Claim Missing Document
Check
Articles

Found 17 Documents
Search

Gambaran Kejadian Hipotermi Intra Anestesi Dan Post Anestesi Pasien Sectio Caesarea Dengan Spinal Anestesi Di Rumah Sakit Umum Daerah Kebumen Rizky Arianda Ketaren; Septian Mixrova Sebayang; Tophan Heri Wibowo; Roro Lintang Suryani; Indri Wijayanti
Jurnal Ilmiah Kesehatan Mandira Cendikia Vol. 3 No. 2 (2024)
Publisher : YAYASAN PENDIDIKAN MANDIRA CENDIKIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan sectio caesarea (SC) adalah metodepersalinan operatif yang dilakukan dengan indikasi. Sectio caesarea merupakan operasi yang membutuhkan daerah insisi yang luas. Pasien yang menjalani bedah sectio caesarea dengan anestesi spinal memiliki risiko yang lebih tinggi mengalamihipotermia selama periode perioperatif. Hipotermimerupakan keadaan suhu tubuh kurang dari 36℃. Setiap pasien yang menjalani operasi beresikomengalami kejadian hipotermi, Hipotermi yang terjadipada perioperatif dapat berlanjut hingga periode pascaoperatif di ruang pemulihan. Untuk menggambarankejadian hipotermi intra anestesi dan post anestesipada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi. Jenis penelitian ini menggunakan metode kuantitatifanalitik dengan pendekatan cross sectional. Pengambilan sampel menggunakan metode Total Sampling dengan jumlah responden sebesar 36. responden yang mengalami hipotermi berdasarkanusia antara 26 – 35 tahun sebanyak 69,4%, denganlama operasi.
Gambaran Kestabilan MAP (Mean Arterial Pressure) dan Heart Rate Pasien Spinal Anestesi Di RSUD dr. R. Goeteng Taroenadibrata Purbalingga Eka Septia Ningsih; Tophan Heri Wibowo; Adiratna Sekar Siwi
PROFESSIONAL HEALTH JOURNAL Vol. 5 No. 2 (2024): Juni
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (PPPM) STIKES Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/phj.v5i2.551

Abstract

Giving spinal anesthesia has advantages such as reducing the risk of acute complications which often occur, namely blood pressure instability in the form of a decrease in blood pressure or hypotension. Appropriate and rapid action to reduce blood pressure after administering spinal anesthesia must be taken to avoid complications. Hemodynamic changes occur due to sympathetic vasomotor blockade due to spinal anesthesia. The aim of this research is to determine the stability of Mean Arterial Pressure and heart rate in spinal anesthesia patients at RSUD dr. R Goeteng Taroenadibrata Purbalingga. The type of research carried out is quantitative research with a descriptive design. The approach used during the research was cross sectional. The sampling technique used purposive sampling for 64 patients. The measuring instruments used are a bedsite monitor scale and an observation sheet. Data analysis used univariate tests in the form of frequency distribution tables. The research results showed that the average age was 51.77 years and the most dominant gender was female (53.1%). Most of them had no history of disease (71.9%). Description of the stability of Mean Arterial Pressure in spinal anesthesia patients with an average MAP of 96.16. The heart rate of spinal anesthesia patients was an average of 79.06 beats per minute.
GAMBARAN KUALITAS PEMULIHAN PADA PASIEN POST GENERAL ANESTESI DI RUANG RAWAT INAP RSUD HJ. ANNA LASMANAH BANJARNEGARA Annisa Arum Sari; Septian Mixrova Sebayang; Tophan Heri wibowo
Jurnal Cakrawala Ilmiah Vol. 3 No. 8: April 2024
Publisher : Bajang Institute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Proses pemulihan yang tertunda merupakan suatu kejadian yang tidak diharapkan dalam anestesi, penyebab dari pulih sadar yang tertunda disebabkan oleh berbagai faktor seperti usia, jenis kelamin, dan berat badan pasien, masalah dalam pembedahan dan anestesi seperti lamanya operasi dan teknik anestesi yang dilakukan, serta faktor genetik dan penyakit penyerta yang mempengaruhi peningkatan dari obat-obatan anestesi yang diberikan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran kualitas pemulihan pasien post general anestesi di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara. Metode: Penelitian ini yaiti penelitian kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional . Populasi pada penelitian ini adalah pasien yang telah menjalani operasi dengan general anestesi di ruang rawat inap Rumah Sakit Umum Daerah Hj. Anna Lasmanah Banjarnegara, yang dipilih dengan metode accidental sampling dengan total sampel 30. Hasil: Didapatka tingkat kepuasan yang tinggi, dengan 86,7% responden memberikan skor sangat baik (161-200) dan 13,3% memberikan skor baik (111-160). Karakteristik pasien, termasuk usia dominan (73,3% pada rentang 17-45 tahun), jenis kelamin mayoritas laki-laki (60%), status fisik ASA mayoritas ASA 1 (80%), durasi operasi mayoritas 30 menit (53,3%), dan urgensi operasi mayoritas elektif (80%).
Efektivitas Preloading Koloid Terhadap Kejadian Hipotensi Pada Pasien Sectio Caesarea Dengan Spinal Anestesi Di Rumah Sakit Islam Purwokerto Meliana Hardian Rahmawati; Tophan Heri Wibowo; Wilis Sukmaningtyas
Borneo Nursing Journal (BNJ) Vol. 8 No. 1 (2026)
Publisher : Akademi Keperawatan Yarsi Samarinda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61878/bnj.v8i1.259

Abstract

Prosedur persalinan yang paling umum dilakukan di dunia medis adalah sectio caesarea dengan anestesi spinal. Komplikasi yang paling seringkali ditemukan pada pasien yang menjalani tindakan sectio caesarea dengan spinal anestesi adalah hipotensi. Hipotensi atau tekanan darah rendah ialah ketika tekanan darah < 90/60 mmHg. Tujuan studi ini yaitu untuk mengetahui efektivitas preloading koloid dalam mencegah terjadinya hipotensi pada pasien yang menjalani sectio caesarea dengan spinal anestesi. Penelitian ini menerapkan desain penelitian kuantitatif melalui pre eksperimen dengan metode Posttest Only Control Group. Populasi penelitian sebanyak 92 pasien. Teknik sampling menggunakan total sampling sebanyak 30 pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi. Temuan penelitian mengungkapkan bahwasanya kejadian hipotensi pada kelompok intervensi (diberi preloading koloid) tidak terjadi, hampir seluruhnya normal sejumlah 14 partisipan (93,3%). Pada kelompok kontrol (tidak diberi preloading koloid) sebagian besar mengalami kejadian hipotensi sebanyak 8 responden (53,3%). Uji Mann Whitney U diperoleh hasil Z = -4.669 dan p = 0,000 (p ≤ 0,05). Hal ini menandakan ada efektivitas preloading koloid pada kejadian hipotensi pada pasien sectio caesarea dengan spinal anestesi. Saran bagi peneliti berikutnya diharapkan untuk melaksanakan riset lanjutan dengan cakupan yang lebih luas, baik dari segi jumlah sampel, variasi karakteristik pasien, maupun jenis cairan koloid yang digunakan.
Gambaran Intensitas Nyeri pada Pasien Post Operasi Sectio Caesarea dengan Metode Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) di Rumah Sakit Islam Fatimah Cilacap Nur Mutmainah; Tophan Heri Wibowo; Septian Mixrova Sebayang
JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL Vol. 4 No. 2 (2026): Mei : JURNAL ILMIAH KESEHATAN MASYARAKAT DAN SOSIAL
Publisher : CV. ALIM'SPUBLISHING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59024/jikas.v4i2.1656

Abstract

Postoperative pain following Sectio Caesarea (SC) is a common clinical problem, reported within the first 24 hours in approximately 50-85% of patients. This postoperative pain can affect maternal comfort, early mobilization, and the recovery process. Theoretically, post-SC pain is associated with tissue trauma and nociceptive responses. Enhanced Recovery After Surgery (ERAS) is an increasingly implemented method because it is considered capable of accelerating postoperative recovery and reducing pain intensity after surgical procedures. This study aimed to describe the distribution of post-Sectio Caesarea pain intensity based on patient characteristics. This research employed a descriptive quantitative design with an observational approach. Data were collected using a total sampling technique from all post-SC patients managed with the ERAS method at RSI Fatimah over a one-month period, with a total of 50 respondents. The research instrument used was the Visual Analogue Scale (VAS). Data were analyzed univariately in the form of frequency and percentage distributions. The results showed that the majority of respondents were in early adulthood (26-35 years), accounting for 40 respondents (80.0%), multiparous women totaled 30 respondents (60.0%), maternal indications were found in 33 respondents (66.0%), and 27 respondents (54.0%) had no previous history of SC. Within the first 2 hours after SC, most mothers experienced mild pain (scale 1-3), totaling 31 respondents (62.0%). At 8 hours after analgesic administration, mild pain remained predominant, with 36 respondents (72.0%). In conclusion, most mothers who underwent Sectio Caesarea using the ERAS method experienced mild pain during the early postoperative period.
Efek Kebiasaan Merokok Terhadap Stabilitas Saturasi Oksigen Pasca Anestesi Umum: Systematic: The Effect Of Smoking Habits On The Stability Of Oxygen Saturation Post-General Anesthesia: Systematic Mario Fransisco Putra Tjiku; Made Suandika; Tophan Heri Wibowo
Jurnal Kolaboratif Sains Vol. 9 No. 5: Mei 2026
Publisher : Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jks.v9i5.10914

Abstract

Anestesi umum banyak digunakan dalam tindakan pembedahan, namun berisiko menimbulkan komplikasi terutama pada sistem pernapasan, salah satunya penurunan saturasi oksigen. Kebiasaan merokok diketahui dapat mengganggu fungsi paru dan transportasi oksigen akibat paparan karbon monoksida. Mengetahui efek kebiasaan merokok terhadap stabilitas saturasi oksigen pasca anestesi umum. Penelitian ini menggunakan pendekatan Systematic Literature Review (SLR) berdasarkan pedoman PRISMA. Pencarian artikel dilakukan melalui database Google Scholar, PubMed, dan ScienceDirect pada rentang tahun 2016–2025. Kriteria inklusi meliputi penelitian kuantitatif dengan desain cohort yang melibatkan pasien perokok yang menjalani anestesi umum serta melaporkan saturasi oksigen pascaoperasi. Penilaian kualitas studi menggunakan Joanna Briggs Institute (JBI). Sebanyak 8 studi memenuhi kriteria inklusi. asil kajian menunjukkan bahwa pasien perokok cenderung mengalami penurunan saturasi oksigen yang lebih signifikan dibandingkan non-perokok setelah anestesi umum. Hal ini disebabkan oleh gangguan fungsi paru, peningkatan sekresi saluran napas, serta pembentukan karboksihemoglobin yang menghambat distribusi oksigen ke jaringan. Selain itu, perokok memiliki risiko lebih tinggi mengalami hipoksia dan komplikasi respirasi pascaoperasi. Kebiasaan merokok berpengaruh terhadap penurunan stabilitas saturasi oksigen pasca anestesi umum. Oleh karena itu, diperlukan evaluasi perioperatif yang komprehensif serta anjuran penghentian merokok sebelum tindakan operasi.
Perbandingan Anestesi Epidural dengan Subarachnoid Block terhadap Kualitas Pemulihan Pasien Bedah Ortopedi: Systematic Literature Review Adista Veradina; Made Suandika; Tophan Heri Wibowo
Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi Vol. 4 No. 3 (2026): Juli: Jurnal Ilmu Kesehatan dan Gizi
Publisher : Pusat Riset dan Inovasi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jig.v4i3.9272

Abstract

Fractures and orthopedic surgeries are common procedures that require optimal regional anesthesia techniques to support patient recovery. This study aims to compare the effectiveness of epidural anesthesia and subarachnoid block (SAB) on the quality of recovery in orthopedic surgery patients through a systematic literature review. The literature search was conducted in the PubMed, ScienceDirect, and Google Scholar databases for the period 2015–2025, using the PRISMA guidelines. A total of 6 studies that met the inclusion criteria were analyzed narratively. The results indicate that epidural techniques and spinal-epidural combinations such as CSEA, CSA, and SCSE tend to yield better recovery outcomes compared to SAB, particularly regarding hemodynamic stability, duration of analgesia, postoperative pain control, and early mobilization. Additionally, the incidence of hypotension, urinary retention, and back pain is lower with epidural or combination techniques. However, SAB remains superior in terms of rapid onset of action and ease of technique. In conclusion, epidural techniques better support multidimensional recovery quality in orthopedic patients compared to SAB.