Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

Pengaruh Penambahan Maggot Hermetia illucens dalam Pakan terhadap Pertumbuhan dan Distribusi Bobot Ayam Broiler Widya Rahayu; Muqriana Muqriana; Ibnu Annisa Surya; Nyansir Admaga; Santi Santi; Andi Tenri Bau Astuti Mahmud
Jurnal Agroterpadu Vol 4, No 3 (2025): Jurnal Agroterpadu Volume 4, Nomor 3, November 2025
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/ja.v4i3.6863

Abstract

Penggunaan maggot Hermetia illucens sebagai sumber protein alternatif semakin banyak diaplikasikan dalam industri unggas karena kandungan nutrisinya yang tinggi serta potensinya sebagai bahan pakan berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengevaluasi pengaruh suplementasi maggot dalam pakan terhadap pertumbuhan dan kondisi fisiologis ayam broiler. Sebanyak 40 ekor broiler dibagi ke dalam dua perlakuan, yaitu pakan komersial (P1) dan pakan dengan penambahan 60% maggot (P2). Pengamatan dilakukan selama 35 hari, meliputi bobot badan mingguan, sebaran pertumbuhan individu, kelincahan, warna bulu, dan warna jengger. Hasil penelitian menunjukkan bahwa P2 menghasilkan peningkatan bobot badan yang lebih tinggi mulai minggu ketiga, disertai sebaran bobot yang lebih seragam dibanding P1. Ayam pada P2 juga menunjukkan indikator fisiologis yang lebih baik berupa aktivitas yang lebih tinggi, bulu lebih cerah, dan jengger lebih merah. Temuan ini mengindikasikan bahwa maggot H. illucens mampu meningkatkan pemanfaatan nutrien dan mendukung percepatan pertumbuhan pada fase grower–finisher. Dengan demikian, maggot berpotensi menjadi sumber protein alternatif yang efektif dan berkelanjutan dalam formulasi pakan broiler. Penelitian lanjutan disarankan untuk mengevaluasi parameter kesehatan internal dan menentukan tingkat inklusi optimum pada berbagai fase produksi.
KUALITAS KIMIA BIOURIN KAMBING PERANAKAN ETAWA (PE) DENGAN PENAMBAHAN (MIKROORGANISME LOKAL) PADA LEVEL YANG BERBEDA Pahresi Paturrahman; Andi Tenri Bau Astuti Mahmud; Santi Santi
Jurnal Agroterpadu Vol 4, No 3 (2025): Jurnal Agroterpadu Volume 4, Nomor 3, November 2025
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/ja.v4i3.6229

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi untuk kualitas kimia biourin kambing Peranakan Etawa (PE) dengan penambahan Mikroorganisme Lokal (MOL) pada level yang berbeda. Urine kambing PE, yang kaya akan nitrogen,fosfor, dan kalium, berpotensi sebagai pupuk organik cair yang dapat meningkatkan kesuburan tanah. Penelitian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) yang melibatkan 4 perlakuan dengan 3 ulangan, yaitu dengan penambahan MOL (P0) urine control, (P1) 5% (P2) 10% dan (P3) 15%. Hasil analisis menunjukkan bahwa penambahan MOL secara signifikan meningkatkan kadar nitrogen,fosfor, dan kalium (3,28%). Temuan ini menunjukkan bahwa penggunaan MOL dapat memperbaiki kualitas biourin dan menjadikannya sebagai sumber hara yang efektif untuk pertanian berkelanjutan. Penelitian ini di harapkan dapat memberikan informasinya yang berguna bagi petani dalam memanfaatkan biourin kambing PE sebagai pupuk organic cair yang ramah lingkungan.
KUALITAS FISIK BIOURIN KAMBING PERANAKAN ETAWA (PE) DENGAN PENAMBAHAN MIKROORGANISME LOKAL (MOL) PADA LEVEL BERBEDA Muh. Risal; Andi Tenri Bau Astuti Mahmud; Samsu Alam Rab
Jurnal Agroterpadu Vol 4, No 3 (2025): Jurnal Agroterpadu Volume 4, Nomor 3, November 2025
Publisher : Universitas Al Asyariah Mandar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35329/ja.v4i3.6280

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi kualitas fisik biourin kambing Peranakan Etawa (PE) dengan penambahan mikroorganisme lokal (MOL) pada berbagai level. Penelitian dilaksanakan pada September hingga Desember 2024 di Kelurahan Amassangan, Kecamatan Binuang, Kabupaten Polewali Mandar, menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan empat perlakuan dan tiga ulangan: P1 (MOL 5%), P2 (MOL 10%), P3 (MOL 15%), dan P4 (MOL 20%). Parameter yang diamati meliputi pH, suhu, warna, dan bau. Hasil menunjukkan bahwa penambahan MOL tidak berpengaruh signifikan terhadap pH dan suhu biourin, yang tetap berada dalam kisaran optimal untuk proses fermentasi. Secara organoleptik, perlakuan P4 menghasilkan kualitas terbaik, dengan 66,67% sampel menunjukkan aroma seperti bau tanah, yang mengindikasikan efektivitas MOL dalam mengurangi bau menyengat. Kesimpulannya, meskipun penambahan MOL pada level berbeda tidak memengaruhi parameter fisik secara signifikan, MOL pada level tinggi (20%) mampu meningkatkan kualitas organoleptik biourin, sehingga berpotensi digunakan sebagai pupuk organik cair.
Peningkatan Kapasitas Peternak Itik melalui Pelatihan Fermentasi Azolla dan Ampas Sagu untuk Inovasi Pakan Ramah Lingkungan Andi Tenri Bau Astuti Mahmud; Santi Santi; Agustina; Muhammad Arman Yamin Pagala; Sri Nengsih
CARADDE: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol. 8 No. 2 (2025): Desember
Publisher : Ilin Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31960/caradde.v8i2.3218

Abstract

This community engagement program aimed to enhance the knowledge and technical skills of duck farmers in utilizing locally available resources such as Azolla pinnata and sago pulp as alternative fermented feed ingredients in Bakka-Bakka Village, Wonomulyo District, Polewali Mandar Regency. The activity was implemented using a participatory action research approach through four stages: socialization, theoretical and practical training on fermented feed production, field mentoring, and evaluation. The evaluation employed a pre-test and post-test design involving 25 duck farmers to assess their improvement in knowledge and practical skills related to local feed fermentation technology. The results indicated a significant increase in farmers’ knowledge, from 78% before the training to 96% after the training, categorized as very good. The fermented feed produced contained 15–18% crude protein and demonstrated improved biological relevance by enhancing feed efficiency and duck growth while reducing production costs compared to commercial feed. The program not only strengthened farmers’ technical competence but also fostered the establishment of independent farmer groups committed to implementing environmentally friendly feed innovations. Overall, this activity effectively supported the development of sustainable duck farming systems based on local resources and contributed to achieving food self-sufficiency and a circular rural economy.