Articles
Membangun Skema Ekolabel Perikanan Nasional sebagai Wujud Perlindungan terhadap Hak Nelayan dan Sumber Daya Perikanan [Building the National Fisheries Ecolabeling Scheme as Form of Protection of Fishermen Rights and Fisheries Resources]
Notohamijoyo, Andre;
Huseini, Martani;
Koestoer, Raldi H.;
Fauzi, Syafril
Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian, Badan Keahlian DPR RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22212/jekp.v11i1.1493
World Bank & FAO state that 75 percent of global fisheries resources face the threat of depletion or reduced stock due to excessive fishing and environmental damage. Indonesia also has a similar situation. It encouraged a number of parties to push for a mechanism for controlling the production and consumption of sustainable through ecolabeling. There are many weaknesses in the implementation of the certification system in developing countries. The lack of protection for fishermen’s rights is one of the main problems of ecolabeling. The aim of study is to see the importance and priority of each ecolabel scheme that effectively promotes sustainable fisheries management. This study uses a mixed-method with a purposive sampling-based Delphi and Analytic Hierarchy Process (AHP) method. The results indicate that the national ecolabel scheme is a priority choice of stakeholders including small fishermen in Indonesia. The trust of stakeholders is the basic capital in its preparation. The Indonesian government through the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries needs to immediately initiate the national ecolabel scheme. Another challenge is how to develop the national fisheries ecolabeling as a brand of sustainable fishery products and encourages the welfare of fishermen.Keywords: fisheries ecolabel, small scale fishermen, fishermen rights, stakeholder supportAbstrakWorld Bank dan FAO menyatakan bahwa sejak tahun 2006 sebesar 75 persen sumber daya perikanan global mengalami ancaman deplesi atau penurunan stok akibat praktik penangkapan yang berlebihan dan merusak lingkungan. Indonesia juga menghadapi hal serupa di mana kelestarian sumber daya perikanan terancam akibat praktik penangkapan berlebih, merusak, dan ilegal. Kondisi tersebut mendorong dilakukannya mekanisme pengendalian produksi dan konsumsi berkelanjutan melalui ecolabelling. Namun demikian penerapan sistem sertifikasi tersebut di negara berkembang menemui banyak kendala. Minimnya perlindungan terhadap hak nelayan menjadi salah satu masalah utama ekolabel perikanan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bobot kepentingan dan prioritas masing-masing skema ekolabel yang efektif mendorong pengelolaan perikanan yang lestari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixed method dengan metode Delphi berbasis purposive sampling serta metode Analytic Hierarcy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa skema ekolabel nasional menjadi prioritas pilihan stakeholder termasuk nelayan kecil di Indonesia. Kepercayaan stakeholder terhadap skema ekolabel perikanan nasional menjadi modal dasar dalam penyusunannya. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan, perlu segera melakukan inisiasi skema ekolabel perikanan tersebut. Tantangan lainnya adalah bagaimana mengembangkan ekolabel perikanan nasional sebagai sebuah merek produk perikanan yang berkelanjutan dan mendorong peningkatan kesejahteraan nelayan.Kata kunci: ekolabel perikanan, nelayan kecil, hak nelayan, dukungan stakeholder
Keunggulan Kompetitif UKM Sentra Pengolahan Kerupuk Ikan dan Udang di Indramayu Berbasis Sumber Daya
Trisna Ningsih;
Sugeng Hari Wisudo;
Martani Huseini;
Achmad Poernomo;
Tri Wiji Nurani
MANAJEMEN IKM: Jurnal Manajemen Pengembangan Industri Kecil Menengah Vol. 7 No. 1 (2012): Manajemen IKM
Publisher : Institut Pertanian Bogor
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (165.923 KB)
|
DOI: 10.29244/mikm.7.1.44-53
The concept of resource based focus on modifying organizational capabilities into company's competitive advantage, which is the achievements of the unique, rare, cannot be duplicated and cannot be replaced combination between company's resources and assets. The purpose of this research is to identify the resources, capabilities, and core competencies owned by the SMEs of fish and shrimp crackers in the Indramayu processing center, and their development strategies. The competitive advantage of the SMEs of fish and shrimp crackers in the Indramayu processing center was analyzed using network analysis, while its dynamic capabilities was analyzed using Soft Systems Methodology (SSM). After the core competencies were identified, the next step was formulating the strategic routing for the SMEs of fish and shrimp crackers in Indramayu processing center. The research shows the time required to produce 3.550 kgs of fish crackers with 100 labour are 2.070 minutes, so the level of efficiency was 33.5 kgs/20,7 minutes/person. Some alternative development strategies required for the SMEs of fish and shrimp crackers in the Indramayu processing center to realize the strategic routing are (1) organizational restructuring, (2) business reengineering, and (3) business revitalizing. Key words: competitive advantage; SMEs processing center; fish and shrimp crackers; resource based
POLA KOMUNIKASI DAN NORMA PENGGUNAAN INTERNET PADA ORANG TUA TERHADAP KECANDUAN ANAK DALAM PENGGUNAAN YouTube di ERA DIGITAL
Henny Agustiningrum;
Martani Huseini;
Kinkin Yulianty Putri Subarsa
J-IKA : Jurnal Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas BSI Bandung Vol 8, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat Universitas Bina Sarana Informatika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (3609.149 KB)
|
DOI: 10.31294/kom.v8i1.9808
Penelitian ini memprioritaskan peran orang tua dalam menerapkan pola komunikasi termasuk konsistensi norma ketika orang tua menggunakan internet dan bagaimana orang tua memahami serta menyadari bahwa saat ini banyak anak yang mengalami kecanduan ketika menggunakan YouTube. Fakta ini diharapkan dapat menjadi masukkan bagi para orang tua diera digital ini untuk tidak hanya menerapkan aturan namun juga dapat memberikan contoh yang baik kepada anak-anaknya. Penelitian ini memiliki tujuan untuk mengukur pengaruh antara pola komunikasi dan norma penggunaan internet pada orang tua terhadap kecanduan anak dalam penggunaan YouTube di era digital. Kriteria responden dalam penelitian ini adalah anak-anak yang duduk di bangku Sekolah Dasar (SD) dengan tingkatan kelas mulai dari kelas 3-6 dimana mereka diminta untuk mengisi kuesioner secara anonim melalui kuesioner online yang mencakup semua faktor yang disebutkan. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa pola komunikasi dan norma penggunaan internet pada orang tua memiliki pengaruh secara simultan terhadap kecanduan anak dalam penggunaan YouTube. Penelitian sebelumnya banyak membahas tentang kecanduan internet di kalangan remaja. Namun, mengingat saat ini merupakan era serba digital dimana kecanduan menggunakan YouTube lebih banyak mengarah pada anak usia sekolah dasar maka hal inilah dirasa perlu dilakukan penelitian mendalam.
Inovasi Sistem Manajemen Kinerja SDM Terintegrasi Dengan Big Data di BPJS Kesehatan
Muhammad Kadar Riyadi;
Martani Huseini
Jurnal Wira Ekonomi Mikroskil Vol 9, No 1 (2019): Volume 9 Nomor 1 Edisi April 2019
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian pada Masyarakat (LPPM) Universitas Mikroskil
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (681.204 KB)
|
DOI: 10.55601/jwem.v9i1.601
Pada era globalisasi, inovasi adalah satu hal yang banyak dibicarakan oleh manusia dalam rangka berusaha untuk menciptakan suatu bentuk atau hal atau benda yang dapat membuat suatu kegiatan lebih efektif dan efisien. Tantangan untuk terus berinovasi tidak hanya datang kepada manusia secara individu namun juga merambah hingga ke lingkup organisasi. Penelitian ini bertujuan untuk melihat dinamika yang terjadi pada proses inovasi yang dijalankan oleh BPJS Kesehatan dengan mengambil studi kasus pada sistem manajemen kinerja SDM. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap lima orang narasumber penelitian dengan menggunakan pendekatan kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat tiga dimensi utama proses pengembangan inovasi sistem manajemen kinerja SDM di BPJS Kesehatan yaitu: membentuk kesatuan data dari sistem-sistem di bidang kepegawaian yang telah ada, membangun satu sistem yang dapat mengintegrasikan modul untuk kinerja, talenta dan karir, dan membangun pengembangan sistem. Dimensi mengintegrasikan modul kinerja, talenta dan karir menjadi satu sistem yang terintegrasi menjadi ciri khas dalam penelitian ini jika dibandingkan dengan temuan lain mengenai proses dan tahapan inovasi. Inovasi sistem manajemen kinerja di BPJS Kesehatan merupakan bentuk nyata bahwa organisasi melihat pegawai adalah talent dan merupakan aset kompetitif utama dan faktor kunci bagi kesuksesan organisasi di masa depan.
Membangun Skema Ekolabel Perikanan Nasional sebagai Wujud Perlindungan terhadap Hak Nelayan dan Sumber Daya Perikanan [Building the National Fisheries Ecolabeling Scheme as Form of Protection of Fishermen Rights and Fisheries Resources]
Andre Notohamijoyo;
Martani Huseini;
Raldi H. Koestoer;
Syafril Fauzi
Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik Vol 11, No 1 (2020)
Publisher : Pusat Penelitian, Badan Keahlian DPR RI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.22212/jekp.v11i1.1493
World Bank & FAO state that 75 percent of global fisheries resources face the threat of depletion or reduced stock due to excessive fishing and environmental damage. Indonesia also has a similar situation. It encouraged a number of parties to push for a mechanism for controlling the production and consumption of sustainable through ecolabeling. There are many weaknesses in the implementation of the certification system in developing countries. The lack of protection for fishermen’s rights is one of the main problems of ecolabeling. The aim of study is to see the importance and priority of each ecolabel scheme that effectively promotes sustainable fisheries management. This study uses a mixed-method with a purposive sampling-based Delphi and Analytic Hierarchy Process (AHP) method. The results indicate that the national ecolabel scheme is a priority choice of stakeholders including small fishermen in Indonesia. The trust of stakeholders is the basic capital in its preparation. The Indonesian government through the Ministry of Maritime Affairs and Fisheries needs to immediately initiate the national ecolabel scheme. Another challenge is how to develop the national fisheries ecolabeling as a brand of sustainable fishery products and encourages the welfare of fishermen.Keywords: fisheries ecolabel, small scale fishermen, fishermen rights, stakeholder supportAbstrakWorld Bank dan FAO menyatakan bahwa sejak tahun 2006 sebesar 75 persen sumber daya perikanan global mengalami ancaman deplesi atau penurunan stok akibat praktik penangkapan yang berlebihan dan merusak lingkungan. Indonesia juga menghadapi hal serupa di mana kelestarian sumber daya perikanan terancam akibat praktik penangkapan berlebih, merusak, dan ilegal. Kondisi tersebut mendorong dilakukannya mekanisme pengendalian produksi dan konsumsi berkelanjutan melalui ecolabelling. Namun demikian penerapan sistem sertifikasi tersebut di negara berkembang menemui banyak kendala. Minimnya perlindungan terhadap hak nelayan menjadi salah satu masalah utama ekolabel perikanan. Penelitian ini dilakukan untuk melihat bobot kepentingan dan prioritas masing-masing skema ekolabel yang efektif mendorong pengelolaan perikanan yang lestari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah mixed method dengan metode Delphi berbasis purposive sampling serta metode Analytic Hierarcy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan bahwa skema ekolabel nasional menjadi prioritas pilihan stakeholder termasuk nelayan kecil di Indonesia. Kepercayaan stakeholder terhadap skema ekolabel perikanan nasional menjadi modal dasar dalam penyusunannya. Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Kelautan dan Perikanan, perlu segera melakukan inisiasi skema ekolabel perikanan tersebut. Tantangan lainnya adalah bagaimana mengembangkan ekolabel perikanan nasional sebagai sebuah merek produk perikanan yang berkelanjutan dan mendorong peningkatan kesejahteraan nelayan.Kata kunci: ekolabel perikanan, nelayan kecil, hak nelayan, dukungan stakeholder
Pengaruh Gaya Komunikasi,Motivasi Akademik, Kebiasaan Menonton Youtube terhadap Self Efficacy Akademik
Mahbub Ahmad;
Martani Huseini;
Kinkin Yuliaty Subarsa Putri
J-IKA : Jurnal Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas BSI Bandung Vol 8, No 1 (2021): April 2021
Publisher : Lembaga Penelitian & Pengabdian Masyarakat Universitas Bina Sarana Informatika
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (305.726 KB)
|
DOI: 10.31294/kom.v8i1.9933
Self Efficacy akademik siswa sangat penting untuk mencapai prestasi akademik. Dampak faktor pendidikan tergantung pada siswa, terutama pada faktor self efficacy akademik siswa dan gaya pembelajaran. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi prestasi akademik siswa seperti gaya komunikasi dosen yang bertujuan untuk mentransmisikan ilmu di kelas. Motivasi akademik juga salah satu faktor yang menentukan berhasil atau tidaknya kegiatan belajar siswa. Sementara itu YouTube menjadi platform yang sukses dalam membuat penyampaian edukatif yang tidak didapatkan oleh pelajar di ruang kelasnya. Tujuan penelitian ini adalah mengkaji peran gaya komunikasi dosen, motivasi akademik, kebiasaan menonton YouTube terhadap self efficacy akademik mahasiswa. Metode penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif dan paradigma positivistik. Populasi penelitian ini adalah mahasiswa STIKOM InterStudi. Data diperoleh melalui penyebaran kuesioner secara online dan dianalisis menggunakan SPSS. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi akademik dan kebiasaan menonton YouTube terbukti memiliki pengaruh positif terhadap self efficacy akademik. Variabel gaya komunikasi dalam penelitian ini ditemukan tidak siginifikan mempengaruhi self efficacy akademik. Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa secara keseluruhan variabel independen lemah dalam menjelaskan self efficacy akademik mahasiswa STIKOM InterStudi. Penelitian selanjutnya disarankan menambahkan variabel lainnya misalnya karakteristik personal, sikap, kepercayaan kompetensi diri dan lainnya guna mengidentifikasi self efficacy akademik sehingga memperluas hasil temuan manfaat penelitian.
Inovasi Dilingkungan Di Kementerian Sekretariat Negara RI Dilihat Dari Perspektif Knowledge Management
Herman Supriadi;
Martani Huseini
Jurnal Reformasi Administrasi : Jurnal Ilmiah untuk Mewujudkan Masyarakat Madani Vol 7, No 2: September 2020
Publisher : Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31334/reformasi.v7i2.1056
The focus of this research is to describe the development of innovations in the Ministry of State Secretariat (Kemensetneg) from the perspective of Knowledge Management including the factors that influence it. This study uses a post-positivism approach with qualitative data collection methods, which result show that the development of innovations in the Ministry of State Secretariat has been going well, judging from the context of Socializaton, Externalization, Combination, and Internalization (SECI). Factors influencing the development of innovation are the existence of strong and effective leadership, the availability of human resources as a lever of change, organizational culture and policies that support innovation, and the supply and use of Information and Communication Technology (ICT) as a driving factor. However, there are still inhibiting factors, namely the limited budget for the development of innovation itself and the many innovations created in the form of applications that have not been integrated in the framework of the ministry’s big data through the use of machine learning
Perangkap yang harus dihindari perusahaan konvensional dalam menapaki era disrupsi
Adhikara Joshua Sutisna;
Martani Huseini
KINERJA Vol 16, No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Economics and Business Mulawarman University
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (402.229 KB)
|
DOI: 10.29264/jkin.v16i2.5671
Era disrupsi yang kian berlangsung merupakan ancaman besar bagi perusahaan-perusahaan konvensional. Fenomena ini memaksa perusahaan-perusahaan konvensional untuk melakukan pergeseran terhadap sistem yang mereka miliki. Pergeseran bukan hanya merubah sistem tradisional menjadi daring. Namun, pergeseran merupakan dampak dari era disrupsi yang memunculkan cara-cara baru dalam sistem yang dimiliki sebuah perusahaan. Era disrupsi juga kian merubah interaksi manusia sesuai tren yang berlaku. Hal ini merupakan tantangan besar bagi perusahaan konvensional, terutama perusahaan yang sudah sangat lama berdiri dan berjalan dengan sistem yang mereka pegang teguh sejak dahulu. Sehingga, kadang kala banyak perusahaan konvensional terjebak dalam perangkap masa lalu mereka. Fenomena ini menarik minat peneliti untuk menjadikan PT. Pegadaian (Persero) yang telah berdiri sejak tahun 1901 sebagai objek penelitian. Era disrupsi yang terjadi turut mengancam PT. Pegadaian (Persero) yang berstatus sebagai badan usaha milik negara serta memaksa mereka untuk berinovasi dan melakukan pergeseran dalam sistemnya untuk tetap dapat bertahan dan tidak terdisrupsi. Tulisan ini akan mencoba menjabarkan perangkap masa lalu yang ditemui oleh PT. Pegadaian (Persero) dalam era disrupsi serta bagaimana cara mereka untuk dapat keluar dari perangkap tersebut. Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat menjadi solusi bagi perusahaan konvensional yang masih sulit untuk berinovasi karena masih terjebak dalam perangkap masa lalu.
TRANSFORMASI BUDAYA DAN INOVASI PERUSAHAAN BUMN
Andreas Togi Lamsihar;
Martani Huseini
Inovbiz: Jurnal Inovasi Bisnis Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Politeknik Negeri Bengkalis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (363.863 KB)
|
DOI: 10.35314/inovbiz.v7i1.935
Transformasi di tubuh perusahaan Badan Usaha Milik Negara mulai menjadi perhatian. Pengembangan perusahaan terus digenjot agar memberikan kontribusi yang maksimum bagi pendapatan negara. Namun kendala yang terjadi adalah masih banyak perusahaan negara yang stagnan bahkan belum bertumbuh. Oleh karena itu Kementerian Badan Usaha Milik Negara membangun Rencana Strategis guna mendorong perusahaan negara tersebut agar memiliki daya saing. Disamping itu erubahan environment business dunia terus melaju mengalami percepatan. Internet of things, industri 4.0, big data, artificial intelegence merupakan sebuah tren baru perkembangan tekhnologi informasi yang menggerakan banyak industri. Dimana intinya adalah percepatan pelayanan dan penekanan efisiensi biaya. Percepatan pelayanan dan efisiensi biaya adalah kendala perusahaan-perusahaan milik pemerintah. Dimana praktek operasional yang birokratis menghambat kinerja perusahaan dalam melayani masyarakat yang semakin kompleks. Merubah cara berpikir dan berstrategi menjadi keharusan. Transformasi budaya organisasi dan memanfaatkan teknologi berbasis digital merupakan langkah cepat yang diputuskan Board of Director untuk segera dilakukan. Penelitian ini merupakan studi literatur berikut pengumpulan data sekunder dari perusahaan maupun lembaga terkait dan observasi lapangan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa proses transformasi budaya dan strategi merupakan sebuah upaya membagun kepercayaan masyarakat akan lembaga keuangan yang diminati banyak kalangan. Peran pemimpin sangat menentukan proses dari transformasi berjalan dengan baik sesuai visi dan tujuan rencana strategis perusahaan. Namun transformasi akan behasil tergantung kesiapan dari individu yang bergerak atas dasar semangat budaya organisasi.
DUA FAKTOR PENENTU KEBERHASILAN SEBUAH PROSES INOVASI
Adhikara Joshua Sutisna;
Martani Huseini
Inovbiz: Jurnal Inovasi Bisnis Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Politeknik Negeri Bengkalis
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
Full PDF (374.878 KB)
|
DOI: 10.35314/inovbiz.v7i1.911
This article is conducted based on a simple question: why big companies fail? Nowadays, companies are faced with market conditions that are far different compared to a few years ago. Starting from consumers who demand the speed and convenience of the products or services they will consume, until the competition becomes very tight due to the large number of newcomers emerging. Therefore, companies cannot use their old ways that might have worked in the past. Companies must be able to adapt to the current conditions by making various innovations both from the products and processes they do within the company to survive in the market of this era. However, innovation is not as simple as creating something new and different from the others. An innovation process can be said to succeed if the company can not only create a new product or process, but also can distribute the results of the innovation process so that many parties can feel the impact of their innovation. This is a qualitative research that uses comprehensive literature review to analyse the problem. The purpose of this study is to discuss two factors that have an important role in the success of an innovation process, namely creation and deployment. The output of this research is in the form of a table of operationalization of concepts that are expected to be used to help the success of the parties who will carry out an innovation process. Keywords: Innovation, Innovation Process, Creation, Deployment