Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

PENINGKATAN PEMAHAMAN SEKAA TERUNA-TERUNI DESA TARO, TENTANG INVENTARISASI DAN KONSERVASI BENDA CAGAR BUDAYA Ast iti Laksmi N.K.P; I G.N.Tara Wiguna; I N. Wardi; R. A. Bawono; I B. Sapta Jaya; Zuraidah Zuraidah; C. Pelupi Titasari
Buletin Udayana Mengabdi Vol 10 No 1 (2011): Volume 10 No.1 – April 2011
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.094 KB)

Abstract

The provisioning of comprehension about cultural heritage and conservation to the young generations can work out with education and training. Application of methods are presentation with discussion and training of conservation. The advance of comprehension signification about cultural heritage is indicated by the advance percentage from 23 respondents (76,6%) became 30 respondents (100%), about rescuing of cultural heritage from 30 respondents (100%) became 30 respondents (100%), about inventory from 27 respondents (90%) became 30 respondents (100%). And for conservation become 30 respondents (100%) from 27 respondents (90%). The result shows that technique of education and training is efective for advanced respondents’ comprehension about cultural hetitage and concervation.
Ikonografi Hindu Abad VIII-XII M di Kabupaten Gianyar, Bangli, dan Buleleng: Analisis Bentuk, Fungsi, dan Makna I Wayan Srijaya; Kadek Dedy Prawirajaya R; Coleta Palupi Titasari; A. A. Gde Bagus; I Nyoman Rema
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol 10 No 2 (2020): TEKS DAN TRADISI BALI
Publisher : Pusat Kajian Bali Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (661.719 KB) | DOI: 10.24843/JKB.2020.v10.i02.p06

Abstract

Iconography is the study of the art of sculpture. The statue is a symbol of God or the embodiment of a deceased public figure. In Indonesia in general and Bali in particular, the tradition of making statues has a long history, from the time of farming to the days of the influence of Hindu and Buddhist civilization. During the Hindu and Buddhist era, the development of statues with Hindu and Buddhist motifs was developed. This research is focused on Hindu-style statues found in Gianyar, Bangli, and Buleleng Regencies. Hindu iconographic research aims to obtain the historical pictures of the arts of the statues, their forms, functions, and meanings in people's lives. The results show that Hindu iconography in Bali has various forms, with different functions from the original functions. Likewise, the meanings depend on the community that makes meanings in the present context.
Penggunaan Jeruk Nipis sebagai Salah Satu Upaya Konservasi Secara Tradisional pada Prasasti Sukawana D Coleta Palupi Titasari; Zuraidah Zuraidah; Ni Ketut Puji Astiti Laksmi
Borobudur Vol. 8 No. 1 (2014): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v8i1.121

Abstract

Konservasi adalah tindakan untuk mencegah dan menghambat proses kerusakan atau pelapukan, tindakan menangani kerusakan, serta menjaga agar suatu benda tetap berada pada kondisi yang baik sesuai dengan aslinya. Bertolak dari pengertian tersebut, masyarakat Desa Sukawana, Kecamatan Kintamani, Kabupaten Bangli, Bali merupakan salah satu masyarakat desa yang melakukan konservasi tradisional terhadap peninggalan arkeologi berupa prasasti Sukawana D yang telah diwarisi secara turun temurun. Usaha yang dilakukan adalah perawatan dengan menggunakan jeruk nipis secara rutin. Penggunaan jeruk nipis sebagai bahan perawatan prasasti Sukawana D terbukti sangat bermanfaat menghindari proses korosi. Perawatan ini dimaksudkan untuk memperlambat kerusakan prasasti. Upaya sederhana dan tradisional yang dilakukan oleh masyarakat Desa Sukawana memperoleh hasil nyata berupa lestarinya prasasti Sukawana D.
MANDALA KADEWAGURUAN: THE PLACE FOR RELIGIOUS EDUCATION IN THE WEST SLOPE OF MOUNT LAWU IN 14th – 15th CENTURY Heri Purwanto; Coleta Palupi Titasari
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 5 No. 1 (2020)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (742.565 KB) | DOI: 10.24832/jpnk.v5i1.1505

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menelusuri bukti-bukti yang dapat dijadikan sebagai penanda bangunan suci yang digunakan untuk tempat pendidikan agama (mandala kadewaguruan) dan menjelaskan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh masyarakat pendukungnya. Untuk mencapai tujuan tersebut digunakan langkah-langkah penelitian yang berupa observasi langsung ke situs penelitian, lalu diikuti dengan deskripsi, dan terakhir eksplanasi yang menggunakan analisis komparatif dan kontekstual. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa memang benar situs penelitian merupakan bangunan suci berstatus sebagai mandala kadewaguruan. Hal ini dibuktikan dengan terpenuhinya syarat-syarat sebuah mandala kadewaguruan. Syarat tersebut adalah tempat yang jauh dari keramaian, memiliki ruang yang luas, ditemukan lingga-pranala, terdapat temuan gerabah yang mengindikasikan adanya aktivitas dalam waktu yang lama, ditemukan berbagai tingggalan arkeologi yang berkaitan dengan keagamaan, dan terekam dalam prasasti. Aktivitas yang dilakukan nampaknya begitu kompleks yakni belajar-mengajar, bertapa, upacara agama, menulis sastra, dan kegiatan yang berkaitan dengan pemenuhan hidupan (makanan dan minuman). The study aimed at looking for the evidences that can be used as a mark of the sacred building used for the religious education (mandala kadewaguruan) and to explain the various activities that were done by the community supporters. To achieve these goals, this study used measure of research in the form of direct observation to the site, followed by describing the obesevation, and lastly the explanation using contextual and comparative analysis. The result of this study showed that the site is sacred building in the form mandala kadewaguruan. This has been proven with such a criterion as being a mandala kadewaguruan. The criteria among others are quiet place that far away, have a broad space, founded a lingga pranala, the findings of pottery that indicate the presence of activities in along time, founded a variety archaeological remains related with the religious, and recorded in the inscription. Activites that were done were quite complex, such as, learning and teaching, practicing as an ascetic, religious ceremony, writing literature, as well as meeting the needs of life related to foods and drinks.
BAHASA RUPA PADA RELIEF EROTIS DI PURA MEDUWE KARANG: VISUAL LANGUAGE ON THE EROTIC RELIEF IN MEDUWE KARANG TEMPLE Eldi Khairul Akbar; Coleta Palupi Titasari; I wayan Srijaya
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v13i2.308

Abstract

Relief erotis yang ditemukan di Pura Meduwe Karang merupakan salah satu bentuk karya seni rupa yang bersifat simbolis magis yang digunakan oleh para seniman masa lalu sebagai media komunikasi visual. Relief ini memiliki makna yang penting untuk dikaji lebih lanjut. Tujuan dari tulisan ini untuk mengetahui bentuk cerita serta makna dari penggambaran relief erotis tersebut dengan berdasarkan pada penelitian yang telah dilakukan. Dalam tulisan ini mengunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan deskripsi analisis bahasa rupa. Pengumpulan data dilakukan melalui studi pustaka, survei, dan wawancara. Analisis dilakukan dengan cara mengkaji bentuk wimba, isi wimba, dan tata ungkapan dalam pada panil relief erotis. Hasil penelitian menunjukan bahwa bentuk cerita relief erotis yang dipahatkan pada dinding pelinggih Pura Meduwe Karang menggambarkan adegan senggama dengan latar kejadian di luar ruangan (alam). Penggambaranya merupakan bentuk simbol suci yang termasuk dalam wujud kepercayaan simbolis magis yang memiliki makna sebagai bentuk permohonan pertolongan, perlindungan, dan kesuburan terutama dalam bidang pertanian dan perladangan.
Strategy For Management of the Soenda Ketjil Museum As A Tourism Attraction in Singaraja City, Bali Frika Yanuar Ramadhani; I Wayan Srijaya; Coleta Palupi Titasari
Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal) Vol 5, No 2 (2022): Budapest International Research and Critics Institute May
Publisher : Budapest International Research and Critics University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33258/birci.v5i2.5040

Abstract

The Soenda Ketjil Museum is one of the museums that is used as a tourist attraction in Singaraja City, Buleleng Regency, Bali. By seeing the importance of the role of museums in this era, the authors are interested in discussing management strategies and the potential of the Soenda Ketjil museum as a tourist attraction in the city of Singaraja, Bali. This study aims to maximize the potential and management of the Soenda Ketjil Museum, so that it can make the Soenda Ketjil Museum an attractive place for the public to visit. This research uses structural functional theory and management theory. The data collection method used is the method of observation, literature study, and interviews. The data analysis technique used is qualitative analysis and SWOT analysis. Soenda Ketjil Museum has internal potential and external potential. The internal potential of the Soenda Ketjil Museum consists of the collection and storyline it owns, the museum building, and the audiovisual room of the Soenda Ketjil Museum. Its external potential is the strategic location of the Soenda Ketjil Museum, and the existence of other supporting tours that can support the existence of the Soenda Ketjil Museum. To achieve the goals of the Soenda Ketjil Museum as a tourist attraction, it is formulated as follows: revamping the organizational structure of the museum, increasing human resources, improving the museum's security system, improving the management of museum collections, restoring the function of the audiovisual room, and revamping the facilities in the museum.
CANDI PLANGGATAN: BANGUNAN SUCI MILIK KAUM RSI Heri Purwanto; Coleta Palupi Titasari
Naditira Widya Vol 11 No 2 (2017): Naditira Widya Volome 11 Nomor 2 Oktober 2017
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (525.636 KB) | DOI: 10.24832/nw.v11i2.227

Abstract

Penelitian terhadap Candi Planggatan belum banyak dilakukan oleh para ahli, maka dari itu dengan hadirnya tulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih mengenai sejarah maupun aktivitas manusia masa lalu di Candi Planggatan. Secara administratif Candi Planggatan terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Candi ini tersusun atas tiga teras menghadap ke arah barat. Studi ini ingin mengungkap unsur apa saja yang menjadi sebuah penanda bahwa Candi Planggatan merupakan bangunan suci milik kaum rsi. Guna menyelesaikan permasalahan tersebut metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui dua tahap yaitu metode pengumpulan dan analisis data. Pengumpulan data meliputi observasi dan kajian pustaka. Analisis yang digunakan ialah kualitatif dengan menggunakan teori simbol. Hasil dari penelitian ini dapat dinyatakan bahwa Candi Planggatan merupakan tempat suci bagi kaum rsi atau pertapa (karsyan) berbentuk mandala kedewaguruan. Rsi yang sangat mungkin sebagai tokoh agama di mandala Planggatan adalah Rama Balanggadawang dan Hyang Pununduh. Lebih lanjut kaum rsi dan pertapa yang tinggal di mandala Planggatan rupanya melakukan pemujaan terhadap Siwa dan Ganesa.
Sistem Religi dan Makna pada Relief Yeh Pulu di Kabupaten Gianyar, Bali Kadek Dedy Prawirajaya, R.; Heri Purwanto; Coleta Palupi Titasari
Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan Vol. 8 No. 1 (2023)
Publisher : Badan Standar, Kurikulum, dan Asesmen Pendidikan, Kemendikdasmen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/jpnk.v8i1.3827

Abstract

Kebudayaan tidak terlepas dari pengaruh agama. Hal itu berlaku pula bagi kebudayaan Indonesia masa HinduBuddha. Studi ini meneliti relief Yeh Pulu dari sudut pandang agama Hindu. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji sistem religi dan mengungkap makna yang terkandung dalam pahatan relief Yeh Pulu. Studi ini dilakukan dengan cara mengunjungi langsung ke Situs Yeh Pulu, lalu dilakukan pengamatan, pencatatan, dan pengambilan gambar. Data dianalisis mengunakan analisis kontekstual dan komparatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relief Yeh Pulu memiliki sembilan panil relief yang menggambarkan berbagai aktivitas kehidupan masa lalu. Terdapat empat komponen sistem religi yang terkandung dalam rangkaian relief Yeh Pulu. Pertama, konsepsi ketuhanan diwujudkan dengan penggambaran tokoh Ganesha dan Krsna (Avatara Wisnu). Kedua, tokoh dan umat agama sejumlah 18 tokoh dengan rincian 12 laki-laki dan 6 perempuan. Ketiga, indikasi adanya upacara agama disimbolkan dengan keberadaan kendi yang keluar asapnya. Jenis upacara yang dilakukan adalah pemujaan terhadap para dewa, pendirian bangunan suci, penyucian bangunan suci, pemberian persembahan kepada rsi, dan praktik tantrayana. Keempat, sarana keagamaan yang digunakan adalah kendi, buyung, kayu/bambu, cangkul, tombak, tali, dan tongkat yang ujungnya seperti mangkuk. Makanan yang disajikan terbuat dari bahan tanaman dan hewan buruan. Makna yang terkandung dalam ukiran relief Yeh Pulu adalah siklus kehidupan, kegiatan keagamaan, kesuburan, dan keragaman.
KONSEP JNANA YAJNA DALAM KAKAWIN SUTASOMA Heri Purwanto; Coleta Palupi Titasari
Pangkaja: Jurnal Agama Hindu Vol 26 No 1 (2023)
Publisher : UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pjah.v26i1.1425

Abstract

This study to reveal the concept of jnana yajna contained in the Kakawin Sutasoma text. The primary data used for this research is Kakawin Sutasoma which has been translated by Mastuti and Brahmantyo (2019). Primary data is studied by using textual analysis, then in interpretating its meaning assisted by supporting sources (archaeological data). Based on the results of this study, it shows that the presentation of knowledge can be done by teaching and learning in an educational place called the mandala kadewaguruan. Places where education is located on the slopes of mountains, valleys, rivers, and hills. As Sang Sutasoma sought knowledge on Mount Agung (Semeru), who eventually became a teasher and taught various sacred teachings
EKSISTENSI UPACARA KEAGAMAAN DI CANDI CETHO, KECAMATAN JENAWI, KABUPATEN KARANGANYAR Purwanto, Heri; Titasari, Coleta Palupi
Pangkaja: Jurnal Agama Hindu Vol 26 No 2 (2023)
Publisher : UHN IGB Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25078/pjah.v26i2.2578

Abstract

Cetho Temple is one of the archaeological sites located on the western slope of Mount Lawu, has the status as a national level cultural heritage. Furthermore, its existence must be maintained and treated as well as possible. Currently the local community still uses Cetho Temple as place fot religious ceremony activities. This study reveals various types of religious ceremonies carried out in the Cetho Temple. The method used through observastions to the field, study of libraries, and the was analyzed. The results obtained tha local people still hold various ceremonies as a form of his contribution in maintaining and caring for Cetho Temple. The ceremony is Mondosio, Ruwahan, Dawuhan, Suran, Nyepi, Ngembak Geni, Galungan, Kuningan, Saraswati, Pagerwesi, Siwaratri, Panca Wali Krama, Nyadran, dan individual ceremony.