedication.v5i1.448

Abstract

Pandemi Covid-19 berdampak buruk pada aktivitas perdagangan secara langsung terutama di pasar tradisional yang berada di area episentrum termasuk Surabaya. Pasar Karah memerlukan inovasi dan kreativitas sehingga transaksi perdagangan dapat berlangsung dan tetap memprioritaskan kesehatan, yakni pasar virtual dengan optimalisasi grup Whatsapp. Oleh karena itu, Prodi Ilmu Komunikasi menyelenggarakan sosialisasi pasar virtual, menyusun standar operasional pasar virtual, menetapkan bersama harga dan biaya pengiriman, melatih pedagang memfoto dan mengemas produk, dan melatih pengelolaan serta evaluasi pasar virtual. Kegiatan ini berkontribusi positif terhadap pemberdayaan ekonomi pedagang Pasar Karah.
Optimalisasi Grup Whatsapp Pasar Virtual untuk Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Terdampak Pandemi COVID-19 Danang Tandyonomanu; Gilang Gusti Aji; Puspita Sari Sukardani; Tsuroyya Tsuroyya; Mutiah Mutiah
Dedication : Jurnal Pengabdian Masyarakat Vol 5 No 1 Maret 2021
Publisher : LPPM Universitas PGRI Argopuro Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31537/dedication.v5i1.448

Abstract

Pandemi Covid-19 berdampak buruk pada aktivitas perdagangan secara langsung terutama di pasar tradisional yang berada di area episentrum termasuk Surabaya. Pasar Karah memerlukan inovasi dan kreativitas sehingga transaksi perdagangan dapat berlangsung dan tetap memprioritaskan kesehatan, yakni pasar virtual dengan optimalisasi grup Whatsapp. Oleh karena itu, Prodi Ilmu Komunikasi menyelenggarakan sosialisasi pasar virtual, menyusun standar operasional pasar virtual, menetapkan bersama harga dan biaya pengiriman, melatih pedagang memfoto dan mengemas produk, dan melatih pengelolaan serta evaluasi pasar virtual. Kegiatan ini berkontribusi positif terhadap pemberdayaan ekonomi pedagang Pasar Karah.
Pelatihan Optimasi Konten Digital Berbasis Living Values Education untuk Mewujudkan Sekolah Sehat dan Berkarakter di Lab School UNESA Rianda Usmi; Puspita Sari Sukardani; Oni Dwi Arianto; Fahmi Fahrudin Fadirubun; Febriandita Tedjomurti; Ulul Albab Annury; Anissa Dwi Khasanah
Jurnal Medika: Medika Vol. 5 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/9ws2mg64

Abstract

Tujuan dari Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) ini dilaksanakan adalah untuk meningkatkan kompetensi guru dalam mengoptimasi konten digital berbasis living values education. Sebanyak 45 peserta yang terdiri 25 guru dan 20 siswa di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Lab School UNESA, berpartisipasi dalam pelatihan yang diadakan pada 30 Juli 2025. Pelatihan optimasi konten digital berbasis living values education dipilih dengan harapan agar guru-guru dapat mengimplementasikan pembelajaran yang inovatif didukung oleh konten digital sesuai tuntutan pembelajaran abad 21 yang saat ini dihadapkan dengan segudang tantangan pendidikan bagi peserta didik seperti kekerasan, perilaku bullying, kesehatan fisik dan psikis, adiksi gawai, pornografi, judi daring, dan narkoba pada peserta didik. Untuk menghadapi tantangan-tantangan kekinian tersebut, perlu dilakukan inovasi dan disiapkan dengan konsisten program-program penguatan karakter bagi peserta didik di sekolah. Metode kegiatan berupa lokakarya interaktif serta praktik pengoptimalan platform digital untuk membuat konten edukasi. Pelatihan berlangsung selama satu hari penuh, mencakup sesi pemaparan materi, simulasi pembelajaran, serta refleksi kelompok. Evaluasi pasca-pelatihan dilakukan melalui kuesioner dan observasi lapangan, menunjukkan peningkatan signifikan pada pemahaman konseptual serta keterampilan praktis guru dalam mengoptimasi konten digital dari berbagai platform. Pelatihan sistematis memberikan dampak signifikan pada peningkatan keterampilan guru. Sebelum pelatihan, 72% guru mengungkapkan masih jarang menggunakan konten digital edukatif dalam proses pembelajaran. 92% guru mengalami kesulitan teknis saat membuat konten digital secara mandiri dalam menghubungkan materi pembelajaran dengan nilai-nilai karakter. Setelah pelatihan, 98% peserta mengungpkan rasa percaya diri membuat konten digital secara mandiri untuk kebutuhan pembelajaran berdasarkan hasil angket yang diberikan kepada peserta. Kesimpulannya, kegiatan pengabdian ini berhasil memperkuat rasa percaya diri guru untuk membuat dan menggunakan konten digital edukatif dalam proses pembelajaran sesuai dengan konteks pendidikan abad 21 yang mendukung penguatan karakter dalam diri peserta didik di tengah tantangan era digital yang terus dinamis.
STRATEGI KOMUNIKASI PEMASARAN DINAS PARIWISATA DALAM PENGELOLAAN KONTEN INSTAGRAM @SIDOARJO.TOURISM SEBAGAI MEDIA PROMOSI PARIWISATA KABUPATEN SIDOARJO Dwi Ramadhani; Puspita Sari Sukardani
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81333

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi komunikasi pemasaran Dinas Pariwisata Kabupaten Sidoarjo dalam pengelolaan konten Instagram @sidoarjo.tourism sebagai media promosi pariwisata daerah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam, observasi nonpartisipan terhadap konten Instagram, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengelolaan konten dilakukan melalui strategi konten terencana dan spontan dengan tema dominan berupa event pariwisata, ekonomi kreatif, kuliner, destinasi wisata, serta informasi edukatif dan protokoler. Pemanfaatan fitur Instagram seperti feed, reels, stories, highlight, caption, dan hashtag digunakan untuk memperluas jangkauan promosi serta membangun identitas digital daerah. Sasaran utama promosi adalah Gen Z, milenial, wisatawan domestik, dan masyarakat Sidoarjo. Namun, pengelolaan akun masih menghadapi kendala berupa keterbatasan sumber daya manusia, proses verifikasi konten yang berlapis, dan respons interaksi yang lambat. Temuan penelitian menunjukkan bahwa Instagram dapat menjadi media promosi yang efektif apabila dikelola secara strategis, konsisten, dan adaptif terhadap kebutuhan audiens.
STRATEGI PESAN MAYASI DALAM MENYAMPAIKAN PRODCUCT KNOWLEDGE MELALUI KONTEN INSTAGRAM @mayasi.id Imran Qudratullah; Puspita Sari Sukardani
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81353

Abstract

Perkembangan komunikasi pemasaran digital mendorong merek untuk mengemas informasi produk secara menarik sekaligus mudah dipahami. Mayasi memanfaatkan Instagram @mayasi.id untuk menyampaikan product knowledge kepada audiens, terutama Generasi Z. Penelitian ini bertujuan menganalisis strategi pesan Mayasi dalam menyampaikan informasi produk melalui konten Instagram. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan Social Media Specialist, Content Planner, dan Graphic Designer Mayasi, observasi konten feeds, reels, dan stories, serta dokumentasi materi promosi digital. Keabsahan data diuji melalui triangulasi sumber dan teknik, sedangkan analisis dilakukan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi pesan Mayasi disusun melalui content pillar yang mencakup konten engagement, promosi, informasi, dan edukasi. Penyampaian pesan menerapkan mix appeals dengan menggabungkan informasi atribut, varian, kemasan, rasa, dan manfaat produk dengan humor, POV, tren, serta visual yang relatable. Pengelolaan pesan dilakukan melalui sapaan “Hi Sobat Gensi”, bahasa semi formal dan santai, call to action, konten permainan, fitur interaktif, serta kolaborasi dengan influencer/KOL. Product knowledge disampaikan melalui kombinasi visual dan copywriting, penggunaan hook, konsistensi warna merek, dan konten teaser secara bertahap. Strategi tersebut bersifat adaptif dan efektif membangun kedekatan dengan Generasi Z, tetapi proporsi konten edukasi perlu diperkuat agar informasi produk tersampaikan lebih komprehensif.
Strategi Niche Konten Afiliator Pemula dalam Memasarkan Produk di TikTok (Studi Komparasi pada Beauty, Mom & Kids, dan Fashion) Friska Rosyidah; Puspita Sari Sukardani
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81403

Abstract

Perkembangan TikTok sebagai media sosial sekaligus platform pemasaran digital telah membuka peluang bagi masyarakat untuk menjadi afiliator dan memperoleh komisi melalui promosi produk. Fenomena ini mendorong munculnya afiliator pemula yang memanfaatkan berbagai niche konten untuk menarik perhatian audiens dan meningkatkan keterlibatan pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi niche konten yang diterapkan afiliator pemula dalam memasarkan produk di TikTok pada niche beauty, mom & kids, dan fashion. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi komparatif. Informan penelitian terdiri dari tiga afiliator pemula, yaitu akun @itsdinayyz (beauty), @nooviahr (mom & kids), dan @afbfashion6 (fashion). Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi, dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis komparatif tetap. Penelitian ini menggunakan teori The Circular Model of SOME meliputi aspek share, optimize, manage, dan engage. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setiap niche menerapkan strategi konten yang berbeda sesuai karakteristik audiensnya. Niche beauty menekankan konten review berbasis pengalaman pribadi dan penggunaan hook yang relevan. Niche mom & kids mengandalkan review, tutorial, serta pengalaman parenting dengan pendekatan soft selling. Sementara itu, niche fashion berfokus pada visualisasi produk, personal branding, dan pemanfaatan tren TikTok. Meskipun berbeda, ketiga afiliator sama-sama mengoptimalkan fitur TikTok, mengevaluasi performa konten, serta membangun interaksi dengan audiens untuk meningkatkan keterlibatan dan mendukung pemasaran produk affiliate.
Analisis Persepsi Mahasiswa Unesa Terhadap Keterbukaan Informasi Pendaftaran Beasiswa Genbi Dalam Media Digital Milik Bank Indonesia Gilang Nandika; Puspita Sari Sukardani
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81411

Abstract

Keterbukaan informasi merupakan prinsip penting dalam penyelenggaraan program beasiswa karena berperan dalam memberikan akses informasi yang adil dan setara bagi mahasiswa. Penelitian ini bertujuan menganalisis persepsi mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA) terhadap keterbukaan informasi pendaftaran Beasiswa Generasi Baru Indonesia (GenBI) melalui media digital milik Bank Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode fenomenologi. Informan terdiri atas enam mahasiswa UNESA yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dan dokumentasi, kemudian dianalisis menggunakan teknik analisis data Sugiyono yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Analisis mengacu pada konsep persepsi Kenneth K. Sereno dan Edward M. Bodaken yang dijelaskan oleh Deddy Mulyana (2015), yaitu selection, organization, dan interpretation. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa memanfaatkan media digital resmi sebagai sumber utama informasi, namun keterbatasan publikasi mendorong mereka melakukan verifikasi melalui berbagai sumber lain. Mahasiswa memaknai keterbukaan informasi sebagai penyediaan informasi yang jelas, lengkap, konsisten, mudah diakses, dan memberikan kesempatan yang setara bagi seluruh mahasiswa. Keterbatasan informasi yang dipublikasikan juga menimbulkan kebingungan, ketidakpastian, serta memengaruhi kepercayaan mahasiswa terhadap penyelenggaraan program beasiswa. Penelitian ini menyimpulkan bahwa media digital tidak hanya berfungsi sebagai sarana penyebaran informasi, tetapi juga merepresentasikan keterbukaan komunikasi penyelenggara dalam menjamin pemerataan akses informasi bagi mahasiswa.
Pengaruh Brand Image Seventeen Terhadap Interaksi Parasosial Pada Generasi Z (Studi Kuantitatif Pada Penggemar Seventeen Carat) Awan Dina Marsela; Puspita Sari Sukardani
The Commercium Vol 10 No 3 (2026): The Commercium - Juli 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i3.81631

Abstract

Perkembangan media digital telah memperkuat interaksi antara idola K-Pop dan penggemar sehingga mendorong terbentuknya hubungan parasosial. Salah satu faktor yang diduga memengaruhi hubungan tersebut adalah brand image yang dibangun oleh figur publik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh brand image Seventeen terhadap interaksi parasosial pada penggemar Generasi Z (Carat). Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei. Sampel penelitian berjumlah 400 responden yang merupakan penggemar Seventeen Generasi Z (Carat) dan dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan melalui penyebaran kuesioner secara daring menggunakan Google Form. Data dianalisis menggunakan uji validitas, reliabilitas, normalitas, regresi linear sederhana, uji t, dan koefisien determinasi dengan bantuan SPSS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa brand image Seventeen berpengaruh positif dan signifikan terhadap interaksi parasosial pada penggemar Generasi Z. Nilai koefisien determinasi (R²) sebesar 0,432 menunjukkan bahwa brand image mampu menjelaskan 43,2% variasi interaksi parasosial, sedangkan 56,8% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar penelitian. Temuan ini mengindikasikan bahwa semakin positif brand image Seventeen yang dipersepsikan oleh penggemar, semakin tinggi pula tingkat interaksi parasosial yang terbentuk. Penelitian ini memberikan kontribusi dalam pengembangan kajian ilmu komunikasi, khususnya mengenai hubungan antara brand image figur publik dan interaksi parasosial pada penggemar K-Pop.
Can Trust Be Restored? Institutional Communication in Addressing Sexual Violence in Indonesian Higher Education Vinda Maya Setianingrum; Pramana Pramana; Puspita Sari Sukardani; Rifqi Abdul Aziz
Jogjakarta Communication Conference (JCC) Vol. 4 No. 1 (2026): The 7th Jogjakarta Communication Conference (JCC)
Publisher : Jogjakarta Communication Conference (JCC)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sexual violence in higher education has emerged as a critical issue that threatens the safety of academic communities and undermines public trust in educational institutions. In Indonesia, increasing reports of sexual violence on campuses have prompted regulatory responses and the establishment of institutional mechanisms for prevention and handling. However, the effectiveness of these mechanisms largely depends on how institutions manage communication in preventing, responding to, and addressing such cases. This study examines how institutional communication operates in addressing sexual violence within Indonesian higher education institutions and how it relates to the restoration of public trust. Using a qualitative multiple case study approach, this research investigates three Indonesian public universities that have implemented institutional frameworks for the prevention and handling of sexual violence. Data were collected through in-depth interviews with institutional actors, including members of prevention task forces, faculty, administrators, and students, as well as through document analysis. The findings reveal that institutional communication plays a pivotal role in shaping transparency, accountability, and responsiveness in handling sexual violence cases. Effective communication practices not only facilitate coordination among institutional actors but also contribute to rebuilding trust among campus communities and the broader public. The study highlights that communication governance within institutions is essential in addressing sexual violence as both a crisis and a structural issue. By demonstrating how communication practices influence institutional credibility, this research contributes to broader discussions on public trust, institutional accountability, and social impact in higher education governance.
MOTIF PEMBELIAN PRODUK THRIFT PADA KALANGAN REMAJA URBAN DI SURABAYA Amaliyah Safira; Puspita Sari Sukardani
The Commercium Vol 10 No 1 (2026): The Commercium - Januari 2026
Publisher : Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/tc.v10i1.73322

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna FOMO dalam perilaku konsumsi remaja urban serta bagaimana kemandirian ekonomi berperan. Teknik pengumpulan data yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan fenomenologi serta paradigma konstruktivis untuk memperoleh hasil yang mandalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa FOMO menjadi dorongan utama dalam keputusan berbelanja, dipicu oleh paparan konten persuasive di media sosial dan tren budaya Korea yang kuat di kalangan remaja. Pembelian thrift juga dimaknai sebagai bentuk ekonomi dan ekspresi diri karena remaja tetap ingin mengikuti tren namun dengan cara yang lebih terjangkau. Hal ini menunjukkan adanya perpaduan antara kebutuhan sosial, emosional, dan ekonomi dalam perilaku konsumtif remaja urban masa kini.