Claim Missing Document
Check
Articles

Found 24 Documents
Search

EFEKTIVITAS PEMBERIAN SUSU KEDELAI (Glycine Max) DAN KOMBINASI SUSU KEDELAI DENGAN JUS JAMBU BIJI MERAH (Psidium Guajava) TERHADAP KADAR HEMOGLOBINPADA REMAJA PUTRI DI PONDOK PESANTREN AL MANNAN KOTA KENDARI Wa Ode Arifah Fadiyah; Asnia Zainuddin; Irma Yunawati
Jurnal Sains dan Teknologi Pangan Vol. 11 No. 2 (2026): Jurnal Sains dan Teknologi Pangan
Publisher : Jurusan Ilmu dan Teknologi Pangan Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.63071/kt3ypv31

Abstract

Anemia merupakan masalah gizi yang umum terjadi pada remaja putri dan dapat menurunkan konsentrasi belajar, aktivitas fisik, serta produktivitas. Intervensi pangan yang kaya zat besi dan vitamin C, seperti susu kedelai dan jus jambu biji merah, berpotensi meningkatkan kadar hemoglobin. Penelitian ini mengevaluasi efektivitas pemberian susu kedelai (Glycine max) dan kombinasinya dengan jus jambu biji merah (Psidium guajava) terhadap kadar hemoglobin pada remaja putri di Pondok Pesantren Al Mannan Kota Kendari. Desain penelitian menggunakan eksperimen semu dengan rancangan posttest-only control group. Subjek berjumlah 27 orang yang dibagi menjadi tiga kelompok, yaitu susu kedelai, kombinasi, dan kontrol, masing-masing terdiri atas sembilan orang. Intervensi diberikan selama 14 hari. Analisis kadar hemoglobin dilakukan menggunakan uji One-Way ANOVA yang dilanjutkan dengan uji Tukey HSD. Hasil menunjukkan adanya perbedaan signifikan antar kelompok (p < 0,05). Kelompok kombinasi memiliki kadar hemoglobin lebih tinggi dibandingkan kontrol (p < 0,05), sedangkan kelompok susu kedelai tidak menunjukkan perbedaan signifikan (p > 0,05). Kombinasi susu kedelai dan jus jambu biji merah efektif meningkatkan kadar hemoglobin, sedangkan susu kedelai saja tidak memberikan efek signifikan. 
Pemberdayaan Masyarakat melalui Edukasi Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) pada Anak Usia Dini di Kelurahan Benua Nirae, Kota Kendari Irma Yunawati; Ratu Lintang Armita; Nur Isda Faradila Idrus; Gebi Parera; Yada Safitri Ahmad
Jurnal Pengabdian Masyarakat (JUDIMAS) Vol. 4 No. 2 (2026)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Masyarakat STIKes Banyuwangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54832/judimas.v4i2.768

Abstract

Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) merupakan perilaku hidup bersih dan sehat yang efektif dalam mencegah penularan penyakit infeksi, khususnya pada anak usia dini. Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan anak usia dini dalam melakukan CTPS dengan benar. Kegiatan dilaksanakan di Kelurahan Benua Nirae, Kecamatan Abeli, Kota Kendari, dengan sasaran anak usia dini sebanyak delapan orang. Metode pelaksanaan menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif melalui ceramah sederhana, demonstrasi, dan praktik langsung enam langkah CTPS sesuai standar World Health Organization (WHO). Evaluasi dilakukan melalui observasi kemampuan praktik CTPS sebelum dan sesudah edukasi. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan kemampuan anak dalam mempraktikkan CTPS secara benar dan berurutan. Edukasi CTPS terbukti efektif sebagai upaya promotif dan preventif dalam menanamkan kebiasaan hidup bersih dan sehat sejak usia dini.
Factors associated with the practice of clean and healthy living behavior among households in Ranombupulu Village Siti Rabbani Karimuna; Waode Mitha Fatrisya; Irma Yunawati; Sri Tungga Dewi
Indonesian Journal of Health Science Vol 6 No 1 (2026)
Publisher : PT WIM Solusi Prima

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54957/ijhs.v6i1.1899

Abstract

Clean and Healthy Living Behavior (PHBS) is an essential preventive health strategy to improve community well-being; however, its implementation remains suboptimal in several rural areas. This study aimed to describe the implementation of PHBS and analyze the relationship between knowledge, education level, income, and age with household PHBS status in Ranombupulu Village. A descriptive analytic design with a cross-sectional approach was used, involving 81 respondents selected through purposive sampling. Data were collected using a structured questionnaire and analyzed using the Chi-square test. The results showed that only 45.7% of households properly implemented PHBS. Statistical analysis revealed no significant relationship between PHBS status and knowledge (p=0.952), education level (p=0.990), income (p=0.781), or age (p=0.890). The study concludes that PHBS implementation remains low and is not influenced by sociodemographic characteristics. Continuous health education and improved community support and facilities are recommended to strengthen PHBS adoption.
Hubungan Besaran Uang Saku Dengan Konsumsi Ultra-Processed Food Pada Mahasiswa Gizi Tahun 2026 Renni Meliahsari; Ruwiah; Paridah; Irma Yunawati
Gudang Jurnal Multidisiplin Ilmu Vol. 4 No. 7 (2026): GJMI - Juli
Publisher : PT. Gudang Pustaka Cendekia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59435/gjmi.v4i7.2260

Abstract

Konsumsi ultra-processed food (UPF) meningkat pesat di negara berpenghasilan menengah dan berkaitan dengan berbagai luaran kesehatan merugikan. Uang saku menentukan daya beli pangan mahasiswa, namun perannya belum banyak diteliti. Adapun tujuan dari penelitian ini Adalah untuk menganalisis hubungan besaran uang saku dengan konsumsi UPF pada mahasiswa. Penelitian merupakan desain cross-sectional pada 165 mahasiswa. Uang saku dikategorikan berdasarkan median, yaitu kurang dari Rp1.000.000 dan ≥ Rp1.000.000; konsumsi UPF dikategorikan sering atau jarang. Analisis menggunakan uji chi-square dengan kemaknaan 5%. Hasil yang didapatkan bahwa sebanyak 52,1% responden tergolong sering mengonsumsi UPF. Proporsi tersebut mencapai 66,3% pada kelompok uang saku Rp1.000.000 atau lebih dibandingkan 35,5% pada kelompok di bawahnya (p < 0,001). Adapun kesimpulannya Adalah besaran uang saku berhubungan bermakna dengan konsumsi UPF. Intervensi gizi kampus perlu menyasar literasi pangan, bukan sekadar keterbatasan ekonomi