Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Pelatihan Digital Storynomic Tourism Berbasis Filosofi Nyegara Gunung bagi Pokdarwis Kima Bahari Ni Putu Marsakawati; I Made Agus Wirawan; Rima Andriani Sari
JURNAL WIDYA LAKSANA Vol 14 No 2 (2025): Agustus
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jwl.v14i2.104419

Abstract

Program pengabdian kepada masyarakat ini dilatarbelakangi oleh keterbatasan keterampilan Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kima Bahari dalam memanfaatkan media digital untuk promosi pariwisata. Potensi wisata desa yang kaya akan filosofi Nyegara Gunung belum terangkat secara optimal akibat rendahnya kemampuan anggota dalam produksi konten digital, pengelolaan media sosial, dan penyusunan strategi pemasaran wisata. Program ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas Pokdarwis melalui pelatihan digital storynomic tourism yang mengintegrasikan nilai-nilai lokal ke dalam narasi promosi wisata. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif dengan metode partisipatif kolaboratif yang melibatkan 15 orang anggota Pokdarwis sebagai peserta pelatihan. Data dikumpulkan melalui pre-test dan post-test, observasi langsung, serta wawancara reflektif untuk menilai peningkatan kemampuan peserta sebelum dan sesudah kegiatan. Analisis data dilakukan secara kuantitatif untuk mengukur peningkatan keterampilan dan secara kualitatif untuk menggambarkan perubahan sikap, motivasi, serta partisipasi peserta dalam kegiatan. Hasil program menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam literasi digital, kemampuan menulis narasi wisata berbasis nilai lokal, dan keterampilan desain konten promosi. Peserta juga menunjukkan antusiasme tinggi, peningkatan kreativitas, dan rasa percaya diri dalam mengelola media digital secara mandiri. Simpulan dari kegiatan ini menunjukkan bahwa pelatihan digital storynomic tourism mampu memperkuat kemandirian komunitas lokal dalam mengelola promosi wisata berbasis kearifan lokal, serta memberikan kontribusi positif terhadap pengembangan ekonomi dan pelestarian budaya.
The Comparison Between Balinese and Australian Swear Words in Terms of References Used Putu Sidhi Mahayasa; I Gede Budasi; Rima Andriani Sari
IJLHE: International Journal of Language, Humanities, and Education Vol. 9 No. 1 (2026): IJLHE: International Journal of Language, Humanities, and Education
Publisher : Master Program in Indonesian Language Education and The Institute for Research and Community Service STKIP PGRI Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52217/5a9kcw97

Abstract

The objective of this research is to compare the references used in swear words in Balinese and Australian. Swear words are linguistically and culturally significant because they reflect social norms, beliefs, and emotional expression within a speech community. This research employed a comparative descriptive qualitative design using primary and secondary data. Primary data were obtained through semi-structured interviews with native Balinese speakers and native Australian English speakers, while secondary data were collected from relevant studies and academic documents. The data were analyzed through inductive categorization based on reference types in sociolinguistic studies of taboo language. The findings show that both languages share common reference domains, including religion/ supernatural being, sex, excrement, animals, personal background, mental illness, and sexual activity. However, Balinese swear words emphasize animal references, supernatural being, and social hierarchy, whereas Australian English swear words more frequently involve sexual references and personal insults used flexibly in informal contexts. These differences reflect distinct sociocultural values and potential sources of cross-cultural misunderstanding. For the implication of this study is the importance of understanding these similarities and differences for preventing cross-cultural misunderstanding and for promoting effective intercultural communication, particularly between speakers of Balinese and Australian English.