Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Kesalahan Berbahasa dalam Modul I Bahasa Indonesia PPG Dalam Jabatan Tahun 2020 Rahmad Hidayat
Jurnal Bahasa dan Sastra Vol 9, No 2 (2021)
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Padang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24036/jbs.v9i2.112391

Abstract

This research is here to explain several forms of errors in the material module of the Pendidikan Profesi Guru Dalam Jabatan Tahun 2020. Research on the analysis of language errors in the PPG module has never been carried out.  In data collection, used the Listening method with the Note Technique.  The data are recorded in such a way in tabulations.  In analyzing the data, the Intralingual Matching method was used with HBS and HBB techniques. HBS and HBB techniques are realized by comparing between language data and applicable rules.  Furthermore, deviant linguistic data are classified based on the types of violations against linguistic rules and theories.  The presentation of the results of data analysis in this study is based on the taxonomy of linguistic categories in language error analysis.  The results showed that in the module I PPG Dalam Jabatan Tahun 2020 there were spelling errors in the form of punctuation errors, capital letters errors, italicization errors, and word writing errors; morphological errors in the form of word formation errors and word non-conformity; syntactic errors in the form of misuse of conjunctor and ineffective sentences.
Idiosinkrasi Penggunaan Prefiks meng- oleh Penutur Bahasa Indonesia: Idiosyncratic Use of Prefix meng- by Indonesian Speakers Sabila; I Nyoman Sudika; Rahmad Hidayat
Jurnal Bastrindo Vol. 4 No. 1 (2023): Edisi Juni 2023
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jb.v4i1.858

Abstract

Abstrak: Penelitian ini bertujuan memaparkan bentuk-bentuk idiosinkrasi penggunaan prefiks meng- oleh penutur bahasa Indonesia di media sosial Tiktok. Bentuk-bentuk idiosinkrasi tersebut merupakan penyimpangan dalam konteks berbahasa Indonesia yang benar. Karena melibatkan prefiks, penyimpangan terjadi pada tataran morfologi. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif. Data penelitian dikumpulkan menggunakan metode simak dan metode dokumentasi. Data dianalisis menggunakan metode padan intralingual dengan teknik hubung banding menyamakan (HBS) dan hubung banding membedakan (HBB). Penyajian hasil analisis menggunakan metode formal dan informal. Data idiosinkrasi penggunaan prefiks meng- yang ditemukan berjumlah 40 bentuk yang terdiri atas 20 bentuk idiosinkrasi penggunaan prefiks meng- yang melekat pada kata dasar yang berkategori verba dan 20 bentuk idiosinkrasi penggunaan prefiks meng- yang melekat pada kata dasar yang berkategori adjektiva. Bentuk-bentuk idiosinkrasi ini memperlihatkan penyimpangan kaidah pembentukan kata, penyimpangan makna hasil bentukan, dan penyimpangan fungsi hasil bentukan. Abstract: This study aims to describe forms of idiosyncratic use of the prefix meng- by Indonesian speakers on Tiktok social media. These idiosyncratic forms are deviations in the context of correct Indonesian. Since it involves prefixes, deviations occur at the morphological level. This research is a descriptive-qualitative-research. The research data was collected using the observation method and the documentation method. The data were analyzed using the intralingual equivalent method with the same comparative comparison (HBS) and differential comparison (HBB) techniques. Presentation of the results of the analysis using formal and informal methods. The idiosyncratic data on the use of the prefix meng- were found to be 40 forms consisting of 20 idiosyncratic forms of the use of the prefix meng- attached to base words which are categorized as verbs and 20 idiosyncratic forms of the use of prefix meng- attached to base words which are categorized as adjectives. These forms of idiosyncrasy show deviations from the rules of word formation, deviations from the meanings formed, and deviations from the functions formed.
Komparasi Frekuensi Kemunculan Bentuk Standar dan Bentuk Tidak Standar Bahasa Indonesia Berbasis Korpus Rahmad Hidayat; Mochammad Asyhar; Hasanuddin Chaer; Agusman Agusman; Mohammad Fakhri Rahman Setiawan Putra
Indonesian Language Education and Literature Vol. 10 No. 2 (2025)
Publisher : Jurusan Tadris Bahasa Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24235/ileal.v10i2.18734

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan gambaran frekuensi kemunculan bentuk standar dan tidak standar dalam korpus. Korpus yang digunakan adalah korpus LCC Indonesian 2023 yang terdapat dalam situs web https://cqpweb.lancs.ac.uk/. Korpus ini mencakup berbagai teks dari tahun 2008 sampai dengan 2022. Data yang diperbandingkan dalam penelitian ini terdiri dari 12 kategori yang secara keseluruhan terdiri dari 150 bentuk. Analisis data dilakukan dengan membandingkan angka frekuensi antara bentuk standar dan tidak standar. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa penggunaan bentuk standar dalam korpus lebih banyak dibandingkan dengan bentuk tidak standar, yakni 76,46% berbanding 23,44%. Ditemukan pula jumlah bentuk tidak standar lebih banyak dibandingkan bentuk standar pada kategori tertentu serta masih terdapat penggunaan bentuk lewah/mubazir. Penggunaan bentuk tidak standar masih dilakukan oleh penutur bahasa Indonesia sehingga diperlukan langkah strategis untuk mereduksinya.Comparison of Occurrence Frequency of Standard and Nonstandard Forms of Corpus-Based Indonesian LanguageThis study aims to describe the frequency of occurrence of standard forms and nonstandard forms in the corpus. The Indonesian 2023 LCC corpus is found on the website https://cqpweb.lancs.ac.uk/. This corpus includes various texts from 2008 to 2022. The data compared in this study consisted of 12 categories, which in total consisted of 150 forms. The data was analyzed by comparing the frequency rate between standard and nonstandard forms. The results revealed that the use of standard forms in the corpus was more than the nonstandard forms, 76.46% versus 23.44%. It was also found that the number of nonstandard forms is more than the standard forms in certain categories, and redundant forms are still used. It is necessary to take strategic measures to decrease the use of nonstandard forms by Indonesian speakers.
Konstruksi dan Makna Kata Majemuk dalam Bahasa Sumbawa Dialek Sumbawa Besar Elya Febriani; Rahmad Hidayat; Mustakim Saleh
Kopula: Jurnal Bahasa, Sastra, dan Pendidikan Vol. 8 No. 2 (2026): in Progress
Publisher : Program Studi Magister Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/kopula.v8i2.10464

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan konstruksi dan relasi makna kata majemuk dalam Bahasa Sumbawa Dialek Sumbawa Besar (BSDSB) melalui kajian morfosemantik. Penelitian menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dengan sumber data berupa tuturan penutur asli BSDSB. Data dikumpulkan melalui metode Simak, Cakap, dan teknit Catat, kemudian dianalisis menggunakan metode padan dan agih. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kata majemuk dalam BSDSB dibentuk melalui empat konstruksi, yaitu kata majemuk dasar, bentuk unik, berafiks, dan reduplikasi. Dari segi relasi semantis, ditemukan pola atributif, koordinatif, subordinatif, dan idiomatik, dengan relasi atributif sebagai pola dominan. Berdasarkan transparansi maknanya, kata majemuk dalam BSDSB terbagi menjadi bentuk transparan, semi-transparan, dan nontransparan. Bentuk nontransparan memperlihatkan adanya proses idiomatisasi dan leksikalisasi yang dipengaruhi oleh pengalaman sosial dan budaya masyarakat Sumbawa. Temuan penelitian menunjukkan bahwa pembentukan kata majemuk dalam BSDSB tidak hanya bersifat morfologis, tetapi juga merepresentasikan konseptualisasi budaya masyarakat penuturnya. Penelitian ini diharapkan dapat memperkaya kajian morfologi dan semantik leksikal bahasa daerah di Indonesia.