Claim Missing Document
Check
Articles

Found 25 Documents
Search

Normalization of Religious Hegemony as Destructive Narrative and Bio-Politics in Minahasa Frinsly Kaat, Thiosani; Lauterboom, Mariska
Jurnal Sosiologi Agama Vol. 18 No. 2 (2024)
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/jsa.2024.182-05

Abstract

This research analyzes the normalization of religious hegemony as a bio-political text in controlling the socio-religious movements of the Minahasa community through political truth. Using a qualitative approach with an analytical-descriptive method, this study analyzes the process of religious hegemony normalization. Data collection is conducted through literature studies. Christianity, as a world religion, has become a bio-political text for religious elites to control and legitimize actions of right and wrong within society through dogma. Normalizing theological narratives as an instrument of the elite has become a sublimated ideology. The religious hegemony of ‘Christianity’ has shaped a singular episteme (knowledge) and rejected local wisdom texts in the name of Minahasa’s traditions. First, the study discusses how Christianity, specifically the Evangelical Christian Church in Minahasa (GMIM), has formed bio-politics. Second, the sublimation of colonialist ideology continues to be perpetuated by the church. Third, the normalization of religious hegemony results in the marginalization of local knowledge. The conclusion explains that Christianity has been sublimated to form a singular narrative, becoming a tool for elites to legitimize the socio-religious movements of the Minahasa community.
Self-Love and Self-Acceptance in the Student Body: A Feminist Pedagogical Study in Christian Education Nole, Otniel Aurelius; Lauterboom, Mariska
Tumou Tou Vol. 12 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/tt.v12i1.1987

Abstract

Christian education has a positive influence on students every time. Christian education also provides opportunities for students to express their life experiences while educating them about body appreciation. This research analysed the significance of self-love and self-acceptance of the student body in Christian education from feminist pedagogy. This research method was qualitative, using a literature review approach, and data was collected by interviewing grade X adolescents at one of the public high schools in Palu. This research showed that adolescents apply life with the value of self-love and self-acceptance for their bodies. They also experienced caring educators and Christian education learning that supported development and growth.
KEDUKAAN DALAM KEPERCAYAAN JINGITIU DARI PERSPEKTIF PENDAMPINGAN KEINDONESIAAN DI SABU BARAT Yulius Ariyanto Kolo Wadu; Gunawan Yuli Agung Subrabowo; Mariska Lauterboom
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 7 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v7i2.486

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemahaman tentang dampak kedukaan di Sabu Barat dari perspektif pendampingan keindonesiaan. Kedukaan yang menimpah masyarakat Sabu sering mengakibatkan dampak buruk. Karena itu perlu ada penanganan atau upaya untuk menolong mereka keluar dari hal-hal yang merugikan diri mereka sendiri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, pengumpulan data menggunakan teknik wawancara. Hasil temuan dalam penelitian ini menjelaskan bahwa, kedukaan yang dialami oleh masyarakat yang berduka memberi dampak yang serius. Dampak yang dialami dapat berakibat fatal bagi masyarakat seperti: terganggu sescara psikologis dan sikis yang brujung pada depresi. Penulis juga menemukan bahwa kesedihan mendalam yang dialami oleh masyarakat merupakan sebuah sekat untuk kehidupan yang berkelanjutan. Kemudian penulis menemukan bahwa Ritual yang digunakan dalam proses duka ini ternyata digunakan untuk mendampingi keluarga yang sedang mengalami kedukaan mendalam. Selain itu, nilai-nilai dalam ritual yang terkandung dalam keyakinan jingitiu dapat dijadikan sebagai penolong bagi masyarakat yang tengah berduka. Nilai yang ditemukan adalah, nilai agama, nilai altruistik, dan nilai kemanusiaan (gotong royong). Nilai-nilai yang terkandung dalam keyakinan Jingitua ini memberikan ruang bagi keluarga yang berduka untuk meminimalisir kesedihan yang mereka hadapi. Karena itu, penulis menggunakan teori Jacob Dan Engel “Pendampingan Keindonesiaan” untuk memperkuat temuan yang diteliti.
Peran Islam dalam Membangun Advokasi Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia Susanti, Christin Amelia; Tampake, Tony; Lauterboom, Mariska
MOMENTUM : Jurnal Sosial dan Keagamaan Vol 14 No 1 (2025): MOMENTUM MEI 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58472/momentum.v14i1.189

Abstract

Violence against women is a global issue experienced by every country, including Indonesia. Aspects that are considered dominant and strong in society are needed in order to build equality, one of which is the religious aspect. In particular, Islam supports women. Through this article, we want to examine the role of Islam in efforts to build advocacy for women in Indonesia. This research uses a qualitative library research approach, by describing the reality of the Islamic religion to build advocacy for women in Indonesia. Collecting primary and secondary data through relevant literature based on the topic of the writing. The theory used to analyze is subaltern theory by Gayatri Chakravorty Spivak. The main argument is that the Islamic religion seeks to advocate anti-violence against women based on human values in Islam. The findings from this paper confirm that the Islamic religion highlights two factors that influence violence against women, namely cultural values and religious teachings.  The Islamic religion in the modern context and through the Islamic feminism movement seeks to advocate and oppose violence against women.
Konsep Diri, Kesejahteraan Spiritual, dan Pengalaman Perceraian Orang Tua pada Remaja: Tinjauan Psikologi Agama Indah Rise; Ranimpi, Yulius Yusak; Lauterboom, Mariska
Journal of Psychology and Social Sciences Vol. 3 No. 1 (2025): Journal of Psychology and Social Sciences
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/jpss.v3i1.899

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana konsep diri dan kesejahteraan spiritual remaja yang orang tuanya bercerai dari perspektif psikologi agama. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi serta pengumpulan data dengan cara wawancara. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Hubermen, yaitu tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa perceraian disebabkan oleh masalah ekonomi.  Dampaknya pada remaja setelah perceraian adalah mereka mengalami konsep diri yang rapuh, hambatan spiritual dan hambatan dalam pertumbuhan fisik. Meskipun demikian, mereka tetap optimis dengan adanya usaha untuk mengoptimalkan kelemahannya sehingga mereka bisa mengalami pertumbuhan dalam kehidupan spiritual dan membangun pandangan baik terhadap dirinya. Selain itu mereka mampu mengelola emosi sesuai dengan kondisi yang mereka hadapi. Hal tersebut tidak terlepas dari dukungan dan motivasi yang mereka terima dari orang-orang terdekatnya.
Kajian Sosio-Feminis terhadap Peran GMIT Syalom Oinlasi Barat Mengatasi Kekerasan Perempuan dalam Praktik Adat Sifon Masyarakat Dawan Litelnoni, Titania Madelein; Lusi, Astrid Bonik; Lauterboom, Mariska
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.406

Abstract

This study examines the traditional practice of sifon in the Dawan community as a form of symbolic and structural violence against women. Sifon is a traditional post-circumcision practice (village) carried out by men involving women as healing media. In this practice, women are positioned not as dignified subjects, but as objects that can be accessed, paid for, and then forgotten. This tradition is legitimized by traditional symbols and passed down from generation to generation, making it difficult to openly question within society or the church in particular. This research approach is descriptive qualitative with in-depth interviews and literature studies, then analyzed using three theoretical perspectives based on socio-feminist studies, namely: Marianne Katoppo's Asian feminist theology, Gustavo Gutiérrez's liberation theology, and Peter L. Berger's sociology. The research findings indicate that the traditional practice of sifon has excluded women from their rights as spiritual and social subjects. Women's bodies are reduced to instruments of male healing, while also becoming an arena for conflict between cultural power, morality, and Christian faith. These findings demonstrate that the church theologically rejects the traditional practice of sifon, but has yet to voice its rejection collectively and transformatively. In conclusion, the practice of sifon is a form of cultural and spiritual violence that must be reexamined through the lens of gender justice and faith liberation. The church has the potential to be an agent of social transformation, actively defending women's dignity and challenging oppressive customary structures.AbstrakPenelitian ini mengkaji praktik adat sifon pada masyarakat Dawan sebagai bentuk kekerasan simbolik dan struktural terhadap perempuan. Sifon adalah praktik pasca-sunat tradisional (kampung) yang dilakukan oleh laki-laki dengan melibatkan perempuan sebagai media penyembuhan. Dalam praktik ini, perempuan diposisikan tidak sebagai subjek bermartabat, melainkan sebagai objek yang dapat diakses, dibayar, dan dilupakan. Tradisi ini dilegitimasi oleh simbol-simbol adat dan diwariskan turun-temurun sehingga sulit dipersoalkan secara terbuka dalam masyarakat maupun gereja. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam dan studi literatur, lalu dianalisis menggunakan tiga perspektif teori berdasarkan kajian sosio-feminis yaitu: teologi feminis Asia Marianne Katoppo, teologi pembebasan Gustavo Gutiérrez, dan sosiologi Peter L. Berger. Temuan penelitian menunjukkan praktik adat sifon telah menyingkirkan perempuan dari haknya sebagai subjek spiritual dan sosial. Tubuh perempuan direduksi menjadi alat penyembuhan laki-laki, sekaligus arena konflik antara kekuasaan budaya, moralitas, dan iman Kristen. Temuan ini memperlihatkan gereja secara teologis menolak praktik adat sifon, namun belum menyuarakan penolakannya secara kolektif dan transformatif. Kesimpulannya, praktik sifon merupakan bentuk kekerasan kultural dan spiritual yang harus ditinjau ulang melalui lensa keadilan gender dan pembebasan iman. Gereja memiliki potensi sebagai agen transformasi sosial yang harus aktif membela martabat perempuan dan menantang struktur adat yang menindas.
Mitos Dalam Didikan Orangtua: Tinjauan Sosio-Pedagogis Terhadap Pola Asuh Orangtua sebayang, Eikelbrema; Lauterboom, Mariska
Jurnal Dinamika Sosial Budaya Vol. 25 No. 2 (2023): Desember (2023)
Publisher : Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/jdsb.v25i4.7842

Abstract

Mitos masih menjadi sesuatu yang melekat dalam diri masyarakat Indonesia. Mitos bisa ditemukan dalam setiap kalangan budaya dan tempat, termasuk di Kota Dumai. Bahkan Sebagian besar orangtua jemaat GPIB Ekklesia Dumai masih menggunakan mitos. Mitos banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari dengan tujuan tertentu. Salah satu tujuan masyarakat menggunakan Mitos adalah untuk mendidik anak menjadi lebih baik dan berkarakter. Penelitian ini secara spesifik mendeskripsikan pemahaman orangtua jemaat GPIB Ekklesia Dumai tentang mitos dan meninjau pola asuh orangtua yang mendidik anak dengan mitos dari perspektif sosio-pedagogis. Penelitian dilakukan secara kualitatif deskriptif melalui wawancara dengan orangtua jemaat GPIB Ekklesai Dumai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mitos dalam didikan orangtua memainkan peran penting dalam pola asuh di Jemaat GPIB Ekklesia Dumai. Para orangtua menggunakan mitos-mitos tertentu dalam mengajarkan nilai-nilai dan norma-norma kepada anak-anak mereka. Mitos dapat menjadi sarana yang efektif untuk mentransmisikan nilai-nilai dan norma-norma yang dianggap penting oleh orangtua. Implikasi dari penelitian ini dapat digunakan sebagai dasar untuk pengembangan pendekatan didaktik yang lebih holistik dan inklusif dalam Pendidikan agama dan pembentukan nilai-nilai.
SASI IKAN LOMPA SEBAGAI PENDEKATAN PENDAMPINGAN BERBASIS BUDAYA DALAM UPAYA REKONSILIASI DAN KEBERLANJUTAN HIDUP BERSAMA DI PULAU HARUKU-MALUKU Sohilait, Marce; Tampake, Tony; Lauterboom, Mariska
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v7i1.20665

Abstract

This article argues the cultural values of sasi ikan lompa as a culture-based mentoring approach. The local culture-based approach is an illustration of a contextual mentoring approach based on local wisdom which is a characteristic of the multicultural Indonesian nation. This research uses a qualitative ethnographic method by obtaining data through observation, interviews, and literature study. The data analysis technique used is through the stages of data reduction, data processing, and conclusion. The research results obtained are first; Lompa fish sasi can be used as culture-based assistance in society because it contains the values of assistance regarding guidance, solidarity, harmony, masohi (cooperation). Second, assistance based on cultural values can create a reconciliation effort for indigenous communities on Haruku Island where conflicts often occur between countries/villages. Third, a culture-based mentoring approach shows the alignment of Indigenous communities towards ecological justice. Apart from that, a culture-based mentoring approach can develop and control the community to prevent the exploitation of nature amidst the threat of an environmental crisis due to global warmingMagister Sosiologi Agama, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana
SOLIDARITAS DALAM RAKUT SITELU SEBAGAI INSTRUMEN PENDAMPINGAN KEBUDAYAAN BAGI MASYARAKAT SUKU KARO Benny Julio Surbakti; Gunawan Yuli; Mariska Lauterboom
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i1.572

Abstract

Tujuan artikel ini menganalisis solidaritas dalam sistem Rakut Sitelu (tiga ikatan) dalam mengatur stabilitas masyarakat Karo melalui pendampingan kebudayaan. Menggunakan kualitatif dengan pendekatan analitis-deskriptif untuk menganalisis pemaknaan masyarakat atas nilai budaya Rakut Sitelu. Perjumpaan antara kekristenan dan budaya lokal dalam konteks masyarakat Karo terjadi secara masif dan didominasi oleh model pendidikan pendampingan Kristen. Dominasi kekristenan atas budaya lokal masyarakat Karo mengakibatkan Rakut Sitelu mengalami degradasi. Pada sisi lain, Rakut Sitelu menjadi mekanisme yang mengarahkan masyarakat berada dalam solidaritas seperti mengatur adat perkawinan dan kontrol tata cara kehidupan sehari-hari. Hasil temuan membahas mengenai sistem solidaritas dalam Rakut Sitelu bagi masyarakat Karo. Menganalisis aspek-aspek pendampingan kebudayaan dalam Rakut Sitelu dalam mengontrol tata-cara kehidupan masyarakat karo mulai dari unsur formal maupun informal. Tahap akhir atau kesimpulan berupaya untuk memberi kontribusi dengan mengintegrasikan hasil analisis.
In In Between Spaces: Ruang Fisik-Emosi dalam Pencapaian Tujuan PAK Menurut Karen Tye dan Thomas Groome Nimali Fidelis Buke; Mariska Lauterboom; Gilbet Tahirim B.P. Simanullang
Regula Fidei : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol. 11 No. 1 (2026): Maret 2026
Publisher : Fakultas Ilmu Keguruan dan Pendidikan, Universitas Kristen Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33541/rfidei.v11i1.413

Abstract

This study aims to analyze the role of physical space and emotional space in achieving the theological goals of Christian Religious Education. The method used in this research is qualitative with a descriptive research design and library research as the data collection technique. Unlike previous studies, this research specifically employs library-based data collection as its primary method. This study draws on the theory of Karen B. Tye and the concept of Christian Religious Education, as outlined by Thomas H. Groome. Physical space refers to all physical forms that can be observed, touched, measured, and directly perceived by the senses. Meanwhile, emotional space refers to attitudes of acceptance, openness, and a sense of security within the learning process. Both physical space and emotional space play an important role in achieving the theological goals of Christian Religious Education, particularly in the process of socializing Christian faith values.