Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search
Journal : Litera

ASSESSMENT OF STUDENTS ON BIPA TEACHING MATERIALS SPECIAL MATERIALS OF AGRICULTURE Defina Defina; Yumna Rasyid; Sakura Ridwan
LITERA Vol 18, No 1: LITERA MARET 2019
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v18i1.15613

Abstract

ASSESSMENT OF STUDENTS ON BIPA TEACHING MATERIALS SPECIAL MATERIALS OF AGRICULTURE Defina1), Yumna Rasyid2), Sakura Ridwan2)Institut Pertanian Bogor1) dan Universitas Negeri Jakarta2)email: defina@ipb.ac.id Abstract               Every teaching and learning process needs to be evaluated. One aspect that is evaluated is teaching material that is prepared and used by the teacher. Evaluation of teaching material can be done by asking for an assessment of students (students) as users of the material. This study aims to describe the results of student evaluations of integrative and content-based Indonesian language teaching material models for specific purposes of agriculture for foreign speakers. This research is evaluative research. The evaluation used in learning is program evaluation and not learning outcomes. Respondents were 14 students of BIPA IPB Developing Country Partnership Program (KNB). Data analysis based on the feasibility evaluation category with three criteria, namely discarded, maintained with revision, and maintained. The results of the study are as follows. First, the results of student evaluations are subject to the draft teaching material in the high category, with details: draft one 4.0 (high); second draft 4.3 (high); and third draft 4.5 (very high). Secondly, the input submitted, namely the need to add a variety of listening tasks (draft first), variations in the overall form of the task (second draft), perfecting the task of listening, reading, and layout (third draft). Keywords: assessment, users, teaching materials BIPA, agriculture PENILAIAN MAHASISWA TERHADAP BAHAN AJAR BIPA MATERI KHUSUS PERTANIAN   AbstrakSetiap proses belajar mengajar perlu dievaluasi. Salah satu aspek yang dievaluasi adalah materi ajar yang disusun dan  digunakan oleh guru. Evaluasi materi ajar dapat dilakukan dengan meminta penilaian pemelajar (mahasiswa) sebagai pengguna dari materi tersebut. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan hasil penilaian mahasiswa terhadap model materi ajar bahasa Indonesia integratif dan berbasis isi untuk tujuan khusus pertanian bagi penutur asing. Penelitian ini adalah penelitian evaluatif. Evaluatif yang digunakan dalam pembelajaran adalah evaluasi program dan bukan penilaian hasil belajar. Responden adalah 14  orang mahasiswa BIPA IPB Program Kemitraan Negara Berkembang (KNB). Analisis data berdasarkan kategori evaluasi kelayakan dengan tiga kriteria, yakni dibuang, dipertahankan dengan revisi, dan dipertahankan. Hasil penelitian sebagai berikut. Pertama, hasil penilaian mahasiswa terdadap draf materi ajar pada kategori tinggi, dengan rincian: draf satu 4,0 (tinggi); draf kedua 4,3 (tinggi); dan draf ketiga 4,5 (sangat tinggi). Kedua, masukan yang disampaikan, yaitu perlu ditambahkan variasi  tugas menyimak (draf kesatu), variasi bentuk tugas secara keseluruhan (draf kedua), menyempurnakan tugas menyimak, membaca, dan tata letak (draf ketiga). Kata kunci: penilaian, pengguna, materi ajar BIPA, bidang pertanian
A PORTRAIT OF SUNDANESE MAINTENANCE IN MULTILINGUAL LEARNING IN BOGOR Krishandini Krishandini; Defina Defina; Endang Sri Wahyuni
LITERA Vol 18, No 2: LITERA JULI 2019
Publisher : Faculty of Languages and Arts, Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/ltr.v18i2.19077

Abstract

Elementary pupils who used to be multilingual speakers began to change into monolingual. Giving Indonesian language as a language of unity to the elementary students does not mean hoping regional languages to become extinct, especially with the Sundanese language which is the top five in the number of speakers in Indonesia. Therefore, the researchers conducted research in several schools in Bogor with the aim of 1) knowing the level of institutional and government support in maintaining the use of Sundanese language in Bogor; 2) knowing the implementation of Sundanese language learning in Bogor; 3) knowing the process of multilingual learning. A quantitative method was used by distributing questionnaires to several primary schools in Bogor with a total of 47 teachers and doing observations of elementary students. Findings indicate that negative attitudes toward the Sundanese language are shown by elementary students with occasional use of Sundanese language in interacting with their friends. Institutions and governments are less supportive by not requiring each elementary to have a special Sundanese-speaking day school within a week and not allowing teachers to improve their abilities. The ability of Sundanese language teachers in elementary schools in Bogor is still low in scientific writing using Sundanese language.Keywords: Sundanese language, language maintenance, multilingual learningPOTRET PELESTARIAN BAHASA SUNDA DALAM PENBELAJARAN MULTI-BAHASA DI BOGORAbstrak Siswa sekolah dasar yang dulunya bermulti-bahasa sudah mulai berbahasa tunggal. Penetapan bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan tidak harus mematikan bahasa daerah, termasuk bahasa Sunda yang memiliki jumlah pembicara terbesar ke lima di Indonesia. Peneliti melakukan penelitian dengan tujuan 1) mengetahui tingkat dukungan lembaga dan pemerintah dalam pelestarian bahasa Sunda di Bogor; 2) mengetahui pelaksanaan pembelajaran bahasa Sunda di Bogor; 3) mengetahui proses pembelajaran multi-lingual. Penelitian menggunakan metode kuantitatif dengan membagikan angket ke beberapa sekolah dasar di Bogor dengan total 47 guru dan melakukan observasi terhadap siswa sekolah dasar. Temuan penelitian menunjukkan adanya sikap negatif terhadap bahasa Sunda pada siswa sekolah dasar dengan kadang-kadang menggunakan bahasa Sunda ketika berinteraksi dengan teman-temannya. Lembaga dan pemerintah kurang mendukung dengan tidak mewajibkan sekolah dasar untuk menggunakan bahasa Sunda sehari dalam seminggu dan tidak mengusahakan peningkatan guru dalam berbahasa Sunda. Keterampilan guru masih rendah dalam keterampilan menulis ilmiah dalam bahasa Sunda.Kata kunci: bahasa Sunda, pelestarian bahasa, pembelajaran multibahasa