Claim Missing Document
Check
Articles

Found 23 Documents
Search

Self-Love and Self-Acceptance in the Student Body: A Feminist Pedagogical Study in Christian Education Nole, Otniel Aurelius; Lauterboom, Mariska
Tumou Tou Vol. 12 No. 1 (2025): Januari 2025
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/tt.v12i1.1987

Abstract

Christian education has a positive influence on students every time. Christian education also provides opportunities for students to express their life experiences while educating them about body appreciation. This research analysed the significance of self-love and self-acceptance of the student body in Christian education from feminist pedagogy. This research method was qualitative, using a literature review approach, and data was collected by interviewing grade X adolescents at one of the public high schools in Palu. This research showed that adolescents apply life with the value of self-love and self-acceptance for their bodies. They also experienced caring educators and Christian education learning that supported development and growth.
KEDUKAAN DALAM KEPERCAYAAN JINGITIU DARI PERSPEKTIF PENDAMPINGAN KEINDONESIAAN DI SABU BARAT Yulius Ariyanto Kolo Wadu; Gunawan Yuli Agung Subrabowo; Mariska Lauterboom
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 7 No. 2 (2024): Desember 2024
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v7i2.486

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji pemahaman tentang dampak kedukaan di Sabu Barat dari perspektif pendampingan keindonesiaan. Kedukaan yang menimpah masyarakat Sabu sering mengakibatkan dampak buruk. Karena itu perlu ada penanganan atau upaya untuk menolong mereka keluar dari hal-hal yang merugikan diri mereka sendiri. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan etnografi, pengumpulan data menggunakan teknik wawancara. Hasil temuan dalam penelitian ini menjelaskan bahwa, kedukaan yang dialami oleh masyarakat yang berduka memberi dampak yang serius. Dampak yang dialami dapat berakibat fatal bagi masyarakat seperti: terganggu sescara psikologis dan sikis yang brujung pada depresi. Penulis juga menemukan bahwa kesedihan mendalam yang dialami oleh masyarakat merupakan sebuah sekat untuk kehidupan yang berkelanjutan. Kemudian penulis menemukan bahwa Ritual yang digunakan dalam proses duka ini ternyata digunakan untuk mendampingi keluarga yang sedang mengalami kedukaan mendalam. Selain itu, nilai-nilai dalam ritual yang terkandung dalam keyakinan jingitiu dapat dijadikan sebagai penolong bagi masyarakat yang tengah berduka. Nilai yang ditemukan adalah, nilai agama, nilai altruistik, dan nilai kemanusiaan (gotong royong). Nilai-nilai yang terkandung dalam keyakinan Jingitua ini memberikan ruang bagi keluarga yang berduka untuk meminimalisir kesedihan yang mereka hadapi. Karena itu, penulis menggunakan teori Jacob Dan Engel “Pendampingan Keindonesiaan” untuk memperkuat temuan yang diteliti.
Peran Islam dalam Membangun Advokasi Anti Kekerasan terhadap Perempuan di Indonesia Susanti, Christin Amelia; Tampake, Tony; Lauterboom, Mariska
MOMENTUM : Jurnal Sosial dan Keagamaan Vol 14 No 1 (2025): MOMENTUM MEI 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Sekolah Tinggi Islam Blambangan (STIB) Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58472/momentum.v14i1.189

Abstract

Violence against women is a global issue experienced by every country, including Indonesia. Aspects that are considered dominant and strong in society are needed in order to build equality, one of which is the religious aspect. In particular, Islam supports women. Through this article, we want to examine the role of Islam in efforts to build advocacy for women in Indonesia. This research uses a qualitative library research approach, by describing the reality of the Islamic religion to build advocacy for women in Indonesia. Collecting primary and secondary data through relevant literature based on the topic of the writing. The theory used to analyze is subaltern theory by Gayatri Chakravorty Spivak. The main argument is that the Islamic religion seeks to advocate anti-violence against women based on human values in Islam. The findings from this paper confirm that the Islamic religion highlights two factors that influence violence against women, namely cultural values and religious teachings.  The Islamic religion in the modern context and through the Islamic feminism movement seeks to advocate and oppose violence against women.
Konsep Diri, Kesejahteraan Spiritual, dan Pengalaman Perceraian Orang Tua pada Remaja: Tinjauan Psikologi Agama Indah Rise; Ranimpi, Yulius Yusak; Lauterboom, Mariska
Journal of Psychology and Social Sciences Vol. 3 No. 1 (2025): Journal of Psychology and Social Sciences
Publisher : CV. Doki Course and Training

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61994/jpss.v3i1.899

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan dan menganalisis bagaimana konsep diri dan kesejahteraan spiritual remaja yang orang tuanya bercerai dari perspektif psikologi agama. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif dengan jenis penelitian fenomenologi serta pengumpulan data dengan cara wawancara. Teknik analisis data menggunakan model Miles dan Hubermen, yaitu tahap reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Berdasarkan hasil analisis data ditemukan bahwa perceraian disebabkan oleh masalah ekonomi.  Dampaknya pada remaja setelah perceraian adalah mereka mengalami konsep diri yang rapuh, hambatan spiritual dan hambatan dalam pertumbuhan fisik. Meskipun demikian, mereka tetap optimis dengan adanya usaha untuk mengoptimalkan kelemahannya sehingga mereka bisa mengalami pertumbuhan dalam kehidupan spiritual dan membangun pandangan baik terhadap dirinya. Selain itu mereka mampu mengelola emosi sesuai dengan kondisi yang mereka hadapi. Hal tersebut tidak terlepas dari dukungan dan motivasi yang mereka terima dari orang-orang terdekatnya.
Kajian Sosio-Feminis terhadap Peran GMIT Syalom Oinlasi Barat Mengatasi Kekerasan Perempuan dalam Praktik Adat Sifon Masyarakat Dawan Litelnoni, Titania Madelein; Lusi, Astrid Bonik; Lauterboom, Mariska
Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) Vol 7, No 2 (2025): Veritas Lux Mea (Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen) - Agustus 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kanaan Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59177/veritas.v7i2.406

Abstract

This study examines the traditional practice of sifon in the Dawan community as a form of symbolic and structural violence against women. Sifon is a traditional post-circumcision practice (village) carried out by men involving women as healing media. In this practice, women are positioned not as dignified subjects, but as objects that can be accessed, paid for, and then forgotten. This tradition is legitimized by traditional symbols and passed down from generation to generation, making it difficult to openly question within society or the church in particular. This research approach is descriptive qualitative with in-depth interviews and literature studies, then analyzed using three theoretical perspectives based on socio-feminist studies, namely: Marianne Katoppo's Asian feminist theology, Gustavo Gutiérrez's liberation theology, and Peter L. Berger's sociology. The research findings indicate that the traditional practice of sifon has excluded women from their rights as spiritual and social subjects. Women's bodies are reduced to instruments of male healing, while also becoming an arena for conflict between cultural power, morality, and Christian faith. These findings demonstrate that the church theologically rejects the traditional practice of sifon, but has yet to voice its rejection collectively and transformatively. In conclusion, the practice of sifon is a form of cultural and spiritual violence that must be reexamined through the lens of gender justice and faith liberation. The church has the potential to be an agent of social transformation, actively defending women's dignity and challenging oppressive customary structures.AbstrakPenelitian ini mengkaji praktik adat sifon pada masyarakat Dawan sebagai bentuk kekerasan simbolik dan struktural terhadap perempuan. Sifon adalah praktik pasca-sunat tradisional (kampung) yang dilakukan oleh laki-laki dengan melibatkan perempuan sebagai media penyembuhan. Dalam praktik ini, perempuan diposisikan tidak sebagai subjek bermartabat, melainkan sebagai objek yang dapat diakses, dibayar, dan dilupakan. Tradisi ini dilegitimasi oleh simbol-simbol adat dan diwariskan turun-temurun sehingga sulit dipersoalkan secara terbuka dalam masyarakat maupun gereja. Pendekatan penelitian ini bersifat kualitatif deskriptif dengan metode wawancara mendalam dan studi literatur, lalu dianalisis menggunakan tiga perspektif teori berdasarkan kajian sosio-feminis yaitu: teologi feminis Asia Marianne Katoppo, teologi pembebasan Gustavo Gutiérrez, dan sosiologi Peter L. Berger. Temuan penelitian menunjukkan praktik adat sifon telah menyingkirkan perempuan dari haknya sebagai subjek spiritual dan sosial. Tubuh perempuan direduksi menjadi alat penyembuhan laki-laki, sekaligus arena konflik antara kekuasaan budaya, moralitas, dan iman Kristen. Temuan ini memperlihatkan gereja secara teologis menolak praktik adat sifon, namun belum menyuarakan penolakannya secara kolektif dan transformatif. Kesimpulannya, praktik sifon merupakan bentuk kekerasan kultural dan spiritual yang harus ditinjau ulang melalui lensa keadilan gender dan pembebasan iman. Gereja memiliki potensi sebagai agen transformasi sosial yang harus aktif membela martabat perempuan dan menantang struktur adat yang menindas.
SASI IKAN LOMPA SEBAGAI PENDEKATAN PENDAMPINGAN BERBASIS BUDAYA DALAM UPAYA REKONSILIASI DAN KEBERLANJUTAN HIDUP BERSAMA DI PULAU HARUKU-MALUKU Sohilait, Marce; Tampake, Tony; Lauterboom, Mariska
Jurnal Ilmiah Sosiologi Agama (JISA) Vol 7, No 1 (2024)
Publisher : Sociology of Religion Study Program, Faculty of Social Sciences, North Sumatra State Islam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30829/jisa.v7i1.20665

Abstract

This article argues the cultural values of sasi ikan lompa as a culture-based mentoring approach. The local culture-based approach is an illustration of a contextual mentoring approach based on local wisdom which is a characteristic of the multicultural Indonesian nation. This research uses a qualitative ethnographic method by obtaining data through observation, interviews, and literature study. The data analysis technique used is through the stages of data reduction, data processing, and conclusion. The research results obtained are first; Lompa fish sasi can be used as culture-based assistance in society because it contains the values of assistance regarding guidance, solidarity, harmony, masohi (cooperation). Second, assistance based on cultural values can create a reconciliation effort for indigenous communities on Haruku Island where conflicts often occur between countries/villages. Third, a culture-based mentoring approach shows the alignment of Indigenous communities towards ecological justice. Apart from that, a culture-based mentoring approach can develop and control the community to prevent the exploitation of nature amidst the threat of an environmental crisis due to global warmingMagister Sosiologi Agama, Fakultas Teologi, Universitas Kristen Satya Wacana
SOLIDARITAS DALAM RAKUT SITELU SEBAGAI INSTRUMEN PENDAMPINGAN KEBUDAYAAN BAGI MASYARAKAT SUKU KARO Benny Julio Surbakti; Gunawan Yuli; Mariska Lauterboom
Jurnal Basataka (JBT) Vol. 8 No. 1 (2025): Juni 2025
Publisher : Prodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Universitas Balikpapan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36277/basataka.v8i1.572

Abstract

Tujuan artikel ini menganalisis solidaritas dalam sistem Rakut Sitelu (tiga ikatan) dalam mengatur stabilitas masyarakat Karo melalui pendampingan kebudayaan. Menggunakan kualitatif dengan pendekatan analitis-deskriptif untuk menganalisis pemaknaan masyarakat atas nilai budaya Rakut Sitelu. Perjumpaan antara kekristenan dan budaya lokal dalam konteks masyarakat Karo terjadi secara masif dan didominasi oleh model pendidikan pendampingan Kristen. Dominasi kekristenan atas budaya lokal masyarakat Karo mengakibatkan Rakut Sitelu mengalami degradasi. Pada sisi lain, Rakut Sitelu menjadi mekanisme yang mengarahkan masyarakat berada dalam solidaritas seperti mengatur adat perkawinan dan kontrol tata cara kehidupan sehari-hari. Hasil temuan membahas mengenai sistem solidaritas dalam Rakut Sitelu bagi masyarakat Karo. Menganalisis aspek-aspek pendampingan kebudayaan dalam Rakut Sitelu dalam mengontrol tata-cara kehidupan masyarakat karo mulai dari unsur formal maupun informal. Tahap akhir atau kesimpulan berupaya untuk memberi kontribusi dengan mengintegrasikan hasil analisis.
Menggugat Legitimasi Budaya: Kritik Etika Sosial Kristen Terhadap Kekerasan Seksual dalam Adat Sifon Yesika Maubanu; Irene Ludji; Mariska Lauterboom
Danum Pambelum: Jurnal Teologi dan Musik Gereja Vol 6 No 1 (2026): DPJTMG: Mei
Publisher : Institut Agama Kristen Negeri Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54170/v8gn4y14

Abstract

The Sifon customary circumcision practice is a traditional male circumcision ritual that contains elements of sexual violence against women. This study examines women’s experiences within this tradition through the lens of Christian social ethics, employing a qualitative ethnographic approach. The findings reveal that the Sifon custom represents a systematic and institutionalized form of violence, in which women’s bodies are objectified as instruments in male healing rituals. This tradition normalizes sexual violence and reinforces the marginalization of women within the social structure of the community. From the perspective of Christian Social Ethics, this practice violates human dignity, social justice, and love for others. The sexual exploitation legitimized through cultural symbols reflects structural injustice that requires critical theological and social interpretation. The implications of this study underscore the importance of an ethical approach that prioritizes the rights of victims, fosters gender-sensitive cultural awareness, and supports social reconstruction that restores women’s dignity. Therefore, the Sifon customary practice is not merely a cultural heritage but an institutionalized form of sexual violence. Christian Social Ethics provides a moral foundation to deconstruct oppressive cultural legitimations and to promote social transformation that is just, equal, and respectful of women as dignified creations of God.
Analisis Semiotika Peirce dan Barthes terhadap Konstruksi Identitas Sosial dalam Struktur Simbuang Batu Bori Kalimbuang, Toraja Utara, Sulawesi Selatan Yusticia Paembonan; Izak Y.M. Lattu; Mariska Lauterboom
Jurnal Penelitian Inovatif Vol 6 No 2 (2026): JUPIN Mei 2026
Publisher : CV Firmos

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54082/jupin.2355

Abstract

Warisan megalitik Simbuang Batu di kompleks Bori Kalimbuang merupakan sistem tanda budaya material yang menyimpan makna sosial, hierarki, dan identitas kolektif masyarakat Toraja Utara. Penelitian ini bertujuan menganalisis sistem tanda Simbuang Batu sebagai medium komunikasi visual lintas generasi, mengkaji relasi stratifikasi sosial tana' dengan hak kultural pendirian monolit, serta memetakan dinamika pergeseran norma adat pascakristianisasi melalui pendekatan semiotika integratif. Metode kualitatif deskriptif-analitis diterapkan melalui observasi partisipatif, wawancara mendalam terhadap delapan informan kunci, dengan analisis data menggunakan reduksi, penyajian, dan penarikan kesimpulan secara siklikal. Hasil penelitian menunjukkan Simbuang Batu beroperasi secara simultan sebagai icon, index, dan symbol dalam kerangka Peirce, sekaligus menghasilkan lapisan denotasi, konotasi, dan mitos dalam kerangka Barthes. Eksklusivitas hak pendirian bersifat kategoris berdasarkan strata tana' bulaan dan tana' bassi, tanpa korelasi langsung dengan dimensi fisik monolit. Pascakristianisasi, terjadi remythologization menuju formasi makna yang lebih terbuka secara finansial, namun syarat ritual material tetap bertahan karena cultural inertia yang kuat. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan kajian semiotika budaya material di Indonesia, dan merekomendasikan pendekatan pelestarian yang mengakomodasi dinamika negosiasi budaya tanpa mengorbankan integritas ritual.
Decolonizing Christian Education in Batak: Initiating Curriculum Transformation Herman Tampubolon; Izak Y. M. Lattu; Mariska Lauterboom; Tony Tampake
Journal La Edusci Vol. 7 No. 4 (2026): Journal La Edusci
Publisher : Newinera Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37899/journallaedusci.v7i4.3292

Abstract

This article examines the enduring colonial legacy within Christian education in the Batak region, which has systematically marginalized indigenous knowledge and privileged Western pedagogical paradigms as the normative expression of Christianity. Focusing on the Sunday School ministry of the Huria Kristen Indonesia (HKI) church, the study initiates a critical inquiry into curriculum transformation through the lens of decolonial theory. Employing an interdisciplinary methodology that integrates the sociology of education, sociology of religion, and decolonial studies, qualitative data were gathered through in-depth interviews with two pastoral practitioners and contextual observations. The Batak philosophy of Sala Mandasor Sega Luhutan (SMSL) serves as a critical framework to deconstruct entrenched Eurocentric curricula and reconstruct pedagogical practices that center indigenous epistemology. Findings reveal that despite HKI’s historical resistance to missionary hegemony, its Sunday School curriculum remains dominated by hierarchical, banking-model pedagogy that treats children as passive recipients. Indigenous cultural elements are largely confined to ceremonial performances rather than substantive instructional integration, perpetuating epistemic alienation and dehumanization. The study argues that authentic decolonization requires pastors and educators to transition toward dialogical, problem-posing methodologies that recognize Sunday School children as active epistemic subjects bearing the imago Dei. By embedding Batak kinship values, oral traditions, and symbolic frameworks into core biblical instruction, Christian education can become a liberating practice that honors cultural heritage while fostering theological contextualization. This research offers a strategic pathway for ecclesiastical curriculum reform ahead of HKI’s centenary in 2027.