Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Situs Arjuna Metapa Di Gianyar, Bali: Sebuah Patirthan? Coleta Palupi Titasari; Rochtri Agung Bawono
Berkala Arkeologi Sangkhakala Vol 18 No 2 (2015)
Publisher : Balai Arkeologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (947.359 KB) | DOI: 10.24832/sba.v18i2.11

Abstract

Every archaeological remain is always found in context with certain space and building architecture. This is also the case with the archaeological finds at the site of Arjuna Metapa at Pejeng Village in Gianyar, Bali. Uncovering a holy bathing place is the focus of this research, which is based on supporting data in form of archaeological data found within the location. The methods being used to solve the problem are divided into two: data collection and data analyses. Data collecting involves surface survey, bibliographical study, and interviews, while data analyses include qualitative-artifactual analysis, comparative and correlation analysis, location/spatial analysis, and physical traces analysis. Data obtained from research and analyses reveal that the Arjuna Metapa Site was a patirthan (holy bathing place) with water spouts, indicated by two spouted statues on Arjuna Metapa pedestal, which are meditating Arjuna spouted statue and angel spouted statue. Supporting data in form of an angel statue, which has similar form and size, was also found at the Village Temple (Pura Desa) of Bedulu. Oral tradition also mentions that the area was known by the name of Uma Telaga and is believed to be a rice field that was previously a lake or bathing place. This is confirmed by the discovery of Air Tiga inscription in that location. The name Air Tiga (air means water and tiga means three) is probably refer to the number of statues found in that location, which is one meditating Arjuna spouted statue and two angels spouted statues.
PENGARUH BANGUNAN UMA LENGGE TERHADAP KEHIDUPAN SOSIAL DAN BUDAYA MASYARAKAT DESA MARIA KECAMATAN WAWO KABUPATEN BIMA Chrisantya Angelita; Renhard Fernandus Manurung; Ni Made Yuni Sugiantari; Adinda Sanita Putri Khinari; Rochtri Agung Bawono
Forum Arkeologi VOLUME 32, NOMOR 1, APRIL, 2019
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2268.371 KB) | DOI: 10.24832/fa.v32i1.552

Abstract

Uma Lengge building is traditional building in Bima District West Nusa Tenggara which functions as the residence of Mbojo tribe and place to store food. The study aims to analyze the characteristics and relation of Uma Lengge buildings with the social and cultural life of Maria Village. The approach used in this study is archaeological approach with qualitative descriptive method. The study began with collecting data through literature study, direct observation, and interviews. The trapezoidal part of the roof with legs, has two pieces of crossing each other at each end of the ridge with bamboo material. The door leads to Mecca. The front part of the house may not be faced with another houses. Uma Lengge has three main parts such as the foundation, the first floor and second floors. The building of Uma Lengge has links with social values such as the value of mutual cooperation, value of hospitality, value of deliberation, value of helping and cultural values in Ampa Fare ceremony and inter dowry ceremony. Bangunan Uma Lengge merupakan bangunan tradisional di Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat. Bangunan ini berfungsi untuk tempat tinggal masyarakat suku Mbojo sekaligus tempat menyimpan bahan makanan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik serta keterkaitan bangunan Uma Lengge terhadap kehidupan sosial dan kebudayaan masyarakat Desa Maria. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan arkeologi dengan metode deskriptif kualitatif. Penelitian dimulai dengan melakukan pengumpulan data melalui studi pustaka, pengamatan secara langsung di lapangan, melakukan wawancara untuk data penelitian melalui informan. Diperoleh data pada bagian atap bangunan berbentuk trapesium sama kaki serta memiliki dua buah wanga yang saling menyilang pada setiap ujung bubungan atap dengan bahan bambu. Bagian pintu bangunan arah hadap mengarah ke Mekah, bagian depan bangunan tidak boleh berhadapan dengan bagian depan bangunan di sekitar tetapi bertolak belakang terhadap bangunan lainnya. Bangunan Uma Lengge memiliki tiga bagian utama seperti bagian pondasi, lantai satu dan lantai dua sekaligus atap. Bangunan Uma Lengge memiliki keterkaitan dengan nilai sosial kehidupan masyarakat Maria seperti; nilai gotong royong; nilai silahturrahmi; nilai musyawarah; nilai tolong menolong dan keterkaitan pada nilai kebudayaan dalam kehidupan masyarakat Desa Maria seperti; upacara Ampa Fare dan upacara mengantar mahar.
DORO MPANA: SITUS KUBUR DARI ABAD KE-13-14 MASEHI Ni Putu Eka Juliawati; Luh Suwita Utami; Rochtri Agung Bawono; Ruly Setiawan; Abu Muslim; Aldhi Wahyu Pratama
Forum Arkeologi VOLUME 34, NOMOR 1, APRIL 2021
Publisher : Balai Arkeologi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/fa.v34i1.684

Abstract

Dompu or ‘dompo’ is a kingdom mentioned in Negarakertagama Book which dates to 1365 AD as one of the kingdoms Patih Gajah Mada wanted to conquer. Then, ‘Dompu’ reappears in Gowa Kingdom Chronicle in early 17th century AD. For three centuries it was unknown how Dompu Kingdom was. The findings of ceramics, pottery, human skeleton and dimpa stone at Doro Mpana, have given a hint of a community’s life and its culture in the past. This study aims to uncover the chronology of Doro Mpana as burial site and the burial cultural form. Data collected through excavation, observation and literature study. The data are analysed contextually related to the relation among archaeological data. To find out the absolute chronology, radiocarbon dating analysis was performed in the laboratory. The result shows the site came from 13th-14th century AD. The use of dimpa stones as grave markers is a characteristic of burial rituals, in addition to providing grave goods such as pottery and ceramics. The use of dimpa stones at Doro Mpana indicates the utilization of surrounding natural resources because the source of dimpa stones, which is diorite stones, found not far from the site. Dompu atau ‘dompo’ adalah nama sebuah kerajaan yang disebutkan dalam Kitab Negarakertagama yang berangka tahun 1365 Masehi, sebagai salah satu kerajaan yang ingin ditaklukkan oleh Patih Gajah Mada. Nama Dompu muncul kembali dalam kronik Kerajaan Gowa pada awal abad XVII Masehi. Selama tiga abad tidak diketahui bagaimana gambaran Kerajaan Dompu. Temuan keramik, gerabah, rangka, dan batu dimpa di Situs Doro Mpana, Dompu telah memberi petunjuk adanya sebuah kehidupan masyarakat dan budayanya di masa lalu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap kronologi dimanfaatkannya Situs Doro Mpana sebagai penguburan serta bentuk budaya penguburannya. Pengumpulan data dilakukan dengan metode ekskavasi, survei lingkungan, dan studi pustaka. Data dianalisis secara kontekstual terkait hubungan antardata arkeologi. Untuk mengetahui kronologi absolut dilakukan analisis radiocarbondating di laboratorium. Hasil analisis menunjukan situs berasal dari abad ke-13-14 Masehi. Penggunaan batu dimpa sebagai penanda kubur menjadi sebuah ciri khas dalam ritual penguburan di Doro Mpana, selain pemberian bekal kubur berupa gerabah dan keramik. Penggunaan batu dimpa di Situs Doro Mpana menunjukkan pemanfaatan sumberdaya alam sekitar karena sumber batu dimpa yaitu batu diorite ditemukan tidak jauh dari situs.
PENINGKATAN PEMAHAMAN SISWA SMPN 2 BLAHBATUH KABUPATEN GIANYAR TENTANG KONSERVASI BENDA CAGAR BUDAYA MELALUI UPAYA PENDIDIKAN DAN PELATIHAN AGUNG BAWONO.R; UFI NAJIB; N. K.PUJI ASTITI LAKSMI; ZURAIDAH ZURAIDAH; KRISTIAWAN KRISTIAWAN; C. PALUPI TITASARI
Buletin Udayana Mengabdi Vol 8 No 1 (2009): Volume 8 No.1 – April 2009
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (26.897 KB)

Abstract

ABSTRACT The improvement of comprehension about cultural heritage and conservation to the young generations can be done by education and training. The methods applied are presentation with discussion and training of conservation. The advantage of comprehension signification about cultural heritage is indicated by the improving percentage from 30 students (81.08%) became 37 students (100%), about rescuing of cultural heritage from 36 students (97.89%) became 37 students (100%), about conservation from 15 students (40.54%) became 34 students (91.89%). And for conservation technique become 34 students (91.89%) from 5 students (13.52%). The result shows that technics of education and training is efective for advance students in comprehending the cultural hetitage and conservation techniques.
PENINGKATAN PEMAHAMAN SEKAA TERUNA-TERUNI DESA TARO, TENTANG INVENTARISASI DAN KONSERVASI BENDA CAGAR BUDAYA Ast iti Laksmi N.K.P; I G.N.Tara Wiguna; I N. Wardi; R. A. Bawono; I B. Sapta Jaya; Zuraidah Zuraidah; C. Pelupi Titasari
Buletin Udayana Mengabdi Vol 10 No 1 (2011): Volume 10 No.1 – April 2011
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (144.094 KB)

Abstract

The provisioning of comprehension about cultural heritage and conservation to the young generations can work out with education and training. Application of methods are presentation with discussion and training of conservation. The advance of comprehension signification about cultural heritage is indicated by the advance percentage from 23 respondents (76,6%) became 30 respondents (100%), about rescuing of cultural heritage from 30 respondents (100%) became 30 respondents (100%), about inventory from 27 respondents (90%) became 30 respondents (100%). And for conservation become 30 respondents (100%) from 27 respondents (90%). The result shows that technique of education and training is efective for advanced respondents’ comprehension about cultural hetitage and concervation.
Stratifikasi sosial pada masa prasejarah di Bali I Wayan Ardika; I Ketut Setiawan; I Wayan Srijaya; Rochtri Agung Bawono
Jurnal Kajian Bali (Journal of Bali Studies) Vol 7 No 1 (2017): RELASI ETNISITAS DI BALI
Publisher : Pusat Kajian Bali Universitas Udayana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (566.606 KB) | DOI: 10.24843/JKB.2017.v07.i01.p03

Abstract

Mortuary practices might have represented social stra­tification during the prehistoric period in Bali. Disposal treatment of the decease, burial goods, and containers that were utilized for burials may correspond with social identity and social persona of the deads and their family. This article will explore social stratification on the basis of  burial systems and burial goods that were utilized during the prehistoric period in Bali. Field survey and study on documents have also been done for data collection. In addation, Postprocessual theory has been applied in this study. It seems that global contacts and access for exotic goods might have stimulated the ranked or social stratification during prehistoric period in Bali. Metal objects, which raw materials are absence in Bali, including stone and glass beads, gold foil eye covers that were utilized as burial goods might have represent a status symbol during prehstoric period in Bali. Local elits in Bali utilized material objects as well as burial systems as a symbol for social differentiation and hierarchies in the soceity. Ranked society occurred prior to the apperance of Early State in Bali.
REPRESENTASI MASKULINITAS DALAM RITUAL ETU DI KAMPUNG ADAT TUTUBHADA KABUPATEN NAGEKEO, NUSA TENGGARA TIMUR Adinda Sanita Putri Khinari; Ni Made Yuni Sugiantari; Dania Nabila Lubis; Ni Kadek Ari Marlina; Ni Putu Indah Juliyanti; Anak Agung Ayu Isna Surya Dewi; Rochtri Agung Bawono
Patanjala: Journal of Historical and Cultural Research Vol 13, No 1 (2021): PATANJALA VOL. 13 NO. 1 APRIL 2021
Publisher : Balai Pelestarian Nilai Budaya Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30959/patanjala.v13i1.677

Abstract

Etu atau tinju tradisional yang dilaksanakan di Kabupaten Nagekeo merupakan salah satu tahapan dari ritual pasca panen (Gua Meze). Etu dipercaya sebagai ungkapan rasa syukur masyarakat lokal atas berkah dalam panen musim panas dan wujud bagi kaum laki-laki untuk mempresentasikan kembali maskulinitas dirinya melalui Etu. Penelitian di Kampung Adat Tutubhada Desa Rendu Tutubhada Kecamatan Aesesa Selatan Kabupaten Nagekeo dilakukan dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana representasi maskulinitas seorang laki-laki pada ritual Etu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data disusun berdasarkan studi pustaka penelitian terdahulu, pengamatan di lapangan, wawancara, dan dokumen. Hasil yang dicapai dalam penelitian ini adalah penjelasan mengenai rangkaian, pelaku, perlengkapan, dan aturan dari Etu di Kampung Adat Tutubhada, eksistensi Etu di masa kini, serta bagaimana Etu dapat merepresentasikan maskulinitas laki-laki selaku pelaku ritual.‘Etu’, which is a traditional form of ceremonial boxing practiced in Nagekeo Regency, is one stage of the post-harvest rituals Gua Meze. ‘Etu’ is believed to be a form of expression of gratitude offered by the local community for the blessings that have been received in the harvest and at the same time also serves as a form to represent the masculinity. The research which has been conducted in Kampung Adat Tutubhada - which is situated in the village of Rendu Tutubhada in South Aesesa District, Nagekeo Regency - aims to reveal how the masculinity is represented in ‘Etu’. The research used the descriptive qualitative method. Sources of data in the research were compiled based on the literature study of previous research, field observations, interviews, and documents. The results achieved in this study explain in detail 'Etu' in Kampung Adat Tutubhada that includes a sequence of activities, performers, equipment, and rules, the current existence of ‘Etu’ as well as to draw how ‘Etu’ can represent the masculinity of men as the ritual performers.
Identifikasi Anatomi dan Analisis Jejak Pemanfaatan Tulang Babi di Situs Gua Gede, Nusa Penida Bali Andreas Anton Priyambodo; I Wayan Ardika; Rochtri Agung Bawono
Tumotowa Vol 4 No 1 (2021): Tumotowa
Publisher : Balai Arkeologi Provinsi Sulawesi Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/tmt.v4i1.81

Abstract

Nusa Penida sudah dihuni secara intensif oleh manusia dan berpotensi variasi faunanya sejakmasa Pleistosen. Penelitian ini secara spesifik membahas spesimen dari famili suidae (babi)yang ditemukan di Nusa Penida. Sejak zaman Prasejarah babi menjadi salah satu buruanfavorit manusia yang dimanfaatkan sebagai makanan. Terdapatnya aktivitas penjagalan(butchering) dan jejak pembakaran mengindikasikan pemanfaatan babi yang dilakukanmanusia. Tujuan umum penelitian ini adalah mencari hubungan antara temuan tulang babi diSitus Gua Gede dengan aktivitas manusia. Proses identifikasi anatomi dilakukan untukmengetahui temuan secara mengkhusus mengenai kuantitas dan variasi usia yang ditemukanmelalui spesimen babi yang berada di situs dan analisis jejak pemanfaatan dilakukan untuk melihat bukti strategi subsistensi penghuni Situs Gua Gede, Nusa Penida.
PENGARUH LINGKUNGAN FISIK TERHADAP PENEMPATAN SITUS-SITUS TRADISI MEGALITIK DI KECAMATAN CIKAKAK, KABUPATEN SUKABUMI Eldi Khairul Akbar; I Wayan Srijaya; Rochtri Agung Bawono
SANGIA JOURNAL OF ARCHAEOLOGY RESEARCH Vol. 6 No. 1: June 2022
Publisher : Laboratorium Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/sangia.v6i1.1681

Abstract

Tulisan ini membahas mengenai hubungan antara situs megalitik yang berada di Kecamatan Cikakakdengan lingkungan fisik. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui karakter lingkungan fisik yang paling banyak dipilih dan mengetahui pengaruh lingkungan fisik terhadap penempatan situs megalitik yang tersebar di Kecamatan Cikakak. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan penalaran induktif sedangkan analisis yang digunakan dalam penelitian ini yaitu analisis spasial dan analisis kontekstual. Analisis spasial dilakukan dengan menggunakan data koordinat situs dan dihubungkan dengan variabel-variabel lingkungan fisik dalam sebuah peta tematik yang dibuat menggunakan software ArcGis dan analisis kontekstual digunakan untuk mendukung hasil dari analisis spasial.Hasil penelitian menyimpulkan bahwa karakter lingkungan fisik yang banyak dipilih untuk dijadikan lokasi penempatan situs tradisi megalitik di Kecamatan Cikakak adalah variabel lingkungan dengan rentang ketinggian 500-1000 mdpl, berada pada sebaran jenis tanah latosol, berada pada jenis formasi batuan breksi tapos, berada pada jarak 0-50 m dari sumber air, dan berada pada rentang kemiringan lereng antara 15-25%. Lingkungan fisik yang berpengaruh terhadap penempatan situs-situs tradisi megalitik di Kecamatan Cikakak adalah ketinggian, jenis tanah, jenis batuan, dan sumber air. Kemiringan lereng merupakan variabel lingkungan fisik yang kurang berpengaruh
FUNGSI TINGGALAN MBARU GENDANG DI KAMPUNG RUTENG PU’U Lensiani Yuri Arawi Nanggor; I Wayan Srijaya; Rochtri Agung Bawono
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 2 No. 10 (2024): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/triwikrama.v2i10.1752

Abstract

Rumah adat adalah bangunan yang memiliki ciri khas unik, digunakan untuk tempat hunian oleh suatu suku bangsa tertentu. Salah satu rumah tradisional yang memiliki arsitektur tradisional dan unik yang berada di Kabupaten Manggarai yaitu Mbaru Gendang Ruteng Pu'u. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui fungsi dari tinggalan mbaru gendang di Kampung Ruteng Pu'u. Penelitian ini menggunakan jenis kualitatif dengan pengumpulan data secara observasi, studi pustaka, dan wawancara dengan informan mengenai tinggalan mbaru gendang Ruteng Pu'u. Analisis yang digunakan dalam penelitian ini yakni analisis kualitatif, dan kontekstual. Adapun hasil penelitian ini memperoleh bahwa mbaru gendang merupakan rumah sakral bagi Masyarakat Manggarai, mbaru gendang bukan sekedar rumah biasa tetapi mbaru gendang merupakan tempat dimana segala ritus adat dalam sebuah kampung diadakan, dan tempat diterimanya tamu-tamu penting dalam sebuah kampung.