Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

SOLIDARITAS DALAM RAKUT SITELU SEBAGAI INSTRUMEN PENDAMPINGAN KEBUDAYAAN BAGI MASYARAKAT SUKU KARO Surbakti, Benny Julio; Yuli, Gunawan; Lauterboom, Mariska
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i1.572

Abstract

Tujuan artikel ini menganalisis solidaritas dalam sistem Rakut Sitelu (tiga ikatan) dalam mengatur stabilitas masyarakat Karo melalui pendampingan kebudayaan. Menggunakan kualitatif dengan pendekatan analitis-deskriptif untuk menganalisis pemaknaan masyarakat atas nilai budaya Rakut Sitelu. Perjumpaan antara kekristenan dan budaya lokal dalam konteks masyarakat Karo terjadi secara masif dan didominasi oleh model pendidikan pendampingan Kristen. Dominasi kekristenan atas budaya lokal masyarakat Karo mengakibatkan Rakut Sitelu mengalami degradasi. Pada sisi lain, Rakut Sitelu menjadi mekanisme yang mengarahkan masyarakat berada dalam solidaritas seperti mengatur adat perkawinan dan kontrol tata cara kehidupan sehari-hari. Hasil temuan membahas mengenai sistem solidaritas dalam Rakut Sitelu bagi masyarakat Karo. Menganalisis aspek-aspek pendampingan kebudayaan dalam Rakut Sitelu dalam mengontrol tata-cara kehidupan masyarakat karo mulai dari unsur formal maupun informal. Tahap akhir atau kesimpulan berupaya untuk memberi kontribusi dengan mengintegrasikan hasil analisis.
Konsep Diri, Kesejahteraan Spiritual, dan Pengalaman Perceraian Orang Tua pada Remaja: Tinjauan Psikologi Agama Indah Rise; Ranimpi, Yulius Yusak; Lauterboom, Mariska
Journal of Psychology and Social Sciences Vol. 3 No. 1 (2025): Journal of Psychology and Social Sciences
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/jpss.v3i1.899

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana konsep diri dan kesejahteraan spiritual remaja yang orang tuanya bercerai dari perspektif psikologi agama. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi serta pengumpulan data dengan cara wawancara. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Hubermen, yaitu tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa perceraian disebabkan oleh masalah ekonomi.  Dampaknya pada remaja setelah perceraian adalah mereka mengalami konsep diri yang rapuh, hambatan spiritual dan hambatan dalam pertumbuhan fisik. Meskipun demikian, mereka tetap optimis dengan adanya usaha untuk mengoptimalkan kelemahannya sehingga mereka bisa mengalami pertumbuhan dalam kehidupan spiritual dan membangun pandangan baik terhadap dirinya. Selain itu mereka mampu mengelola emosi sesuai dengan kondisi yang mereka hadapi. Hal tersebut tidak terlepas dari dukungan dan motivasi yang mereka terima dari orang-orang terdekatnya.
Kajian Sosio-Feminis terhadap Peran GMIT Syalom Oinlasi Barat Mengatasi Kekerasan Perempuan dalam Praktik Adat Sifon Masyarakat Dawan Litelnoni, Titania Madelein; Lusi, Astrid Bonik; Lauterboom, Mariska
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.406

Abstract

This study examines the traditional practice of sifon in the Dawan community as a form of symbolic and structural violence against women. Sifon is a traditional post-circumcision practice (village) carried out by men involving women as healing media. In this practice, women are positioned not as dignified subjects, but as objects that can be accessed, paid for, and then forgotten. This tradition is legitimized by traditional symbols and passed down from generation to generation, making it difficult to openly question within society or the church in particular. This research approach is descriptive qualitative with in-depth interviews and literature studies, then analyzed using three theoretical perspectives based on socio-feminist studies, namely: Marianne Katoppo's Asian feminist theology, Gustavo Gutiérrez's liberation theology, and Peter L. Berger's sociology. The research findings indicate that the traditional practice of sifon has excluded women from their rights as spiritual and social subjects. Women's bodies are reduced to instruments of male healing, while also becoming an arena for conflict between cultural power, morality, and Christian faith. These findings demonstrate that the church theologically rejects the traditional practice of sifon, but has yet to voice its rejection collectively and transformatively. In conclusion, the practice of sifon is a form of cultural and spiritual violence that must be reexamined through the lens of gender justice and faith liberation. The church has the potential to be an agent of social transformation, actively defending women's dignity and challenging oppressive customary structures.AbstrakPenelitian ini mengkaji praktik adat sifon pada masyarakat Dawan sebagai bentuk kekerasan simbolik dan struktural terhadap perempuan. Sifon adalah praktik pasca-sunat tradisional (kampung) yang dilakukan oleh laki-laki dengan melibatkan perempuan sebagai media penyembuhan. Dalam praktik ini, perempuan diposisikan tidak sebagai subjek bermartabat, melainkan sebagai objek yang dapat diakses, dibayar, dan dilupakan. Tradisi ini dilegitimasi oleh simbol-simbol adat dan diwariskan turun-temurun sehingga sulit dipersoalkan secara terbuka dalam masyarakat maupun gereja. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam dan studi literatur, lalu dianalisis menggunakan tiga perspektif teori berdasarkan kajian sosio-feminis yaitu: teologi feminis Asia Marianne Katoppo, teologi pembebasan Gustavo Gutiérrez, dan sosiologi Peter L. Berger. Temuan penelitian menunjukkan praktik adat sifon telah menyingkirkan perempuan dari haknya sebagai subjek spiritual dan sosial. Tubuh perempuan direduksi menjadi alat penyembuhan laki-laki, sekaligus arena konflik antara kekuasaan budaya, moralitas, dan iman Kristen. Temuan ini memperlihatkan gereja secara teologis menolak praktik adat sifon, namun belum menyuarakan penolakannya secara kolektif dan transformatif. Kesimpulannya, praktik sifon merupakan bentuk kekerasan kultural dan spiritual yang harus ditinjau ulang melalui lensa keadilan gender dan pembebasan iman. Gereja memiliki potensi sebagai agen transformasi sosial yang harus aktif membela martabat perempuan dan menantang struktur adat yang menindas.