Claim Missing Document
Check
Articles

Found 28 Documents
Search

TEKNOLOGI PERTANIAN TRADISIONAL PADA MASA SUNDA KUNO HINGGA KINI DI KAMPUNG CENGKUK, KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT: BERDASARKAN KAJIAN ETNOARKEOLOGI Tesalonika Kristianti; I Wayan Srijaya; Coleta Palupi Titasari
Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Vol. 4 No. 6 (2024): Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial
Publisher : Cahaya Ilmu Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.6578/triwikrama.v4i6.4814

Abstract

Pertanian menjadi mata pencaharian yang banyak dilakukan oleh masyarakat Indonesia sebagai negara agraris. Masyarakat di Tatar Sunda menjadi kelompok masyarakat yang masih melestarikan budidaya padi dengan cara yang tradisional. Masyarakat adat yang mengamalkan ajaran Sunda Wiwitan di kehidupannya memegang kuat pikukuh dari leluhur mereka. Beberapa tata cara kehidupan masyarakat Sunda tertuang dalam berbagai karya sastra kuno yang salah satunya adalah naskah Sanghyang Siksa Kanda ng Karesian. Naskah tersebut menjadi dasar penelitian ini dan berfokus pada bagian yang menuliskan tentang peralatan tani pada masa lampau. Penelitian ini berfokus pada permasalahan penggunaan alat tani tradisional yang tertulis dalam naskah tersebut dan masih digunakan hingga saat ini. Proses pengambilan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi lapangan, dan wawancara mendalam. Sementara, proses analisis data dilakukan melalui analisis etnoarkeologi, analisis fungsi, dan analisis kualitatif. Alat pertanian yang disebutkan dalam naskah, yaitu kujang, baliung, patik, kored, dan sadap. Beberapa perubahan terjadi pada alat pertanian tradisional di Kampung Cengkuk, baik dari fungsi dan bentuk.
PERANAN ARCA CATUḤKĀYPERANAN ARCA CATUḤKĀYA PADA MASA BALI KUNOA PADA MASA BALI KUNO: Fungsi dan Makna arca catuḥkāya pada masa Bali Kuno Rajeg, Kadek Dedy Prawirajaya; Purwanto, Heri; Titasari, Coleta Palupi
Berkala Arkeologi Vol. 43 No. 2 (2023)
Publisher : BRIN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jba.2023.122

Abstract

Catuḥkāya is a monolithic statue featuring four human figures carved on its sides, representing the cardinal directions: south, east, north, and west. This study examined the function and meaning of catuḥkāya statues in ancient Balinese. Data collected from field surveys and literature reviews was analyzed with the iconographic and comparative approach. Study results’s shows that the catuḥkāya statue is the development of Mukhaliṅga.  In the past, the catuḥkāya statue was most likely part of the Shiva Tantrayana’s ritual and used for abhicāra (ceremonies for destroying enemies). The meaning implied in the catuḥkāya statue is the embodiment of universe (microcosm and macrocosm) consist of soft form (tānmatra) and rough form (mahābhūta).  
IDENTIFIKASI ANCAMAN PADA KELESTARIAN SITUS PANGGUYANGAN DI KABUPATEN SUKABUMI, JAWA BARAT Zidani, Ahmad Rifqi; Bawono, Rochtri Agung; Titasari, Coleta Palupi
JEJAK : Jurnal Pendidikan Sejarah & Sejarah Vol. 4 No. 2 (2024): Kesejarahan Lokal, Internasional, Serta Pembelajarannya
Publisher : Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/jejak.v4i2.33836

Abstract

Tinggalan dengan corak kebudayaan megalitik juga ditemukan di Jawa Barat. Situs Pangguyangan merupakan tinggalan arkeologi bercorak kebudayaan megalitik yang terletak di Desa Sirnarasa, Kecamatan Cikakak, Kabupaten Sukabumi. Tinggalannya berupa struktur punden berundak, menhir, batu datar, dan kursi batu. Saat ini Situs Pangguyangan menjadi tempat untuk berziarah karena adanya legenda yang menceritakan adanya tokoh Syaikh Gentar Bumi yang pernah menjadikan Situs Pangguyangan sebagai tempat berkumpulnya para wali penyebar agama Islam di Jawa Barat. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi apa saja ancaman yang mengancam kelestarian Situs Pangguyangan. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu observasi, wawancara, dan studi Pustaka, setelah data terkumpul kemudian dianalisis menggunakan analisis lingkungan dan disajikan secara kualitiatif. Hasil dari pengolahan data dan analisis diketahui bahwa ancaman terhadap Situs Pangguyangan terbagi menjadi dua faktor yaitu faktor internal meliputi bahan baku, Teknik pengerjaan, dan keletakan struktur. Faktor eksternal meliputi lokasi situs, aktifitas ziarah, kurangnya prasarana, iklim, vegetasi, dan topografi.
Adaptasi Arsitektur Kolonial terhadap Iklim Tropis : Analisis Fasad Gedung SMA Negeri 2 Purwokerto Pandhu Nagara Prijatna; I Wayan Srijaya; Coleta Palupi Titasari
ULIL ALBAB : Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol. 1 No. 10: September 2022
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bangunan SMA Negeri 2 Purwokerto merupakan bangunan kolonial dengan aplikasi gaya arsitektur modern aliran Nieuwe Bouwen. Langgam arsitektur pada bangunan SMA Negeri 2 Purwokerto telah beradaptasi dengan iklim tropis dimana hal tersebut merupakan perkembangan dari arsitektur kolonial. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, studi pustaka, dan wawancara. Data yang terkumpul di analisis dengan analisis kualitatif, karakter spasial, dan karakter visual dan di dukung dengan teori morfologi arsitektur, teori arsitektur modern, dan teori arsitektur fungsionalisme.  Hasil analisis menghasilkan kesimpulan bahwa adaptasi dari iklim tropis pada bangunan terlihat pada penggunaan elemen-elemen pada bangunan sehingga menimbulkan sirkulasi udara yang baik serta suhu ruangan yang dapat berkaitan dengan kenyamanan penghuni. Karakteristik bangunan yang berorientasi terhadap adaptasi iklim tropis dapat terlihat dari kondisi fasad bangunan. Fungsi pada elemen-elemen bangunan saling berkaitan yang berdampak pada sistem sirkulasi udara bangunan.  Dengan adanya orientasi terhadap iklim tropis, elemen yang terdapat pada bangunan harus memiliki fungsi sebagai penyalur udara.Bangunan SMA Negeri 2 Purwokerto merupakan bangunan kolonial dengan aplikasi gaya arsitektur modern aliran Nieuwe Bouwen. Langgam arsitektur pada bangunan SMA Negeri 2 Purwokerto telah beradaptasi dengan iklim tropis dimana hal tersebut merupakan perkembangan dari arsitektur kolonial. Metode yang digunakan ialah metode kualitatif deskriptif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, studi pustaka, dan wawancara. Data yang terkumpul di analisis dengan analisis kualitatif, karakter spasial, dan karakter visual dan di dukung dengan teori morfologi arsitektur, teori arsitektur modern, dan teori arsitektur fungsionalisme.  Hasil analisis menghasilkan kesimpulan bahwa adaptasi dari iklim tropis pada bangunan terlihat pada penggunaan elemen-elemen pada bangunan sehingga menimbulkan sirkulasi udara yang baik serta suhu ruangan yang dapat berkaitan dengan kenyamanan penghuni. Karakteristik bangunan yang berorientasi terhadap adaptasi iklim tropis dapat terlihat dari kondisi fasad bangunan. Fungsi pada elemen-elemen bangunan saling berkaitan yang berdampak pada sistem sirkulasi udara bangunan.  Dengan adanya orientasi terhadap iklim tropis, elemen yang terdapat pada bangunan harus memiliki fungsi sebagai penyalur udara.
LANDASAN FILOSOFIS ARSITEKTUR WISMA KARTOWIBOWO KOTA BLITAR, JAWA TIMUR Putri, Tari Azzahra Eka; Titasari, Coleta Palupi; Srijaya, I Wayan
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 2 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE Juni 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: Javanese society is inserparable from the philosophy of  life, even in construting a building. This article aims toanalyze the unique philosophical meaning of architecture Wisma Karatowibowo by using descriptive-qualitative analysis methods and interpretivsm paradigm.Wisma Kartowibowo has a mixture of traditional Javanese and modern colonial architecture. Raden Kartowibowo is a well-known educational figure in Blitar Cityat that time, he has interesting thoughts that he expressed in his house map. Raden Kartowibowo relates his house map to the sequence of human body and the development of human thoughts from the time period.Keyword: Wisma Kartowibowo; Raden Kartowibowo; Philosophy; ArchitectureAbstrak: Masyarakat Jawa tidak terlepas dari filosofi kehidupan bahkan dalam mendirikan sebuah bangunan. Tulisan ini bertujuan untuk menganalisis makna filosofis dari arsitektur Wisma Kartowibowo yang cukup unik dengan menggunakan metode analisis deskriptif-kualitatif dan paradigma interpretivisme. Wisma Kartowibowo memiliki arsitektur percampuran tradisional Jawa dan kolonial modern. Raden Kartowibowo yang merupakan salah satu tokoh pendidikan di Kota Blitar pada masa itu, memiliki pemikiran menarik yang beliau tuangkan dalam denah rumahnya. Raden Kartowibowo mengaitkan denah rumah beliau dengan urutan anggota tubuh manusia dan perkembangan pemikiran manusia dari masa ke masa.Kata Kunci: Wisma Kartowibowo; Raden Kartowibowo; Filosofis; Arsitektur
PERKEMBANGAN TATA KOTA BLITAR DARI ABAD XIX HINGGA ABAD XX Al Ayyubi, Sholahuddin Yusuf; Titasari, Coleta Palupi; Prawirajaya R, Kadek Dedy; Srijaya, I Wayan
Jurnal Arsitektur ARCADE Vol 8 No 3 (2024): Jurnal Arsitektur ARCADE September 2024
Publisher : Prodi Arsitektur UNIVERSITAS KEBANGSAAN

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Abstract: This research aims to identify the components and patterns of the city from the 19th to the 20th century. Data were collected through observation, literature review, and archival studies. Once the data were gathered, they were processed using qualitative and comparative analysis. The results of this research show that there were dynamics from the 19th to the 20th century. The urban development that occurred indicates that the city of Blitar used a grid pattern which developed significantly over the two centuries. This development is evident based on several city maps that were compared, as well as from the analysis of field data and literature. The development shows city dynamics including highways, increasingly dense residential houses, educational buildings that are more concentrated in certain areas, and other city components within the same city pattern, namely the grid pattern.Keywords: Development of City Planning, City Patterns, Colonial PeriodAbstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui komponen-komponen kota dan pola kota selama abad XIX hingga abad XX. Data dikumpulkan dengan metode observasi, studi pustaka, dan studi arsip. Setelah data terkumpul, kemudian diolah menggunakan analisis kualitatif dan komparatif. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi dinamika dari abad XIX hingga abad XX. Perkembangan tata kota yang terjadi menunjukkan bahwa Kota Blitar menggunakan pola grid yang perkembangannya terjadi cukup signifikan selama dua abad. Perkembangan tersebut sangat terlihat berdasarkan beberapa peta kota yang dikomparasikan, serta dengan analisis data lapangan dan pustaka. Perkembangan tersebut menunjukkan dinamika kota termasuk jalan raya, rumah penduduk yang semakin padat, bangunan pendidikan yang lebih memusat di wilayah tertentu, dan komponen-komponen kota lainnya dalam pola kota yang sama yaitu pola kota grid.Kata Kunci: Perkembangan Tata Kota, Pola Kota, Masa Kolonial
CANDI PLANGGATAN DI KABUPATEN KARANGANYAR, JAWA TENGAH: BANGUNAN SUCI MILIK KAUM RSI Heri Purwanto; Coleta Palupi Titasari
Naditira Widya Vol. 11 No. 2 (2017): Naditira Widya Volume 11 Nomor 2 Oktober Tahun 2017
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian terhadap Candi Planggatan belum banyak dilakukan oleh para ahli, maka dari itu dengan hadirnya tulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih mengenai sejarah maupun aktivitas manusia masa lalu di Candi Planggatan. Secara administratif Candi Planggatan terletak di Desa Berjo, Kecamatan Ngargoyoso, Kabupaten Karanganyar. Candi ini tersusun atas tiga teras menghadap ke arah barat. Penelitian ini bertujuan mengungkap unsur apa saja yang menjadi penanda bahwa Candi Planggatan merupakan bangunan suci milik kaum rsi. Guna menjawab permasalahan tersebut metode yang digunakan dalam penelitian ini melalui dua tahap, yaitu metode pengumpulan dan analisis data. Pengumpulan data meliputi observasi dan kajian pustaka. Analisis yang digunakan ialah kualitatif dengan menggunakan teori simbol. Hasil dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa Candi Planggatan merupakan tempat suci bagi kaumrsi atau pertapa (karsyan) berbentuk mandala kedewaguruan. Rsi yang sangat mungkin sebagai tokoh agama di mandala Planggatan adalah Rama Balanggadawang dan Hyang Pununduh. Lebih lanjut kaumrsi dan pertapa yang tinggal dimandalaPlanggatan rupanya melakukan pemujaan terhadap Siwa dan Ganesa. The research of Planggatan temple is still limited, therefore this paper is expected to contribute the history and activites of the human past in the temple. The temple is located in Berjo Village, Ngargoyoso District, Karanganyar Regency. The temple has three terraces. There two steps of methods are conducted in the study, data collection and analysis. Collecting data are obtain by observation and literature review, and for analyzing is using qualitative with symbol theory. It can be concluded that the Planggatan is a sacred place for the rsi or ascetic (karsyan), in the form of goddess mandala. Rsi who are very likely as the religious figures at the mandala of Planggatan are Rama Balanggadawang and Hyang Pununduh. Theremore, rsi and hermit who lived at the mandala of Planggatan apparently whorshiped to Siwa and Ganesa.
NILAI-NILAI KEAGAMAAN DALAM KIDUNG SUDAMALA KAJIAN TEKSTUAL DAN ARKEOLOGIS Purwanto, Heri; Coleta Palupi Titasari
Pangkaja: Jurnal Agama Hindu Vol 28 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Hindu Negeri I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kidung Sudamala is one of the literary works that contains past knowledge, it is important to explore further aboue the religious values that are in it. In this study, it is traced about the religious system contained in the Kidung Sudamala. This research aims ti explain the expressions and descriptions of the religious system that are in the Kidung Sudamala. Primary data is studied by using textual analysis, then in interpretating its meaning assisted by supporting sources (archaeological data). The research method used in this study consists of data collection and data analysis. Based on the results of this study, it shows various religious components that can be traced, namely religious emotions, belief systems, ceremonial equipment, and religious people. In the text, ruwatan ritual becomes the main topic that tells aboue the liberation of Dewi Durga from curse.